“Yang namanya ajal memang ditangan Yang Maha Kuasa. Tapi setiap kali ada warga sakit yang meninggal karena keterlambatan penanganan dan minimnya fasilitas kesehatan, tentu ini sangat menyedihkan sekali,” tutur Rafli Kaitora, Kepala Suku Adat Kaitora Pulau Enggano. 

Rafli Kaitora tak kuasa  meluapkan kegundahannya ketika kami berbincang selama 30 menit melalui sambungan telepon. Warga asli yang tinggal menetap di Pulau Enggano itu masih merasakan kesedihan. Kurun sebulan terakhir sudah dua warganya meninggal dunia.

Penyebabnya sama. Sama-sama sakit. Mengalami sesak napas sebagai gejala awal dan terlambat mendapat penanganan karena keterbatasan tenaga kesehatan di pulau yang statusnya di catatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) masih termasuk Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Pulau Terluar (DTPK).

“Tanggal 31 Agustus yang meninggal Imri Aryadi Kauna, usia 68 tahun. Lalu sekitar seminggu kemudian,  Lirawati Kauna meninggal usia 40 tahun. Saat dibawa ke puskesmas, kebetulan dokternya sedang bertugas dinas ke luar pulau. Jadi ya memang terlambat penanganan,” tutur Rafli.

Rafli menuturkan, kejadian ada warga meninggal karena terlambat penanganan atau meninggal saat mengarungi lautan lepas Samudera Hindia, bukan kali pertama. Akses pelayanan dan fasilitas kesehatan di Pulau Enggano terbilang masih minim.

Hanya Ada Satu Dokter Umum

Rumah Sakit Bergerak Enggano atau disebut juga rumah sakit terapung memiliki fasilitas kesehatan yang masih terbatas. Foto: dr. Meinoffiandi.

Rumah Sakit Bergerak Enggano atau disebut juga rumah sakit terapung memiliki fasilitas kesehatan yang masih terbatas. Foto: dr. Meinoffiandi.

Meski di sana sudah ada Puskesmas Enggano dan Rumah Sakit Bergerak (Rumah Sakit Terapung), namun hanya memiliki satu dokter umum saja. Alhasil warga yang berobat ke fasilitas kesehatan dilayani oleh perawat dan bidan yang dinilai oleh warga penanganan kesehatannya tidak seampuh dokter.

Tak hanya itu saja. Apabila ada warga yang harus dirujuk ke rumah sakit di Kota Bengkulu, tidak bisa langsung berangkat. Transportasi yang tersedia hanya kapal perintis yang berangkat dua kali saja dalam sepekan. Begitu pula dengan pesawat Susi Air. Jadi jika tidak ada jadwal keberangkatan baik kapal maupun pesawat, pasien tentu harus menunggu.

“Perjalanannya juga cukup jauh. Berlayar 12 jam. Kadang sudah dirujuk jauh-jauh, belum lagi sampai ke rumah sakit di Kota Bengkulu, sudah meninggal di kapal. Lalu obat-obatan juga. Persediaannya di sini (Enggano) sangat terbatas,” ungkap Rafli.

Kondisi pelayanan dan fasilitas kesehatan yang masih minim, lanjut Rafli, masih harus dirasakan oleh masyarakat Enggano bahkan setelah 75 tahun Indonesia merdeka. Ia menuturkan, daya juang masyarakat Pulau Enggano untuk mempertahankan kehidupan, benar-benar tinggi. “Mau bagaimana lagi. Sebisa mungkin kami berusaha untuk tidak sakit. Tapi yang namanya manusia kadangkala ya merasakan sakit,” ujar Rafli.

Berharap Ada Penambahan Dokter

Mewakili warga Enggano, Rafli berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkulu Utara bisa menambah tenaga dokter di Pulau Enggano. Baik dokter umum maupun spesialis. Sehingga jika ada dokter yang harus bertugas ke luar pulau, tetap ada dokter lain yang siaga.

