Ini Dia Syarat Terbaru Traveling ke Jawa dan Bali

Ini Dia Syarat Terbaru Traveling ke Jawa dan Bali

Ini Dia Syarat Terbaru Traveling ke Jawa dan Bali – Akhir tahun menjadi waktu yang ditunggu-tunggu. Banyak orang membuat rencana berlibur sepanjang musim libur Natal dan Tahun Baru. Libur bertambah karena anak-anak sekolah sudah bagi rapor semester.

Sebenarnya, ditengah musim pandemi Covid-19 seperti sekarang ini ada baiknya untuk tetap #stayathome alias #DiRumahAja. Tapi jika memang ingin bepergian, pastikan tetap mematuhi protokol kesehatan ya. Kenakan masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan. Dan tentunya harus tahu dulu aturan baru perjalanan.

Peraturan Perjalanan

Paling anyar nih Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sudah mengeluarkan peraturan terbaru. Khususnya yang mengatur perjalanan untuk Pulau Jawa dan Bali selama periode Natal dan Tahun Baru 18 Desember 2020 – 8 Januari 2021. Ini dia peraturan yang menjadi syarat terbaru traveling ke Jawa dan Bali :

Aturan Jalur Penerbangan

  • Penerbangan dari semua bandara di Jawa dan Bali, penumpang diwajibkan buat tes PCR atau rapid antigen maksimal H-3 sebelum keberangkatan.
  • Penerbangan menuju semua bandara di Jawa, penumpang wajib PCR atau rapid antigen maksimal H-3 sebelum keberangkatan.
  • Khusus penerbangan menuju Bali, penumpang wajib PCR maksimal H-3 sebelum keberangkaran.

Aturan Kereta Api

Seluruh penumpang kereta api jarak jauh wajib PCR atau rapid antigen. Tes ini dilakukan maksimal 3 hari sebelum keberangkatan.

Aturan Perjalanan Darat

  • Khusus perjalanan darat menuju Bali, seluruh penumpang wajib minimal rapid antigen maksimal H-3 sebelum keberangkatan.
  • Diskresi  biaya tes kesehatan akan diberikan bagi angkutan logostik yang masuk ke Bali.
  • Untuk perjalanan darat di Jawa, pelaku perjalanan diimbau melakukan rapid antigen sebelum keberangkatan.

Ketentuan Lainnya

Selain aturan perjalanan menggunakan pesawat, kereta api maupun mobil atau motor seperti yang sudah dituliskan diatas, masih ada ketentuan lainnya yang juga harus diketahui. Berikut syarat traveling Jawa dan Bali jika melalui jalur darat:

  1. Terkait wajib rapid antigen yang diberlakukan, pastikan tes yang dijalani menggunakan 4 merk yang telah mendapatkan izin edar resmi dari Kementerian Kesehatan. Yaitu GenBody, Indec, SD Biosensor (rekomendasi WHO/ badan kesehatan dunia) dan Abbott Panbio (direkomendasikan oleh WHO). So, saat akan mendaftar rapid antigen harus ditanya dulu ke klinik apakah alat rapid yang digunakan sesuai merk diatas.
  2. Sebelumnya, rapid yang diberlakukan adalah jenis rapid antibodi, maka rapid ini sudah tidak diberlakukan lagi.
  3. Bagaimana dengan anak-anak? Khusus perjalanan domestik, anak dibawah usia 12 tahun tidak wajib mengikuti tes PCR maupun tes rapid antigen sebagai syarat perjalanan.
  4. Yang perlu diperhatikan juga, semua biaya tes ini bukan tanggungan pemerintah. Tapi menjadi tanggungan pribadi.
  5. Perhatikan protokol kesehatan selama perjalanan. Sebab di titik-titik kumpul, protokol kesehatan diperketat oleh pemerintah.

Apa Itu PCR, Rapid Antigen dan Rapid Antobodi?

Dari beberapa jenis tes yang diatur pada peraturan perjalanan libur Natal dan Tahun Baru, ada yang namanya tes PCR, rapid antigen dan rapid antibodi. Untuk mengetahui apa perbedaannya, saya mengutip dari situs Halodoc.

Tentu sudah pada tahu kan ya sama Halodoc. Yap. Halodoc adalah perusahaan teknologi karya anak negeri yang menyediakan pelayanan bidang telekonsultasi kesehatan. Tahun 2016 Jonathan Sudharta mendirikan Halodoc di Jakarta.

Istimewanya, hanya melalui smartphone dan aplikasi Halodoc, pasien bisa berbicara dengan dokter spesialis, membeli obat, serta melakukan pemeriksaan laboratorium kapan saja, dimana saja selama 24 jam. Jadi memudahkan pasien untuk tidak perlu antre lama di klinik atau praktik dokter secara offline. Terutama di masa pandemi seperti sekarang.

Tes PCR

PCR merupakan singkatan dari Polymerase Chain Reaction (PCR). Dikenal juga dengan nama tes swab PCR. Tes ini direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tes ini dinilai paling ampuh mendeteksi virus Covid-19 dari dalam tubuh melalui pemeriksaan molekuler guna mencari jejak materi genetic virus pada sampel yang dikumpulkan. Sampel diambil melalui teknik usap hidung atau tenggorokan.

Tes PCR dinilai paling akurat. Disarankan untuk melakukan tes ini jika sudah masuk kategori suspect karena ada gejala sesak, tenggorokan sakit, batuk dan demam. Pengambilan spesimen ini dilakukan maksimal dua hari setelah munculnya gejala-gejala tersebut.

Orang yang terkonfirmasi reaktif berdasarkan hasil rapid test, juga perlu tes PCR. Begitu juga ketika habis bepergian keluar kota atau luar negeri pada 14 hari terakhir dan memiliki kontak erat dengan pasien COVID-19.

Rapid Test Antigen

Beberapa hari lalu, saya baru saja menjalani tes antigen di Klinik Armina Sakti Kelurahan Pematang Gubernur, Kota Bengkulu. Syaratnya mendaftar pakai Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan membayar Rp 350 ribu.

Rapid antigen dilakukan dengan mendeteksi antigen atau protein yang dapat membentuk badan virus penyebab COVID-19. Sampel diambil dari cairan lender di hidung. Rasanya lumayan nyeri. Persis ketika kita sedang berenang lalu hidung masuk air. Setelah 10-15 menit, hasilnya diketahui negatif.

Tes Rapid Antibodi

Tes rapid antibodi punya keunggulan dari segi kecepatan hasil. Kurun 10 menit setelah darah diambil, garis satu atau garis dua akan menunjukkan negatif positifnya hasil rapid. Tes rapid test antibodi menggunakan metode untuk mendeteksi antibodi, yaitu IgM dan IgG yang dapat diproduksi oleh tubuh saat melawan virus.

Nah, antibodi hanya terlihat ketika tubuh terpapar virus Covid-19. Tes rapid memang bisa dilakukan untuk mendeteksi virus corona. Tapi tidak disarankan oleh WHO karena tingkat akurasinya yang rendah. Hasil negatif bisa saja palsu.

