Lima tahun yang lalu, Zulkarnedi hanya nelayan biasa. Melaut, menjual hasil tangkapan ikan, termasuk menjadi penampung sekaligus penjual telur penyu. Semua dilakoninya selama belasan tahun. Hingga pada suatu hari pertemuannya dengan pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) membuat dunianya seketika berubah.

Penangkaran Penyu Alun Utara yang didirikan Zulkarnedi saat ini menjadi salah satu andalan bila ada instansi-instansi atau perusahaan swasta yang berkeinginan untuk merilis/ melepas tukik (anak penyu) di pantai. Namanya menjadi dikenal sebagai salah satu aktivis yang peduli terhadap pelestarian penyu di Bengkulu.

“Sudah lebih dari seribu anak tukik yang sudah kita lepaskan ke lautan,” tutur Zulkarnedi ketika saya dan beberapa rekan dari Universitas Dehasen (Unived) mendatangi Penangkaran Penyu Alun Utara, pada April lalu.

Lokasi Penangkaran Penyu Alun Utara terletak di Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah. Dari pusat Kota Bengkulu, jaraknya hanya sekitar 7 kilometer. Dari gerbang perbatasan Kota Bengkulu – Kabupaten Bengkulu Tengah di kawasan Sungai Hitam  malah cuma 1 kilometer saja ditempun dengan kendaraan bermotor, atau sekitar 15 menit.

Ketika ditemui, Zulkarnedi sendiri sebenarnya tampak sudah tak asing lagi meladeni pertanyaan demi pertanyaan yang saya ajukan. Ia mengungkapkan, sudah ada beberapa jurnalis yang melakukan wawancara. Termasuk membuat film dokumenter tentang aktivitas penangkaran penyu.

ZUlkarnedi mengawali cerita kembali ke tahun 1990. Selepas menyelesaikan pendidikan di Sekolah Teknik Menengah (STM)  -sekarang SMKN 2, Zulkarnedi memilih menjadi nelayan. Pekerjaan yang turun-temurun ia warisi dari kakek buyutnya. Pun hingga sekarang. Keluarga Zulkarnedi bergantung pada hasil laut sebagai mata pencaharian utama.

Tukik yang baru saja menetas dan naik ke permukaan pasir.

Tukik yang baru saja menetas dan naik ke permukaan pasir.

Kala itu, apapun hasil laut yang didapat, dijual oleh Zulkarnedi untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Termasuk menjual telur penyu yang dikenal kaya akan protein. Pria asal Pasar Malabro itu pun sempat menjadi penampung telur-telur penyu. Ia membeli telur penyu itu dari penemu Rp 6.000-Rp 8.000 per butir. Lalu dijual kembali Rp 10.000-Rp 12.000 per butir.

Telur-telur penyu dijual Zulkarnedi di tepi jalan. Berapa pun yang ia jual selalu habis. Sebelum bertemu dengan pegawai DKP ia sebenarnya sudah punya keinginan untuk berhenti jual beli telur penyu. Zulkarnedi punya keinginan untuk mencoba menetaskan telur-telur yang ia dapat.

Zulkarnedi yang mengakui awalnya tidak paham mengapa telur penyu dilarang untuk diperjualbelikan, lantas tersadar. Jika ia terus-menerus menjual telur penyu dan membiarkan hewan langka itu punah dari lautan, maka anak cucu di masa mendatang tidak akan bisa lagi melihat penyu secara nyata. “Kalau penyu tidak dilestarikan, nanti anak cucu kita hanya bisa melihat gambarnya saja,” ujar Zulkarnedi.

Persoalannya, ia tidak punya cukup uang jika harus terus-menerus membeli telur penyu. Hingga suatu hari di tahun 2015, bertemulah ia dengan pegawai DKP tersebut. “Waktu itu saya diberi tahu bahwa menjual telur penyu itu dilarang,” tutur Zulkarnedi.

Lantas pegawai dari DKP menawarkan siap membeli telur-telur yang selama ini dihimpun oleh Zulkarnedi. Ia pun diajak untuk bersama-sama menangkar telur-telur penyu yang didapat. Sejak saat itu, jejak Zulkarnedi melestarikan penyu dimulai.

Baca Juga : Konservasi Penyu di Bengkulu, Yuk Kita Dukung

Menangkar Penyu dari Rumah

Tukik-tukik yang baru menetas dikumpulkan di sebuah ember lebar. Jika alat pernapasannya sudah siap, tukik siap dimasukkan ke dalam kolam berisi air laut.

Tukik-tukik yang baru menetas dikumpulkan di sebuah ember lebar. Jika alat pernapasannya sudah siap, tukik siap dimasukkan ke dalam kolam berisi air laut.

Sebagai percobaan, Zulkarnedi memanfaatkan teras rumahnya untuk meletakkan tong-tong berisi pasir yang digunakan untuk “mengerami” telur penyu. Tantangan cukup besar bagi ia dan keluarga pun datang. Menurutnya, tak sedikit tetangga yang mencemooh apa yang dia lakukan. Rumahnya dinilai lingkungan sekitar jadi tampak kumuh.

