Amanat, Inovasi Bidan Desa Menekan Stunting

Amanat, Inovasi Bidan Desa Menekan Stunting

Pandemi membuat pendapatan warga Desa Sengkuang menurun. Meski begitu, para ibu tidak kesulitan mencari bahan bakanan yang terjangkau harganya dan bergizi. Semua berkat Gerakan Amanat.

TERIKNYA mentari pagi tak menyurutkan semangat 70 perempuan Desa Sengkuang Kabupaten Bengkulu Utara, untuk berkumpul di halaman Puskesmas Tanjung Agung Palik. Sejak pukul 07.00 WIB pagi, mereka kompak mengenakan seragam kaos berwarna hijau, bersiap mengikuti kegiatan Amanat. Gerakan Ayo Makan Tahu dan Tempe.

Begitu Camat Tanjung Agung Palik Benhar tiba di puskesmas, tua, muda, semua serentak mengikuti alunan musik senam jantung sehat dan senam lansia. Setelah senam, semua yang hadir bersama-sama memakan sajian kue berbahan tahu dan tempe. Ada pastel isi tempe, puding tahu, juga bola-bola tahu.

Jumat pagi itu, tepatnya 21 Agustus 2020 menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Setelah delapan bulan menanti, akhirnya Gerakan Amanat di Desa Sengkuang resmi diluncurkan. Seharusnya gerakan ini sudah ingin diresmikan lebih cepat. Namun apa daya. Covid-19 keburu melanda Indonesia di pertengahan Maret.

Gerakan Amanat merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh bidan penggerak desa, Meta Kosasih. Tujuannya adalah untuk menekan angka gizi buruk dan stunting, kondisi dimana tinggi badan anak jauh lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya, yang cukup tinggi di desa ini dan bahkan tertinggi di Kecamatan Tanjung Agung Palik.

Tahun 2018 lalu, jumlah penderita stunting mencapai 60 anak. Sebuah angka yang sangat tinggi bagi ukuran wilayah desa. Bukan hanya stunting, di desa ini juga terdapat anak penderita gizi buruk.

Asupan Gizi Rendah

Leniwati bersama kedua anaknya.

Leniwati bersama kedua anaknya.

Leniwati (40) bisa sedikit bernapas lega. Putrinya, Nela Zakira, yang berusia 5 tahun dinyatakan bebas dari stunting dan gizi buruk. Kini, tinggi badan Nela sudah sekitar 110 cm dan berat 15 kilogram, sesuai dengan standar yang disarankan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tinggi dan berat badan gadis cilik itu bukan lagi dibawah garis normal.

Leni, sapaan Leniwati, menuturkan, dia sudah merasa curiga putrinya itu mengalami kurang gizi dan stunting sejak Nela bersusia 1,5-2 tahun. Bahkan, ketika sudah berusia dua tahun, Neli belum bisa berjalan.

“Cuma bisa berdiri, tidak bisa melangkah. Badannya selalu terlihat lesu dan tidak bertenaga. Setiap timbang ke posyandu, beratnya tidak naik-naik,” tutur Leni.  Tidak hanya itu, Nela kecil sering demam dan bahkan mengalami kejang.

Dalam pikirannya, anak dalam kondisi sehat jika pada saat ditimbang berat badannya selalu naik. “Pokoknya, kalau timbang berat anak naik tiga mato (ons), artinya sehat. Tapi, setiap penimbangan berat badannya tidak naik-naik. Kalaupun naik, sedikit sekali,” kata Leni.

Dia mengakui kalau dirinya kurang maksimal memberikan asupan gizi dan nutrisi untuk anak. Makanan bagi dirinya dan anaknya seadanya saja. “Yang penting ada nasi. Gulainya (lauk) yang ada di sekitar rumah. Kates (pepaya) muda ditumis atau sayur pucuk ubi,” ujar Leni sambil memangku putra bungsunya Wilza Ramadani yang baru berusia tiga tahun.

Tidak hanya asupan yang seadanya, Nela juga tidak menikmati ASI eksklusif hingga dua tahun seperti yang direkomendasikan bagi balita. Leni terpaksa menghentikan pemberian ASI pada Nela ketika usianya memasuki sembilan bulan karena guru muatan lokal Bahasa Rejang ini divonis mengidap pembengkakan jantung dan kelenjar tiroid.

Untuk menjaga agar asupan gizi Nela tetap terjaga, Leni sempat memberikan susu kental manis selama beberapa bulan sebagai pengganti ASI. Tapi, hal itu diketahui oleh bidan desa dan kemudian dihentikan karena kandungan gulanya yang terlalu tinggi. Atas masukan bidan, SKM itu diganti produk lain yang harganya terjangkau namun memiliki kandungan nutrisi lebih baik. Meski tidak ada yang bisa menggantikan kandungan nutrisi ASI.

Leni mengakui dalam benaknya asupan yang bergizi harus selalu terkonsentrasi pada ketersediaan protein hewani, seperti daging, ikan dan sejenisnya. Penghasilannya sebagai guru honor dengan jumlah yang tidak tetap dan pembayarannya dirapel empat bulan sekali, membuat dirinya kesulitan untuk mengatur asupan gizi anak-anaknya. Penghasilan sang suami, Ropi (40), yang bekerja di pemotongan kayu juga tidak tetap, membuat mereka semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka.

Ditambah lagi keluarganya tidak mendapatkan bantuan stimulan apapun dari pemerintah seperti melalui Program Keluarga Harapan (PKH), juga Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Ia bahkan kini tengah menunggak tagihan BPJS Kesehatan, sehingga kesulitan jika ingin berobat. “Karena sudah terlalu lama menunggak, sudah tidak sanggup bayar. Nilainya sekitar Rp 2 jutaan,” tuturnya.

Nela, Bidan Meta dan Gerakan Amanat

Para ibu-ibu peserta senam Gerakan Amanat.

Para ibu-ibu peserta senam Gerakan Amanat.

Nela hanyalah satu dari ratusan balita yang menderita stunting di Kecamatan Tanjung Agung Palik. Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat Tanjung Agung Palik Endang Antoni Jaya mengatakan tahun 2018 terdapat 277 anak mengalami stunting. Sebanyak 60 anak diantaranya berada di Desa Sengkuang.

