Jejak Zulkarnedi, Pendiri Penangkaran Penyu Alun Utara

Jejak Zulkarnedi, Pendiri Penangkaran Penyu Alun Utara

Lima tahun yang lalu, Zulkarnedi hanya nelayan biasa. Melaut, menjual hasil tangkapan ikan, termasuk menjadi penampung sekaligus penjual telur penyu. Semua dilakoninya selama belasan tahun. Hingga pada suatu hari pertemuannya dengan pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) membuat dunianya seketika berubah.

Penangkaran Penyu Alun Utara yang didirikan Zulkarnedi saat ini menjadi salah satu andalan bila ada instansi-instansi atau perusahaan swasta yang berkeinginan untuk merilis/ melepas tukik (anak penyu) di pantai. Namanya menjadi dikenal sebagai salah satu aktivis yang peduli terhadap pelestarian penyu di Bengkulu.

“Sudah lebih dari seribu anak tukik yang sudah kita lepaskan ke lautan,” tutur Zulkarnedi ketika saya dan beberapa rekan dari Universitas Dehasen (Unived) mendatangi Penangkaran Penyu Alun Utara, pada April lalu.

Lokasi Penangkaran Penyu Alun Utara terletak di Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah. Dari pusat Kota Bengkulu, jaraknya hanya sekitar 7 kilometer. Dari gerbang perbatasan Kota Bengkulu – Kabupaten Bengkulu Tengah di kawasan Sungai Hitam  malah cuma 1 kilometer saja ditempun dengan kendaraan bermotor, atau sekitar 15 menit.

Ketika ditemui, Zulkarnedi sendiri sebenarnya tampak sudah tak asing lagi meladeni pertanyaan demi pertanyaan yang saya ajukan. Ia mengungkapkan, sudah ada beberapa jurnalis yang melakukan wawancara. Termasuk membuat film dokumenter tentang aktivitas penangkaran penyu.

ZUlkarnedi mengawali cerita kembali ke tahun 1990. Selepas menyelesaikan pendidikan di Sekolah Teknik Menengah (STM)  -sekarang SMKN 2, Zulkarnedi memilih menjadi nelayan. Pekerjaan yang turun-temurun ia warisi dari kakek buyutnya. Pun hingga sekarang. Keluarga Zulkarnedi bergantung pada hasil laut sebagai mata pencaharian utama.

Tukik yang baru saja menetas dan naik ke permukaan pasir.

Tukik yang baru saja menetas dan naik ke permukaan pasir.

Kala itu, apapun hasil laut yang didapat, dijual oleh Zulkarnedi untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Termasuk menjual telur penyu yang dikenal kaya akan protein. Pria asal Pasar Malabro itu pun sempat menjadi penampung telur-telur penyu. Ia membeli telur penyu itu dari penemu Rp 6.000-Rp 8.000 per butir. Lalu dijual kembali Rp 10.000-Rp 12.000 per butir.

Telur-telur penyu dijual Zulkarnedi di tepi jalan. Berapa pun yang ia jual selalu habis. Sebelum bertemu dengan pegawai DKP ia sebenarnya sudah punya keinginan untuk berhenti jual beli telur penyu. Zulkarnedi punya keinginan untuk mencoba menetaskan telur-telur yang ia dapat.

Zulkarnedi yang mengakui awalnya tidak paham mengapa telur penyu dilarang untuk diperjualbelikan, lantas tersadar. Jika ia terus-menerus menjual telur penyu dan membiarkan hewan langka itu punah dari lautan, maka anak cucu di masa mendatang tidak akan bisa lagi melihat penyu secara nyata. “Kalau penyu tidak dilestarikan, nanti anak cucu kita hanya bisa melihat gambarnya saja,” ujar Zulkarnedi.

Persoalannya, ia tidak punya cukup uang jika harus terus-menerus membeli telur penyu. Hingga suatu hari di tahun 2015, bertemulah ia dengan pegawai DKP tersebut. “Waktu itu saya diberi tahu bahwa menjual telur penyu itu dilarang,” tutur Zulkarnedi.

Lantas pegawai dari DKP menawarkan siap membeli telur-telur yang selama ini dihimpun oleh Zulkarnedi. Ia pun diajak untuk bersama-sama menangkar telur-telur penyu yang didapat. Sejak saat itu, jejak Zulkarnedi melestarikan penyu dimulai.