“Ada yang bilang saya didik (bodoh). Tidak digaji tapi kok mau saja kerja susah-susah. Malah ada yang bilang saya gila,” cetus Zulkarnedi.  “Tapi sekarang orang yang dulu bilang saya gila dan bodoh, malu sendiri. Ada yang punya keinginan untuk bergabung dengan kelompok kami, tapi terlanjur malu karena pernah berpikiran negatif,” tambahnya.

Jenis penyu yang pertama kali ia etaskan di sarang buatan adalah penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Telur-telur didapatnya dari nelayan dan ada pula dari hasil “patroli” sarang penyu di sepanjang pantai yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Sebagai percobaan, ia membuat tiga sarang. Per sarang bervariasi diisi hingga 100 butir telur. Upayanya membuahkan hasil. Sekitar 80-85 persen telur berhasil menetas.

“Kalau menetaskan telur penyu, tidak terlalu kesulitan. Saya tahu tentang menetaskan telur penyu dari datuk kami dulu. Waktu kami masih kecil-kecil karena terbiasa hidup di pesisir pantai. Insya Allah kalo tepat suhu dan kedalaman menempatkan telur, 60 hari atau dua bulan, telur menetas,” ungkap Zulkarnedi.

Dukungan Berdatangan

Zulkarnedi saat ditemui di tempat penangkaran penyu Alun Utara.

Zulkarnedi saat ditemui di tempat penangkaran penyu Alun Utara.

Tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 2018, Zulkarnedi mendapat dukungan dari Loka Pengelolaan SD Pesisir dan Laut (LPSPL) Serang, Banteng yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan. Selain mendapat support dana untuk “menebus” telur penyu yang ditemukan nelayan, ia juga mendapat tempat baru untuk penangkaran penyu.

Lokasi penangkaran penyu yang masih berdiri hingga sekarang sekitar 100 meter ke arah pantai. Zulkarnedi mendapat lahan sekitar 20×30 meter. Di sana ia membuat sarang-sarang buatan, bak untuk tukik, anak penyu yang baru menetas. Di sisi lainnya ada juga bak-bak untuk menempatkan penyu yang sudah lebih besar, sebelum dirilis ke lautan.

Mendirikan Kelompok Pelestari Penyu

Untuk mengelola penangkaran tersebut, dia mendirikan Kelompok Pelestari Penyu Alun Utara. Tepatnya 12 Mei 2016. Anggotanya sebagian merupakan pemuda desa, termasuk juga anak-anaknya. Hingga saat ini ia sudah berhasil menetaskan empat jenis penyu. Selain penyu lekang, ia juga menangkar penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau ((Chelonia midas) dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea).

“Perbedaan dari keempat jenis penyu itu salah satunya dilihat dari bentuk tempurungnya,” tutur pria kelahiran tahun 1968 itu.

Dari tahun ke tahun, dukungan atas kegigihan Zulkarnedi melestarikan penyu di Bengkulu, terus mendapat dukungan. Termasuk diantaranya dari DKP Provinsi dan DKP Kabupaten Bengkulu Tengah. Sudah beberapa kali ia mendapat kesempatan mengikuti pelatihan di berbagai daerah. Begitupun menjadi pembicara dalam pertemuan-pertemuan terkait pelestarian penyu.

Tahun 2020 ini, Kelompok Pelestari Penyu Alun Utara juga mendapat Corporate Social Responsibility (CSR) dari salah satu produsen kendaraan roda empat. “Bantuan inilah yang cukup besar. Sehingga kami bisa mendirikan bangunan untuk tempat edukasi bagi pengunjung yang mau ke sini. Sayangnya ini belum bisa kita manfaatkan. Karena sejak pandemi Covid-19, jumlah pengunjung menurun drastis,” kata Zulkarnadi.

Peran Penyu di Lautan

Dengan terus melestarikan penyu, maka tangkapan ikan bisa terus melimpah.

Dengan terus melestarikan penyu, maka tangkapan ikan bisa terus melimpah.

Dari yang dirasakan Zulkarnedi sebagai nelayan, peran penyu di lautan sangatlah besar. Penyu, ungkap Zulkarnedi merupakan bagian dari mata rantai untuk menjaga ekosistem laut, juga terumbu karang.

Penyu adalah hewan laut yang memangsa ubur-ubur. Semakin banyak melepas tukik ke laut, maka ikan-ikan kecil bisa tetap hidup. “Alhamdulillah. Dari yang kami rasakan, tidak pernah kami kekurangan ikan besar untuk ditangkap. Hasil laut selalu melimpah,” tutur Zulkarnedi yang menjual sendiri hasil tangkapannya di Pasar Ikan Barukoto setiap subuh.

Zulkarnedi bersyukur, ia tidak patah semangat. Baginya dukungan keluarga membuatnya bisa mendirikan Penangkaran Penyu Alun Utara yang direncanakan akan menjadi tempat wisata edukasi. “Dari cemoohan saya jadi termotivasi untuk tidak menyerah,” ujar Zulkarnedi.(**)

Share This