Pekan lalu, saya juga mendapat tes ini. Kebetulan ada tes masal gratis di kantor Graha Pena Rakyat Bengkulu. Pemeriksaan dilakukan menggunakan sampel darah dari ujung jari tangan kanan. Darah kemudian diteteskan pada alat tes rapid. Selanjutnya tetesan darah pada alat rapid ditetesi cairan untuk menandai antibodi. Saat itu hasil tes saya juga negatif.

Baca Juga : 8 Kiat Menjalani Kehidupan New Normal

Menanti Vaksin Covid-19

Kondisi sekarang ini memang masih sungguh mengkhawatirkan. Jangankan berbicara angka Covid-19 se-Indonesia. Untuk ukuran Provinsi Bengkulu saja, angkanya terus bertambah. Walau kemudian banyak juga yang sembuh, namun angka korban meninggal juga tidak bisa diabaikan begitu saja.

Per 17 Desember 2020 kasus Covid-19 mencapai angka 644 ribu, pasien sembuh 527 ribu dan 19.390 ribu orang diantaranya meninggal. Di Bengkulu, dari 2.950 kasus Covid-19, 1.962 orang diantaranya sembuh dan 103 orang meninggal dunia.

Tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan selain sama-sama peduli dan menjaga diri. Sekali lagi, taati protokol kesehatan. Bisa kita lihat, makin hari makin banyak orang yang abai. Paling mudah dilihat adalah enggan mengenakan masker. Terutama saat berada di tempat umum.

Masyarakat juga sekarang menanti vaksin benar-benar aman digunakan dan mampu membentuk kekebalan tubuh dari virus Covid-19. Ada enam vaksi yang bisa dipilih masyarakat yaitu Sinovac, Sinopharm, BioNTech, AstraZenaca, Pfizer dan Vaksin Moderna.

Memang sih, hingga pertengahan Desember 2020 ini belum ada satu vaksin pun yang sudah melewati fase ketiga. Namun upaya uji coba agar pemberian vaksin ini aman untuk semua kalangan, baik anak-anak, wanita hamil dan menyusui, terus dilakukan. Begitu juga dari sisi kehalalannya.

Tentu kita sama-sama berharap setiap vaksin yang beredar di masyarakat benar-benar ampuh, dapat diterima dan membuat penyebaran Covid-19 terhenti. Kalau kondisi sudah kembali normal, tentu rangkaian tes dan protokol yang harus dijalani acapkali melakukan perjalanan jauh, sudah tidak perlu dilakukan kembali.(**)

eServices FWD MAX, Layanan Asuransi Berbasis Teknologi

eServices FWD MAX, Layanan Asuransi Berbasis Teknologi

Proses mudah, sederhana dan relevan, menjadi keinginan setiap orang untuk mempercayakan jaminan dan proteksi hidupnya pada asuransi. eServices FWD MAX yang baru saja diluncurkan FWD Life, menjadi produk yang sangat bisa menjadi pilihan terbaik untuk mendapatkan keamanan dan ketenangan di masa depan. 

Kenapa Harus Punya Asuransi?

Ghita Argasasmita, RFA, Financial Planner yang juga Founder dan CEO of Integrita Financial saat menyampaikan strategi perencanaan keuangan yang ideal.

Ghita Argasasmita, RFA, Financial Planner yang juga Founder dan CEO of Integrita Financial saat menyampaikan strategi perencanaan keuangan yang ideal.

Yang namanya roda hidup, pasti berputar. Kadang kita berada diatas, namun ada kalanya berada dibawah. Ini bisa terjadi dalam hal apapun, termasuk soal finansial dan kondisi kesehatan. Toh, tidak ada manusia yang selalu sehat terus. 

Untuk meminimalisir segala risiko, kerugian dan memberikan keamanan untuk masa depan, tidak ada salahnya jika kita memiliki asuransi. Yang wajib dimiliki tentu saja, asuransi kesehatan. Terutama di masa pandemi Coronavirus Disease (Covid)-19 seperti yang tengah terjadi sekarang ini. 

Hal ini seperti yang disarankan Ghita Argasasmita, RFA, Financial Planner yang juga Founder dan CEO of Integrita Financial. “Selain memiliki tabungan dan dana darurat, dalam basic foundation keuangan, asuransi juga wajib dimiliki,” kata Ghita, saat menjadi pembicara saat peluncuran layanan eServices FWD MAX, produk baru dari FWD Life, Jumat, 17 Oktober 2020.

Namun sayangnya, selama ini orang masih merasa enggan untuk berinvestasi melalui asuransi karena ada stigma yang terlanjur melekat. Bahwa asuransi itu prosesnya ribet, prosedur dan mekanismenya tidak mudah dipahami dan klaim yang sulit. Hal ini berpengaruh pada tingkat penetrasi asuransi jiwa yang masih sebesar 1,1 persen (per Juli 2020) berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Sebenarnya orang menyadari bahwa asuransi itu penting, sangat bermanfaat. Tapi karena masih banyak yang sulit mengakses informasi daftarnya dimana, banyak dokumen yang harus dibaca dan syaratnya panjang sekali, jadi menunda-nunda untuk berinvestasi melalui asuransi,” ungkap Ghita.

Mengatur Pendapatan untuk Asuransi

Ghita juga menyampaikan kiat bagaimana caranya agar kita dapat mengatur pendapatan, sehingga ada alokasi yang cukup untuk asuransi. Dalam memilih premi, harus sesuai dengan budget dan kebutuhan. Sebesar 5 persen dari pendapatan per bulan, bisa dibayarkan premi asuransi. 

“Pendapatan per bulan, sebesar 40 persennya untuk pengeluaran sehari-hari. Makan, biaya sekolah, listrik dan lain. Sebesar 30 persen bayar cicilan, 10 persen menabung, 15 persen gaya hidup. Dan tentu saja yang 5 persen itu untuk asuransi,” ujarnya.

Asuransi di Era Digitalisasi

Para narasumber yang hadir pada peluncuran FWD Max.

Para narasumber yang hadir pada peluncuran FWD Max.

Di era digital, perusahaan asuransi juga harus bertransformasi. Jika dulu perusahaan asuransi fokus pada jenis-jenis produk dan bagaimana produknya bisa merangkum kepada kebutuhan, sekarang berbeda. Perusahaan asuransi lebih fokus pada keamanan dan kenyamanan pengguna. 

Melalui aplikasi, setiap calon pemegang polis bisa memperoleh akses informasi yang luas tentang produk, syarat, proses klaim, top up dan mendapatkan benefit lainnya. Bahkan transaksi pembayaran polis bisa dicek secara real time. 

Dengan mengeluarkan layanan eServices, pemegang polis memiliki kemudahan mengakses asuransinya. Dimanapun dan kapanpun bisa dengan gampang mengecek syarat, benefit dan sudah berapa banyak premi yang dibayar,” ujar Ghita. 

