Ini Dia Syarat Terbaru Traveling ke Jawa dan Bali – Akhir tahun menjadi waktu yang ditunggu-tunggu. Banyak orang membuat rencana berlibur sepanjang musim libur Natal dan Tahun Baru. Libur bertambah karena anak-anak sekolah sudah bagi rapor semester.

Sebenarnya, ditengah musim pandemi Covid-19 seperti sekarang ini ada baiknya untuk tetap #stayathome alias #DiRumahAja. Tapi jika memang ingin bepergian, pastikan tetap mematuhi protokol kesehatan ya. Kenakan masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan. Dan tentunya harus tahu dulu aturan baru perjalanan.

Peraturan Perjalanan

Paling anyar nih Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sudah mengeluarkan peraturan terbaru. Khususnya yang mengatur perjalanan untuk Pulau Jawa dan Bali selama periode Natal dan Tahun Baru 18 Desember 2020 – 8 Januari 2021. Ini dia peraturan yang menjadi syarat terbaru traveling ke Jawa dan Bali :

Aturan Jalur Penerbangan

  • Penerbangan dari semua bandara di Jawa dan Bali, penumpang diwajibkan buat tes PCR atau rapid antigen maksimal H-3 sebelum keberangkatan.
  • Penerbangan menuju semua bandara di Jawa, penumpang wajib PCR atau rapid antigen maksimal H-3 sebelum keberangkatan.
  • Khusus penerbangan menuju Bali, penumpang wajib PCR maksimal H-3 sebelum keberangkaran.

Aturan Kereta Api

Seluruh penumpang kereta api jarak jauh wajib PCR atau rapid antigen. Tes ini dilakukan maksimal 3 hari sebelum keberangkatan.

Aturan Perjalanan Darat

  • Khusus perjalanan darat menuju Bali, seluruh penumpang wajib minimal rapid antigen maksimal H-3 sebelum keberangkatan.
  • Diskresi  biaya tes kesehatan akan diberikan bagi angkutan logostik yang masuk ke Bali.
  • Untuk perjalanan darat di Jawa, pelaku perjalanan diimbau melakukan rapid antigen sebelum keberangkatan.

Ketentuan Lainnya

Selain aturan perjalanan menggunakan pesawat, kereta api maupun mobil atau motor seperti yang sudah dituliskan diatas, masih ada ketentuan lainnya yang juga harus diketahui. Berikut syarat traveling Jawa dan Bali jika melalui jalur darat:

  1. Terkait wajib rapid antigen yang diberlakukan, pastikan tes yang dijalani menggunakan 4 merk yang telah mendapatkan izin edar resmi dari Kementerian Kesehatan. Yaitu GenBody, Indec, SD Biosensor (rekomendasi WHO/ badan kesehatan dunia) dan Abbott Panbio (direkomendasikan oleh WHO). So, saat akan mendaftar rapid antigen harus ditanya dulu ke klinik apakah alat rapid yang digunakan sesuai merk diatas.
  2. Sebelumnya, rapid yang diberlakukan adalah jenis rapid antibodi, maka rapid ini sudah tidak diberlakukan lagi.
  3. Bagaimana dengan anak-anak? Khusus perjalanan domestik, anak dibawah usia 12 tahun tidak wajib mengikuti tes PCR maupun tes rapid antigen sebagai syarat perjalanan.
  4. Yang perlu diperhatikan juga, semua biaya tes ini bukan tanggungan pemerintah. Tapi menjadi tanggungan pribadi.
  5. Perhatikan protokol kesehatan selama perjalanan. Sebab di titik-titik kumpul, protokol kesehatan diperketat oleh pemerintah.

Apa Itu PCR, Rapid Antigen dan Rapid Antobodi?

Dari beberapa jenis tes yang diatur pada peraturan perjalanan libur Natal dan Tahun Baru, ada yang namanya tes PCR, rapid antigen dan rapid antibodi. Untuk mengetahui apa perbedaannya, saya mengutip dari situs Halodoc.

Tentu sudah pada tahu kan ya sama Halodoc. Yap. Halodoc adalah perusahaan teknologi karya anak negeri yang menyediakan pelayanan bidang telekonsultasi kesehatan. Tahun 2016 Jonathan Sudharta mendirikan Halodoc di Jakarta.

Istimewanya, hanya melalui smartphone dan aplikasi Halodoc, pasien bisa berbicara dengan dokter spesialis, membeli obat, serta melakukan pemeriksaan laboratorium kapan saja, dimana saja selama 24 jam. Jadi memudahkan pasien untuk tidak perlu antre lama di klinik atau praktik dokter secara offline. Terutama di masa pandemi seperti sekarang.

