Galang Bantuan Peduli Covid-19

Galang Bantuan Peduli Covid-19

NAMA Yuli mendadak viral. Ibu 4 anak warga Kelurahan Lontarbaru, Kecamatan Serang, Banten, itu dikabarkan meninggal setelah sempat tidak makan selama dua hari. Ia hanya meminum air galon saja. Yuli dan keluarganya tidak punya uang karena tidak punya penghasilan sejak wabah Corona melanda.

Berita tentang Yuli yang meninggal karena kelaparan ditengah wabah Corona Virus Disease (Covid)-19 sungguh memilukan hati. Ini menjadi alarm bagi kita untuk lebih peduli lagi dengan sekitar. Jika kita tergolong orang yang masih diberi rezeki lebih dari Allah SWT, tak ada salahnya kita melihat dan memastikan.

Apakah orangtua kita, kerabat kita, tetangga kita, masih punya beras atau tidak untuk dimakan. Bukankah berbagi rezeki itu adalah cara untuk mensyukuri nikmat?

Kita semua tahu, sejak Corona melanda, makin banyak orang yang kesusahan. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terjadi dimana-mana. Restoran, bioskop, mall, toko-toko, semuanya tutup. Ojek online, kehilangan penumpang. Pedagang sepi pembeli. Pengusaha besar pun mengalami hal serupa. Kesulitan membayar gaji dan biaya operasional untuk menjalankan bisnisnya.

Apa yang bisa kita lakukan selama menghadapi masa sulit ini? Ya saling membantu sesama, Memang. Tidak semua kita punya uang atau bahan pokok untuk dibagikan kepada orang yang membutuhkan secara langsung. Makanya, di momen bencana wabah seperti sekarang ini, masyarakat harus kompak. Jalin rasa kebersamaan dan gotong-royong untuk membantu sesama.

Di Bengkulu, Alhamdulillah sudah banyak elemen masyarakat yang melakukan penggalangan dana. Baik itu secara pribadi, kelompok, maupun melalui organisasi atau aliansi. Cara yang dilakukan pun bermacam-macam. Ada beberapa cara membantu sesama saat pandemi masih berlangsung:

1. Galang Dana Secara Terbuka

Kita bisa melakukan penggalangan dana secara terbuka dengan mengumumkan donasi di media sosial. Donasi bisa dalam bentuk uang, sembako, masker, Alat Pelindung Diri (APD), handsanitizer dan lain-lain yang bermanfaat untuk orang terdampak covid. Beberapa yang melakukan penggalangan dana secara terbuka juga dilakukan oleh perusahaan dan organisasi wartawan.

2. Membeli Jualan Teman

Musim pandemi dimana orang diimbau untuk tetap #DiRumahAja mungkin terdengar membosankan. Sisi lainnya, orang bisa berupaya menambah penghasilan dengan membuat dagangan dari rumah, seperti makanan dan kerajinan. Nah, tak ada salahnya kita membantu sesame dengan cara membeli dagangan teman.

3. Promosi Gratis

Tidak punya budget lebih untuk membeli jajanan teman, kita bisa bantu dalam bentuk lain. Kia bisa bantu mempromosikan produk atau jualan melalui media sosial. Toh gratis. Yaa paling hanya memakan sedikit kuota.

4. Jadi Relawan

Tak punya uang untuk dibagi-bagikan, kita juga bisa membantu dalam bentuk tenaga. Salah satunya dengan berpartisipasi aktif di lingkungan. Minimal di RT sendiri. Saat ada penyaluran bantuan dari pemerintah, tidak ada salahnya ikut berbagi.

5. Buat Kegiatan Amal atau Berjualan

Cara lainnya yang bisa kita lakukan untuk membantu sesama di musim pandemi ini, bisa juga dengan menggelar lapak kaos, gantungan kunci, mug atau barang-barang lainnya. Keuntungannya bisa kita sumbangkan sebagai donasi. Selain itu bisa juga dengan menggelar event, yang hasil biaya pendaftarannya disumbangkan untuk donasi.