Baca Juga : Konservasi Penyu di Bengkulu, Yuk Kita Dukung

Menangkar Penyu dari Rumah

Tukik-tukik yang baru menetas dikumpulkan di sebuah ember lebar. Jika alat pernapasannya sudah siap, tukik siap dimasukkan ke dalam kolam berisi air laut.

Tukik-tukik yang baru menetas dikumpulkan di sebuah ember lebar. Jika alat pernapasannya sudah siap, tukik siap dimasukkan ke dalam kolam berisi air laut.

Sebagai percobaan, Zulkarnedi memanfaatkan teras rumahnya untuk meletakkan tong-tong berisi pasir yang digunakan untuk “mengerami” telur penyu. Tantangan cukup besar bagi ia dan keluarga pun datang. Menurutnya, tak sedikit tetangga yang mencemooh apa yang dia lakukan. Rumahnya dinilai lingkungan sekitar jadi tampak kumuh.

“Ada yang bilang saya didik (bodoh). Tidak digaji tapi kok mau saja kerja susah-susah. Malah ada yang bilang saya gila,” cetus Zulkarnedi.  “Tapi sekarang orang yang dulu bilang saya gila dan bodoh, malu sendiri. Ada yang punya keinginan untuk bergabung dengan kelompok kami, tapi terlanjur malu karena pernah berpikiran negatif,” tambahnya.

Jenis penyu yang pertama kali ia etaskan di sarang buatan adalah penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Telur-telur didapatnya dari nelayan dan ada pula dari hasil “patroli” sarang penyu di sepanjang pantai yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Sebagai percobaan, ia membuat tiga sarang. Per sarang bervariasi diisi hingga 100 butir telur. Upayanya membuahkan hasil. Sekitar 80-85 persen telur berhasil menetas.

“Kalau menetaskan telur penyu, tidak terlalu kesulitan. Saya tahu tentang menetaskan telur penyu dari datuk kami dulu. Waktu kami masih kecil-kecil karena terbiasa hidup di pesisir pantai. Insya Allah kalo tepat suhu dan kedalaman menempatkan telur, 60 hari atau dua bulan, telur menetas,” ungkap Zulkarnedi.

Dukungan Berdatangan

Zulkarnedi saat ditemui di tempat penangkaran penyu Alun Utara.

Zulkarnedi saat ditemui di tempat penangkaran penyu Alun Utara.

Tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 2018, Zulkarnedi mendapat dukungan dari Loka Pengelolaan SD Pesisir dan Laut (LPSPL) Serang, Banteng yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan. Selain mendapat support dana untuk “menebus” telur penyu yang ditemukan nelayan, ia juga mendapat tempat baru untuk penangkaran penyu.

Lokasi penangkaran penyu yang masih berdiri hingga sekarang sekitar 100 meter ke arah pantai. Zulkarnedi mendapat lahan sekitar 20×30 meter. Di sana ia membuat sarang-sarang buatan, bak untuk tukik, anak penyu yang baru menetas. Di sisi lainnya ada juga bak-bak untuk menempatkan penyu yang sudah lebih besar, sebelum dirilis ke lautan.

Mendirikan Kelompok Pelestari Penyu

Untuk mengelola penangkaran tersebut, dia mendirikan Kelompok Pelestari Penyu Alun Utara. Tepatnya 12 Mei 2016. Anggotanya sebagian merupakan pemuda desa, termasuk juga anak-anaknya. Hingga saat ini ia sudah berhasil menetaskan empat jenis penyu. Selain penyu lekang, ia juga menangkar penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau ((Chelonia midas) dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea).

“Perbedaan dari keempat jenis penyu itu salah satunya dilihat dari bentuk tempurungnya,” tutur pria kelahiran tahun 1968 itu.

Dari tahun ke tahun, dukungan atas kegigihan Zulkarnedi melestarikan penyu di Bengkulu, terus mendapat dukungan. Termasuk diantaranya dari DKP Provinsi dan DKP Kabupaten Bengkulu Tengah. Sudah beberapa kali ia mendapat kesempatan mengikuti pelatihan di berbagai daerah. Begitupun menjadi pembicara dalam pertemuan-pertemuan terkait pelestarian penyu.