Tahun 2019 jumlahnya menurun menjadi 71 anak dan 16 anak diantaranya berada di Desa Sengkuang. Per Februari 2020, jumlah kembali turun menjadi 45 anak dan 9 anak diantaranya berada di Desa Sengkuang. “Untuk data terbaru masih kita himpun,” kata Endang.

Endang mengatakan, persoalan gizi ibu dan anak di Desa Sengkuang memang jadi perhatian. Angka stunting yang tertinggi se-kecamatan ada di Sengkuang, yang sebenarnya jarak dari ibu kota provinsi kurang dari 50 kilometer.

Tidak mudah bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Tanjung Agung Palik, khususnya Meta Kosasih, untuk mengubah dan menanamkan pola pikir orang tua akan pentingnya asupan gizi seimbang dan pola hidup sehat. Cukup sulit bagi Meta untuk mengajak para ibu dan kaum perempuan yang mayoritas adalah ibu rumah tangga dan petani untuk bergerak bersama. Jika tidak ke kebun, para ibu memilih di rumah saja.

Siapa sosok bidan Meta Kosasi? Ini dia profilnya.

Meski Meta lahir, besar dan mengenal banyak warga, kegiatan penyuluhan kesehatan yang diadakan setiap Jumat pagi awalnya hanya dihadiri tiga hingga lima orang saja. Pendekatan secara kekeluargaan dan kesukuan pun terpaksa dilakukan agar para ibu mau hadir. Selain itu, Meta juga mengundang perempuan yang dikenal dekat untuk mau datang ke Puskesmas.

Usai senam, Meta mengenalkan sumber protein yang harganya terjangkau tapi kandungan gizinya sangat banyak, yaitu tahu dan tempe. Beberapa nutrisi yang dibutuhkan tubuh, terutama ibu hamil dan bagi pertumbuhan anak, seperti karbohidrat, lemak, protein, zat besi hingga vitamin B, ada di dalam tempe dan tahu.

Meta tidak hanya mengenalkan tempe dan tahu goreng semata. Dia bersama rekan nakes lainnya juga mengajari ibu-ibu untuk lebih kreatif mengolah produk berbahan dasar kedelai ini. “Harapannya tentu saja anak-anak jadi suka. Kalau digoreng terus, anak-anak kurang tertarik. Prinsipnya menjadikan tahu tempe dari bahan makanan yang biasa menjadi luar biasa,” ujar Meta.

Tidak hanya tempe dan tahu, Meta juga berusaha mengenalkan bahan pangan lain yang tidak mahal, namun bergizi baik untuk balita dalam masa pertumbuhan. Masih ada telur danikan. Kepada mereka yang hadir, Meta selalu berpesan agar Jumat selanjutnya datang lagi dengan membawa teman.

Meski harus pergi pulang ke Kota Bengkulu, Meta aktif mendatangi rumah para ibu satu per satu. “Supaya semangat, kami siasati sesekali senamnya kami adakan lomba. Ada hadiahnya. Akhirnya lama-lama warga jadi tertarik,” ujar Meta.

Upaya terus mengampanyekan Gerakan Amanat sempat tersendat ketika ada larangan pengumpulan massa dari Presiden Joko Widodo. Meta dibantu rekan sesama tenaga kesehatan mencari akal agar program swadaya itu terus berjalan. Pengikisan jumlah anak penderita stunting dan gizi buruk, harus tetap berjalan.

Rumah yang didatangi tidak semuanya mudah diakses dengan kendaraan roda empat. Ada juga yang tinggal di gang-gang desa yang jalannya masih tanah dan berbatu. Kunjungan dilakukan sembari memberikan imunisasi bagi balita yang sudah masuk jadwal, juga memberikan konseling pemberian makanan bergizi untuk bayi dan anak.

“Protokol kesehatan, seperti penggunaan alat pelindung diri (APD) lengkap, tetap dijalani. Kami juga membagikan brosur tentang Covid-19,” ungkap Meta. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Saat dampak pandemi Covid-19 mulai dirasakan masyarakat, terutama dari segi ekonomi, gerakan ini menemukan momentumnya. Pandemi memang memukul warga yang sebagian besar adalah petani karet. Harga getah karet sempat anjlok, dari semula Rp 8000 per kilogram menjadi hanya Rp 3000-Rp 5000 per kg, membuat penghasilan warga menurun. Meski begitu, mereka masih dapat membeli bahan pangan yang terjangkau namun memiliki kandungan gizi yang tinggi.

Dari segi harga, tahu dan tempe terbilang murah di Desa Sengkuang. Satu potong tempe seukuran telapak tangan harganya Rp 1.000. Untuk makan sekeluarga, setidaknya perlu 5 potong tempe. Sementara untuk tahu, bisa dibeli dengan harga Rp 2.000 per tiga potongnya.

Intervensi lain

Senam Amanat membuat tubuh menjadi segar bugar.

Senam Amanat membuat tubuh menjadi segar bugar.

Selain memberikan pengetahuan tambahan soal asupan bergizi dengan harga terjangkau, masalah stunting dan gizi buruk tidak terlepas dari faktor kebersihan lingkungan atau sanitasi. Endang mengatakan, pemukiman warga dekat Daerah Aliran Sungai (DAS), tidak sedikit warga yang kerap buang air di sungai atau di tanah.

“Kotoran menguap terkena sinar matahari, terhirup oleh anak-anak yang main di sekitar sungai. Kadang tangan kotor masuk mulut atau ada lalat hinggap di makanan. Ini bisa menjadi penyebab imun anak terpengaruh. Penyerapan gizinya jadi tidak baik karena terpapar bakteri,” terang Endang. Beruntung, sebelum Covid-19 meluas, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sengkuang sudah membangun toilet di rumah-rumah warga.

Stunting pun bisa disebabkan faktor keturunan. Namun, kata Endang, jumlahnya tidak terlalu signifikan. “Stunting karena faktor keturunan ini jumlahnya lebih sedikit. Hanya sekitar 5 persen dari total kasus stunting,” ujar Endang.

Agar persoalan gizi ditengah Pademi Covid-19 tidak terus bertambah, selain Gerakan Amanat, ahli gizi di puskesmas juga mengajak warga memanfaatkan lahan pekarangan di rumahnya untuk ditanami sayuran. Program Pos Gizi desa, yang salah satu kegiatannya adalah pemberian makanan tambahan, juga membantu mempercepat penurunan jumlah penderita stunting di desa ini.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bengkulu Herwan Antoni mengakui, mereka tetap mengupayakan angka stunting di provinsi ini berada di bawah angka nasional, yaitu 20 persen. Kini, di Bengkulu, jumlah anak penderita stunting tercatat berjumlah 85.278 orang atau setara 28 persen angka nasional.

