Amanat, Inovasi Bidan Desa Menekan Stunting

Amanat, Inovasi Bidan Desa Menekan Stunting

Pandemi membuat pendapatan warga Desa Sengkuang menurun. Meski begitu, para ibu tidak kesulitan mencari bahan bakanan yang terjangkau harganya dan bergizi. Semua berkat Gerakan Amanat.

TERIKNYA mentari pagi tak menyurutkan semangat 70 perempuan Desa Sengkuang Kabupaten Bengkulu Utara, untuk berkumpul di halaman Puskesmas Tanjung Agung Palik. Sejak pukul 07.00 WIB pagi, mereka kompak mengenakan seragam kaos berwarna hijau, bersiap mengikuti kegiatan Amanat. Gerakan Ayo Makan Tahu dan Tempe.

Begitu Camat Tanjung Agung Palik Benhar tiba di puskesmas, tua, muda, semua serentak mengikuti alunan musik senam jantung sehat dan senam lansia. Setelah senam, semua yang hadir bersama-sama memakan sajian kue berbahan tahu dan tempe. Ada pastel isi tempe, puding tahu, juga bola-bola tahu.

Jumat pagi itu, tepatnya 21 Agustus 2020 menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Setelah delapan bulan menanti, akhirnya Gerakan Amanat di Desa Sengkuang resmi diluncurkan. Seharusnya gerakan ini sudah ingin diresmikan lebih cepat. Namun apa daya. Covid-19 keburu melanda Indonesia di pertengahan Maret.

Gerakan Amanat merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh bidan penggerak desa, Meta Kosasih. Tujuannya adalah untuk menekan angka gizi buruk dan stunting, kondisi dimana tinggi badan anak jauh lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya, yang cukup tinggi di desa ini dan bahkan tertinggi di Kecamatan Tanjung Agung Palik.

Tahun 2018 lalu, jumlah penderita stunting mencapai 60 anak. Sebuah angka yang sangat tinggi bagi ukuran wilayah desa. Bukan hanya stunting, di desa ini juga terdapat anak penderita gizi buruk.

Asupan Gizi Rendah

Leniwati bersama kedua anaknya.

Leniwati bersama kedua anaknya.

Leniwati (40) bisa sedikit bernapas lega. Putrinya, Nela Zakira, yang berusia 5 tahun dinyatakan bebas dari stunting dan gizi buruk. Kini, tinggi badan Nela sudah sekitar 110 cm dan berat 15 kilogram, sesuai dengan standar yang disarankan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tinggi dan berat badan gadis cilik itu bukan lagi dibawah garis normal.

Leni, sapaan Leniwati, menuturkan, dia sudah merasa curiga putrinya itu mengalami kurang gizi dan stunting sejak Nela bersusia 1,5-2 tahun. Bahkan, ketika sudah berusia dua tahun, Neli belum bisa berjalan.

“Cuma bisa berdiri, tidak bisa melangkah. Badannya selalu terlihat lesu dan tidak bertenaga. Setiap timbang ke posyandu, beratnya tidak naik-naik,” tutur Leni.  Tidak hanya itu, Nela kecil sering demam dan bahkan mengalami kejang.

Dalam pikirannya, anak dalam kondisi sehat jika pada saat ditimbang berat badannya selalu naik. “Pokoknya, kalau timbang berat anak naik tiga mato (ons), artinya sehat. Tapi, setiap penimbangan berat badannya tidak naik-naik. Kalaupun naik, sedikit sekali,” kata Leni.

Dia mengakui kalau dirinya kurang maksimal memberikan asupan gizi dan nutrisi untuk anak. Makanan bagi dirinya dan anaknya seadanya saja. “Yang penting ada nasi. Gulainya (lauk) yang ada di sekitar rumah. Kates (pepaya) muda ditumis atau sayur pucuk ubi,” ujar Leni sambil memangku putra bungsunya Wilza Ramadani yang baru berusia tiga tahun.

Tidak hanya asupan yang seadanya, Nela juga tidak menikmati ASI eksklusif hingga dua tahun seperti yang direkomendasikan bagi balita. Leni terpaksa menghentikan pemberian ASI pada Nela ketika usianya memasuki sembilan bulan karena guru muatan lokal Bahasa Rejang ini divonis mengidap pembengkakan jantung dan kelenjar tiroid.

Untuk menjaga agar asupan gizi Nela tetap terjaga, Leni sempat memberikan susu kental manis selama beberapa bulan sebagai pengganti ASI. Tapi, hal itu diketahui oleh bidan desa dan kemudian dihentikan karena kandungan gulanya yang terlalu tinggi. Atas masukan bidan, SKM itu diganti produk lain yang harganya terjangkau namun memiliki kandungan nutrisi lebih baik. Meski tidak ada yang bisa menggantikan kandungan nutrisi ASI.

Leni mengakui dalam benaknya asupan yang bergizi harus selalu terkonsentrasi pada ketersediaan protein hewani, seperti daging, ikan dan sejenisnya. Penghasilannya sebagai guru honor dengan jumlah yang tidak tetap dan pembayarannya dirapel empat bulan sekali, membuat dirinya kesulitan untuk mengatur asupan gizi anak-anaknya. Penghasilan sang suami, Ropi (40), yang bekerja di pemotongan kayu juga tidak tetap, membuat mereka semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka.

Ditambah lagi keluarganya tidak mendapatkan bantuan stimulan apapun dari pemerintah seperti melalui Program Keluarga Harapan (PKH), juga Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Ia bahkan kini tengah menunggak tagihan BPJS Kesehatan, sehingga kesulitan jika ingin berobat. “Karena sudah terlalu lama menunggak, sudah tidak sanggup bayar. Nilainya sekitar Rp 2 jutaan,” tuturnya.