Tahun 2020 ini, Kelompok Pelestari Penyu Alun Utara juga mendapat Corporate Social Responsibility (CSR) dari salah satu produsen kendaraan roda empat. “Bantuan inilah yang cukup besar. Sehingga kami bisa mendirikan bangunan untuk tempat edukasi bagi pengunjung yang mau ke sini. Sayangnya ini belum bisa kita manfaatkan. Karena sejak pandemi Covid-19, jumlah pengunjung menurun drastis,” kata Zulkarnadi.

Peran Penyu di Lautan

Dengan terus melestarikan penyu, maka tangkapan ikan bisa terus melimpah.

Dengan terus melestarikan penyu, maka tangkapan ikan bisa terus melimpah.

Dari yang dirasakan Zulkarnedi sebagai nelayan, peran penyu di lautan sangatlah besar. Penyu, ungkap Zulkarnedi merupakan bagian dari mata rantai untuk menjaga ekosistem laut, juga terumbu karang.

Penyu adalah hewan laut yang memangsa ubur-ubur. Semakin banyak melepas tukik ke laut, maka ikan-ikan kecil bisa tetap hidup. “Alhamdulillah. Dari yang kami rasakan, tidak pernah kami kekurangan ikan besar untuk ditangkap. Hasil laut selalu melimpah,” tutur Zulkarnedi yang menjual sendiri hasil tangkapannya di Pasar Ikan Barukoto setiap subuh.

Zulkarnedi bersyukur, ia tidak patah semangat. Baginya dukungan keluarga membuatnya bisa mendirikan Penangkaran Penyu Alun Utara yang direncanakan akan menjadi tempat wisata edukasi. “Dari cemoohan saya jadi termotivasi untuk tidak menyerah,” ujar Zulkarnedi.(**)

Kecombrang, Hutan dan Pemenuhan Hak Perempuan

Kecombrang, Hutan dan Pemenuhan Hak Perempuan

HUTAN SUMBER MAKANAN

Kecombrang merupakan tanaman beraroma khas saat dikunyah. Di Rejang Lebong, tanaman ini tidak hanya menjadikan hutan sumber makanan. Tapi juga menjadi “simbol” pelestarian dan pemenuhan hak perempuan.

**

Tanaman kecombrang memiliki banyak nama

Tanaman kecombrang memiliki banyak nama

Perkenalan dengan kecombrang berawal saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Waktu itu setiap libur sekolah, bersama adik lelaki yang nomor dua, kami kerap diajak berlibur ke Sebelat, Kabupaten Bengkulu Utara oleh opung.

Opung merupakan panggilan kakek dari suku Batak. Beliau merupakan bos papa semasa masih bekerja di sebuah perusahaan swasta. Bagi orang Batak, kecombrang biasa diolah menjadi masakan enak. Terutama saat menggelar acara-acara tertentu.

Salah satu yang cukup terkenal adalah ikan mas dimasak arsik. Pada suatu kesempatan, jadinya ikut memakan menu asing bagi lidah orang Jawa seperti saya ini.

Kecombrang yang dijual di pasar tradisional.

Kecombrang yang dijual di pasar tradisional. Foto: Komi Kendy

Dimasak Ala Rumahan

Di rumah, mama memasak kecombrang untuk dijadikan urap atau lotek. Jika dimasak urap, kecombrang dicampur dengan kelapa parut yang agak muda, ditambah dengan bumbu, bawang dan cabai sebagai cita rasa.

Sayur rebusan lainnya yang ikut dicampur ada kangkung, pucuk ubi, toge, kacang panjang dan lain-lain. Sementara kalau dilotek, bahan sayurnya pun sama saja. Bedanya ada campuran kuah kacang.

Saya sendiri pernah memasak kecombrang tumis cumi. Walau belum ada penelitian yang membuktikan, konon kata orang-orang tua, kecombrang menjadi bahan makanan dari hutan yang bisa merangsang produksi Air Susu Ibu (ASI). Kebetulan saat ini saya sedang menyusui anak kedua.

Yang saya suka dari kecombrang adalah aromanya yang segar, ibarat jeruk nipis. Di lidah, agak terasa sedikit pedas. Bahan bakunya mudah dicari di pasar dan tidak mahal. Di pasar, kecombrang dijual Rp1.000-Rp2.000 per ons. Sekali masak, dua ons cukup untuk satu hidangan sekeluarga.

kecombrang-hutan-sumber-makanan (3)

Kecombrang diolah jadi masakan tumis cumi.