“Apalagi pada kondisi pandemi Covid-19 ini. Kami bersyukur sampai hari ini Enggano masih zona hijau. Tapi untuk menjaga agar jangan sampai virus itu masuk ke sini, tentu harus ada penanganan ekstra. Bahkan jika perlu, tutup dulu untuk  sementara akses masuk ke pulau untuk pendatang,” harap Rafli.

Pulau Enggano merupakan pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Di sana, sebanyak 3.274 penduduk (data Badan Pusat Statistik (BPS) Kecamatan Enggano dalam Angka 2019) menempati pulau seluas 400,6 meter persegi itu. Warga tersebar di enam desa yakni Banjarsari, Meok, Apoho, Malakoni, Kahyapu dan Kaana. Untuk menopang kehidupannya, di Enggano warga mengandalkan potensi tangkapan laut, serta perkebunan kakao, kopi robusta dan kelapa.

Meski memiliki potensi wisata karena keindahan bawah lautnya, namun akses transportasi yang tidak menentu membuat upaya pengembangan pariwisata ikut tersendat. Transportasi kapal hanya tersedia pada Rabu dan Jumat dari Pelabuhan Pulau Baai-Pelabuhan Malakoni. Sementara pesawat perintis Susi hanya ada Selasa dan Jumat dengan ongkos Rp 300 ribu sekali penerbangan .

Berada 156 kilometer atau 90 mil dari pusat ibukota provinsi, warga Pulau Enggano acapkali merasakan menjadi warga yang terisolir. Bukan sekali dua kapal perintis tidak bisa angkat jangkar dari Pelabuhan Pulau Baai lantaran badai melanda hingga berminggu-minggu.

Bertugas dengan Penuh Tantangan

Hanya ada satu dokter yang melayani pasien baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit Bergerak Enggano. Dokter Meinoffiandi saat sedang memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Foto: Dokumen dr. Meinoffiandi.

Hanya ada satu dokter yang melayani pasien baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit Bergerak Enggano. Dokter Meinoffiandi saat sedang memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Foto: Dokumen dr. Meinoffiandi.

Keterbatasan pelayanan dan fasilitas kesehatan di Pulau Enggano seperti yang diutarakan Rafli Kaitora diakui oleh satu-satunya dokter umum di Pulau Enggano, dr. Meinofiandi Leswin. Ia bertugas di dua tempat sekaligus, Rumah Sakit Bergerak dan di Puskesmas Enggano.

Dokter muda berusia 35 tahun yang akrab disapa Andi itu mengungkapkan, selama bertugas di sana ada beberapa tantangan yang dihadapi. Mulai dari jumlah dokter yang hanya satu orang saja, kebutuhan akan dokter spesialis, laboratorium sederhana yang belum bisa difungsikan secara maksimal karena tidak ada tenaga ahli yang menangani, pasokan obat-obatan yang terbatas. Tidak ada apotek maupun apoteker.

“Fasilitas dan sumber daya yang ada sekarang lebih pada yang sifatnya emergency. Sebisa mungkin mempertahankan pasien yang mengalami sakit parah untuk tetap hidup, hingga bisa dirujuk ke rumah sakit yang ada di Kota Bengkulu,” kata Andi yang sehari-hari keluarganya berada di Kota Bengkulu.

Meningkatkan Kualitas Kesehatan

Salah satu kegiatan pelayanan di Puskesmas Enggano. Foto: Dokumen dr. Meinoffiandi

Salah satu kegiatan pelayanan di Puskesmas Enggano. Foto: Dokumen dr. Meinoffiandi

Segala tantangan dalam menunaikan tugas di pulau terluar, tidak serta-merta menjadi hambatan untuk tidak bisa berbuat. Peningkatan kualitas kesehatan di Pulau Enggano tetap dilakukan dengan melakukan upaya preventif. “Yang dilakukan adalah bagaimana caranya kami mengupayakan agar masyarakat di pulau itu sehat,” ujarnya.