Transparansi melalui layanan eServices, lanjut Ghita, bisa memperkecil mispersepsi yang kerap terjadi terhadap perusahaan asuransi. Melalui aplikasi yang ada dalam genggaman, pemegang polis jadi lebih peduli terhadap produk investasi yang dibelinya. Tidak ada lagi alasan bagi pemegang polis untuk enggan membaca ketentuan asuransi yang dimilikinya. 

Layanan eServices dari FWD Finance

Kemudahan-kemudahan yang bisa didapat dengan mengandalkan teknologi inilah yang membuat FWD Life, pelopor asuransi jiwa berbasis digital untuk meluncurkan eServices FWD MAX. Direktur Utama FWD Life Anantharaman Sridharan mengatakan, FWD Life membawa pendekatan baru ke industri yang identik dengan cara tradisional dan melihatnya melalui perspektif nasabah. Visi mengubah cara pandang masyarakat tentang asuransi, telah menginspirasi FWD Life untuk membuat asuransi menjadi lebih relevan dan dapat dijangkau semua orang. 

Pendekatan yang berfokus pada nasabah ini yang mendorong kami untuk terus berinovasi memenuhi kebutuhan pemegang polis. “Fitur eServices terbaru ini akan menjadi salah satu bukti bagaimana kami berusaha mencapai visi kami setiap harinya,” kata Anantharaman.

Chief Marketing Officer FWD Life Maika Randini

Chief Marketing Officer FWD Life Maika Randini.

Chief Marketing Officer FWD Life Maika Randini mengatakan, FWD Life memiliki visi mengubah cara pandang masyarakat tentang asuransi. “Persepsinya ribet dan complicated. Pengalaman inilah yang ingin diubah di masyarakat,” kata Maika. 

Sejak sebelum pandemi, lanjut Maika, FWD Life memang sudah fokus pada digital teknologi untuk memudahkan masyarakat memiliki asuransi. Proses menanamkan asuransi sebagai kebutuhan melalui teknologi jadi lebih terbantu di saat pandemi seperti sekarang. Sebab sekarang ini masyarakat jadi terdorong melek teknologi dan memanfaatkan digital untuk beraktivitas. 

“Melalui pendekatan yang berfokus pada nasabah, tidak hanya kami melihat gaya hidup digital para millennial. Tetapi juga bagaimana generasi sebelumnya menjadi lebih melek teknologi,” tutur Maika. 

Peluncuran eServices FWD MAX bertepatan dengan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2020. Momen ini menjadi waktu yang tepat untuk mengenalkan produk-produk dan layanan terbaik FWD Life. Dengan fitur eServices pada aplikasi FWD MAX, FWD Life mengajak nasabah bersemangat untuk ‘berubah’ dan merayakan hidup.

Fitur-Fitur FWD MAX

FWD MAX ini, merupakan perusahaan asuransi yang berorientasi pada pengurangan keluhan nasabah. Setiap pemegang polis kini memiliki kemudahan mengakses dan mengelola polis FWD Life dengan cepat dan mudah. Peningkatan ini melengkapi fitur eFriend.

Sebelumnya fitur eFriend telah diluncurkan untuk nasabah korporasi. Bagi nasabah individu, sekarang hanya perlu menggunakan FWD MAX untuk semua kebutuhannya. Adapun beberapa fitur-fitur yang memudahkan nasabah :

1. My Profile

Fitur my profile bisa digunakan untuk memperbarui data secara mandiri langsung oleh nasabah.

2. My Policies

Fitur ini untuk mengakses data polis nasabah secara real-time dari manapun dan kapanpun selama terakses dengan jaringan internet.

3.My Claim

Pengajuan klaim nasabah, juga tidak harus datang secara tatap muka menemui agen asuransi atau berkirim surat. Pengajuan klaim bisa dilakukan secara online tanpa harus mengirimkan dokumen fisik (syarat dan ketentuan berlaku). 

4.My Payment

Dengan my payment, nasabah bisa melakukan pembayaran premi dan melihat langsung hasil transaksinya. 

5. My Investment

Fitur ini digunakan untuk memantau investasi nasabah secara real-time

6. My Request

Pada aplikasi FWD MAX ada 11 fitur tambahan. Termasuk pengalihan nilai investasi, ganti alokasi premi investasi, penarikan nilai investasi sebagian, aktivasi polis, top-up reguler, top-up tunggal, cuti premi, cetak kartu kesehatan, cetak polis, perubahan data tertanggung, dan ganti cara pembayaran.

Produk-Produk FWD Life

Pada aplikasi FWD Life, tentu saja kita bisa mendapat informasi sebelum memilih apa produk yang tepat buat diri sendiri dan keluarga. Saat ini ada enam produk FWD Life yang bisa dibeli mulai dari Rp 10 ribu per bulan :

  1. FWD Cancer Protection
  2. Asuransi bebas handal.
  3. FWD Loop
  4. Bebas Aksi
  5. Bebas Aksi Flash 3 Bulan
  6. Bebas Rencana

Nah, untuk tahu lebih lengkapnya seperti apa produk-produknya, bisa cek langsung ke aplikasi FWD MAX. Aplikasinya bisa diunduh di Google Play Store dan App Store. Untuk informasi lebih lanjut tentang FWD Life, bisa dibaca juga melalui situs www.fwd.co.id. 

FWD Life Pilihan yang Tepat

Digital Enthusiast Desy Bachir mengatakan, FWD Life merupakan solusi dan pilihan yang tepat, sehingga dapat memecahkan persoalan mengapa orang enggan memiliki asuransi.  Menurutnya di era sekarang, gaya hidup orang ingin yang mudah, cepat dan simple. Hal inilah yang dilakukan oleh asuransi jika ingin menarik masyarakat. 

“Sekarang orang makin sibuk. Kadang tidak punya waktu luang dan tidak sabar untuk mengurusi hal-hal yang menggunaan prosedur panjang. Seperti saya. Jika ingin mengecek polis, transaksi dan lain-lain, saya tentu akan lebih memilih asuransi yang sudah memanfaatkan teknologi digital untuk bertransaksi.(**)

Klinik Asiki dan Kebutuhan Layanan Kesehatan di Daerah Terpencil

Klinik Asiki dan Kebutuhan Layanan Kesehatan di Daerah Terpencil

“Yang namanya ajal memang ditangan Yang Maha Kuasa. Tapi setiap kali ada warga sakit yang meninggal karena keterlambatan penanganan dan minimnya fasilitas kesehatan, tentu ini sangat menyedihkan sekali,” tutur Rafli Kaitora, Kepala Suku Adat Kaitora Pulau Enggano. 

Rafli Kaitora tak kuasa  meluapkan kegundahannya ketika kami berbincang selama 30 menit melalui sambungan telepon. Warga asli yang tinggal menetap di Pulau Enggano itu masih merasakan kesedihan. Kurun sebulan terakhir sudah dua warganya meninggal dunia.

Penyebabnya sama. Sama-sama sakit. Mengalami sesak napas sebagai gejala awal dan terlambat mendapat penanganan karena keterbatasan tenaga kesehatan di pulau yang statusnya di catatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) masih termasuk Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Pulau Terluar (DTPK).