Menurut saya, orang perlu tahu tentang kecombrang. Sebab tanaman yang menjadikan hutan sumber makanan ini kaya akan manfaat dan khasiat. Sangat baik dikonsumsi untuk menjaga kesehatan. Berikut ciri-ciri dan khasiat tanaman kecombrang :

Dipanen dari Hutan TNKS

Di Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, kecombrang tidak hanya menjadikan hutan sumber makanan yang diolah untuk konsumsi sehari-hari. Di Desa Pal VIII tepatnya, ada Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) yang memproduksi kecombrang menjadi aneka makanan dan minuman kemasan. Seperti wajik, dodol dan sirup.

Selain itu mereka juga membuat keripik bawang dengan campuran daun pakis yang bahannya bakunya berasal dari hutan.

Menariknya, kecombrang dan pakis itu dipanen dari lahan yang masuk wilayah kawasan konservasi  Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). Arealnya masuk pula sebagai kawasan hutan yang berstatus ASEAN Heritage Parks dan menjadi bagian dari situs warisan dunia (heritage sites).

Di sana, hutannya juga sudah ada yang menjadi hutan wisata yang dikenal masyarakat sebagai hutan Madapi (Mahoni Damar Pinus).

Perempuan yang tergabung di KPPL saat melakukan pertemuan.

Perempuan yang tergabung di KPPL saat melakukan pertemuan.

KPPL Maju Bersama berkelompok sejak Juli 2017. KPPL ini menjadi kelompok perempuan pertama di Indonesia yang mendapatkan hak akses memanen kecombrang liar dan membudidayakannya di areal taman nasional. Hak akses ini didapat setelah KPPL yang beranggotakan 20 perempuan menjalin kemitraan konservasi dengan Balai Besar TNKS. Luas lahan yang boleh dikelola mencapai 10 hektare.

Di areal 10 hektare itulah, mereka menerapkan 3P di kawasan konservasi. Perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. Perjanjian kerjasama kemitraan konservasi antara Kepala Balai Besar TNKS Tamen Sitorus dengan Ketua KPPL Maju Bersama Rita Wati sudah disepakati pada 5 Maret 2019 lalu.

Awalnya KPPL mengidentifikasi ada 26 jenis makanan dari hutan TNKS. Ada tepus, cemploka, pisang hutan, kemiri dan lainnya. Lalu setelah dianalisa bersama-sama, diputuskan kecombrang dan pakis sebagai bahan makanan dari hutan yang bisa dikelola di TNKS.

Penetapannya dianalisis berdasarkan potensi banyak atau tidak tanaman tersebut, apakah dalam proses menanam dan panen merusak kawasan hutan atau tidak. Lalu ada pertimbangan jarak antara areal tumbuhnya kecombrang dan pakis dengan pemukiman.

Mengutip liveindonesia.id, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melansir data ada 6.112 kelompok masyarakat di Indonesia yang mendapatkan hak kelola kawasan hutan hingga per November 2019.  Luas kawasan yang dikelola mencapai 3,436 juta hektare.

TNKS memiliki luas 1.389.510 hektare. Kawasannya membentang di Provinsi Bengkulu, Jambi, Sumatera Barat dan Provinsi Sumatera Selatan. Di Bengkulu, luas kawasan TNKS mencapai 348.841 hektare. Wilayahnya ada di Kabupaten Rejang Lebong 25.815 hektare, Lebong 98.287 hektare, Bengkulu Utara 71.702 hektare dan Kabupaten Mukomuko 150.036 hektare.

Di Rejang Lebong, luas kawasan TNKS mencapai 51,19 persen dari luas kawasan hutan di Rejang Lebong (50.428 ha) dan berada di 26 desa di lima kecamatan. Salah satunya Desa Pal VIII Kecamatan Bermani Ulu Raya.

Sebagai mitra konservasi, KPPL Maju Bersama sekarang punya hak memanen dan membudidayakan kecombrang dan pakis. Mereka juga berkewajiban menjaga kelestarian TNKS. Setiap Minggu, ibu-ibu yang tergabung di KPPL melakukan pemeliharaan atau panen. Seninnya mereka memproduksi wajik dan sirup di Sekretariat Pusat Produk Olahan Pakis dan Kecombrang dari TNKS.