Beberapa hal yang dilakukan antara lain menyosialisasikan pentingnya hidup sehat kepada warga, melakukan penyuluhan, mengingatkan warga untuk mengonsumsi makanan bergizi, menggalakkan program desa Open Defecation Free (ODF) dengan pembuatan jamban sehat.

Pada situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, puskesmas dan rumah sakit bersama Gugus Covid-19 mengawasi dan membatasi kedatangan orang dari luar ke Enggano. Salah satunya dengan memberlakukan syarat wajib menunjukkan hasil rapid test sebelum naik ke kapal.

Baca Juga Artikel Kesehatan Lainnya :

Gerakan Amanat, Dari yang Biasa Menjadi Luar Biasa

8 Kiat Menjalani New Normal Ditengah Pandemi Covid-19

Aturan ini diutamakan bagi penumpang yang Kartu Tanda Penduduk (KTP)-nya tidak berdomisili di Enggano. Setibanya di pulau, lanjut Andi, kembali dicek. Jika ternyata ada yang tidak punya surat keterangan tapi tetap bisa datang ke pulau, diberlakukan rapid test di pelabuhan.

Cegah Angka Kematian Ibu dan Anak

Terkait dengan angka kematian ibu, di Pulau Enggano belum mengkhawatirkan. Akan tetapi untuk kasus kematian anak, perlu mendapat perhatian. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, angka kematian ibu dan anak pada periode Januari-Juli 2020 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Untuk kasus kematian ibu, tahun ini total ada 21 ibu meninggal dunia dan tahun 2019 ada 18 ibu meninggal dunia. Dimana terbanyak adalah Kabupaten Bengkulu Utara dengan jumlah 7 ibu meninggal. Sementara untuk kasus kematian bayi, jumlahnya mencapai 153 bayi meninggal. Sedangkan tahun 2019 ada 149 bayi meninggal. Kasus terbanyaknya pun di Kabupaten Bengkulu Utara yakni 40 bayi meninggal. Dimana dua diantaranya ada di Kecamatan Enggano. “Ibu-ibu hamil di Pulau Enggano kesulitan jika ingin melakukan periksa USG. Alatnya selama ini rusak. Baru tahun 2020 ada alat bantuan, tapi belum bisa dioperasikan karena tenaganya harus ikut pelatihan dulu,” ujar Andi.

KORINDO dan Klinik Asiki

Keberadaan Klinik Asiki di Boven Digoel, Papua. Klinik di Kampung Asiki ini diresmikan sejak 2 September 2017. Foto : korindo.co.id

Keberadaan Klinik Asiki di Boven Digoel, Papua. Klinik di Kampung Asiki ini diresmikan sejak 2 September 2017. Foto : korindo.co.id

Akses mendapat pelayanan kesehatan yang minim seperti di Pulau Enggano, jelas bukan satu-satunya di Indonesia. Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Teringgal tahun 2020-2024 ada 62 daerah. Dari 62 daerah tertinggal itu, sebanyak 22 diantaranya berada di Papua. Salah satunya Boven Digoel.

Ingat Boven Digoel, ingatan saya melayang pada Klinik Asiki. Sebuah klinik yang didirikan oleh KORINDO Group dan KOICA (Korea International Cooperation Agency). KORINDO sendiri merupakan perusahaan perintis dalam hal pelestarian lingkungan.

Mengutip situs korindo.co.id, perusahaan ini sudah sudah menunjukkan eksistensinya selama 51 tahun di pasar Asia Tenggara atau sejak 1969, sudah dikenal keberhasilannya sebagai pemasok kertas koran domestik. Serta melaksanakan imbauan pemerintah dalam hal melakukan pembaruan industri koran yang sebelumnya sangat bergantung pada produk kertas koran impor.

Melalui kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR), KORINDO juga membantu masyarakat setempat menciptakan mata pencaharian sendiri secara mandiri dalam bentuk bantuan usaha di perkebunan karet dan penyediaan pelatihan di sektor peternakan unggas. Dan tentunya KORINDO juga menjadi perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan yang baik untuk sesama.