“Tanggal 31 Agustus yang meninggal Imri Aryadi Kauna, usia 68 tahun. Lalu sekitar seminggu kemudian,  Lirawati Kauna meninggal usia 40 tahun. Saat dibawa ke puskesmas, kebetulan dokternya sedang bertugas dinas ke luar pulau. Jadi ya memang terlambat penanganan,” tutur Rafli.

Rafli menuturkan, kejadian ada warga meninggal karena terlambat penanganan atau meninggal saat mengarungi lautan lepas Samudera Hindia, bukan kali pertama. Akses pelayanan dan fasilitas kesehatan di Pulau Enggano terbilang masih minim.

Hanya Ada Satu Dokter Umum

Rumah Sakit Bergerak Enggano atau disebut juga rumah sakit terapung memiliki fasilitas kesehatan yang masih terbatas. Foto: dr. Meinoffiandi.

Rumah Sakit Bergerak Enggano atau disebut juga rumah sakit terapung memiliki fasilitas kesehatan yang masih terbatas. Foto: dr. Meinoffiandi.

Meski di sana sudah ada Puskesmas Enggano dan Rumah Sakit Bergerak (Rumah Sakit Terapung), namun hanya memiliki satu dokter umum saja. Alhasil warga yang berobat ke fasilitas kesehatan dilayani oleh perawat dan bidan yang dinilai oleh warga penanganan kesehatannya tidak seampuh dokter.

Tak hanya itu saja. Apabila ada warga yang harus dirujuk ke rumah sakit di Kota Bengkulu, tidak bisa langsung berangkat. Transportasi yang tersedia hanya kapal perintis yang berangkat dua kali saja dalam sepekan. Begitu pula dengan pesawat Susi Air. Jadi jika tidak ada jadwal keberangkatan baik kapal maupun pesawat, pasien tentu harus menunggu.

“Perjalanannya juga cukup jauh. Berlayar 12 jam. Kadang sudah dirujuk jauh-jauh, belum lagi sampai ke rumah sakit di Kota Bengkulu, sudah meninggal di kapal. Lalu obat-obatan juga. Persediaannya di sini (Enggano) sangat terbatas,” ungkap Rafli.

Kondisi pelayanan dan fasilitas kesehatan yang masih minim, lanjut Rafli, masih harus dirasakan oleh masyarakat Enggano bahkan setelah 75 tahun Indonesia merdeka. Ia menuturkan, daya juang masyarakat Pulau Enggano untuk mempertahankan kehidupan, benar-benar tinggi. “Mau bagaimana lagi. Sebisa mungkin kami berusaha untuk tidak sakit. Tapi yang namanya manusia kadangkala ya merasakan sakit,” ujar Rafli.

Berharap Ada Penambahan Dokter

Mewakili warga Enggano, Rafli berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkulu Utara bisa menambah tenaga dokter di Pulau Enggano. Baik dokter umum maupun spesialis. Sehingga jika ada dokter yang harus bertugas ke luar pulau, tetap ada dokter lain yang siaga.

“Apalagi pada kondisi pandemi Covid-19 ini. Kami bersyukur sampai hari ini Enggano masih zona hijau. Tapi untuk menjaga agar jangan sampai virus itu masuk ke sini, tentu harus ada penanganan ekstra. Bahkan jika perlu, tutup dulu untuk  sementara akses masuk ke pulau untuk pendatang,” harap Rafli.

Pulau Enggano merupakan pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Di sana, sebanyak 3.274 penduduk (data Badan Pusat Statistik (BPS) Kecamatan Enggano dalam Angka 2019) menempati pulau seluas 400,6 meter persegi itu. Warga tersebar di enam desa yakni Banjarsari, Meok, Apoho, Malakoni, Kahyapu dan Kaana. Untuk menopang kehidupannya, di Enggano warga mengandalkan potensi tangkapan laut, serta perkebunan kakao, kopi robusta dan kelapa.

Meski memiliki potensi wisata karena keindahan bawah lautnya, namun akses transportasi yang tidak menentu membuat upaya pengembangan pariwisata ikut tersendat. Transportasi kapal hanya tersedia pada Rabu dan Jumat dari Pelabuhan Pulau Baai-Pelabuhan Malakoni. Sementara pesawat perintis Susi hanya ada Selasa dan Jumat dengan ongkos Rp 300 ribu sekali penerbangan .

Berada 156 kilometer atau 90 mil dari pusat ibukota provinsi, warga Pulau Enggano acapkali merasakan menjadi warga yang terisolir. Bukan sekali dua kapal perintis tidak bisa angkat jangkar dari Pelabuhan Pulau Baai lantaran badai melanda hingga berminggu-minggu.

Bertugas dengan Penuh Tantangan

Hanya ada satu dokter yang melayani pasien baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit Bergerak Enggano. Dokter Meinoffiandi saat sedang memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Foto: Dokumen dr. Meinoffiandi.

Hanya ada satu dokter yang melayani pasien baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit Bergerak Enggano. Dokter Meinoffiandi saat sedang memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Foto: Dokumen dr. Meinoffiandi.

Keterbatasan pelayanan dan fasilitas kesehatan di Pulau Enggano seperti yang diutarakan Rafli Kaitora diakui oleh satu-satunya dokter umum di Pulau Enggano, dr. Meinofiandi Leswin. Ia bertugas di dua tempat sekaligus, Rumah Sakit Bergerak dan di Puskesmas Enggano.

Dokter muda berusia 35 tahun yang akrab disapa Andi itu mengungkapkan, selama bertugas di sana ada beberapa tantangan yang dihadapi. Mulai dari jumlah dokter yang hanya satu orang saja, kebutuhan akan dokter spesialis, laboratorium sederhana yang belum bisa difungsikan secara maksimal karena tidak ada tenaga ahli yang menangani, pasokan obat-obatan yang terbatas. Tidak ada apotek maupun apoteker.

“Fasilitas dan sumber daya yang ada sekarang lebih pada yang sifatnya emergency. Sebisa mungkin mempertahankan pasien yang mengalami sakit parah untuk tetap hidup, hingga bisa dirujuk ke rumah sakit yang ada di Kota Bengkulu,” kata Andi yang sehari-hari keluarganya berada di Kota Bengkulu.

Meningkatkan Kualitas Kesehatan

Salah satu kegiatan pelayanan di Puskesmas Enggano. Foto: Dokumen dr. Meinoffiandi

Salah satu kegiatan pelayanan di Puskesmas Enggano. Foto: Dokumen dr. Meinoffiandi

Segala tantangan dalam menunaikan tugas di pulau terluar, tidak serta-merta menjadi hambatan untuk tidak bisa berbuat. Peningkatan kualitas kesehatan di Pulau Enggano tetap dilakukan dengan melakukan upaya preventif. “Yang dilakukan adalah bagaimana caranya kami mengupayakan agar masyarakat di pulau itu sehat,” ujarnya.