Meski belum ada inovasi gizi yang berkelanjutan, kegiatan pelayanan gizi dan surveilans gizi secara kualitas terus ditingkatkan. Terutama pada empat kabupaten yang menjadi fokus penanganan stunting yang ditetapkan oleh Bappenas, yaitu Kabupaten Kaur, Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan dan Seluma.

“Dalam waktu dekat kami akan menyalurkan logistik berupa vitamin A bayi, balita, ibu nifas, tablet tambah darah untuk ibu hamil dan remaja putri. Makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita kurus, juga tetap diberikan,” ujarnya.

Meski di Desa Sengkuang, Gerakan Amanat cukup ampuh untuk mengurangi angka penderita stunting, Pemerintah Provinsi Bengkulu masih memilih jalan memutar untuk menekan angka stunting di wilayah ini. Dinkes Provinsi Bengkulu berencana memfasilitasi Rembuk Stunting untuk mengetahui penyebab stunting dibandingkan mengadopsi Gerakan Amanat, makan tahu dan tempe, yang terjangkau dan memiliki kandungan gizi yang tinggi di seluruh provinsi. (ken)

Artikel ini ditulis dan dipublikasi di www.rakyatbengkulu.com sebagai hasil liputan Program Fellowship Pemenuhan Gizi Anak Ditengah Pandemi Covid-19 yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Unicef tahun 2020.

Gerakan Amanat, dari yang Biasa Menjadi Luar Biasa

Gerakan Amanat, dari yang Biasa Menjadi Luar Biasa

Gerakan Amanat, dari yang Biasa Menjadi Luar Biasa – Nama bidan Meta Kosasih, A.Md. Keb di Desa Sengkuang Kecamatan Tanjung Agung Palik, Kabupaten Bengkulu Utara, sudah sangat dikenal. Sudah delapan tahun, tepatnya sejak 2012, ia mengabdi untuk kampung halamannya.

Terinspirasi dari sang kakak yang sudah lebih dulu berprofesi sebagai bidan, membuat Meta memilih jalur serupa. Selepas tamat dari SMA 1 Kerkap, Meta mantap mengambil pendidikan kebidanan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Kota Bengkulu.

“Saya melihat kakak bekerja sebagai bidan banyak menolong orang. Orangtua juga mensupport saya menjadi seorang bidan. Saya bahagia menjadi bidan karena saya memang senang berada ditengah-tengah mereka,” tutur Meta membuka percakapan saat RB menemui di rumahnya Jalan  Semarak I RT. Kelurahan Bentiring.

Bagi Meta, menjadi bidan desa di Sengkuang ia dedikasikan kepada tanah kelahirannya, sekaligus sebagai bentuk pengabdian kepada orangtua. Selama bertahun-tahun Meta menjalankan tugas sebagai bidan desa, sekaligus merawat sang ibu yang terkena stroke. Hal itu membuatnya kerap terpisah dengan sang suami, Sudiyanto Prabowo, yang bekerja di perbankan syariah yang ada di Kota Bengkulu.

Mengingat buah hatinya, Fatih Genta Yudhistira, kini sudah menginjak usia 6 tahun akan masuk ke sekolah dasar, perjuangan Meta pun bertambah ekstra. Ia akhirnya memutuskan untuk pindah kembali ke Kota Bengkulu.

Jika sebelumnya ia menetap di Desa Sengkuang, kini setiap hari ia berkendara menempuh perjalanan 1 jam Kota Bengkulu – Desa Sengkuang. Putra bungsunya Fatur Hisyam Athalah yang berusia 2 tahun juga butuh perhatian ekstra dan ingin dekat dengan ayahnya.

“Biarpun tinggal di Bengkulu, saya stand by siaga 24 jam. Begitu ada panggilan, maka saya akan langsung berangkat ke Desa Sengkuang. Kadang ya pulangnya sampai tengah malam, sendirian. Untungnya jalur dari kota ke desa, cukup ramai truk angkutan yang melintas. Jadi tidak terlalu khawatir,” ungkap ibu dua anak ini.

Di Desa Sengkuang, Meta tidak membuka praktik secara khusus. Sebagai bidan desa, ia bertugas di Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Sengkuang.  Selama bertugas ada berbagai pengalaman menarik yang ia lalui.

Yang paling terkenang adalah ketika dalam waktu hampir bersamaan, Meta menghadapi dua pasien yang akan melahirkan di rumah berbeda. Menurutnya ini hal yang langka terjadi.

“Waktu itu saya masih bidan baru. Pengalaman belum seberapa. Belum ada yang bantu juga (asisten). Malam ada yang telepon katanya mau melahirkan. Lagi menolong persalinan yang satu, sudah ada lagi yang jemput karena ada warga lain yang mau melahirkan juga,” ujar Meta.

“Untungnya ibu yang pertama sudah selesai persalinannya. Tangan masih berdarah-darah, langsung berangkat ke rumah pasien yang satu lagi. Alhamdulillah, dua-duanya ibu dan bayi selamat,”tambah wanita kelahiran Desa Sengkuang, 21 Mei 1990 ini.

Sebelumnya, Meta memang acapkali menolong pasien dari rumah ke rumah. Namun setelah ada kebijakan dari pemerintah daerah, pertolongan pasien melahirkan wajib di Puskesmas. Sebab pasien yang melahirkan harus mendapat fasilitas kesehatan yang memadai. Itu sebabnya sekarang bidan Meta biasa melayani pasiennya di Pustu Desa Sengkuang.

Selain melayani persalinan, sebagai bidan desa, Meta biasa menerima konsultasi ibu-ibu tentang kehamilan, gizi dan nutrisi anak, suntik program Keluarga Berencana (KB) hingga pengobatan ringan untuk flu, batuk dan pilek. Selama ini ia tidak pernah menetapkan tarif layanan. “Warga bisa bayar semampunya. Yang tidak membayar juga ada,” ujar Meta.

Giatkan Gerakan Amanat

Kegiatan senam yang diadakan di Pustu Desa Sengkuang (2)

Kegiatan senam yang diadakan di Pustu Desa Sengkuang 

Di Desa Sengkuang, Meta menjadi penggerak Gerakan Amanat (Ayo Makan Tahu Tempe). Program dikemas dalam bentuk senam sehat mingguan dengan menyisipkan kampanye makan tahu dan tempe untuk pemenuhan gizi dan nutrisi anak.