Klinik Asiki di Kampung Asiki, Boven Digoel memiliki fasilitas yang lengkap dan modern, berikut tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan dan penyuluhan gratis kepada masyarakat. Klinik ini berdiri sejak 2 September 2017 di kabupaten dengan jumlah penduduk 67.717 jiwa (data BPS tahun 2018) itu.

Kampung Asiki di Boven Digoel merupakan sebuah kampung pedalaman Papua. Letaknya di perbatasan negara Indonesia – Papua New Guena (PNG). Klinik ini dibuka tentu saja dengan tujuan dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di sana.

Klinik Asiki memiliki gedung sendiri seluas 1.100 meter persegi. Fasilitasnya terdiri dari ruang inap, ruang rawat jalan, ruang bersalin, perawatan bayi/perinatologi, Instalasi Gawat Darurat (IGD), ruang bedah minor, USG, farmasi, dan fasilitas lainnya hingga penyediaan kendaraan ambulans.

Delapan Program Unggulan

Ada 8 program yang gencar dilakukan oleh Klinik Asiki, yaitu sebagai berikut :

  1. Menurunkan angka kematian ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi baru lahir melalui peningkatan pelayanan kesehatan ibu, balita dan Keluarga Berencana (KB), serta memperbaiki status gizi masyarakat
  2. Mengendalikan penyakit menular serta penyakit tidak menular
  3. Penyehatan lingkungan
  4. Mengembangkan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
  5. Memberdayakan masyarakat dan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan
  6. Peningkatan pelayanan kesehatan primer
  7. Meningkatkan lingkungan kerja yang aman dan nyaman
  8. Fokus dalam meningkatkan sumber daya manusia yang profesional

Dengan fasilitas lengkap dan pelayanan yang kerap dilakukan dengan “jemput bola”. Salah satunya  dengan membuka layanan mobile service.  Program ini dilakukan secara langsung ke kampung-kampung terpencil dan perbatasan di wilayah sekitar perusahaan yang berada di Boven.

Layanan Mobile Service

Layanan Mobile Service Klinik Asiki bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak. Foto: korindi.co.id

Layanan Mobile Service Klinik Asiki bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak. Foto: korindi.co.id

Bekerjasama dengan Puskesmas, saat pertama kali dimulai tahun 2017, Mobile Service Klinik Asiki menjangkau enam kampung. Lalu secara berkelanjutan menyasar kampung-kampung lain. Program Mobile Service Klinik Asiki dilakukan untuk meningkatkan akses dan pemanfaatan layanan kesehatan, serta meningkatkan aksebilitas pelayanan medis untuk daerah. Sasarannya ditujukan untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil dan bayi atau balita. Oleh sebab itu kegiatannya pun dilakukan di posyandu-posyandu.

Berkat upayanya meningkatkan kualitas kesehatan di Kampung Asiki Boven Digoel, kurun dua tahun saja Klinik Asiki berhasil menjadi klinik terbaik tingkat nasional. Yakni dalam kategori Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Penghargaan ini diberikan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada 15 Agustus 2019 dengan predikat “FKTP dengan Komitmen Tinggi dalam Memberikan Pelayanan Terbaik bagi Peserta JKN-KIS Kategori Klinik Pratama.”

Sungguh beruntung warga Kampung Asiki saat ini telah memiliki pusat pelayanan kesehatan dengan fasilitas dan sumber daya tenaga kesehatan yang lengkap. Ah, andai Pulau Enggano memiliki klinik dengan pelayanan maksimal serupa seperti Klinik Asiki, niscaya masyarakat di sana akan merasakan kualitas dan jaminan kesehatan terbaik. Dengan industri yang terus berkembang dan semakin maju di masa yang akan datang, bukan tidak mungkin jika kedepannya KORINDO Group memperluas wilayah kegiatan sosialnya ke daerah-daerah pedalaman, perbatasan dan pulau terluar lainnya. Semoga. (**)

Share This