TAHUKAH kamu, tanggal 30 Oktober setiap tahunnya di Indonesia, diperingati sebagai Hari Oeang? Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bengkulu Ismed Saputra mengatakan, Hari Oeang merupakan bagian dari sejarah bangsa yang tidak boleh dilupakan. Oeang (baca: uang) adalah tanda dari kemerdekaan negara.

Sejarah Hari Oeang

Ismed mengatakan, detik-detik penetapan mata uang Indonesia sebagai alat pembayaran yang sah ikut mewarnai perjalanan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sejarahnya bermula ketika pada 29 Oktober 1946 Menteri Keuangan A. A. Maramis mengeluarkan keputusan yang menetapkan berlakunya Oeang Republik Indonesia (ORI).

Sebelumnya, masyarakat Indonesia masih menggunakan uang Jepang dan uang Javasche Bank peninggalan penjajah Belanda. Atas keputusan Menteri Keuangan, ORI menjadi alat pembayaran yang sah mulai 30 Oktober 1946 pukul 00.00.

Pengumuman ORI menjadi alat tukar yang sah  disampaikan langsung oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta memberikan pidatonya pada 29 Oktober 1946 melalui Radio Republik Indonesia. Bersamaan dengan berlakunya ORI mulai 30 Oktober 1946, saat itu pula usaha penerbitan uang menerbitkan Emisi Pertama uang kertas ORI.

Hari Oeang di Bengkulu

Melepas penyu di Pantai Tapak Paderi.

Melepas penyu di Pantai Tapak Paderi. Foto: Komi Kendy

Peringatan Hari Oeang ke-74 yang jatuh pada 30 Oktober, dimanfaatkan sebagai momen mengajak masyarakat di Bengkulu untuk peduli lingkungan. Seperti yang dilakukan Kantor Wilayah (Kanwil) Ditjen Perbendaharaan Negara Provinsi Bengkulu pada Sabtu, 24 Oktober 2020.

Dibuka dengan giat fun bike, kick off peringatan Hari Oeang dilanjutkan penyerahan donasi untuk yayasan pelestari penyu Lestari Alam Laut untuk Negeri (Latun) dan kelompok nelayan Camar Laut, penanaman bibit pohon camar, ketapang dan pandan laut, serta melepas puluhan tukik (anak penyu) di Pantai Tapak Paderi.

Selain tukik, ada juga dua penyu berukuran besar yang kembali dilepasliarkan ke lautan. Dua penyu ini sebelumnya sempat terjerat jaring nelayan dan diselamatkan ke tempat penangkaran sementara di Tapak Paderi.

Baca Juga : Jejak Zulkarnedi, Pendiri Penangkaran Alun Utara

Hadir pada peringatan Hari Oeang ini Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Dedy Ermansyah, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bengkulu Ismed Saputra, Direktur Latun Ari Anggoro, Kelompok Nelayan Camar Laut, perwakilan dari Kantor Pajak Pratama (KPP), Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) dan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN).

Setiap tahunnya Hari Oeang diselenggarakan dengan meriah oleh Kanwil Ditjen Perbendaharaan. Seperti dengan menggelar jalan santai dan lain-lain. Dimasa pandemi Covid-19, kegiatan diadakan tidak dengan mengumpulkan orang banyak, namun tetap bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Kegiatan lainnya juga dalam bentuk perlombaan secara daring, kegiatan sosial pemberian santunan dan donor darah. “Termasuk salah satunya yang kita lakukan hari ini sebagai ajakan kepada masyarakat untuk terus peduli terhadap lingkungan,” kata Ismed.

Sementara itu, Plt. Gubernur Bengkulu Dedy Ermansyah mengapresiasi dukungan yang diberikan Kanwil Ditjen Perbendaharaan terhadap pelestarian lingkungan. Terutama penyu yang memang sudah sejak beberapa tahun terakhir merupakan binaannya.