6. Galang Dana Online

Di era teknologi canggih seperti sekarang ini, sangat banyak platform yang menyediakan aplikasi galang dana online. Sebut saja Peduli Sehat, Kita Bisa, ACT dan lain-lain. Cara berdonasinya pun praktis bisa via mobile banking atau via GoPay, OVO, Dana dan lain-lain. Bahkan donasi ada yang bisa dilakukan dengan mulai menyumbang Rp 1.000 saja.(**)

Inisiasi Kelas Menulis Untuk Difabel di Bengkulu

Inisiasi Kelas Menulis Untuk Difabel di Bengkulu

Di negara atau kota-kota lain, kelas menulis untuk difabel mungkin bukan suatu hal yang baru. Bahkan sejak 2006 lalu sudah ada mewadahi karya difabel. Salah satunya kartunet.com yang kontennya diisi para tuna netra. Di Bengkulu, ide yang nyaris serupa saat ini tengah diinisiasi.

**

Bermula dari tawaran diskusi bersama Pusat Informasi dan Konsultasi Perempuan Penyandang Difabel (PIK-PPD) dan Gen Inklusi pada Jumat, 16 Agustus 2019 lalu, kepada Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu. Setelah diskusi dua jam di Kedai Kopi Jurnal, kami sepakat berkolaborasi memulai kelas menulis untuk difabel.

Tantangannya jelas cukup besar. Khususnya dalam hal berkomunikasi. Metode yang diterapkan untuk menyampaikan materi jelas tidak sama dengan kelas menulis untuk non-difabel. Tentunya kami memerlukan bantuan pendamping yang sudah berpengalaman dan referensi pelatihan serupa. Traninernya juga harus menyiapkan media dan peralatan yang mudah untuk dipahami.

Dari Irna Riza Ketua Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Bengkulu, Ketua Gen Inklusi Vike Juzeplin dan Ketua Umum PIK PPD Rina Oktaviana, saya yang sekarang merupakan Koordinator Bidang Perempuan AJI Bengkulu dan Ketua Umum AJI Bengkulu Harry Siswoyo, membuka diskusi dengan memetakan latar belakang peserta.

Siapa Saja Pesertanya

Peserta rencananya terdiri dari tuna daksa, tuna rungu dan tuna grahita. Selain itu juga ada kawan-kawan non-difabel dari Gen Inklusi. Di awal pertemuan, mungkin akan ada sekitar 20 peserta lebih yang ikut. Seluruhnya berusia dewasa dengan usia 20 tahun keatas.

Kami juga menggali bagaimana biasanya mereka berkomunikasi dengan orang lain. Baik sesama difabel maupun non difabel. Setelah pertemuan pertama akan ditekankan siapa yang berminat untuk serius. Supaya kelasnya lebih efektif. Kelas pertama akan berlangsung Jumat, 23 Agustus 2019.

Latihan Menulis Apa?

Walau dari AJI Bengkulu basic-nya adalah jurnalis, namun materi kelas menulis yang diberikan tidak melulu tentang menulis berita. Sebab pada dasarnya dunia menulis itu luas dan bebas. Maka yang pertama kali akan diberikan adalah dasar-dasar menulis itu dulu. Lalu spesifikasinya, silakan penulis itu sendiri yang mengembangkan minatnya mau menulis apa.

Apalagi di era teknologi seperti sekarang ini, ada begitu banyak media yang bisa digunakan untuk menulis. Menulis caption untuk media sosial, mempromosikan usahanya, mengulas hobi, curhat, menulis resep dan lain-lain. Intinya yang terpenting kawan-kawan difabel ini terlatih mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan pikirkan.

“Kawan-kawan difabel ini memiliki sudut pandang sendiri dalam melihat suatu peristiwa. Baik yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Melalui tulisan, tentu akan menarik membaca dan melihat karya mereka,” kata Irna Riza.