Selain mendapat dukungan dari Balai Besar KPPL Maju Bersama dalam beraktivitas mereka mendapatkan dukungan dari Non Timber Forest Product Exchange Proggrame (NTFP-EP) LivE dan Universitas Bengkulu.

Dodol, stik dan sirup dari kecombrang. Foto: Komi Kendy

Dodol, stik dan sirup dari kecombrang. Foto: Komi Kendy

Wajik dari Kecombrang

Wajik dan sirup kecombrang sekarang menjadi makanan yang tengah diupayakan untuk menjadi produk lokal yang bisa dijual di pasaran oleh KPPL Maju Bersama. Senin, 10 Februari lalu saya sempat bertanya langsung proses pembuatannya dengan ibu Rita Wati di Desa Pal VIII. Untuk kesana, dari Kota Bengkulu menempuh perjalanan 2,5-3 jam mengendarai mobil.

Cara membuat wajik kecombrang cukup mudah dan bisa dilakukan di rumah. Membuat wajik dibutuhkan bahan-bahan berupa beras ketan, kecombrang, gula pasir dan kelapa parut yang tidak terlalu tua (kelapa untuk membuat inti).

Adonan utamanya adalah beras ketan yang ditanakkan. Setelah masak campur dengan kelapa parut dan gula pasir. Untuk kecombrangnya, rebus hingga matang lalu digiling halus sebelum masuk ke adonan utama.

“Campur semuan bahan sampai rata. Nanti ambil setengah sendok untuk dibentuk. Udah tinggal  dibungkus ke dalam kertasnya (kertas khusus pembungkus wajik),” tutur ibu Rita Wati sambil menyodorkan kantong plastik kemasan untuk mengemas wajik yang akan saya bawa pulang.

Wajik kecombrang ditimbang sebelum dikemas. Foto: Komi Kendy

Wajik kecombrang ditimbang sebelum dikemas. Foto: Komi Kendy

Pemenuhan Hak Perempuan

Berbicara tentang hutan sumber makanan, tidak lepas dari hak perempuan atas lingkungan hidup dan perempuan. Di desa khususnya, perempuan bisa dibilang paling dekat dan sangat bergantung pada hutan untuk menjalankan aktivitasnya. Paling utama, hutan sumber makanan, udara dan air bersih.

Hutan yang terjaga kelestariannya akan menghasilkan bahan makanan yang baik untuk dikonsumsi keluarga. Karena hutan sumber makanan. Hutan menghasilkan udara yang baik untuk kesehatan keluarga. Hutan juga menjadi sumber air bersih. Dimana air bersih menjadi kebutuhan utama manusia, termasuk perempuan.

Dengan memberikan akses kepada perempuan untuk mengelola kawasan hutan untuk membudidayakan dan memanen kecombrang dan pakis, artinya hak perempuan terhadap lingkungan sudah mulai terpenuhi. Bahwasanya perempuan memiliki peran besar terhadap ketangguhan dan ketahanan pangan, serta peduli terhadap isu lingkungan dunia yakni perubahan iklim.

Hak-hak perempuan atas lingkungan dan hutan sesuai dengan Undang-undang (UU) Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU 41/99 tentang Kehutanan dan UU 1945.

Adapun hak tersebut antara lain hak memanfaatkan hasil hutan, hak akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, hak untuk berperan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, hak mengadu atas dugaan pencemaran lingkungan dan hak mengajukan usul dan atau keberatan terhadap rencana dan atau kegiatan yang dapat menimbulkan dampak lingkungan.

Didapatnya hak tersebut diakui Rita Wati. Masyarakat yang dulunya takut melihat aparat polisi hutan, kini justru bisa ikut berkontribusi dan berkolaborasi untuk merawat kelestarian hutan. “Kini suara kami didengar. Kami mendapat akses mengelola lahan sebanyak 10 hektare di TNKS. Kami juga bisa melakukan audiensi dengan bupati, gubernur, untuk menyampaikan aspirasi,” kata Rita.

Walhi dan Pelestarian Hutan

Di Indonesia, ada berbagai Non Government Organization (NGO) yang peduli terhadap isu-isu lingkungan. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) salah satunya. Selama ini, nama Walhi sudah  sangat dikenal sebagai organisasi yang gencar melakukan kampanye lingkungan hidup. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang organisasi ini, silakan kunjungi situs Walhi.