Setiap Jumat, perempuan Desa Sengkuang yang didominasi kaum ibu,  wajib membawa makanan yang berbahan dasar tempe dan tahu. Setiap habis senam, semua peserta termasuk tenaga kesehatan di Pustu Desa Sengkuang, makan tahu tempe bersama.

Sesekali ada demo memasak untuk memodifikasi tempe dan tahu menjadi menu menarik. Seperti memasak nugget tempe, kue bolu tahu dan bolu tempe. Bahkan tempe bisa dijadikan pudding.

“Harapannya tentu saja anak-anak jadi suka. Kalau digoreng terus kan bosan. Anak-anak kurang tertarik. Makanya kita harus berkreasi dengan menunya. Prinsipnya menjadikan tahu tempe dari bahan makanan yang biasa, menjadi luar biasa,” ujar Meta.

Lantas mengapa tahu dan tempe yang dipilih? Menurut Meta, tahu dan tempe memiliki kandungan gizi yang tinggi yang sangat baik. Terutama untuk ibu hamil dan pertumbuhan anak. Tahu dan tempe yang berbahan dasar kedelai memiliki kandungan karbohidrat, lemak, protein, zat besi, kalium, kalsium, magnesium, vitamin B, zinc, cooper dan mangan dalam jumlah banyak.

“Kami mengajak mereka (warga) untuk makan tahu dan tempe. Harganya terjangkau dan mudah didapat. Tahu dan tempe sebagai sumber protein nabati yang baik bagi ibu dan anak karena mengandung berbagai nutrisi penting,” ungkap Meta.

Untuk melaksanakan senam Gerakan Amanat di desanya, Meta juga sempat menghadapi tantangan. Tantangannya mengajak warga untuk aktif. Perempuan mayoritas ibu rumah tangga dan petani. Selama ini aktivitasnya ke kebun atau di rumah saja. Di awal-awal hanya beberapa orang saja yang merespon Gerakan Amanat.

“Beberapa orang ini kami rangkul terus. Lalu mereka mengajak tetangganya yang lain. Kegiatannya pun bervariasi supaya semangat. Salah satu penyemangatnya, saya sempat mencari donatur. Kami buat lomba. Walau hadiahnya tidak seberapa, tapi warga semangat berlatih. Tadinya kami juga berencana membuat lomba memasak bahan tahu dan tempe. Mudah-mudahan bisa terlaksana setelah musim virus corona berakhir,” tutur Meta.

Sekarang, Gerakan Amanat di Desa Sengkuang sudah rutin berjalan. Bidan Meta dan warga pun punya yel-yel khusus. “Tahu, Tempe, Mantap Gizinya.”

Baca Juga Kisah Inspiratif Lainnya :

Jejak Zulkarnedi, Pendiri Penangkaran Penyu Alun Utara

Fokus dan Sabar, Kunci Sukses Eva Lenawati Jadi Pengusaha

Bidan Ditengah Pandemik

Ditengah pandemik Corona Virus Disease (Covid) 19, tantangan bidan pun bertambah. Tergabung ke dalam Gugus Covid Desa, bidan berperan sebagai ujung tombak. Khususnya dalam menyosialisasikan tentang pencegahan Virus Corona, baik ke perangkat desa yang juga tergabung dalam Gugus Covid-19, juga kepada masyarakat.

Ia merasa bersyukur dukungan Pemerintah Daerah Bengkulu Utara sangat baik. Pustunya mendapat bantuan brosur, yang bisa dibagi-bagikan ke warga sebagai bahan sosialisasi.

“Kami sudah sosialisasikan kepada warga untuk mengenakan masker saat keluar rumah, rajin cuci tangan selama 20 detik minimal menggunakan sabun. Juga physical distancing alias jaga jarak fisik. Kalau ada yang baru pulang dari daerah lain, saya sudah mengingatkan ke warga untuk tidak langsung melakukan kontak fisik seperti bersalaman. Sebab kebiasaan di desa, jika ada yang baru datang dari luar kota, biasanya akan tetangga akan berkunjung,” kata Meta.

Sadar Gizi Sejak Remaja

Untuk kedepannya, Meta berharap semakin banyak lagi perempuan yang sadar akan gizi dan nutrisi. Kesedaran ibu bukan hanya setelah menjadi ibu. Justru menurutnya sejak remaja, perempuan harus sudah peduli akan kesehatannya.

Remaja putri harus giat makan bergizi dan bernutrisi. Tambah vitamin, seperti tablet Fe (baca: ef e) penambah darah. “Jadi kelak saat sudah hamil, menjadi calon ibu, gizinya sudah seimbang dan siap melahirkan anak-anak Generasi Maju,” ujar Meta.

Apalagi penyebab stunting pada anak (tinggi badan kurang) bukan hanya karena faktur kekurangan gizi dan nutrisi saat pertumbuhan. Penyebab stuntung adalah kondisi gizi ibu. Berat badan lahir rendah, membuat si kecil berpotensi menjadi stunting.

“Maka dari itu, sejak masih jadi calon ibu sudah harus peduli gizi. Berikan anak Air Susu Ibu (ASI) ekslusif selama enam bulan. Saat mulai memberikan MPASI (Makanan Pendamping ASI), bayi jangan hanya memakan bubur beras saja. Tambah sayur dan bahan makanan lainnya yang mengandung protein, vitamin dan gizi yang baik,” ungkap Meta.(ken)

Artikel ini sudah terbit di Harian Rakyat Bengkulu pada edisi 3 Agustus 2020 Bidan Meta Kosasih, Kampanyekan Tahu Tempe dari yang Biasa, Menjadi Luar Biasa

Jejak Zulkarnedi, Pendiri Penangkaran Penyu Alun Utara

Jejak Zulkarnedi, Pendiri Penangkaran Penyu Alun Utara

Lima tahun yang lalu, Zulkarnedi hanya nelayan biasa. Melaut, menjual hasil tangkapan ikan, termasuk menjadi penampung sekaligus penjual telur penyu. Semua dilakoninya selama belasan tahun. Hingga pada suatu hari pertemuannya dengan pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) membuat dunianya seketika berubah.