Tes PCR

PCR merupakan singkatan dari Polymerase Chain Reaction (PCR). Dikenal juga dengan nama tes swab PCR. Tes ini direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tes ini dinilai paling ampuh mendeteksi virus Covid-19 dari dalam tubuh melalui pemeriksaan molekuler guna mencari jejak materi genetic virus pada sampel yang dikumpulkan. Sampel diambil melalui teknik usap hidung atau tenggorokan.

Tes PCR dinilai paling akurat. Disarankan untuk melakukan tes ini jika sudah masuk kategori suspect karena ada gejala sesak, tenggorokan sakit, batuk dan demam. Pengambilan spesimen ini dilakukan maksimal dua hari setelah munculnya gejala-gejala tersebut.

Orang yang terkonfirmasi reaktif berdasarkan hasil rapid test, juga perlu tes PCR. Begitu juga ketika habis bepergian keluar kota atau luar negeri pada 14 hari terakhir dan memiliki kontak erat dengan pasien COVID-19.

Rapid Test Antigen

Beberapa hari lalu, saya baru saja menjalani tes antigen di Klinik Armina Sakti Kelurahan Pematang Gubernur, Kota Bengkulu. Syaratnya mendaftar pakai Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan membayar Rp 350 ribu.

Rapid antigen dilakukan dengan mendeteksi antigen atau protein yang dapat membentuk badan virus penyebab COVID-19. Sampel diambil dari cairan lender di hidung. Rasanya lumayan nyeri. Persis ketika kita sedang berenang lalu hidung masuk air. Setelah 10-15 menit, hasilnya diketahui negatif.

Tes Rapid Antibodi

Tes rapid antibodi punya keunggulan dari segi kecepatan hasil. Kurun 10 menit setelah darah diambil, garis satu atau garis dua akan menunjukkan negatif positifnya hasil rapid. Tes rapid test antibodi menggunakan metode untuk mendeteksi antibodi, yaitu IgM dan IgG yang dapat diproduksi oleh tubuh saat melawan virus.

Nah, antibodi hanya terlihat ketika tubuh terpapar virus Covid-19. Tes rapid memang bisa dilakukan untuk mendeteksi virus corona. Tapi tidak disarankan oleh WHO karena tingkat akurasinya yang rendah. Hasil negatif bisa saja palsu.

Pekan lalu, saya juga mendapat tes ini. Kebetulan ada tes masal gratis di kantor Graha Pena Rakyat Bengkulu. Pemeriksaan dilakukan menggunakan sampel darah dari ujung jari tangan kanan. Darah kemudian diteteskan pada alat tes rapid. Selanjutnya tetesan darah pada alat rapid ditetesi cairan untuk menandai antibodi. Saat itu hasil tes saya juga negatif.

Baca Juga : 8 Kiat Menjalani Kehidupan New Normal

Menanti Vaksin Covid-19

Kondisi sekarang ini memang masih sungguh mengkhawatirkan. Jangankan berbicara angka Covid-19 se-Indonesia. Untuk ukuran Provinsi Bengkulu saja, angkanya terus bertambah. Walau kemudian banyak juga yang sembuh, namun angka korban meninggal juga tidak bisa diabaikan begitu saja.

Per 17 Desember 2020 kasus Covid-19 mencapai angka 644 ribu, pasien sembuh 527 ribu dan 19.390 ribu orang diantaranya meninggal. Di Bengkulu, dari 2.950 kasus Covid-19, 1.962 orang diantaranya sembuh dan 103 orang meninggal dunia.

Tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan selain sama-sama peduli dan menjaga diri. Sekali lagi, taati protokol kesehatan. Bisa kita lihat, makin hari makin banyak orang yang abai. Paling mudah dilihat adalah enggan mengenakan masker. Terutama saat berada di tempat umum.

Masyarakat juga sekarang menanti vaksin benar-benar aman digunakan dan mampu membentuk kekebalan tubuh dari virus Covid-19. Ada enam vaksi yang bisa dipilih masyarakat yaitu Sinovac, Sinopharm, BioNTech, AstraZenaca, Pfizer dan Vaksin Moderna.

Memang sih, hingga pertengahan Desember 2020 ini belum ada satu vaksin pun yang sudah melewati fase ketiga. Namun upaya uji coba agar pemberian vaksin ini aman untuk semua kalangan, baik anak-anak, wanita hamil dan menyusui, terus dilakukan. Begitu juga dari sisi kehalalannya.

Tentu kita sama-sama berharap setiap vaksin yang beredar di masyarakat benar-benar ampuh, dapat diterima dan membuat penyebaran Covid-19 terhenti. Kalau kondisi sudah kembali normal, tentu rangkaian tes dan protokol yang harus dijalani acapkali melakukan perjalanan jauh, sudah tidak perlu dilakukan kembali.(**)