Namun meski sudah ada Walhi, KPPL Maju Bersama, kelomok dan organisasi lain, pemerintah, juga elemen lainnya yang gencar mengampanyekan pentingnya menjaga lingkungan dan hutan, kita seluruh masyarakat Indonesia tentunya harus ikut berperan. Jangan sampai kerusakan lingkungan membuat hutan tidak lagi menjadi sumber makanan.(**)

Artikel ini diikutsertakan pada Forest Cuisine Blog Competition bertema Hutan adalah Sumber Pangan yang diadakan Walhi dan Blogger Perempuan.

#PulihkanIndonesia #RimbaTerakhir #WALHIXBPN #HutanSumberPangan #BlogCompetitionSeries 

Konservasi Penyu di Bengkulu, Yuk Kita Dukung

Konservasi Penyu di Bengkulu, Yuk Kita Dukung

Konservasi Penyu di Bengkulu gencar dilakukan. Gerakan Lestari Alam Laut untuk Negeri (Latun) dan Marine Concervation and Education Program (MCEP) yang bermarkas di kawasan Tapak Paderi, melakukan aksi nyata. Mulai dari diskusi, edukasi, penangkaran, melepasliarkan hingga menggalang donasi.

**

BEBERAPA waktu lalu saat sedang asyik snorkeling di perairan Pulau Tikus, ada pemandangan menarik di bawah laut. Untuk pertama kalinya saya melihat langsung seekor penyu tengah asyik berenang sekitar 3 meter di kedalman laut biru.

Waktu itu keinginan untuk mengikuti arah berenang penyu sangat besar. Sayangnya walau terlihat santai mengayuh kaki, penyu meluncur dengan cepat di dalam air. Jadinya ga sempat mengamati penyu jenis apakah itu. Tulisan lain tentang pengalaman melihat penyu bisa dibaca di artikel saat saya Diving ke Bunaken.

Pertemuan dengan penyu makin membuat saya yakin bahwa spesies imut ini masih ada di Bengkulu. Walaupun kondisinya saat ini disebut-sebut berada dalam ancaman kepunahan.

Penyu jenis sisik yang ditangkar di konservasi penyu Tapak Paderi

Penyu jenis sisik yang ditangkar di konservasi penyu Tapak Paderi. Foto: Komi Kendy

Penyu di dunia ada tujuh jenis. Berdasarkan data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu ketujuh jenis itu yakni penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu pipih (Natator depressus), penyu tempayan (Caretta caretta), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu kemp’s ridley (Lepidochelys kempi).

Mengutip dari situs National Geographic, dari tujuh spesies penyu itu enam diantaranya berpotensi segera punah. Penyu hijau, penyu lekang atau penyu abu-abu dan penyu tempayan atau loggerhead digolongkan sebagai terancam punah.

Di samping penyu belimbing, dua spesies lain, penyu Kemp’s Ridley dan penyu sisik juga diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah oleh The World Conservation Union (IUCN). Hanya penyu pipih yang diperkirakan tidak terancam.

Bengkulu sebenarnya menjadi provinsi yang “beruntung”. Sebab ada empat jenis penyu teridentifikasi “mendarat” di pantai Bengkulu. Penyu hijau, penyu sisik, penyu lekang dan penyu belimbing.

Kenapa Penyu Terancam Punah?

Telur penyu yang dikumpulkan dari berbagai pantai dan hasil membeli dengan nelayan dietaskan di lokasi konservasi penyu.

Telur penyu yang dikumpulkan dari pantai dan hasil membeli dengan nelayan dietaskan di lokasi konservasi penyu. Foto: Komi Kendy

Ada beberapa hal yang menjadi penyebab penyu terancam punah. Beberapa penyebabnya :

Perburuan

Ancaman kepunahan penyu akibat perburuan, jelas disebabkan oleh manusia. Walau sudah dilarang oleh pemerintah, bahkan sudah ada sanksi bagi pemburu, namun tetap saja masih ada yang melakukannya. Penyu ditangkap untuk disantap daging dan telurnya, hingga dengan alasan memiliki kandungan yang baik untuk pengobatan.