Beberapa hal yang dilakukan antara lain menyosialisasikan pentingnya hidup sehat kepada warga, melakukan penyuluhan, mengingatkan warga untuk mengonsumsi makanan bergizi, menggalakkan program desa Open Defecation Free (ODF) dengan pembuatan jamban sehat.

Pada situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, puskesmas dan rumah sakit bersama Gugus Covid-19 mengawasi dan membatasi kedatangan orang dari luar ke Enggano. Salah satunya dengan memberlakukan syarat wajib menunjukkan hasil rapid test sebelum naik ke kapal.

Baca Juga Artikel Kesehatan Lainnya :

Gerakan Amanat, Dari yang Biasa Menjadi Luar Biasa

8 Kiat Menjalani New Normal Ditengah Pandemi Covid-19

Aturan ini diutamakan bagi penumpang yang Kartu Tanda Penduduk (KTP)-nya tidak berdomisili di Enggano. Setibanya di pulau, lanjut Andi, kembali dicek. Jika ternyata ada yang tidak punya surat keterangan tapi tetap bisa datang ke pulau, diberlakukan rapid test di pelabuhan.

Cegah Angka Kematian Ibu dan Anak

Terkait dengan angka kematian ibu, di Pulau Enggano belum mengkhawatirkan. Akan tetapi untuk kasus kematian anak, perlu mendapat perhatian. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, angka kematian ibu dan anak pada periode Januari-Juli 2020 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Untuk kasus kematian ibu, tahun ini total ada 21 ibu meninggal dunia dan tahun 2019 ada 18 ibu meninggal dunia. Dimana terbanyak adalah Kabupaten Bengkulu Utara dengan jumlah 7 ibu meninggal. Sementara untuk kasus kematian bayi, jumlahnya mencapai 153 bayi meninggal. Sedangkan tahun 2019 ada 149 bayi meninggal. Kasus terbanyaknya pun di Kabupaten Bengkulu Utara yakni 40 bayi meninggal. Dimana dua diantaranya ada di Kecamatan Enggano. “Ibu-ibu hamil di Pulau Enggano kesulitan jika ingin melakukan periksa USG. Alatnya selama ini rusak. Baru tahun 2020 ada alat bantuan, tapi belum bisa dioperasikan karena tenaganya harus ikut pelatihan dulu,” ujar Andi.

KORINDO dan Klinik Asiki

Keberadaan Klinik Asiki di Boven Digoel, Papua. Klinik di Kampung Asiki ini diresmikan sejak 2 September 2017. Foto : korindo.co.id

Keberadaan Klinik Asiki di Boven Digoel, Papua. Klinik di Kampung Asiki ini diresmikan sejak 2 September 2017. Foto : korindo.co.id

Akses mendapat pelayanan kesehatan yang minim seperti di Pulau Enggano, jelas bukan satu-satunya di Indonesia. Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Teringgal tahun 2020-2024 ada 62 daerah. Dari 62 daerah tertinggal itu, sebanyak 22 diantaranya berada di Papua. Salah satunya Boven Digoel.

Ingat Boven Digoel, ingatan saya melayang pada Klinik Asiki. Sebuah klinik yang didirikan oleh KORINDO Group dan KOICA (Korea International Cooperation Agency). KORINDO sendiri merupakan perusahaan perintis dalam hal pelestarian lingkungan.

Mengutip situs korindo.co.id, perusahaan ini sudah sudah menunjukkan eksistensinya selama 51 tahun di pasar Asia Tenggara atau sejak 1969, sudah dikenal keberhasilannya sebagai pemasok kertas koran domestik. Serta melaksanakan imbauan pemerintah dalam hal melakukan pembaruan industri koran yang sebelumnya sangat bergantung pada produk kertas koran impor.

Melalui kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR), KORINDO juga membantu masyarakat setempat menciptakan mata pencaharian sendiri secara mandiri dalam bentuk bantuan usaha di perkebunan karet dan penyediaan pelatihan di sektor peternakan unggas. Dan tentunya KORINDO juga menjadi perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan yang baik untuk sesama.

Klinik Asiki di Kampung Asiki, Boven Digoel memiliki fasilitas yang lengkap dan modern, berikut tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan dan penyuluhan gratis kepada masyarakat. Klinik ini berdiri sejak 2 September 2017 di kabupaten dengan jumlah penduduk 67.717 jiwa (data BPS tahun 2018) itu.

Kampung Asiki di Boven Digoel merupakan sebuah kampung pedalaman Papua. Letaknya di perbatasan negara Indonesia – Papua New Guena (PNG). Klinik ini dibuka tentu saja dengan tujuan dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di sana.

Klinik Asiki memiliki gedung sendiri seluas 1.100 meter persegi. Fasilitasnya terdiri dari ruang inap, ruang rawat jalan, ruang bersalin, perawatan bayi/perinatologi, Instalasi Gawat Darurat (IGD), ruang bedah minor, USG, farmasi, dan fasilitas lainnya hingga penyediaan kendaraan ambulans.

Delapan Program Unggulan

Ada 8 program yang gencar dilakukan oleh Klinik Asiki, yaitu sebagai berikut :

  1. Menurunkan angka kematian ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi baru lahir melalui peningkatan pelayanan kesehatan ibu, balita dan Keluarga Berencana (KB), serta memperbaiki status gizi masyarakat
  2. Mengendalikan penyakit menular serta penyakit tidak menular
  3. Penyehatan lingkungan
  4. Mengembangkan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
  5. Memberdayakan masyarakat dan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan
  6. Peningkatan pelayanan kesehatan primer
  7. Meningkatkan lingkungan kerja yang aman dan nyaman
  8. Fokus dalam meningkatkan sumber daya manusia yang profesional

Dengan fasilitas lengkap dan pelayanan yang kerap dilakukan dengan “jemput bola”. Salah satunya  dengan membuka layanan mobile service.  Program ini dilakukan secara langsung ke kampung-kampung terpencil dan perbatasan di wilayah sekitar perusahaan yang berada di Boven.

Layanan Mobile Service

Layanan Mobile Service Klinik Asiki bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak. Foto: korindi.co.id

Layanan Mobile Service Klinik Asiki bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak. Foto: korindi.co.id

Bekerjasama dengan Puskesmas, saat pertama kali dimulai tahun 2017, Mobile Service Klinik Asiki menjangkau enam kampung. Lalu secara berkelanjutan menyasar kampung-kampung lain. Program Mobile Service Klinik Asiki dilakukan untuk meningkatkan akses dan pemanfaatan layanan kesehatan, serta meningkatkan aksebilitas pelayanan medis untuk daerah. Sasarannya ditujukan untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil dan bayi atau balita. Oleh sebab itu kegiatannya pun dilakukan di posyandu-posyandu.

Berkat upayanya meningkatkan kualitas kesehatan di Kampung Asiki Boven Digoel, kurun dua tahun saja Klinik Asiki berhasil menjadi klinik terbaik tingkat nasional. Yakni dalam kategori Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Penghargaan ini diberikan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada 15 Agustus 2019 dengan predikat “FKTP dengan Komitmen Tinggi dalam Memberikan Pelayanan Terbaik bagi Peserta JKN-KIS Kategori Klinik Pratama.”

Sungguh beruntung warga Kampung Asiki saat ini telah memiliki pusat pelayanan kesehatan dengan fasilitas dan sumber daya tenaga kesehatan yang lengkap. Ah, andai Pulau Enggano memiliki klinik dengan pelayanan maksimal serupa seperti Klinik Asiki, niscaya masyarakat di sana akan merasakan kualitas dan jaminan kesehatan terbaik. Dengan industri yang terus berkembang dan semakin maju di masa yang akan datang, bukan tidak mungkin jika kedepannya KORINDO Group memperluas wilayah kegiatan sosialnya ke daerah-daerah pedalaman, perbatasan dan pulau terluar lainnya. Semoga. (**)

Obat Liver Terbaik, Ini Tips Aman dan Mudah Memilihnya

Obat Liver Terbaik, Ini Tips Aman dan Mudah Memilihnya

MEMILIH OBAT LIVER TERBAIK – Liver masuk dalam salah satu kategori penyakit kronis yang cukup berbahaya. Liver merupakan gangguan kesehatan pada bagian hati. Akibatnya organ vital di tubuh kita ini tidak dapat berfungsi dengan baik.

Organ hati bagi manusia sangat penting. Liver bisa menghasilkan empedu yang membuang racun dalam tubuh dan menghancurkan lemak, mencerna obat-obatan menjadi zat aktif di dalam tubuh, membersihkan darah dari senyawa obat, menghasilkan amino penyusun protein untuk melawan infeksi dan sisa metabolisme, menyimpan zat besi untuk pembentukan Hb (hemoglobin) dan beberapa funsgi lainnya.

Disatu sisi, hati merupakan organ yang dapat meregenerasi sel-selnya yang rusak dengan cepat. Namun disisi lain jika sel yang rusah cukup banyak, maka fungsi dan kerja hati dapat terganggu. Biasanya, fungsi hati akan mulai terlihat penurunannya ketika kerusakan sel-sel hati mencapai 75 persen.

Seperti dilansir oleh situs alodokter.com. Penurunan fungsi hati bisa terjadi dengan 4 tahap hingga dinyatakan kronis. Setelah divonis kronis, kerusakan pada liver tidak bisa disembuhkan. Perlu penanganan khusus bagi orang dengan kerusakan fungsi hati berat. Salah salah satunya dengan transplantasi hati. Dan beberapa kasus yang sering terjadi adalah bahwasanya mereka yang sudah terkena liver memang akan sangat sulit sekali untuk sembuh dan bahkan yang paling parah yakni bisa mencapai kematian.

Di Indonesia, penderita liver bisa dikatakan cukup tinggi. Bahkan menurut data Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) yakni organisasi bidang kerjasama pembangunan ekonomi 33 negara yang salah satunya menyoroti soal kesehatan, liver menjadi salah satu dari 10 jenis penyakit yang terbanyak menyebabkan kematian.

Berdasarkan data OECD tahun 2017 di dunia liver menempati peringkat 10 jenis penyakit mematikan. Penderitanya mencapai 1,32 juta kasus. Sementara di Indonesia, liver menempati urutan ke-7 dengan 82. 145 kasus meninggal dunia. Liver berada dibawah penyakit kardiovaskuler seperti jantung dan stroke, kanker, penyakit pencernaan,  diabetes, penyakit pernapasan dan TBC alias tubercolosis.

Penyebab Liver

Cek Keaslian Obat Liver dan Obat Tipes Pientzehuang-2

Cek Keaslian Obat Liver dan Obat Tipes Pientzehuang-2

Agar terhindar dari penyakit ini, kita harus tahu dulu apa saja penyebab penyakit liver. Liver bisa disebabkan karena mengonsumsi alkohol berlebihan. Pada orang yang mengalami obesitas, penumpukan lemak di sel-sel hati juga dapat menyebabkan gangguan.

Selain dua penyebab diatas, hepatitis juga menjadi penyebab gangguang liver. Hepatitis merupakan golongan penyakit liver yang muncul akibat jaringan hati yang meradang. Jenis yang biasa dikenal antara lain hepatitis A, B, C, D, E dan hepatitis autoimun.

Selain itu, penyakit hati juga bisa muncul akibat faktor keturunan. Penyakit liver ini disebabkan oleh kelainan genetik yang menyebabkan gangguan fungsi organ hati. Dua jenis penyebab penyakit liver genetik yang paling dikenal adalah hemokromatosis dan defisiensi alfa-1 antitripsin.

Selain mengenal penyebabnya, ada juga beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena liver. Seperti obesitas, diabetes, mengonsumsi alkohol berlebihan, penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza), gonta-ganti pasangan seksual, terpapar cairan dan darah tubuh orang lain yang mengidap penyakit.

Kenali Sejak Dini

Sebelum penyakit liver bertambah parah dan masuk ke tahap 4 atau dinyatakan kronis, ada baiknya mengenali gejalanya sejak dini. Penderita liver biasanya akan mengalami penurunan nafsu makan, sehingga berat tubuh pun menyusut. Mual dan muntah, gairah seksual menurun, perubahan warna cairan urin dan warna feses, mudah lelah, mata menjadi kuning, bengkak pada tungkai kaki, demam, kulit mudah memar dan kulit terasa gatal.

Penyakit liver bisa diketahui melalui diagnosis dokter. Selain itu, orang yang mengalami gejala harus menjalani tes darah untuk mengetahui sejauh mana kondisi peradangan. Selain itu dokter dapat meminta pasien menjalani prosedur pemindaian dengan USG, CT Scan atau MRI, untuk mendapatkan gambaran organ hati dan organ yang ada di sekitarnya secara jelas.

Baca artikel lainnya :

8 Kiat Menjalani Kehidupan di Era New Normal

Pengobatan Penyakit Liver

Bila sudah terkena penyakit liver, pengobatan dilakukan tergantung pada sejauh mana tingkat keparahan, penyebab dan kondisi seseorang. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar pula potensi sembuh.  Liver dalam tahap tertentu bisa diobati dengan perubahan gaya hidup. Turunkan berat badan, berhenti minum alkohol dan menghindari konsumsi obat-obatan sembarangan. Perbanyak minum air putih, istirahat yang cukup, serta mengonsumsi makanan yang sehat, terutama untuk mengatasi hepatitis A.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah diperlukan penanganan kesehatan yang tepat dan juga obat liver yang tepat supaya penyakit tidak semakin parah dan bisa mencapai kematian. Karena perkembangan zaman yang sudah semakin modern dan maju seperti saat ini, dunia farmasi dan kesehatan ternyata juga telah menunjukkan perkembangan yang sangat luar biasa.

Sudah banyak sekali jenis obat yang berhasil diciptakan oleh para ahli farmasi dan kemudian bisa dijual di pasar obat atau toko-toko obat resmi seperti apotek yang sudah terdaftar. Salah satu jenis obat yang saat ini sudah banyak di produksi dan beredar bebas di pasaran obat dan juga di apotek adalah seperti obat liver. Mulai dari obat generik sampai dengan obat herbal. Maka dari itu, apabila Anda saat ini sedang mencari obat herbal yang bisa menyembuhkan liver Pien Tze Huang adalah pilihan yang tepat.

Ciri Obat Asli

Cek Keaslian Obat Pientzehuang Disini

Cek Keaslian Obat Pientzehuang Disini

Akan tetapi, Anda juga perlu cermat. Jangan sampai obat Pien Tze Huang yang dibeli adalah tiruan alias palsu. Berikut adalah tips untuk mendapatkan obat Pien Tze Huang yang asli :

  • Jangan tergiur dengan toko yang menjual harga murah di bawah harga aslinya.
  • Perhatikan apakah di kemasan sudah tertera B POM dengan No POM TI 164 250 351.
  • Jangan mudah percaya dengan toko yang selalu menonjolkan kata asli Tiongkok karena obat tersebut belum tentu asli.

Memilih Pien Tze Huang sebagai obat liver memang suatu keputusan yang sangat tepat. Satu hal yang sangat penting dan tidak boleh Anda anggap sepele adalah karena liver masuk dalam salah satu penyakit kritis, jadi jangan asal sembarang mengkonsumsi obat-obatan termasuk obat herbal. Jadi bila Anda ingin mengkonsumsi Pien Tze Huang konsultasikan lebih dulu dengan dokter, dan apabila dokter sudah mengizinkan Anda bisa membeli obat tersebut di distributor resmi obat tersebut yakni PT Saras Subur Abadi.

Itu dia informasi mengenai liver dan salah satu cara pengobatan yang bisa dilakukan. Sebaiknya memang sebelum sampai terkena, sejak masih sehat kita harus berupaya mencegahnya. Beberapa hal yang bisa dilakukan agar kondisi hati kita tetap baik diantaranya :

  1. Jaga berat badan ideal
  2. Stop minuman alkohol. Air putih jauh lebih baik
  3. Rutin vaksin hepatitis sesuai program
  4. Stop Napza
  5. Tidak berganti pasangan seksual
  6. Konsultasi ke dokter
  7. Lakukan pemeriksaan rutin ke dokter untuk memantau kesehatan liver
  8. Hindari paparan zat kimia berbahaya, darah, dan cairan tubuh orang lain, dengan menggunakan APD (Alat Pelindung Diri)

8 Kiat Menjalani New Normal Ditengah Pandemi Corona

8 Kiat Menjalani New Normal Ditengah Pandemi Corona

MULAI 1 Juni 2020, pemerintah pusat gencar menyosialisasikan penerapan New Normal atau Kenormalan Baru di Indonesia. Kehidupan ala New Normal akan dilalui masyarakat dalam menjalani hari-hari ditengah pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease) yang belum bisa dipastikan kapan akan berakhir.

Mengutip dari beberapa sumber, new normal adalah langkah percepatan penanganan Covid-19 dalam bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi. Skenario new normal dijalankan dengan mempertimbangkan kesiapan daerah dan hasil riset epidemiologis di wilayah terkait.

Menurut ahli bahasa Prof. Dr. Rahayu Surtiati Hidayat dari Universitas Indonesia, badan bahasa sudah memberikan istilah Indonesia dari New Normal. Yaitu Kenormalan Baru. Kata Normal sebetulnya dalam bahasa Inggris sudah dijadikan nomina. Makanya jadi disebut New Normal.

Di Bengkulu, baik pemerintah provinsi, kota maupun kabupaten, tengah mempersiapkan diri untuk menerapkan new normal. Agar kita bisa tetap survive alias bertahan menjalani kehidupan berdampingan dengan virus corona yang telah banyak menelan korban jiwa, tentu saja bukan semata mengandalkan program pemerintah. Melainkan memulai kesadaran dari diri sendiri.

Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi beberapa kiat atau tips tetap survive menjalani kehidupan New Normal disaat pandemi :

1. Jangan Panik

Jangan panik adalah tips yang pertama. Saya menerapkan tips yang satu ini sebagai urutan nomor satu karena jika kita bisa mengendalikan rasa panik, maka kita bisa mengendalikan diri kita untuk tetap rasional, menjalankan protokol kesehatan dan menjaga keluarga terdekat.

2. Hindari Stres

Mengurangi media sosial dan membaca banyak berita adalah salah satu cara untuk menghindari stres. Menghindari perasaan stres adalah salah satu kunci menjaga imun tubuh agar tetap kuat. Boleh saja kita mencari informasi. Namun baca atau tontonlah situs atau media kredibel yang tidak membuat kita makin merasa parno (paranoid).

3. Beraktivitas Seperlunya

Pemberlakuan New Normal akan membuat semua aktivitas perlahan kembali normal. Tapi jangan terlena, apalagi sampai kalap kebanyakan nongkrong sana-sini. Penyebaran virus masih sangat-sangat bisa terjadi dimana saja. Jadi, beraktivitaslah seperlunya. Rumah-kerja-rumah atau rumah-kuliah-rumah. Tahan dulu keinginan untuk hangout atau kongkow bersama teman-teman untuk sementara. Setidaknya sampai pandemi ini mulai berakhir.

4. Kenakan Masker

Jadikan masker sebagai outfit harian kita. Wajib. Anggap saja saking wajibnya tak ubahnya kita mengenakan baju, celana dan jilbab (untuk perempuan muslim). Masker adalah “benteng” bagi diri kita kalau lupa tidak sengaja ingin menyentuh hidung dan mulut sebelum cuci tangan. Masker juga mencegah cairan droplet dari orang bersin, langsung masuk ke saluran pernapasan. Selain itu tentu saja masker adalah cara kita melindungi orang lain.

5. Rajin Cuci Tangan

Biasakan rutin mencuci tangan menggunakan sabun setelah berkegiatan. Tidak ada salahnya kita menyisihkan waktu untuk membasuh tangan di air mengalir.  Seperti yang disarankan World Health Organization (WHO), mencuci tangan dilakukan setidaknya 20 detik menggunakan sabun agar Covid-19 enyah dari kedua tangan kita.

6. Kantongi Hand Sanitizer

Tidak ada salahnya menjadikan hand sanitizer sebagai barang bawaan wajib ditas kita. Jika kita berinteraksi di tempat-tempat umum atau diragukan kebersihannya, segeralah semprotkan hand sanitizer ke tangan.

7. Jaga Jarak

Jaga jarak atau physical distancing juga merupakan cara kita melindungi diri sendiri dan orang lain. Hindari kerumunan orang dan berjarak ketika terpaksa harus antre di tempat umum. Yang paling aman ya tentu saja, kurangi bepergian atau keluar rumah lah seperlunya.

8. Makan Sehat dan Olahraga

Menjaga stamina agar tetap fit dan tidak mudah sakit, sangat penting. Maka mulailah dengan mengonsumsi makan makanan yang bergizi, kaya serat, tambah vitamin dan olahraga ringan.

Itu dia delapan tips tetap survive menjalani kehidupan new normal ditengah pandemi Covid-19. Kita semua tentu saja ingin pandemi ini lekas berakhir. Bahkan tak sedikit yang berdoa agar semua kembali seperti sedia kala sebelum pandemi mendera. Tapi hidup harus tetap maju. Jika tidak bisa bertahan dan beradaptasi, maka kitalah yang akan punah. Semoga kita senantiasa sehat.(ken) 

Perubahan Rutinitas Kala Covid-19 Melanda

Perubahan Rutinitas Kala Covid-19 Melanda

WABAH Corona Virus Disease (Covid-19) sangat mempengaruhi banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Rutinitas dan pola hidup seketika berubah. Mau tidak mau setiap kita harus sadar pentingnya menjalani pola hidup sehat sebagai bagian dari adaptasi dan antisipasi dalam menghadapi Virus Corona.

Ada yang pernah lupa mencuci tangan sebelum makan? Beberapa bulan lalu, mungkin masih ada. Cuek bebek saja mencomot sepotong gorengan, lalu melahap dalam sekejap. Tapi sekarang, tak sengaja menyentuh benda yang banyak dipegang oleh orang lain saja, udah bikin kita parno alias paranoid. Sebisa mungkin menghindari menyentuh mata, hidung dan mulut.

Apapun yang kita kerjakan, khususnya saat berada di luar rumah membuat kita was-was dan lebih mawas diri. Buat saya beberapa hal yang berubah dalam kehidupan sehari-hari sejak Covid-19 melanda di Indonesia pada pertengahan Maret lalu:

1. Jalanan Lenggang

Berangkat kerja biasanya bisa sampai dua tiga kali harus berhenti di lampu merah yang sama, saking ramainya. Tapi sekarang, selalu kedapetan paling depan di barisan traffic light. Kelas kota kecil saja, sangat terasa. Apalagi yang biasa tinggal di ibukota. Ini terjadi karena di Bengkulu, anak sekolah libur panjang sampai 29 Mei mendatang atau selepas Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah.

2. Wara-Wiri Mobil Peringatan

Anak generasi 80-90-an inget nggak sama mobil yang suka keliling gang-gang pakai pengeras suara mempromosikan film apa yang akan tayang di bioskop. Atau kalau ada layar tancap. Sesekali mobil kampanye Keluarga Berencana (KB). Nah ini sekarang mobil polisi dan Satpol Pamong Praja (Satpol) PP setiap malam rajin mengingatkan warga untuk pakai masker, rajin cuci tangan, menjemur pakaian hingga kering, jaga kebersihan, jaga jarak, di rumah aja dan lain-lain.

Harusnya sih biasa aja. Tapi entah kenapa mobil peringatan yang wara-wiri ini bikin kita berasa kayak berada di distrik yang ada di film triloginya The Mockingjay.

3.Ekonomi Sulit

Setiap ketemu mitra, bahasannya sama. “Ekonomi makin sulit. Penjualan anjlok. Semoga Covid-19 lekas berlalu,” doa mereka yang dengan cepat diaminkan. Tak sedikit perusahaan yang sudah merumahkan karyawannya. Bioskop, pusat perbelanjaan, rumah makan dan lain-lain, semuanya tutup. Orang menghindari keramaian. Yang bisa bertahan, makin mengencangkan ikat pinggang. Heu, paling sedih kalau bahasannya sudah berkaitan dengan cupak tanak. Semoga setelah badai Covid, semuanya akan lebih baik lagi.

4. Rutinitas Kantor

Rajin mencuci tangan jadi aktivitas baru sebagai efek pandemik Corona.

Rutinitas ini salah satu yang nggak pernah terbayang sebelumnya. Kantor mewajibkan karyawan absen di bawah jam yang ada di lobi gedung. Terus foto selfie sembari mengenakan masker. Fotonya ini dikirim melalui group WhatsApp. Tadinya aneh. Kami selalu tertawa ramai-ramai jika ada yang post foto ke grup. Tapi lambat laun terbiasa.

Selain sistem absen, suasananya juga agak aneh. Semua mengenakan masker. Sehari dua kali office boy masuk ke ruangan-ruangan buat semprot disinfektan. Di depan pintu masuk juga sekarang sudah ada wastafel portable yang sengaja diletakan agar siapapun yang mau masuk ke gedung, wajib cuci tangan.

Physical distancing dan efisiensi juga sekarang membuat sebagian karyawan kami diliburkan sementara. Jadinya suasana kantor berasa sepinya. Kawan-kawan lain yang datang ke kantor pun bingung. Klien yang mau ditemui, sedang berada di kondisi yang sama.

5. Lebih Takut Suara Bersin dari Kentut

Sungguh. Postingan status kawan-kawan di media sosial bikin ngakak so hard. Malah banyak banget yang bikin video parodinya. Tapi bisa jadi ada benernya juga. Konon katanya bersin dari orang yang positif Covid-19 bisa menularkan virusnya kemana-mana melalui cairan droplet yang muncrat dari hidungnya. Ini makanya penting sekali pakai masker. Buat tahu lebih lanjut tentang Covid-19, silakan baca tulisan saya sebelumnya Corona, Virus dari Wuhan yang Menggemparkan Dunia.

6. Pendapatan Berkurang, Pengeluaran Bertambah

Beli masker, handsanitizer, stok makanan dan susu anak supaya nggak sering keluar rumah, konsumsi buah dan vitamin, semuanya perlu uang untuk membeli. Ditengah pendapatan yang terus menurun, pengeluaran kita justru berasa makin bertambah.

7. Menikah Tanpa Resepsi

Dulu sering kerepotan kalau mesti hadir ke undangan di hari Sabtu dan Minggu. Mesti punya waktu buat dandan. Tapi sekarang, acara pernikahan hanya bole hijab Kabul saja tanpa ada resepsi. Di beberapa daerag malah pesta kawinan dibubarkan oleh polisi.

8. Serba Online

Kuliah, online. Meeting, online. Belanja, online. Seminar, online. Workshop, online. Termasuk buat beli sayur mayor. Semua serba online. Beberapa perusahaan malah sudah ada yang menerapkan Work From Home (WFH) dari rumah. Dulu, aplikasi-aplikasi ini asing dan tak sedikit yang malah buat mempelajari. Tapi lambat laun kita jadi “dipaksana” terbiasa mengandalkan teknologi tanpa perlu tatap muka secara langsung.

9. Nggak Mudik Tanda Sayang

Mungkin inilah yang namanya dunia terbalik. Dulu kalau anak nggak pernah mudik atau jarang pulang kampung menjenguk orangtuanya, bisa dikatain anak durhaka. Ehhh, sekarang kalo mudik malah tandanya nggak sayang sama orangtua dan keluarga di kampung.

Buat saya, sembilan hal diatas adalah perubahan rutinitas sehari-hari yang saya alami sejak Covid 19 melanda. Kalau teman-teman, perubahan apa yang paling dirasakan selama musim pandemik seperti sekarang ini? Share dong ceritanya di kolom komentar.(**)