Di momen Hari Oeang, Dedy berharap agar Kanwil Ditjen Perbendaharaan bisa mendorong Pemerintah daerah (Pemda) kabupaten/kota untuk meningkatkan serapan anggaran yang masih rendah. Terutama dimasa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

Menurutnya, saat ini sebagian besar masyarakat tengah mengalami kondisi keuangan yang tidak baik. Bisnis hancur, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan pendapatan menurun bahkan hilang, menjadi persoalan ekonomi dan sosial.

“Apabila Pemda membelanjakan uangnya, semakin banyak uang berputar. Semakin meningkat peredarannya di masyarakat, diharapkan ekonomi masyarakat juga jadi terbantu,” harap politisi Partai NasDem itu.

Target Jadi Ekowisata

Penanaman pohon di kawasan Pantai Tapak Paderi. Foto: Komi Kendy

Penanaman pohon di kawasan Pantai Tapak Paderi. Foto: Komi Kendy

Direktur Latun Ari Anggoro menargetkan penangkaran penyu di Kota Bengkulu bisa menjadi kawasan edukasi dan ekowisata. Terutama di kawasan Tapak Paderi yang menjadi penangkaran penyu buatan dan Pulau Tikus sebagai penangkaran alami.

“Kami berharap bisa mendapatkan dukungan dan founding internasional untuk mewujudkan ekowisata Penangkaran Penyu di Bengkulu,” kata Ari.

Di sekitar Kota Bengkulu-Bengkulu Tengah, ada tiga tempat yang menjadi tempat bertelurnya penyu. Di Pulau Tikus, areanya yang masih alami karena masih sedikit bersentuhan dengan pemukiman masyarakat, di kawasan Teluk Sepang dan kawasan Pekik Nyaring (Kabupaten Bengkulu Tengah)-Pantai Zakat.

“Untuk yang di Teluk Sepang, telur penyu yang ditemukan oleh nelayan, direlokasi ke Tapak Paderi. Karena memang di sana dekat dengan pemukiman. Dalam setahun, ada sekitar 1.200 telur yang ditemukan,” kata Ari.

Penyelamatan penyu yang sudah dilakukan bersama para pemuda pelestari alam laut, sudah dilakukan sejak tahun 2017. Pelan tapi pasti, Latun tidak hanya mengajak para pemuda untuk melestarikan penyu. Tapi juga nelayan setempat yang sekarang sudah membetuk kelompok-kelompok. Seperti kelompok nelayan Camar Laut.

Gerakan Menyelamatkan Penyu

Dukungan pelestarian penyu disampaikan Plt Gubernur Bengkulu Dedi Ermansyah

Dukungan pelestarian penyu disampaikan Plt Gubernur Bengkulu Dedi Ermansyah. Foto: Komi Kendy

Gerakan penyelamatan penyu, lanjut Ari, semakin gencar ketika pada rentang Desember 2019-Februari 2020 ada banyak penyu yang mati di perairan pantai Kota Bengkulu. Latun lantas mengajak nelayan ikut berkolaborasi melakukan upaya penyelamatan. Sosialisasi dan pembekalan pengetahuan tentang penyu dilakukan. Nelayan juga diberikan modal sosial.

Penyu-penyu yang tidak sengaja terjerat jaring diselamatkan. Lalu diantar ke penangkaran sementara di Tapak Paderi. Sebelum dilepasliarkan kembali, penyu yang dirawat, dipasangi metal tagging, microchip juga GPS untuk memantau pergerakannya di lautan. Pemasangan metal tagging juga dilakukan untuk mendapatkan data populasi penyu.

 Selain menggandeng nelayan, Latun juga menggandeng komunitas lainnya untuk sama-sama membangun Tapak Paderi sebagai kawasan edukasi dan ekowisata. Seperti KPA Gendong, Rafflesia Bengkulu Diving Center (RBDC), koperasi, Sapta Pesona Wisata sebagai penyedia jasa wisata Pulau Tikus dan lainnya.(**)

Share This