Baca Juga : Belajar Food Fotografi Bareng Kelas Kecil

Kenapa Kita Harus Peduli

Alasan paling sederhana kenapa kita harus peduli, menurut Irna, adalah bahwa setiap kita yang saat ini dianugerahi fisik sempurna, berpotensi menjadi difabel. Khususnya di Bengkulu yang rawan bencana gempa dan tsunami.

Kondisi kesehatan pun mempengaruhi. Siapa menjamin kita selalu sehat hingga tua. Lihat saja. Tak sedikit orang struk mendadak di usia muda. Atau bisa jadi kita mengalami kecelakaan lalu lintas yang membuat kondisi fisik berubah drastis. Hal serupa bisa menimpa keluarga kita. Jadi kepedulian yang kita bangun sejak dini terhadap orang-orang difabel, sama halnya dengan membangun kepedulian untuk diri kita sendiri juga orang terdekat.

Hal lainnya, walau sudah mendapat perlindungan sesuai Pasal 96 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, namun pada kenyataannya orang-orang difabel masih mendapat tempat kelas 3 di Indonesia. Konon kata Irna, masih ada anggapan bahwa kelas 1 ditempati oleh laki-laki. “Katanya kelas 2 itu kaum perempuan. Dan kelas 3 di negara kita adalah orang-orang difabel,” ungkapnya.

Bukan hanya itu saja. Penyandang disabilitas di Provinsi Bengkulu ternyata menempati urutan nomor 1 terbanyak. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Sensunas) tahun 2012 persentase disabilitas Peovinsi Bengkulu mencapai 3,96 persen. Sementara yang terendah adalah Papua dengan angka 1,05 persen.

Output Kelas Menulis

Dari kelas menulis untuk difabel, kami mengharapkan ada sebuah media yang bisa menjadi wadah karya-karya mereka. Misalnya dalam bentuk blog atau situs yang mudah diakses siapa saja dan mengikuti perkembangan industri 4.0. Cakupannya pun jelas lebih luas. Selain tulisan, melalui situs bisa menampilkan karya visual berupa foto dan video. Jadi tidak menutup kemungkinan Kelas Menulis akan berkembang menjadi kelas fotografi juga videografi.

Dan jangan salah. Kawan-kawan difabel zaman now pun sudah melek teknologi informasi. Mereka aktif menggunakan media sosial dan aplikasi di android untuk berkomunikasi. Tuna netra misalnya. Mereka memanfaatkan aplikasi voice note untuk menyampaikan pesan melalui tulisan. Begitu pula dengan pemanfaatan  WhatsApp sebagai media komunikasi dan media sosial facebook. Mereka sudah familiar sebagai pengguna. (**)

 

Fokus dan Sabar, Kunci Sukses Eva Lenawati Jadi Pengusaha

Fokus dan Sabar, Kunci Sukses Eva Lenawati Jadi Pengusaha

Fashionable, smart dan ramah. Itulah kesan yang dirasakan saat pertama kali bertemu dengan Eva Lenawati, SE di Martha Tilaar Salon Day Spa Jalan Mayjend Sutoyo No. 80 Tanah Patah, Minggu sore (4/3).

Di Bengkulu, nama Eva Lenawati memang sudah tidak asing lagi. Pengusaha wanita asal Manna, Bengkulu Selatan ini merupakan istri dari pengacara kondang Junaidi Albab Setiawan, SH. M. Comm Law.

Ia memiliki sejumlah usaha. Salah satunya H3 Laundry. Teranyar Eva menjadi pemilik franchise brand perawatan kecantikan ternama Martha Tilaar yang ke-80 di Indonesia.

“Alhamdulillah sudah sebulan terakhir kami sudah soft opening Martha Tilaar. Animo dan respon masyarakat Bengkulu sangat bagus,” ungkap Eva Lenawati yang memiliki hobi membaca, lari dan membuat kerajinan kreatif ini.

Eva sendiri mengakui sangat antusias membuka pusat perawatan dan spa Martha Tilaar. Kegemarannya melakukan treatment dan mencoba relaksasi di tempat-tempat spa, membawa pengalaman berarti bagi bisnisnya.