Penangkaran Penyu Alun Utara yang didirikan Zulkarnedi saat ini menjadi salah satu andalan bila ada instansi-instansi atau perusahaan swasta yang berkeinginan untuk merilis/ melepas tukik (anak penyu) di pantai. Namanya menjadi dikenal sebagai salah satu aktivis yang peduli terhadap pelestarian penyu di Bengkulu.

“Sudah lebih dari seribu anak tukik yang sudah kita lepaskan ke lautan,” tutur Zulkarnedi ketika saya dan beberapa rekan dari Universitas Dehasen (Unived) mendatangi Penangkaran Penyu Alun Utara, pada April lalu.

Lokasi Penangkaran Penyu Alun Utara terletak di Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah. Dari pusat Kota Bengkulu, jaraknya hanya sekitar 7 kilometer. Dari gerbang perbatasan Kota Bengkulu – Kabupaten Bengkulu Tengah di kawasan Sungai Hitam  malah cuma 1 kilometer saja ditempun dengan kendaraan bermotor, atau sekitar 15 menit.

Ketika ditemui, Zulkarnedi sendiri sebenarnya tampak sudah tak asing lagi meladeni pertanyaan demi pertanyaan yang saya ajukan. Ia mengungkapkan, sudah ada beberapa jurnalis yang melakukan wawancara. Termasuk membuat film dokumenter tentang aktivitas penangkaran penyu.

ZUlkarnedi mengawali cerita kembali ke tahun 1990. Selepas menyelesaikan pendidikan di Sekolah Teknik Menengah (STM)  -sekarang SMKN 2, Zulkarnedi memilih menjadi nelayan. Pekerjaan yang turun-temurun ia warisi dari kakek buyutnya. Pun hingga sekarang. Keluarga Zulkarnedi bergantung pada hasil laut sebagai mata pencaharian utama.

Tukik yang baru saja menetas dan naik ke permukaan pasir.

Tukik yang baru saja menetas dan naik ke permukaan pasir.

Kala itu, apapun hasil laut yang didapat, dijual oleh Zulkarnedi untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Termasuk menjual telur penyu yang dikenal kaya akan protein. Pria asal Pasar Malabro itu pun sempat menjadi penampung telur-telur penyu. Ia membeli telur penyu itu dari penemu Rp 6.000-Rp 8.000 per butir. Lalu dijual kembali Rp 10.000-Rp 12.000 per butir.

Telur-telur penyu dijual Zulkarnedi di tepi jalan. Berapa pun yang ia jual selalu habis. Sebelum bertemu dengan pegawai DKP ia sebenarnya sudah punya keinginan untuk berhenti jual beli telur penyu. Zulkarnedi punya keinginan untuk mencoba menetaskan telur-telur yang ia dapat.

Zulkarnedi yang mengakui awalnya tidak paham mengapa telur penyu dilarang untuk diperjualbelikan, lantas tersadar. Jika ia terus-menerus menjual telur penyu dan membiarkan hewan langka itu punah dari lautan, maka anak cucu di masa mendatang tidak akan bisa lagi melihat penyu secara nyata. “Kalau penyu tidak dilestarikan, nanti anak cucu kita hanya bisa melihat gambarnya saja,” ujar Zulkarnedi.

Persoalannya, ia tidak punya cukup uang jika harus terus-menerus membeli telur penyu. Hingga suatu hari di tahun 2015, bertemulah ia dengan pegawai DKP tersebut. “Waktu itu saya diberi tahu bahwa menjual telur penyu itu dilarang,” tutur Zulkarnedi.

Lantas pegawai dari DKP menawarkan siap membeli telur-telur yang selama ini dihimpun oleh Zulkarnedi. Ia pun diajak untuk bersama-sama menangkar telur-telur penyu yang didapat. Sejak saat itu, jejak Zulkarnedi melestarikan penyu dimulai.

Baca Juga : Konservasi Penyu di Bengkulu, Yuk Kita Dukung

Menangkar Penyu dari Rumah

Tukik-tukik yang baru menetas dikumpulkan di sebuah ember lebar. Jika alat pernapasannya sudah siap, tukik siap dimasukkan ke dalam kolam berisi air laut.

Tukik-tukik yang baru menetas dikumpulkan di sebuah ember lebar. Jika alat pernapasannya sudah siap, tukik siap dimasukkan ke dalam kolam berisi air laut.

Sebagai percobaan, Zulkarnedi memanfaatkan teras rumahnya untuk meletakkan tong-tong berisi pasir yang digunakan untuk “mengerami” telur penyu. Tantangan cukup besar bagi ia dan keluarga pun datang. Menurutnya, tak sedikit tetangga yang mencemooh apa yang dia lakukan. Rumahnya dinilai lingkungan sekitar jadi tampak kumuh.

“Ada yang bilang saya didik (bodoh). Tidak digaji tapi kok mau saja kerja susah-susah. Malah ada yang bilang saya gila,” cetus Zulkarnedi.  “Tapi sekarang orang yang dulu bilang saya gila dan bodoh, malu sendiri. Ada yang punya keinginan untuk bergabung dengan kelompok kami, tapi terlanjur malu karena pernah berpikiran negatif,” tambahnya.

Jenis penyu yang pertama kali ia etaskan di sarang buatan adalah penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Telur-telur didapatnya dari nelayan dan ada pula dari hasil “patroli” sarang penyu di sepanjang pantai yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Sebagai percobaan, ia membuat tiga sarang. Per sarang bervariasi diisi hingga 100 butir telur. Upayanya membuahkan hasil. Sekitar 80-85 persen telur berhasil menetas.

“Kalau menetaskan telur penyu, tidak terlalu kesulitan. Saya tahu tentang menetaskan telur penyu dari datuk kami dulu. Waktu kami masih kecil-kecil karena terbiasa hidup di pesisir pantai. Insya Allah kalo tepat suhu dan kedalaman menempatkan telur, 60 hari atau dua bulan, telur menetas,” ungkap Zulkarnedi.

Dukungan Berdatangan

Zulkarnedi saat ditemui di tempat penangkaran penyu Alun Utara.

Zulkarnedi saat ditemui di tempat penangkaran penyu Alun Utara.

Tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 2018, Zulkarnedi mendapat dukungan dari Loka Pengelolaan SD Pesisir dan Laut (LPSPL) Serang, Banteng yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan. Selain mendapat support dana untuk “menebus” telur penyu yang ditemukan nelayan, ia juga mendapat tempat baru untuk penangkaran penyu.

