VIRUS CORONA menjadi pandemi dunia setelah muncul pertama kali di Wuhan China. Kini virus corona sudah menginfeksi di hampir semua negara di benua Asia, Eropa serta di USA. Virus ini sangat mudah menyebar dan penyebarannya pun sangat cepat didukung oleh sifat virus yang masih mampu bertahan pada benda mati. Pasien dengan status positif corona baik yang punya gejala virus corona maupun yang tidak bergejala, memiliki kemampuan yang sama untuk menularkan virus pada orang sehat.

Akibatnya dari satu pasien saja, virus ini bisa menginfeksi hingga puluhan orang lainnya yang memiliki kontak dekat dengan pasien yang bersangkutan. Gejala virus Corona  sendiri yang mirip dengan gejala penyakit batuk biasa membuatnya semakin sulit diidentifikasi di fase-fase awal penularan.

Seperti sudah diberitakan di media. Virus Corona dapat mengakibatkan berbagai gejala yang khas seperti batuk, demam, pilek, kepala pusing dan sesak nafas. Gejala ini cukup umum karena penyakit batuk dan flu juga memiliki gejala yang sama. Yang membedakan adalah pada gejala sesak nafas dimana pada batuk dan flu tidak ditemukan gejala tersebut sedangkan di gejala Corona, sesak nafas terjadi akibat virus yang menginfeksi paru-paru dan menyebabkan pneumonia akut.

Saat sudah terjadi sesak nafas, pasien seharusnya sudah berada di rumah sakit sehingga bisa mendapatkan ventilator jika dibutuhkan. Sayangnya dengan gejala awal yang mirip dengan batuk biasa, pasien bisa jadi tidak terdeteksi di awal dan baru datang ke rumah sakit saat sudah berada di kondisi parah. Akibatnya di awal pandemi, Indonesia mencatatkan angka kematian cukup tinggi hingga 9% dimana secara umum seharusnya angka kematian akibat virus Covid19 tidak lebih dari 7 persen.

Jaga jarak dan rajin mencuci tangan dengan sabun menjadi salah satu upaya mencegah penyebaran corona. Foto: canva.com

Jaga jarak dan rajin mencuci tangan dengan sabun menjadi salah satu upaya mencegah penyebaran corona. Foto: canva.com

Untuk menekan penyebaran virus Corona, kini pemerintah memberlakukan prosedur tes masif atau tes massal khususnya di area zona merah, Pasien dalam Pemantauan, Orang dalam Pemantauan dan para pekerja medis yang sehari-harinya bersentuhan langsung dengan pasien maupun suspect corona. Dengan mendeteksi siapa saja yang positif dan negatif, maka kita bisa mencegah penularan yang lebih masif dengan melakukan isolasi bagi pasien positif.

Isolasi sendiri bisa dilakukan di rumah sakit, jika ia sudah memiliki gejala atau di rumah saja jika ia tidak menunjukkan gejala. Isolasi di rumah bagi pasien positif pun harus dilakukan di dalam kamar sehingga ia tidak menulari anggota keluarga lainnya. Anggota keluarga juga harus melakukan isolasi di rumah dan melakukan tes apakah sudah terinfeksi atau belum.

Dari penyebarannya yang sangat mudah dan cepat tersebut, membatasi jarak antar orang sangat bermanfaat untuk memutus rantai penyebaran. Seseorang carrier yaitu mereka yang positif namun belum terindentifikasi bisa merasa sehat-sehat saja dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Ia bisa bertemu banyak orang dan menyebarkan virus dengan cepat. Dengan physical distancing, penularan ini bisa dicegah karena semua orang menjaga jarak aman dengan orang lain. Selain itu menghindari kerumunan dan menerapkan pola hidup higienis juga menjadi perlindungan yang sangat efektif untuk menghentikan penularan virus corona.

Pencegahan virus corona agar tak semakin meluas bisa dilakukan dengan peran serta aktif pemerintah, tenaga kesehatan dan semua masyarakat. Masyarakat yang memiliki gejala virus corona harus aktif melapor untuk kebaikan semua orang. Bagi yang sehat, lebih baik tetap berada di rumah karena Anda tak akan tahu siapa carrier yang bisa Anda temui di luar sana dan menyebabkan Anda tertular virus yang sudah memakan banyak korban nyawa tersebut.(**)

Share This