“Perempuan itu harus pandai merawat diri. Karena cantik itu dimulai dari kebersihan tubuh. Di Jakarta saya paling senang ke Martha Tilaar karena menggunakan produk herbal dan natural. Saya cari informasi soal franchisenya, lalu akhirnya buka juga di Bengkulu,” kata Eva.

Keluarga yang Utama

Eva Lenawati bersama suaminya, Junaidi Albab Setiawan

Eva Lenawati bersama suaminya, Junaidi Albab Setiawan

Ditengah kesibukannya menyiapkan Grand Opening Martha Tilaar pada Selasa, 5 Maret 2019, Eva berbagi cerita tentang berbagai kegiatannya. Ia menuturkan, aktivitasnya yang paling utama adalah menjadi ibu rumah tangga.

Keberhasilannya sebagai ibu rumah tangga tergambar dari kesuksesan sang suami sebagai lawyer di Jakarta. Kini suaminya juga tengah fokus menjadi calon legislatif DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) daerah pemilihan Bengkulu nomor urut 4. Ditambah lagi tiga buah hati kini tengah mengenyam pendidikan terbaik di Pulau Jawa.

Putra pertamanya Muhammad Hafizh Akram saat ini kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM).  Putra keduanya  Muhammad Hanif Abrar SMA di Ponpes Modern Al Kausar. Sementara si bungsu Haikal Hayyan Musthafa Kamil bersekolah di Jubilee International School.

Memiliki anak-anak yang sudah bisa mandiri, membuat Eva makin mantap berkonsentrasi pada bisnisnya. Apalagi jiwa menjadi seorang entrepreneur sudah tertanam sejak kecil. “Dari kecil orangtua memang sudah mengenalkan dunia usaha. Saya melihat dan ikut membantu kegiatan orangtua,” tutur putri sulung Rohanuddin Sabana atau dikenal Can Sabana dan Lendarwati.

Passion Sejak Kecil

Eva Lenawati bersama ayahnya Rohanuddin Sabana dan Lendarwati

Eva Lenawati bersama ayahnya Rohanuddin Sabana dan Lendarwati. Bagi Eva, kedua orangtuanya adalah sosok paling inspiratif dalam hidupnya.

Tertanam sejak kecil, lambat laun menjadi pengusaha pun menjadi hobi dan passion bagi Eva. “Saat menjadi mahasiswi di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, saya memang sudah biasa berjualan,” kenang Eva.

Kesuksesan menjadi pebisnis bagi Eva tidak terjadi begitu saja. Orangtua bagi Eva adalah sosok paling inspiratif yang membentuk karakternya hingga saat ini. “Saya melihat orangtua saya sebagai pekerja keras. Karakter inilah yang menempel pada saya. Dulu keluarga kami punya toko. Sembari orangtua menjaga anak, kami juga diajari,” kata Eva.

Ketimbang memilih bekerja kantoran, Eva mengungkapkan dirinya memang lebih suka berwirausaha. “Lebih asyik bekerja dengan bebas dan bisa menghandle sendiri,” tandasnya.

Menjadi pengusaha, lanjut Eva, jelas ada tantangannya. Mulai dari pasang surut bisnis hingga kondisi yang tidak semuanya selalu sama dengan ekpektasi. Akan tetapi berkat pengalaman, kerja keras dan dukungan dari keluarga, tantangan itu bisa dilewati.

“Semua bidang (pekerjaan) itu pasti ada tantangannya. Terpenting, kalau memang passion kita disitu pasti tangan tidak akan terasa berat,” kata Eva.

Lantas, apa kunci sukses menjadi pengusaha bagi Eva? “Kuncinya fokus. Juga sabar. Kalau target belum tercapai, cepat evaluasi. Pokoknya harus sabar dan jangan mudah menyerah lalu banting setir. Kalau kita fokus dan terus dikerjakan dengan tekun, yakin usaha kita pasti menjadi besar,” ujar Eva.(ken)