Lokasi penangkaran penyu yang masih berdiri hingga sekarang sekitar 100 meter ke arah pantai. Zulkarnedi mendapat lahan sekitar 20×30 meter. Di sana ia membuat sarang-sarang buatan, bak untuk tukik, anak penyu yang baru menetas. Di sisi lainnya ada juga bak-bak untuk menempatkan penyu yang sudah lebih besar, sebelum dirilis ke lautan.

Mendirikan Kelompok Pelestari Penyu

Untuk mengelola penangkaran tersebut, dia mendirikan Kelompok Pelestari Penyu Alun Utara. Tepatnya 12 Mei 2016. Anggotanya sebagian merupakan pemuda desa, termasuk juga anak-anaknya. Hingga saat ini ia sudah berhasil menetaskan empat jenis penyu. Selain penyu lekang, ia juga menangkar penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau ((Chelonia midas) dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea).

“Perbedaan dari keempat jenis penyu itu salah satunya dilihat dari bentuk tempurungnya,” tutur pria kelahiran tahun 1968 itu.

Dari tahun ke tahun, dukungan atas kegigihan Zulkarnedi melestarikan penyu di Bengkulu, terus mendapat dukungan. Termasuk diantaranya dari DKP Provinsi dan DKP Kabupaten Bengkulu Tengah. Sudah beberapa kali ia mendapat kesempatan mengikuti pelatihan di berbagai daerah. Begitupun menjadi pembicara dalam pertemuan-pertemuan terkait pelestarian penyu.

Tahun 2020 ini, Kelompok Pelestari Penyu Alun Utara juga mendapat Corporate Social Responsibility (CSR) dari salah satu produsen kendaraan roda empat. “Bantuan inilah yang cukup besar. Sehingga kami bisa mendirikan bangunan untuk tempat edukasi bagi pengunjung yang mau ke sini. Sayangnya ini belum bisa kita manfaatkan. Karena sejak pandemi Covid-19, jumlah pengunjung menurun drastis,” kata Zulkarnadi.

Peran Penyu di Lautan

Dengan terus melestarikan penyu, maka tangkapan ikan bisa terus melimpah.

Dengan terus melestarikan penyu, maka tangkapan ikan bisa terus melimpah.

Dari yang dirasakan Zulkarnedi sebagai nelayan, peran penyu di lautan sangatlah besar. Penyu, ungkap Zulkarnedi merupakan bagian dari mata rantai untuk menjaga ekosistem laut, juga terumbu karang.

Penyu adalah hewan laut yang memangsa ubur-ubur. Semakin banyak melepas tukik ke laut, maka ikan-ikan kecil bisa tetap hidup. “Alhamdulillah. Dari yang kami rasakan, tidak pernah kami kekurangan ikan besar untuk ditangkap. Hasil laut selalu melimpah,” tutur Zulkarnedi yang menjual sendiri hasil tangkapannya di Pasar Ikan Barukoto setiap subuh.

Zulkarnedi bersyukur, ia tidak patah semangat. Baginya dukungan keluarga membuatnya bisa mendirikan Penangkaran Penyu Alun Utara yang direncanakan akan menjadi tempat wisata edukasi. “Dari cemoohan saya jadi termotivasi untuk tidak menyerah,” ujar Zulkarnedi.(**)

Galang Bantuan Peduli Covid-19

Galang Bantuan Peduli Covid-19

NAMA Yuli mendadak viral. Ibu 4 anak warga Kelurahan Lontarbaru, Kecamatan Serang, Banten, itu dikabarkan meninggal setelah sempat tidak makan selama dua hari. Ia hanya meminum air galon saja. Yuli dan keluarganya tidak punya uang karena tidak punya penghasilan sejak wabah Corona melanda.

Berita tentang Yuli yang meninggal karena kelaparan ditengah wabah Corona Virus Disease (Covid)-19 sungguh memilukan hati. Ini menjadi alarm bagi kita untuk lebih peduli lagi dengan sekitar. Jika kita tergolong orang yang masih diberi rezeki lebih dari Allah SWT, tak ada salahnya kita melihat dan memastikan.

Apakah orangtua kita, kerabat kita, tetangga kita, masih punya beras atau tidak untuk dimakan. Bukankah berbagi rezeki itu adalah cara untuk mensyukuri nikmat?

Kita semua tahu, sejak Corona melanda, makin banyak orang yang kesusahan. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terjadi dimana-mana. Restoran, bioskop, mall, toko-toko, semuanya tutup. Ojek online, kehilangan penumpang. Pedagang sepi pembeli. Pengusaha besar pun mengalami hal serupa. Kesulitan membayar gaji dan biaya operasional untuk menjalankan bisnisnya.

Apa yang bisa kita lakukan selama menghadapi masa sulit ini? Ya saling membantu sesama, Memang. Tidak semua kita punya uang atau bahan pokok untuk dibagikan kepada orang yang membutuhkan secara langsung. Makanya, di momen bencana wabah seperti sekarang ini, masyarakat harus kompak. Jalin rasa kebersamaan dan gotong-royong untuk membantu sesama.

Di Bengkulu, Alhamdulillah sudah banyak elemen masyarakat yang melakukan penggalangan dana. Baik itu secara pribadi, kelompok, maupun melalui organisasi atau aliansi. Cara yang dilakukan pun bermacam-macam. Ada beberapa cara membantu sesama saat pandemi masih berlangsung:

1. Galang Dana Secara Terbuka

Kita bisa melakukan penggalangan dana secara terbuka dengan mengumumkan donasi di media sosial. Donasi bisa dalam bentuk uang, sembako, masker, Alat Pelindung Diri (APD), handsanitizer dan lain-lain yang bermanfaat untuk orang terdampak covid. Beberapa yang melakukan penggalangan dana secara terbuka juga dilakukan oleh perusahaan dan organisasi wartawan.

2. Membeli Jualan Teman

Musim pandemi dimana orang diimbau untuk tetap #DiRumahAja mungkin terdengar membosankan. Sisi lainnya, orang bisa berupaya menambah penghasilan dengan membuat dagangan dari rumah, seperti makanan dan kerajinan. Nah, tak ada salahnya kita membantu sesame dengan cara membeli dagangan teman.

