Memotret Silky Water di aliran sungai hutan lindung.

Memotret dengan Teknik Silky Water

BELAJAR motret landscape bener-bener bikin kecanduan. Apalagi sejak kepincut sama filter ND32 yang bisa bikin aliran air jadi halus, sehalus kapas. Sekadar share buat yang belum tau, filter ND yang berkaca gelap ini sangat membantu untuk mengurangi cahaya ketika kita menggunakan shutter speed lambat di siang hari.

Pengurangan intensitas cahaya tergantung jenis filter yang ditandai dengan nomor seri seperti ND4, ND8, ND32 dan seterusnya. Kalau seperti filter ND32, bisa turun sampai 6 stop. Hasilnya, ya sudah lumayanlah kalau mau bikin efek silky and smooth pada aliran air tanpa menggunakan software photoshop.

Di tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman sendiri dan sedikit tips memotret silky water :

1. Tiga aksesoris pendukung

Memotret Silky Water di Goa Petruk
Memotret Silky Water di Goa Petruk

Memotret silky water, saya menggunakan tiga aksesoris pendukung seperti filter ND32, tripod dan kabel shutter release. ND32 mengurangi intensitas cahaya ketika saya menggunakan mode bulb dan menekan shutter hingga 30-50 detik. Walaupun kaca pada filter ND gelap, namun hasil fotonya berpengaruh.
Tripod sebagai penyangga kamera sehingga kamera tidak goyang dan gambar lebih taham, serta kabel shutter untuk membantu supaya kamera juga tak bergerak. Yakin dah, mau sekokoh dan sehati-hati apapu tangan ketika menekan tombol shutter dengan long expossure, sudah pasti bakal nge-blur.

2. Spot lokasi dan saat memotret

Memotret silky water sudah pasti mesti cari lokasi yang airnya mengalir. Nggak mesti di sungai lebar dan deras, cukup aliran air sudah oke. Bisa juga dilakukan di pantai yang ombaknya cukup besar. Walaupun pakai filter ND, sebenernya akan lebih oke kalau memotret saat langit teduh seperti pagi dan sore hari. Tapi kalaupun memotret siang hari, tetep no problem berkat filter ND.

3. Pastikan komposisi dan angle

Memotret Silky Water di Hutan Lindung Rindu Hati
Memotret Silky Water di Hutan Lindung Rindu Hati

Menggunakan filter ND pada bagian depan lensa, sudah barang tentu kita akan kesulitan melihat objek dari jendela bidik (viewfinder). Objek akan terlihat gelap. Solusinya selain cukup memakai insting kira-kira mana angle yang bagus, kita juga bisa mengubah settingan viewfinder menjadi tampilan di LCD. Pada kamera DSLR, settingan itu sudah otomatis terpasang pada kamera.

4. Mode Bulb

Jangan lupa menyetel mode kamera ke arah huruf B alias bulb. Setinggan ini membuat kita bisa membuka rana kamera selama apapun yang kita mau, bahkan hingga berjam-jam sampai baterenya habis. Hehe.
Jika tidak memiliki kabel shutter release, alternatifnya bisa menggunakan mode M atau manual. Supaya kamera tidak goyang saat kita menekan tombol shutter, disarankan menggunakan setting timer dulu. Settingan timer bisa 2 detik atau 10 detik sebelum shutter otomatis bekerja. Kelemahannya, menggunakan settingan ini long expossure hanya bisa berlangsung hingga 30 detik saja. Kadang-kadang hasilnya masih kurang halus.

Mau liat foto-foto saya di dalam Goa Petruk, ada di artikel Menjelajah Goa Petruk ini.

5. Settingan Kamera

Pada beberapa foto biasanya saya menggunakan settingan ISO 100, diafragma berada di angka F.22 dan speed diatas 30 detik. ISO 100 manfaatnya adalah mengurangi kadar noise (bintik-bintik pada foto) akibat spot motret kekurangan cahaya. Tapi beberapa kawan ada yang menggunakan ISO hingga batas 400 juga masih dalam kualitas noise yang tidak terlalu banyak.
Diafragma diangka F.22 supaya cahaya yang masuk bisa lebih banyak melewati settingan speed yang rendah. Selain itu F.22 juga membuat Depth of Field (DOF) menjadi tajam pada keseluruhan gambar. Berbeda dengan bukaan besar misal F.3.5, F.4, F.5.6 yang membuat efek blur pada objek yang menjadi foreground atau backgroundnya.
Sementara speed hingga diatas 30 detik, manfaatnya supaya objek yang bergerak seperti aliran air atau garis cahaya bisa tertangkap oleh kamera. Semakin lambat speed-nya, gambar air semakin halus dengan catatan jangan sampai kelebihan cahaya ya. Gambarnya bisa putih semua kalau over expossure.

6. Efek Vignette

Bila menggunakan lensa wide 10-22mm, pengalaman saya jika kita menggunakan focal lenght atau jarak lensa 10mm, maka filter ND yang terpasang bisa menimbulkan efek vignet. Pada sudut-sudut gambar terdapat seperti bayangan hitam. Solusinya, bisa di-cropping atau menggunakan focal lenght 16mm keatas.

7. Sabar

Namanya belajar fotografi, sudah pasti kita bakal melalui trial and error sebagai proses pembelajaran. Jangan kapok mencoba dan mengulang. Apalagi jika menggunakan long expossure, kita harus menunggu berdetik-detik sebelumnya framenya jadi.

8. Keep Safety

Motret juga tetap haru pake prinsip aman. Aman si fotografernya, aman juga peralatan. Banyak main di air bikin kamera rentan kena air atau kalau ape bisa tercebur. Jadi ya mesti hati-hati. Misalnya juga kalau hunting di area hutan, pastikan mengenakan pakaian dan alas kaki yang aman.
Delapan tips share pengalaman saya diatas, semoga aja bermanfaat buat yang bermanfaat. Harap maklum kalau masih banyak kurangnya. Soale saya juga masih belajar. Jika ada saran, masukan dan kritikan, ketik di komentar ya. 🙂

Komi Kendy

Halo, saya adalah blogger pemula yang menyukai dunia menulis, fotografi dan traveling.

1 Comment

Join the discussion and tell us your opinion.

Juli 17, 2019 - 03:38

[…] cari referensi buat memotret air kayak kapas, boleh juga nih baca teknik slow speed tulisan saya Memotret dengan Teknik Silky Water . Selain itu juga ada tulisan tentang Street […]

Balas

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *