Amanat, Inovasi Bidan Desa Menekan Stunting

Amanat, Inovasi Bidan Desa Menekan Stunting

Pandemi membuat pendapatan warga Desa Sengkuang menurun. Meski begitu, para ibu tidak kesulitan mencari bahan bakanan yang terjangkau harganya dan bergizi. Semua berkat Gerakan Amanat.

TERIKNYA mentari pagi tak menyurutkan semangat 70 perempuan Desa Sengkuang Kabupaten Bengkulu Utara, untuk berkumpul di halaman Puskesmas Tanjung Agung Palik. Sejak pukul 07.00 WIB pagi, mereka kompak mengenakan seragam kaos berwarna hijau, bersiap mengikuti kegiatan Amanat. Gerakan Ayo Makan Tahu dan Tempe.

Begitu Camat Tanjung Agung Palik Benhar tiba di puskesmas, tua, muda, semua serentak mengikuti alunan musik senam jantung sehat dan senam lansia. Setelah senam, semua yang hadir bersama-sama memakan sajian kue berbahan tahu dan tempe. Ada pastel isi tempe, puding tahu, juga bola-bola tahu.

Jumat pagi itu, tepatnya 21 Agustus 2020 menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Setelah delapan bulan menanti, akhirnya Gerakan Amanat di Desa Sengkuang resmi diluncurkan. Seharusnya gerakan ini sudah ingin diresmikan lebih cepat. Namun apa daya. Covid-19 keburu melanda Indonesia di pertengahan Maret.

Gerakan Amanat merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh bidan penggerak desa, Meta Kosasih. Tujuannya adalah untuk menekan angka gizi buruk dan stunting, kondisi dimana tinggi badan anak jauh lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya, yang cukup tinggi di desa ini dan bahkan tertinggi di Kecamatan Tanjung Agung Palik.

Tahun 2018 lalu, jumlah penderita stunting mencapai 60 anak. Sebuah angka yang sangat tinggi bagi ukuran wilayah desa. Bukan hanya stunting, di desa ini juga terdapat anak penderita gizi buruk.

Asupan Gizi Rendah

Leniwati bersama kedua anaknya.

Leniwati bersama kedua anaknya.

Leniwati (40) bisa sedikit bernapas lega. Putrinya, Nela Zakira, yang berusia 5 tahun dinyatakan bebas dari stunting dan gizi buruk. Kini, tinggi badan Nela sudah sekitar 110 cm dan berat 15 kilogram, sesuai dengan standar yang disarankan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tinggi dan berat badan gadis cilik itu bukan lagi dibawah garis normal.

Leni, sapaan Leniwati, menuturkan, dia sudah merasa curiga putrinya itu mengalami kurang gizi dan stunting sejak Nela bersusia 1,5-2 tahun. Bahkan, ketika sudah berusia dua tahun, Neli belum bisa berjalan.

“Cuma bisa berdiri, tidak bisa melangkah. Badannya selalu terlihat lesu dan tidak bertenaga. Setiap timbang ke posyandu, beratnya tidak naik-naik,” tutur Leni.  Tidak hanya itu, Nela kecil sering demam dan bahkan mengalami kejang.

Dalam pikirannya, anak dalam kondisi sehat jika pada saat ditimbang berat badannya selalu naik. “Pokoknya, kalau timbang berat anak naik tiga mato (ons), artinya sehat. Tapi, setiap penimbangan berat badannya tidak naik-naik. Kalaupun naik, sedikit sekali,” kata Leni.

Dia mengakui kalau dirinya kurang maksimal memberikan asupan gizi dan nutrisi untuk anak. Makanan bagi dirinya dan anaknya seadanya saja. “Yang penting ada nasi. Gulainya (lauk) yang ada di sekitar rumah. Kates (pepaya) muda ditumis atau sayur pucuk ubi,” ujar Leni sambil memangku putra bungsunya Wilza Ramadani yang baru berusia tiga tahun.

Tidak hanya asupan yang seadanya, Nela juga tidak menikmati ASI eksklusif hingga dua tahun seperti yang direkomendasikan bagi balita. Leni terpaksa menghentikan pemberian ASI pada Nela ketika usianya memasuki sembilan bulan karena guru muatan lokal Bahasa Rejang ini divonis mengidap pembengkakan jantung dan kelenjar tiroid.

Untuk menjaga agar asupan gizi Nela tetap terjaga, Leni sempat memberikan susu kental manis selama beberapa bulan sebagai pengganti ASI. Tapi, hal itu diketahui oleh bidan desa dan kemudian dihentikan karena kandungan gulanya yang terlalu tinggi. Atas masukan bidan, SKM itu diganti produk lain yang harganya terjangkau namun memiliki kandungan nutrisi lebih baik. Meski tidak ada yang bisa menggantikan kandungan nutrisi ASI.

Leni mengakui dalam benaknya asupan yang bergizi harus selalu terkonsentrasi pada ketersediaan protein hewani, seperti daging, ikan dan sejenisnya. Penghasilannya sebagai guru honor dengan jumlah yang tidak tetap dan pembayarannya dirapel empat bulan sekali, membuat dirinya kesulitan untuk mengatur asupan gizi anak-anaknya. Penghasilan sang suami, Ropi (40), yang bekerja di pemotongan kayu juga tidak tetap, membuat mereka semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka.

Ditambah lagi keluarganya tidak mendapatkan bantuan stimulan apapun dari pemerintah seperti melalui Program Keluarga Harapan (PKH), juga Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Ia bahkan kini tengah menunggak tagihan BPJS Kesehatan, sehingga kesulitan jika ingin berobat. “Karena sudah terlalu lama menunggak, sudah tidak sanggup bayar. Nilainya sekitar Rp 2 jutaan,” tuturnya.

Nela, Bidan Meta dan Gerakan Amanat

Para ibu-ibu peserta senam Gerakan Amanat.

Para ibu-ibu peserta senam Gerakan Amanat.

Nela hanyalah satu dari ratusan balita yang menderita stunting di Kecamatan Tanjung Agung Palik. Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat Tanjung Agung Palik Endang Antoni Jaya mengatakan tahun 2018 terdapat 277 anak mengalami stunting. Sebanyak 60 anak diantaranya berada di Desa Sengkuang.

Tahun 2019 jumlahnya menurun menjadi 71 anak dan 16 anak diantaranya berada di Desa Sengkuang. Per Februari 2020, jumlah kembali turun menjadi 45 anak dan 9 anak diantaranya berada di Desa Sengkuang. “Untuk data terbaru masih kita himpun,” kata Endang.

Endang mengatakan, persoalan gizi ibu dan anak di Desa Sengkuang memang jadi perhatian. Angka stunting yang tertinggi se-kecamatan ada di Sengkuang, yang sebenarnya jarak dari ibu kota provinsi kurang dari 50 kilometer.

Tidak mudah bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Tanjung Agung Palik, khususnya Meta Kosasih, untuk mengubah dan menanamkan pola pikir orang tua akan pentingnya asupan gizi seimbang dan pola hidup sehat. Cukup sulit bagi Meta untuk mengajak para ibu dan kaum perempuan yang mayoritas adalah ibu rumah tangga dan petani untuk bergerak bersama. Jika tidak ke kebun, para ibu memilih di rumah saja.

Siapa sosok bidan Meta Kosasi? Ini dia profilnya.

Meski Meta lahir, besar dan mengenal banyak warga, kegiatan penyuluhan kesehatan yang diadakan setiap Jumat pagi awalnya hanya dihadiri tiga hingga lima orang saja. Pendekatan secara kekeluargaan dan kesukuan pun terpaksa dilakukan agar para ibu mau hadir. Selain itu, Meta juga mengundang perempuan yang dikenal dekat untuk mau datang ke Puskesmas.

Usai senam, Meta mengenalkan sumber protein yang harganya terjangkau tapi kandungan gizinya sangat banyak, yaitu tahu dan tempe. Beberapa nutrisi yang dibutuhkan tubuh, terutama ibu hamil dan bagi pertumbuhan anak, seperti karbohidrat, lemak, protein, zat besi hingga vitamin B, ada di dalam tempe dan tahu.

Meta tidak hanya mengenalkan tempe dan tahu goreng semata. Dia bersama rekan nakes lainnya juga mengajari ibu-ibu untuk lebih kreatif mengolah produk berbahan dasar kedelai ini. “Harapannya tentu saja anak-anak jadi suka. Kalau digoreng terus, anak-anak kurang tertarik. Prinsipnya menjadikan tahu tempe dari bahan makanan yang biasa menjadi luar biasa,” ujar Meta.

Tidak hanya tempe dan tahu, Meta juga berusaha mengenalkan bahan pangan lain yang tidak mahal, namun bergizi baik untuk balita dalam masa pertumbuhan. Masih ada telur danikan. Kepada mereka yang hadir, Meta selalu berpesan agar Jumat selanjutnya datang lagi dengan membawa teman.

Meski harus pergi pulang ke Kota Bengkulu, Meta aktif mendatangi rumah para ibu satu per satu. “Supaya semangat, kami siasati sesekali senamnya kami adakan lomba. Ada hadiahnya. Akhirnya lama-lama warga jadi tertarik,” ujar Meta.

Upaya terus mengampanyekan Gerakan Amanat sempat tersendat ketika ada larangan pengumpulan massa dari Presiden Joko Widodo. Meta dibantu rekan sesama tenaga kesehatan mencari akal agar program swadaya itu terus berjalan. Pengikisan jumlah anak penderita stunting dan gizi buruk, harus tetap berjalan.

Rumah yang didatangi tidak semuanya mudah diakses dengan kendaraan roda empat. Ada juga yang tinggal di gang-gang desa yang jalannya masih tanah dan berbatu. Kunjungan dilakukan sembari memberikan imunisasi bagi balita yang sudah masuk jadwal, juga memberikan konseling pemberian makanan bergizi untuk bayi dan anak.

“Protokol kesehatan, seperti penggunaan alat pelindung diri (APD) lengkap, tetap dijalani. Kami juga membagikan brosur tentang Covid-19,” ungkap Meta. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Saat dampak pandemi Covid-19 mulai dirasakan masyarakat, terutama dari segi ekonomi, gerakan ini menemukan momentumnya. Pandemi memang memukul warga yang sebagian besar adalah petani karet. Harga getah karet sempat anjlok, dari semula Rp 8000 per kilogram menjadi hanya Rp 3000-Rp 5000 per kg, membuat penghasilan warga menurun. Meski begitu, mereka masih dapat membeli bahan pangan yang terjangkau namun memiliki kandungan gizi yang tinggi.

Dari segi harga, tahu dan tempe terbilang murah di Desa Sengkuang. Satu potong tempe seukuran telapak tangan harganya Rp 1.000. Untuk makan sekeluarga, setidaknya perlu 5 potong tempe. Sementara untuk tahu, bisa dibeli dengan harga Rp 2.000 per tiga potongnya.

Intervensi lain

Senam Amanat membuat tubuh menjadi segar bugar.

Senam Amanat membuat tubuh menjadi segar bugar.

Selain memberikan pengetahuan tambahan soal asupan bergizi dengan harga terjangkau, masalah stunting dan gizi buruk tidak terlepas dari faktor kebersihan lingkungan atau sanitasi. Endang mengatakan, pemukiman warga dekat Daerah Aliran Sungai (DAS), tidak sedikit warga yang kerap buang air di sungai atau di tanah.

“Kotoran menguap terkena sinar matahari, terhirup oleh anak-anak yang main di sekitar sungai. Kadang tangan kotor masuk mulut atau ada lalat hinggap di makanan. Ini bisa menjadi penyebab imun anak terpengaruh. Penyerapan gizinya jadi tidak baik karena terpapar bakteri,” terang Endang. Beruntung, sebelum Covid-19 meluas, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sengkuang sudah membangun toilet di rumah-rumah warga.

Stunting pun bisa disebabkan faktor keturunan. Namun, kata Endang, jumlahnya tidak terlalu signifikan. “Stunting karena faktor keturunan ini jumlahnya lebih sedikit. Hanya sekitar 5 persen dari total kasus stunting,” ujar Endang.

Agar persoalan gizi ditengah Pademi Covid-19 tidak terus bertambah, selain Gerakan Amanat, ahli gizi di puskesmas juga mengajak warga memanfaatkan lahan pekarangan di rumahnya untuk ditanami sayuran. Program Pos Gizi desa, yang salah satu kegiatannya adalah pemberian makanan tambahan, juga membantu mempercepat penurunan jumlah penderita stunting di desa ini.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bengkulu Herwan Antoni mengakui, mereka tetap mengupayakan angka stunting di provinsi ini berada di bawah angka nasional, yaitu 20 persen. Kini, di Bengkulu, jumlah anak penderita stunting tercatat berjumlah 85.278 orang atau setara 28 persen angka nasional.

Meski belum ada inovasi gizi yang berkelanjutan, kegiatan pelayanan gizi dan surveilans gizi secara kualitas terus ditingkatkan. Terutama pada empat kabupaten yang menjadi fokus penanganan stunting yang ditetapkan oleh Bappenas, yaitu Kabupaten Kaur, Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan dan Seluma.

“Dalam waktu dekat kami akan menyalurkan logistik berupa vitamin A bayi, balita, ibu nifas, tablet tambah darah untuk ibu hamil dan remaja putri. Makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita kurus, juga tetap diberikan,” ujarnya.

Meski di Desa Sengkuang, Gerakan Amanat cukup ampuh untuk mengurangi angka penderita stunting, Pemerintah Provinsi Bengkulu masih memilih jalan memutar untuk menekan angka stunting di wilayah ini. Dinkes Provinsi Bengkulu berencana memfasilitasi Rembuk Stunting untuk mengetahui penyebab stunting dibandingkan mengadopsi Gerakan Amanat, makan tahu dan tempe, yang terjangkau dan memiliki kandungan gizi yang tinggi di seluruh provinsi. (ken)

Artikel ini ditulis dan dipublikasi di www.rakyatbengkulu.com sebagai hasil liputan Program Fellowship Pemenuhan Gizi Anak Ditengah Pandemi Covid-19 yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Unicef tahun 2020.

Inisiasi Kelas Menulis Untuk Difabel di Bengkulu

Inisiasi Kelas Menulis Untuk Difabel di Bengkulu

Di negara atau kota-kota lain, kelas menulis untuk difabel mungkin bukan suatu hal yang baru. Bahkan sejak 2006 lalu sudah ada mewadahi karya difabel. Salah satunya kartunet.com yang kontennya diisi para tuna netra. Di Bengkulu, ide yang nyaris serupa saat ini tengah diinisiasi.

**

Bermula dari tawaran diskusi bersama Pusat Informasi dan Konsultasi Perempuan Penyandang Difabel (PIK-PPD) dan Gen Inklusi pada Jumat, 16 Agustus 2019 lalu, kepada Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu. Setelah diskusi dua jam di Kedai Kopi Jurnal, kami sepakat berkolaborasi memulai kelas menulis untuk difabel.

Tantangannya jelas cukup besar. Khususnya dalam hal berkomunikasi. Metode yang diterapkan untuk menyampaikan materi jelas tidak sama dengan kelas menulis untuk non-difabel. Tentunya kami memerlukan bantuan pendamping yang sudah berpengalaman dan referensi pelatihan serupa. Traninernya juga harus menyiapkan media dan peralatan yang mudah untuk dipahami.

Dari Irna Riza Ketua Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Bengkulu, Ketua Gen Inklusi Vike Juzeplin dan Ketua Umum PIK PPD Rina Oktaviana, saya yang sekarang merupakan Koordinator Bidang Perempuan AJI Bengkulu dan Ketua Umum AJI Bengkulu Harry Siswoyo, membuka diskusi dengan memetakan latar belakang peserta.

Siapa Saja Pesertanya

Peserta rencananya terdiri dari tuna daksa, tuna rungu dan tuna grahita. Selain itu juga ada kawan-kawan non-difabel dari Gen Inklusi. Di awal pertemuan, mungkin akan ada sekitar 20 peserta lebih yang ikut. Seluruhnya berusia dewasa dengan usia 20 tahun keatas.

Kami juga menggali bagaimana biasanya mereka berkomunikasi dengan orang lain. Baik sesama difabel maupun non difabel. Setelah pertemuan pertama akan ditekankan siapa yang berminat untuk serius. Supaya kelasnya lebih efektif. Kelas pertama akan berlangsung Jumat, 23 Agustus 2019.

Latihan Menulis Apa?

Walau dari AJI Bengkulu basic-nya adalah jurnalis, namun materi kelas menulis yang diberikan tidak melulu tentang menulis berita. Sebab pada dasarnya dunia menulis itu luas dan bebas. Maka yang pertama kali akan diberikan adalah dasar-dasar menulis itu dulu. Lalu spesifikasinya, silakan penulis itu sendiri yang mengembangkan minatnya mau menulis apa.

Apalagi di era teknologi seperti sekarang ini, ada begitu banyak media yang bisa digunakan untuk menulis. Menulis caption untuk media sosial, mempromosikan usahanya, mengulas hobi, curhat, menulis resep dan lain-lain. Intinya yang terpenting kawan-kawan difabel ini terlatih mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan pikirkan.

“Kawan-kawan difabel ini memiliki sudut pandang sendiri dalam melihat suatu peristiwa. Baik yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Melalui tulisan, tentu akan menarik membaca dan melihat karya mereka,” kata Irna Riza.

Baca Juga : Belajar Food Fotografi Bareng Kelas Kecil

Kenapa Kita Harus Peduli

Alasan paling sederhana kenapa kita harus peduli, menurut Irna, adalah bahwa setiap kita yang saat ini dianugerahi fisik sempurna, berpotensi menjadi difabel. Khususnya di Bengkulu yang rawan bencana gempa dan tsunami.

Kondisi kesehatan pun mempengaruhi. Siapa menjamin kita selalu sehat hingga tua. Lihat saja. Tak sedikit orang struk mendadak di usia muda. Atau bisa jadi kita mengalami kecelakaan lalu lintas yang membuat kondisi fisik berubah drastis. Hal serupa bisa menimpa keluarga kita. Jadi kepedulian yang kita bangun sejak dini terhadap orang-orang difabel, sama halnya dengan membangun kepedulian untuk diri kita sendiri juga orang terdekat.

Hal lainnya, walau sudah mendapat perlindungan sesuai Pasal 96 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, namun pada kenyataannya orang-orang difabel masih mendapat tempat kelas 3 di Indonesia. Konon kata Irna, masih ada anggapan bahwa kelas 1 ditempati oleh laki-laki. “Katanya kelas 2 itu kaum perempuan. Dan kelas 3 di negara kita adalah orang-orang difabel,” ungkapnya.

Bukan hanya itu saja. Penyandang disabilitas di Provinsi Bengkulu ternyata menempati urutan nomor 1 terbanyak. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Sensunas) tahun 2012 persentase disabilitas Peovinsi Bengkulu mencapai 3,96 persen. Sementara yang terendah adalah Papua dengan angka 1,05 persen.

Output Kelas Menulis

Dari kelas menulis untuk difabel, kami mengharapkan ada sebuah media yang bisa menjadi wadah karya-karya mereka. Misalnya dalam bentuk blog atau situs yang mudah diakses siapa saja dan mengikuti perkembangan industri 4.0. Cakupannya pun jelas lebih luas. Selain tulisan, melalui situs bisa menampilkan karya visual berupa foto dan video. Jadi tidak menutup kemungkinan Kelas Menulis akan berkembang menjadi kelas fotografi juga videografi.

Dan jangan salah. Kawan-kawan difabel zaman now pun sudah melek teknologi informasi. Mereka aktif menggunakan media sosial dan aplikasi di android untuk berkomunikasi. Tuna netra misalnya. Mereka memanfaatkan aplikasi voice note untuk menyampaikan pesan melalui tulisan. Begitu pula dengan pemanfaatan  WhatsApp sebagai media komunikasi dan media sosial facebook. Mereka sudah familiar sebagai pengguna. (**)