3. Promosi Gratis

Tidak punya budget lebih untuk membeli jajanan teman, kita bisa bantu dalam bentuk lain. Kia bisa bantu mempromosikan produk atau jualan melalui media sosial. Toh gratis. Yaa paling hanya memakan sedikit kuota.

4. Jadi Relawan

Tak punya uang untuk dibagi-bagikan, kita juga bisa membantu dalam bentuk tenaga. Salah satunya dengan berpartisipasi aktif di lingkungan. Minimal di RT sendiri. Saat ada penyaluran bantuan dari pemerintah, tidak ada salahnya ikut berbagi.

5. Buat Kegiatan Amal atau Berjualan

Cara lainnya yang bisa kita lakukan untuk membantu sesama di musim pandemi ini, bisa juga dengan menggelar lapak kaos, gantungan kunci, mug atau barang-barang lainnya. Keuntungannya bisa kita sumbangkan sebagai donasi. Selain itu bisa juga dengan menggelar event, yang hasil biaya pendaftarannya disumbangkan untuk donasi.

6. Galang Dana Online

Di era teknologi canggih seperti sekarang ini, sangat banyak platform yang menyediakan aplikasi galang dana online. Sebut saja Peduli Sehat, Kita Bisa, ACT dan lain-lain. Cara berdonasinya pun praktis bisa via mobile banking atau via GoPay, OVO, Dana dan lain-lain. Bahkan donasi ada yang bisa dilakukan dengan mulai menyumbang Rp 1.000 saja.(**)

Inisiasi Kelas Menulis Untuk Difabel di Bengkulu

Inisiasi Kelas Menulis Untuk Difabel di Bengkulu

Di negara atau kota-kota lain, kelas menulis untuk difabel mungkin bukan suatu hal yang baru. Bahkan sejak 2006 lalu sudah ada mewadahi karya difabel. Salah satunya kartunet.com yang kontennya diisi para tuna netra. Di Bengkulu, ide yang nyaris serupa saat ini tengah diinisiasi.

**

Bermula dari tawaran diskusi bersama Pusat Informasi dan Konsultasi Perempuan Penyandang Difabel (PIK-PPD) dan Gen Inklusi pada Jumat, 16 Agustus 2019 lalu, kepada Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu. Setelah diskusi dua jam di Kedai Kopi Jurnal, kami sepakat berkolaborasi memulai kelas menulis untuk difabel.

Tantangannya jelas cukup besar. Khususnya dalam hal berkomunikasi. Metode yang diterapkan untuk menyampaikan materi jelas tidak sama dengan kelas menulis untuk non-difabel. Tentunya kami memerlukan bantuan pendamping yang sudah berpengalaman dan referensi pelatihan serupa. Traninernya juga harus menyiapkan media dan peralatan yang mudah untuk dipahami.

Dari Irna Riza Ketua Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Bengkulu, Ketua Gen Inklusi Vike Juzeplin dan Ketua Umum PIK PPD Rina Oktaviana, saya yang sekarang merupakan Koordinator Bidang Perempuan AJI Bengkulu dan Ketua Umum AJI Bengkulu Harry Siswoyo, membuka diskusi dengan memetakan latar belakang peserta.

Siapa Saja Pesertanya

Peserta rencananya terdiri dari tuna daksa, tuna rungu dan tuna grahita. Selain itu juga ada kawan-kawan non-difabel dari Gen Inklusi. Di awal pertemuan, mungkin akan ada sekitar 20 peserta lebih yang ikut. Seluruhnya berusia dewasa dengan usia 20 tahun keatas.

Kami juga menggali bagaimana biasanya mereka berkomunikasi dengan orang lain. Baik sesama difabel maupun non difabel. Setelah pertemuan pertama akan ditekankan siapa yang berminat untuk serius. Supaya kelasnya lebih efektif. Kelas pertama akan berlangsung Jumat, 23 Agustus 2019.

Latihan Menulis Apa?

Walau dari AJI Bengkulu basic-nya adalah jurnalis, namun materi kelas menulis yang diberikan tidak melulu tentang menulis berita. Sebab pada dasarnya dunia menulis itu luas dan bebas. Maka yang pertama kali akan diberikan adalah dasar-dasar menulis itu dulu. Lalu spesifikasinya, silakan penulis itu sendiri yang mengembangkan minatnya mau menulis apa.

Apalagi di era teknologi seperti sekarang ini, ada begitu banyak media yang bisa digunakan untuk menulis. Menulis caption untuk media sosial, mempromosikan usahanya, mengulas hobi, curhat, menulis resep dan lain-lain. Intinya yang terpenting kawan-kawan difabel ini terlatih mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan pikirkan.

“Kawan-kawan difabel ini memiliki sudut pandang sendiri dalam melihat suatu peristiwa. Baik yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Melalui tulisan, tentu akan menarik membaca dan melihat karya mereka,” kata Irna Riza.

Baca Juga : Belajar Food Fotografi Bareng Kelas Kecil

Kenapa Kita Harus Peduli

Alasan paling sederhana kenapa kita harus peduli, menurut Irna, adalah bahwa setiap kita yang saat ini dianugerahi fisik sempurna, berpotensi menjadi difabel. Khususnya di Bengkulu yang rawan bencana gempa dan tsunami.

Kondisi kesehatan pun mempengaruhi. Siapa menjamin kita selalu sehat hingga tua. Lihat saja. Tak sedikit orang struk mendadak di usia muda. Atau bisa jadi kita mengalami kecelakaan lalu lintas yang membuat kondisi fisik berubah drastis. Hal serupa bisa menimpa keluarga kita. Jadi kepedulian yang kita bangun sejak dini terhadap orang-orang difabel, sama halnya dengan membangun kepedulian untuk diri kita sendiri juga orang terdekat.

Hal lainnya, walau sudah mendapat perlindungan sesuai Pasal 96 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, namun pada kenyataannya orang-orang difabel masih mendapat tempat kelas 3 di Indonesia. Konon kata Irna, masih ada anggapan bahwa kelas 1 ditempati oleh laki-laki. “Katanya kelas 2 itu kaum perempuan. Dan kelas 3 di negara kita adalah orang-orang difabel,” ungkapnya.

Bukan hanya itu saja. Penyandang disabilitas di Provinsi Bengkulu ternyata menempati urutan nomor 1 terbanyak. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Sensunas) tahun 2012 persentase disabilitas Peovinsi Bengkulu mencapai 3,96 persen. Sementara yang terendah adalah Papua dengan angka 1,05 persen.

