USNS Mercy, Kapal Rumah Sakit Terbesar di Dunia
BENGKULU KOTA BENGKULU TRAVELING

USNS Mercy, Kapal Rumah Sakit Terbesar di Dunia

Tahun ini Bengkulu menjadi daerah tujuan pertama program Pacific Partnership 2018. Amerika Serikat dengan kapal rumah sakit angkatan lautnya, USNS (United States Naval Ship) Mercy T-AH 19 tiba pada 28 Maret. Senin (2/4), saya berkesempatan mengunjungi langsung rumah sakit apung terbesar di dunia ini.

“Selamat pagi teman wartawan terhormat. Terima kasih telah registrasi untuk ship tour USNS Mercy besok. Jangan lupa membawa KTP dan ID pers untuk screening,” tulis Kresna Soegio Press Assistant US Embassy melalui pesan WhatsApp (WA) yang masuk ke ponsel saya.

Ya. Untuk bisa mengikuti tur ke kapal yang sudah beroperasi sejak tahun 1986 ini memang harus mendaftar terlebih dahulu. Prosedur cukup ketat diberlakukan bukan hanya bagi pengunjung saja. Tapi juga bagi para kru kapal.

Hal itu terlihat dari pemeriksaan menggunakan metal detektor terhadap tentara dan sipil berseragam tentara yang hendak kembali ke kapal, usai mengikuti rangkaian acara pembukaan. Para wartawan tak luput dari pemeriksaan tersebut. Termasuk isi tas bawaan yang dikulik isinya.

Selama di Bengkulu, USNS Mercy berada 2-4 mil di perairan Bengkulu. Kapal sepanjang 272,6 meter itu memang tidak bisa merapat ke pelabuhan karena ukurannya yang sangat besar. Jadi bila ingin ke sana, harus menggunakan kapal yang lebih kecil.

Ada dua kapal yang disediakan. Express Bahari dan USNS Mercy 2. Sekitar pukul 11.00 WIB saya bersama sembilan jurnalis lainnya, mas Kresna dan para kru kapal speed boat naik ke USNS Mercy 2.

Kapal speed USNS Mercy 2 menjadi taxi dari dan menuju USNS Mercy.
Kapal speed USNS Mercy 2 menjadi taksi dari dan menuju USNS Mercy.

Hanya sekitar 15 menit, kami tiba di USNS Mercy. Rasa kagum muncul begitu melihat kapal ini dari dekat. Kapal itu sangat, sangat, sangat besar. Sungguh. Seumur hidup, USNS Mercy adalah kapal laut terbesar yang pernah saya kunjungi.

Saat memotret 20 meter dari badan kapal, dari ujung ke ujung saja tidak full terlihat di frame kamera. Selain ukurannya yang besar, hal lain yang menonjol dari kapal ini adalah lambang palang merah yang ada pada sisi kapal.

Simbol Pertolongan

Lambang palang merah seperti diketahui adalah lambang pelindung dan penanda bantuan atau pertolongan. Khususnya dalam bidang medis. Kapal yang dimiliki dan dioperasikan oleh Military Sealift Command ini memang mampu memberikan layanan pertolongan darurat dan perawatan medis di atas kapal.

Pelayanan penuh diberikan pada pasien sama halnya seperti di rumah sakit. Khususnya di daerah bencana alam maupun bencana kemanusiaan di seluruh dunia.

Sepulu menit menunggu di atas tongkang yang menghubungkan antara speed boat dan rumah sakit terapuing itu, akhirnya kami diperbolehkan masuk. Setiap yang datang, wajib mengisi buku tamu.

Lorong kapal USNS Mercy
Lorong kapal USNS Mercy

Rombongan yang dikomandoi Mr. Grady melewati lorong menuju lantai 3 badan kapal. Di lorong itu ada tandu tersusun rapi berjajar di dinding kapal. Pada beberapa bagian ada foto-foto dan informasi yang memuat aktivitas Pasific Partnership di seluruh penjuru dunia.

Dari salah satu foto yang dipajang, terlihat para komandan kapal. Pada misinya ke Bengkulu, Komandan Kapal USNS Mery adalah Kolonel Laut Peter Roberts. Namun hari itu kami tidak bertemu. Kunjungan kami disambut dan diajak berkeliling oleh Executive Officer Kapten Lynelle Boamah.

Ruang pertama yang kami lihat adalah ruang emergency atau semacam UGD. Ada barisan tempat tidur lengkap dengan peralatan canggih pemantau kondisi pasien. Penanggung jawab ruangan ini adalah Abreail D. Leoncio. Dari keterangan Boamah, Abreail adalah seorang perawat.

George (kiri) dan Abreail (kanan) menjelaskan fungsi peralatan yang ada di unit emergency.
George (kiri) dan Abreail (kanan) menjelaskan fungsi peralatan yang ada di unit emergency.

Di ruang UGD ini rupanya juga dilengkapi peralatan untuk berlatih bagi tim. Ada boneka manekin menyerupai manusia yang menjadi alat latihan. Istimewanya, boneka itu bernapas dan punya denyut nadi. Di kapal ini juga ada ruangan “bank darah” yang asal muasal darahnya dibawa dari Amerika. Sebanyak 3.000 kantong darah bisa mereka stok pada saat menjalankan misi.