Perdagangan Cangkang

Selain menyantap daging dan telur, cangkang penyu juga banyak diperjualbelikan. Bentuknya yang menarik biasanya diolah menjadi pajangan atau perhiasan lainnya.

Kondisi Alam

Kondisi alam yang mengancam keberlangsungan hidup penyu adalah perubahan iklim. Termasuk jenis kelamin keturunan. Perubahan iklim membuat suhu lingkungan menjadi lebih hangat, sehingga menghasilkan lebih banyak penyu betina. Hal ini mengganggu rasio jenis kelamin normal dan mengurangi kesempatan reproduksi serta menurunkan keragaman genetik.

Kerusakan Habitat

Pencemaran air laut seperti sampah dan limbah membuat habitat hidup penyu menjadi rusak. Bahkan pernah terbaca di salah satu artikel, ada penyu yang sampai makan sampah plastik. Miris.

Gerakan Konservasi Penyu

Gerakan konservasi penyu di Bengkulu, sebenarnya sudah sejak lama dilakukan. Seperti yang ada di kawasan konservasi Air Hitam Desa Retak Ilir Kecamatan Ipuh, Kabupaten Mukomuko. Lalu sekarang juga ada Komunitas Pencinta Alam (KPA) Konservasi Penyu Mukomuko.

Begitu halnya di Kabupaten Bengkulu Tengah. Saat ini ada Kelompok Konservasi Penyu Alun Utara yang peduli terhadap keberlangsungan hidup spesies yang keberadaannya sudah ada sejak 100 juta tahun lalu. Kelompok- kelompok konservasi ini beranggotakan masyarakat setempat.

Upaya penyelamatan penyu ini juga tengah giat digalakkan di Kota Bengkulu. Kesadaran ini juga muncul seiring dengan keinginan memajukan wisata bahari berbasis lingkungan. Tentunya dengan memperhatikan mahluk hidup yang berada di ekosistem kawasan wisata.

Ajak Beri Donasi

Anak penyu atau disebut tukik dilepas di Tapak Paderi Kegiatan konservasi penyu secara swadaya ini dilakukan oleh Latun

Anak penyu atau disebut tukik dilepas di Tapak Paderi. Konservasi penyu secara swadaya ini dilakukan oleh Latun. Foto: Komi Kendy

Berbagai elemen masyarakat membentuk komunitas yang bernama Latun, MCEP, Kelompok Pelestari dari Mahasiswa Ilmu Kelautan (BSTC) dan Kelompok Pelestari Penyu Pantai Sekube di Kaur. Lokasinya terpusat berada di kawasan pantai Tapak Paderi yang juga menjadi sekretariat keluarga selam Bengkulu. Saat ini di sana ada puluhan telur penyu yang tengah dalam proses penetasan. Lalu ada puluhan tukik sisik, sebutan anak penyu, yang belum lama menetas dan tengah dipelihara. Penangkaran ini dikelola secara swadaya, sekaligus menjadi bahan penelitian.

Mari berdonasi sebagai bentuk dukungan kita terhadap konservasi penyu di Bengkulu.

Mari berdonasi sebagai bentuk dukungan kita terhadap konservasi penyu di Bengkulu. Foto: facebook Ari Anggoro

Koordinator Latun Ari Anggoro mengatakan, untuk perawatan tukik serta penyelamatan telur-telur lainnya, memerlukan keterlibatan dan kepedulian masyarakat. Oleh sebab itu ia mengajak untuk ikut melakukan donasi telur penyu dan pelepasan penyu ke habitat. Donasi bisa disalurkan melalui rekening Mandiri Ari Anggoro 9000010507052 atau menghubungi 081377856280 untuk konfirmasi. Selain itu bisa juga kontak ke Eko Sumartono di nomor HP 082138129668.

Saat ini Latun dan MCEP juga tengah ada program Mari Selamatkan Penyu. Program ini mengajak masyarakat memberikan donasi sebesar Rp 150 ribu dan mendapatkan baju #KawanLatun. Selain itu bagi yang berdonasi lebih dari Rp 500 ribu, selain mendapatkan kaos juga mendapatkan sertifikat khusus sebagai apresiasi kepada pendonasi. Selain berdonasi, kita juga bisa ikut secara langsung melepasliarkan tukik ke laut di Pantai Tapak Paderi setiap pukul 16.00 WIB.(**)