Menulis Blog, Berawal dari Menulis Diary
#BPN 30 Day Blog Challange

Menulis Blog, Berawal dari Menulis Diary

Hari ini Selasa, 20 November 2018 adalah hari pertama #30 Days Challenge dari Blogger Perempuan Network (BPN) dimulai. Sudah juga baca-baca tulisan member BPN lain yang kece-kece di portalnya yang jumlahnya hingga pukul 20.00 malam ini sudah hampir 200-an.

Wow, banyak juga ya yang mau ikut tantangan ini. Termasuk saya. Ikut challange ini sih sebenarnya bukan karena ada hadiahnya dari BPN. Tapi rasanya ini adalah momen yang pas buat mewujudkan keinginan bisa sukses dalam program One Day One Post (ODOP).

ODOP di blog kok rasanya susah sekali ya. Padahal beberapa tahun lalu waktu masih aktif menjadi jurnalis, dalam sehari saya bisa bikin 5-12 tulisan di koran. Itupun minimal dua berita indeepth. Makanya kali ini saya merasa tertantang ingin kembali mencoba. Makin semangat karena pesertanya ramai.

Tulisan hari pertama, temanya “Kenapa Menulis Blog”. Tema bikin keinget sama perjalanan kenapa saya menulis hingga hari ini. Jadi saya curhat aja ya.

Bermula dari Diary

Masuk ke dunia tulis-menulis berawal dari kesukaan menulis diary. Sejak SD sampai SMA, saya senang menyendiri di dalam kamar. Selain gemar membaca buku, saya menghabiskan waktu senggang dengan menulis diary.

Isinya didominasi kegiatan harian. Sisanya curhatan yang disimpan rapat-rapat di bawah kolong tempat tidur atau selipan baju di lemari. Ini saking takutnya dibaca orang lain. Walapun yakin, sekali dua mama pasti pernah membaca isinya.

Waktu kuliah, aktivitas menulis diary sempat terhenti. Hari-hari asyik dihabiskan dengan mendaki gunung dan belajar menulis berita. Yap. Saya mengambil Jurusan Jurnalistik saat kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Bengkulu tahun 2004.

Masuk ke jurnalistik sebenarnya “jurusan nyasar”. Soalnya terus terang, saya nggak punya pengalaman menulis hal lain selain diary. Ditambah dulu saya orangnya cuek bebek dan nggak mudah buat ngobrol panjang lebar dengan orang yang belum dikenal.

Tahun 2007 tepatnya 16 Maret adalah pertama kalinya tulisan saya diterbitkan di Harian Rakyat Bengkulu. Waktu itu masih jadi anak magang. Lupa sih judul tepat tulisannya. Kalo nggak salah berita feature.

Berita box (sebutan untuk berita feature) tentang keinginan warga Air Sebakul Kabupaten Bengkulu Utara, agar wilayahnya dimekarkan dan secara administratif masuk ke Kota Bengkulu. Supaya lebih dekat mengurus administrasi pemerintahan karena letak geografisnya lebih dekat dengan pusat kota Bengkulu ketimbang pusat kota Bengkulu Utara.

Tulisan pertama terbit di koran, walau di box tulisannya duet tertera nama saya dengan almarhum bang Ahmad Junaidi, rasanya sangat, sangat senang sekali. Masih terus terngiang pujian mbak Dita Asfhany, redaktur halaman Metropolis kala itu yang membuat saya terus semangat menulis.

“Komi tulisanmu ini sudah bagus loh. Sudah runut. Sudah pernah menulis dimana sebelumnya?” ujar Mbak Dita sembari tangannya bergerak lincah di atas keyboard dan memperhatikan layar komputer.

“Belum pernah menulis di media mbak. Hari ini yang pertama. Tapi dulu senang menulis diary. Juga suka membaca,” jawab saya.

“Bagus kok Mik. Memang masih ada beberapa yang kurang. Terus belajar ya biar jadi semakin baik lagi. Sudah oke ini,” lanjut Mbak Dita. Percakapan itu walau sudah 11 tahun lamanya, masih berbekas hingga sekarang.

Mengenal Blog

Blog lama www.kendyjourney.wordpress.com
Blog lama www.kendyjourney.wordpress.com

Setahun berlalu setelah menjadi anak magang di Harian Rakyat Bengkulu. Akhirnya saya diterima bekerja sebagai wartawan sungguhan. Setelah bekerja di media, kesempatan mengakses internet semakin mudah. Waktu zaman kuliah, mau internetan ya harus ke warnet. Belum seperti sekarang, internet bisa ada di dalam genggaman.