Fasilitas Lengkap

Secara keseluruhan, Boamah mengatakan USNS Mercy memiliki 12 ruang operasi lengkap. Fasilitas ranjang rumah sakit sebanyak 1.000 unit. Layaknya rumah sakit yang ada di daratan, di sana juga ada layanan radiologi digital, bank darah, laboratorium medis, apotek, lab pemeriksaan mata, CT scan serta dua fasilitas pembangkin yang memproduksi oksigen.

 

Jenny L. Smith penanggung jawab penyimpanan darah di kapal menunjukkan sampel darah yang dipakai saat berlatih.
Jenny L. Smith penanggung jawab penyimpanan darah di kapal menunjukkan sampel darah yang dipakai saat berlatih.

Dari setiap ruangan yang kami kunjungi selama 45 menit, yang menarik perhatian saya selain kecanggihan alat tentunya, adalah kebersihan. Kapal yang biasanya berlabuh di San Diego, California ini sangat bersih. Aromanya sama sekali tidak tercium obat-obatan atau bau tak sedap lainnya. Jadi memang serasa bukan di rumah sakit.

Boamah mengatakan, kapal dengan kru hampir 1.400 orang itu sebagian besar memang merupakan tenaga medis dokter dan perawat. Merekajuga tidak hanya dari Amerika saja. Tapi juga militer dan sipil yang berasal dari Kanada, Inggris, Australia, Perancis, Peru dan Jepang. “Ada sekitar 40 dokter yang ikut dalam misi ini,” tuturnya.

Lantas bagaimana dengan pasien yang dirawat di rumah sakit ini? Apakah dikenakan biaya? “All free,” tegas Boamah. “Semuanya gratis karena misinya kami adalah kemanusiaan. Semua, obat-obatan sudah disediakan,” tambah Boamah.

Dilengkapi Dua Heli

Personel yang ikut dalam misi ini tidak hanya dari Amerika saja. 
Kolonel Boamah saat menjelaskan fasilitas kapal di atas dek.

Tour selanjutnya, dari badan kapal, kami juga diajak menuju dek kapal. Kali ini tidak melintasi lorong. Kami menuju ke atas kapal menggunakan lift yang luasnya cukup untuk masuk dua unit ranjang rumah sakit. Walau saat itu ada sekitar 20 orang di dalam lift, tapi tidak terlalu sempit.

Di atas kapal ada hanggar helikopter. “Kami memiliki dua helikopter dan beberapa unit speed boat. Jika ada penanganan bencana, pasien kami bawa ke kapal ini menggunakan alat-alat transportasi tersebut,” tutur Boamah sambil menujukkan hanggar dan helikopter.

Boamah menjelaskan, Pacific Partnership adalah misi tahunan untuk bantuan kemanusiaan dan tanggap bencana terbesar yang diselenggarakan di kawasan Indo Pasific. Tahun ini adalah penyelenggaraan misi ke-13.

Informasinya Provinsi Bengkulu terpilih sebagai tujuan kerjasama ini tak lain karena daerahnya juga termasuk kawasan rawan bencana gempa bumi dan tsunami.

“Pacific Partnership melibatkan sejumlah profesional di bidang kesehatan, teknik sipil, para ahli bidang bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Para pegawai sipil Angkatan Laut akan bekerjasama dengan pihak-pihak dari negara penyelenggara misi di setiap tempat pelaksanaan,” kata Boamah.

Tak terasa, waktu yang ditetapkan untuk tour sudah habis. Rombongan kami kembali ke Pelabuhan Pulau Baai menggunakan kapal Express Bahari gara-gara ditinggal sama speed boat yang kami naiki saat berangkat. FYI, para tentara ini benar-benar on time. Telat sedikit, ditinggal.

Bersama mas Kresna Soegio dari US Embassy.
Bersama mas Kresna Soegio dari US Embassy.

Jalin Kerjasama

USNS Mercy bersama krunya akan berada di Bengkulu rencananya hingga 12 April mendatang. Dari Indonesia, mereka akan melanjutkan misi ke Sri Lanka, Malaysia dan Vietnam. Sementara kapal lainnya yang berada pada misi yang sama, kapal pengangkut ekspedisi cepat USNS Fall River akan mengunjungi Kepulauan Yap, Palau, Malaysia dan Thailand.

Komandan Misi Pacific Partnership Kolonel Laut David Bretz mengatakan, kunjungan mereka ke Indonesia bertujuan melanjutkan kemitraan yang kuat. Khususnya antara militer Amerika dengan masyarakat Indonesia.

Selama di Bengkulu, personel Pacific Partner memberikan pelayanan kesehatan di Puskesmas, berbagi pengetahuan di Rumah Sakit Kota dan RSMY, berbagi pengetahuan tentang penanggulangan bencana dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota dan provinsi. Selain itu juga ada kerjasama dengan perguruan tinggi, Universitas Dehasen dalam bidang kesehatan.(ken)

 

 

 

17 thoughts on “USNS Mercy, Kapal Rumah Sakit Terbesar di Dunia

  1. Wah keren…bisa masuk ke kapal Amerika USNS Mercy T-AH, yang juga sebagai Rumah Sakit apung terbesar dunia lagi…semoga dengan adanya kerjasama ini banyak hal positif bagi Bengkulu.

  2. Beruntung banget Mak.. bisa masuk ke sini. Padahal waktu aku ke hutan Mangrove liat dari atas kapal kecil aja. Pengin bisa masuk tapi gak punya akses 😢

  3. Wah, kapalnya gede banget yaa. Beruntung banget deh yang dapet kunjungan dan kerjasamanya.
    Semoga bisa bermanfaat dan semoga masyarakat bisa lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top