Output Kelas Menulis

Dari kelas menulis untuk difabel, kami mengharapkan ada sebuah media yang bisa menjadi wadah karya-karya mereka. Misalnya dalam bentuk blog atau situs yang mudah diakses siapa saja dan mengikuti perkembangan industri 4.0. Cakupannya pun jelas lebih luas. Selain tulisan, melalui situs bisa menampilkan karya visual berupa foto dan video. Jadi tidak menutup kemungkinan Kelas Menulis akan berkembang menjadi kelas fotografi juga videografi.

Dan jangan salah. Kawan-kawan difabel zaman now pun sudah melek teknologi informasi. Mereka aktif menggunakan media sosial dan aplikasi di android untuk berkomunikasi. Tuna netra misalnya. Mereka memanfaatkan aplikasi voice note untuk menyampaikan pesan melalui tulisan. Begitu pula dengan pemanfaatan  WhatsApp sebagai media komunikasi dan media sosial facebook. Mereka sudah familiar sebagai pengguna. (**)

 

Fokus dan Sabar, Kunci Sukses Eva Lenawati Jadi Pengusaha

Fokus dan Sabar, Kunci Sukses Eva Lenawati Jadi Pengusaha

Fashionable, smart dan ramah. Itulah kesan yang dirasakan saat pertama kali bertemu dengan Eva Lenawati, SE di Martha Tilaar Salon Day Spa Jalan Mayjend Sutoyo No. 80 Tanah Patah, Minggu sore (4/3).

Di Bengkulu, nama Eva Lenawati memang sudah tidak asing lagi. Pengusaha wanita asal Manna, Bengkulu Selatan ini merupakan istri dari pengacara kondang Junaidi Albab Setiawan, SH. M. Comm Law.

Ia memiliki sejumlah usaha. Salah satunya H3 Laundry. Teranyar Eva menjadi pemilik franchise brand perawatan kecantikan ternama Martha Tilaar yang ke-80 di Indonesia.

“Alhamdulillah sudah sebulan terakhir kami sudah soft opening Martha Tilaar. Animo dan respon masyarakat Bengkulu sangat bagus,” ungkap Eva Lenawati yang memiliki hobi membaca, lari dan membuat kerajinan kreatif ini.

Eva sendiri mengakui sangat antusias membuka pusat perawatan dan spa Martha Tilaar. Kegemarannya melakukan treatment dan mencoba relaksasi di tempat-tempat spa, membawa pengalaman berarti bagi bisnisnya.

“Perempuan itu harus pandai merawat diri. Karena cantik itu dimulai dari kebersihan tubuh. Di Jakarta saya paling senang ke Martha Tilaar karena menggunakan produk herbal dan natural. Saya cari informasi soal franchisenya, lalu akhirnya buka juga di Bengkulu,” kata Eva.

Keluarga yang Utama

Eva Lenawati bersama suaminya, Junaidi Albab Setiawan

Eva Lenawati bersama suaminya, Junaidi Albab Setiawan

Ditengah kesibukannya menyiapkan Grand Opening Martha Tilaar pada Selasa, 5 Maret 2019, Eva berbagi cerita tentang berbagai kegiatannya. Ia menuturkan, aktivitasnya yang paling utama adalah menjadi ibu rumah tangga.

Keberhasilannya sebagai ibu rumah tangga tergambar dari kesuksesan sang suami sebagai lawyer di Jakarta. Kini suaminya juga tengah fokus menjadi calon legislatif DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) daerah pemilihan Bengkulu nomor urut 4. Ditambah lagi tiga buah hati kini tengah mengenyam pendidikan terbaik di Pulau Jawa.

Putra pertamanya Muhammad Hafizh Akram saat ini kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM).  Putra keduanya  Muhammad Hanif Abrar SMA di Ponpes Modern Al Kausar. Sementara si bungsu Haikal Hayyan Musthafa Kamil bersekolah di Jubilee International School.

Memiliki anak-anak yang sudah bisa mandiri, membuat Eva makin mantap berkonsentrasi pada bisnisnya. Apalagi jiwa menjadi seorang entrepreneur sudah tertanam sejak kecil. “Dari kecil orangtua memang sudah mengenalkan dunia usaha. Saya melihat dan ikut membantu kegiatan orangtua,” tutur putri sulung Rohanuddin Sabana atau dikenal Can Sabana dan Lendarwati.

Passion Sejak Kecil

Eva Lenawati bersama ayahnya Rohanuddin Sabana dan Lendarwati

Eva Lenawati bersama ayahnya Rohanuddin Sabana dan Lendarwati. Bagi Eva, kedua orangtuanya adalah sosok paling inspiratif dalam hidupnya.

Tertanam sejak kecil, lambat laun menjadi pengusaha pun menjadi hobi dan passion bagi Eva. “Saat menjadi mahasiswi di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, saya memang sudah biasa berjualan,” kenang Eva.

Kesuksesan menjadi pebisnis bagi Eva tidak terjadi begitu saja. Orangtua bagi Eva adalah sosok paling inspiratif yang membentuk karakternya hingga saat ini. “Saya melihat orangtua saya sebagai pekerja keras. Karakter inilah yang menempel pada saya. Dulu keluarga kami punya toko. Sembari orangtua menjaga anak, kami juga diajari,” kata Eva.

Ketimbang memilih bekerja kantoran, Eva mengungkapkan dirinya memang lebih suka berwirausaha. “Lebih asyik bekerja dengan bebas dan bisa menghandle sendiri,” tandasnya.

Menjadi pengusaha, lanjut Eva, jelas ada tantangannya. Mulai dari pasang surut bisnis hingga kondisi yang tidak semuanya selalu sama dengan ekpektasi. Akan tetapi berkat pengalaman, kerja keras dan dukungan dari keluarga, tantangan itu bisa dilewati.

“Semua bidang (pekerjaan) itu pasti ada tantangannya. Terpenting, kalau memang passion kita disitu pasti tangan tidak akan terasa berat,” kata Eva.

Lantas, apa kunci sukses menjadi pengusaha bagi Eva? “Kuncinya fokus. Juga sabar. Kalau target belum tercapai, cepat evaluasi. Pokoknya harus sabar dan jangan mudah menyerah lalu banting setir. Kalau kita fokus dan terus dikerjakan dengan tekun, yakin usaha kita pasti menjadi besar,” ujar Eva.(ken)