Dari browsing-browsing, kenal lah saya dengan yang namanya blog. Blog adalah singkatan dari web log. Semacam aplikasi web yang berbentuk tulisan dan foto tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman.

Dari buka-buka internet juga, bertemulah dengan blog milik Kak Rama Diandri. Ia adalah senior jurnalistik yang juga jurnalis Harian Bengkulu Ekspress. Blognya saat itu http://ramadiandri10.blogspot.com/ sebagian berisi sajak-sajak. Sebagian lainnya berita-berita yang pernah ditulisnya.

Dari situlah saya terinspirasi membuat blog gratisan komikendy.blogspot.com. Isinya berita dan juga curhatan. Kisaran tahun 2009 saya mengubah kebiasaan menulis diary yang disembunyikan, menjadi curhatan yang dipublikasikan. Tapi isinya sudah saya dihapus.

Lalu tahun 2013 saya bikin blog baru lagi. Lampu Badai namanya dengan link https://komikendy.wordpress.com/. Di blog ini, seiring dengan makin banyaknya blog yang menjadi referensi, kategori yang dibuat sudah lebih terarah.

Saya membuat kategori traveling, kuliner, jurnalisme dan lain-lain. Lalu karena lupa user dan pasword, ganti lagi menjadi https://kendyjourney.wordpress.com/. Kemampuan mengelola situs sendiri juga makin terasah ketika Harian Rakyat Bengkulu membuka portal online dengan platform harianrakyatbengkulu.com.

Mei 2017, dengan bantuan IT RB Kak Zulhamdi, akhirnya saya punya blog dengan domain sendiri. Sekarang blognya sudah berusia satu setengah tahun dan aktif hingga sekarang.

Terus Kenapa Harus Blog?

Ada beberapa alasan kenapa saya akhirnya ingin terus menulis blog :

1. Buat Terus Mengasah Kemampuan

Setahun terakhir, saya tidak aktif lagi menulis sebagai jurnalis. Ibarat kapak tumpul jika tak diasah, saya berharap dengan terus menulis blog maka kemampuan menulis saya tidak hilang begitu saja.

2. Informatif dan Bermanfat

Dari setiap postingan, tidak semuanya isinya curhatan. Ada juga tulisan yang berisi informasi informatif. Saya ingin menjadikan tulisan saya bermanfaat bagi yang membacanya sebgai referensi.

3. Blog Menjadi Media Belajar

Blog buat saya menjadi media belajar. Bukan hanya menulis. Tapi juga tentang mengutak-atik isinya.

4. Meninggalkan Jejak

We only live once. Kita hidup hanya sekali di dunia ini. Apapun yang dilalui, setiap perjalanan hidup akan menghilang begitu saja jika tidak dituliskan. Rasanya senang memiliki sesuatu yang merupakan hasil karya sendiri. Membuka-buka lagi postingan lama mengingatkan akan kenangan-kenangan. Mudah-mudahan bisa awet, jadi anak-anak nanti bisa menelusuri kisah perjalanan bundanya melalui blog ini.

5. Menuangkan Unek-unek

Rasa senang, sedih, kesal, marah, penat, bisa ditumpahkan melalui tulisan. Apalagi kalau lagi sedih. Rasa sedihnya bisa berkurang setelah menulis.

6. Dapat Uang Jajan Tambahan

Tidak dipungkiri. Dengan semakin aktifnya blog dan membaiknya DA (Domain Authorithy)/ Page Authorithy (PA), setiap bulannya ada saja job tulisan yang mampir. Senang dong. Walau nilai uangnya masih belum banyak, Alhamdulillah cukup buat beli paket bulanan terbaik dari provider merah.

7. Kenal Dunia Baru

Berkat nge-blog saya jadi kenal dunia baru. Jadi kenal sama Komunitas BPN juga Blogger Rafflesianya Bengkulu. Jadi kenal sama kawan-kawan buzzer di seluruh penjuru nusantara.

Benefit tambahannya, berkat nge-blog juga ada ajakan liputan langsung. Bahkan hingga ke luar kota. Tak begitu sulit dilakoni karena basic saya yang sebelumnya adalah jurnalis. Nah, itu dia perjalanan kenapa saya menulis blog. Semoga curhatan ini ada manfaatnya buat yang membaca.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top