Nela, Bidan Meta dan Gerakan Amanat

Para ibu-ibu peserta senam Gerakan Amanat.

Para ibu-ibu peserta senam Gerakan Amanat.

Nela hanyalah satu dari ratusan balita yang menderita stunting di Kecamatan Tanjung Agung Palik. Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat Tanjung Agung Palik Endang Antoni Jaya mengatakan tahun 2018 terdapat 277 anak mengalami stunting. Sebanyak 60 anak diantaranya berada di Desa Sengkuang.

Tahun 2019 jumlahnya menurun menjadi 71 anak dan 16 anak diantaranya berada di Desa Sengkuang. Per Februari 2020, jumlah kembali turun menjadi 45 anak dan 9 anak diantaranya berada di Desa Sengkuang. “Untuk data terbaru masih kita himpun,” kata Endang.

Endang mengatakan, persoalan gizi ibu dan anak di Desa Sengkuang memang jadi perhatian. Angka stunting yang tertinggi se-kecamatan ada di Sengkuang, yang sebenarnya jarak dari ibu kota provinsi kurang dari 50 kilometer.

Tidak mudah bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Tanjung Agung Palik, khususnya Meta Kosasih, untuk mengubah dan menanamkan pola pikir orang tua akan pentingnya asupan gizi seimbang dan pola hidup sehat. Cukup sulit bagi Meta untuk mengajak para ibu dan kaum perempuan yang mayoritas adalah ibu rumah tangga dan petani untuk bergerak bersama. Jika tidak ke kebun, para ibu memilih di rumah saja.

Siapa sosok bidan Meta Kosasi? Ini dia profilnya.

Meski Meta lahir, besar dan mengenal banyak warga, kegiatan penyuluhan kesehatan yang diadakan setiap Jumat pagi awalnya hanya dihadiri tiga hingga lima orang saja. Pendekatan secara kekeluargaan dan kesukuan pun terpaksa dilakukan agar para ibu mau hadir. Selain itu, Meta juga mengundang perempuan yang dikenal dekat untuk mau datang ke Puskesmas.

Usai senam, Meta mengenalkan sumber protein yang harganya terjangkau tapi kandungan gizinya sangat banyak, yaitu tahu dan tempe. Beberapa nutrisi yang dibutuhkan tubuh, terutama ibu hamil dan bagi pertumbuhan anak, seperti karbohidrat, lemak, protein, zat besi hingga vitamin B, ada di dalam tempe dan tahu.

Meta tidak hanya mengenalkan tempe dan tahu goreng semata. Dia bersama rekan nakes lainnya juga mengajari ibu-ibu untuk lebih kreatif mengolah produk berbahan dasar kedelai ini. “Harapannya tentu saja anak-anak jadi suka. Kalau digoreng terus, anak-anak kurang tertarik. Prinsipnya menjadikan tahu tempe dari bahan makanan yang biasa menjadi luar biasa,” ujar Meta.

Tidak hanya tempe dan tahu, Meta juga berusaha mengenalkan bahan pangan lain yang tidak mahal, namun bergizi baik untuk balita dalam masa pertumbuhan. Masih ada telur danikan. Kepada mereka yang hadir, Meta selalu berpesan agar Jumat selanjutnya datang lagi dengan membawa teman.

Meski harus pergi pulang ke Kota Bengkulu, Meta aktif mendatangi rumah para ibu satu per satu. “Supaya semangat, kami siasati sesekali senamnya kami adakan lomba. Ada hadiahnya. Akhirnya lama-lama warga jadi tertarik,” ujar Meta.

Upaya terus mengampanyekan Gerakan Amanat sempat tersendat ketika ada larangan pengumpulan massa dari Presiden Joko Widodo. Meta dibantu rekan sesama tenaga kesehatan mencari akal agar program swadaya itu terus berjalan. Pengikisan jumlah anak penderita stunting dan gizi buruk, harus tetap berjalan.

Rumah yang didatangi tidak semuanya mudah diakses dengan kendaraan roda empat. Ada juga yang tinggal di gang-gang desa yang jalannya masih tanah dan berbatu. Kunjungan dilakukan sembari memberikan imunisasi bagi balita yang sudah masuk jadwal, juga memberikan konseling pemberian makanan bergizi untuk bayi dan anak.

“Protokol kesehatan, seperti penggunaan alat pelindung diri (APD) lengkap, tetap dijalani. Kami juga membagikan brosur tentang Covid-19,” ungkap Meta. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Saat dampak pandemi Covid-19 mulai dirasakan masyarakat, terutama dari segi ekonomi, gerakan ini menemukan momentumnya. Pandemi memang memukul warga yang sebagian besar adalah petani karet. Harga getah karet sempat anjlok, dari semula Rp 8000 per kilogram menjadi hanya Rp 3000-Rp 5000 per kg, membuat penghasilan warga menurun. Meski begitu, mereka masih dapat membeli bahan pangan yang terjangkau namun memiliki kandungan gizi yang tinggi.

Dari segi harga, tahu dan tempe terbilang murah di Desa Sengkuang. Satu potong tempe seukuran telapak tangan harganya Rp 1.000. Untuk makan sekeluarga, setidaknya perlu 5 potong tempe. Sementara untuk tahu, bisa dibeli dengan harga Rp 2.000 per tiga potongnya.

Intervensi lain

Senam Amanat membuat tubuh menjadi segar bugar.

Senam Amanat membuat tubuh menjadi segar bugar.

Selain memberikan pengetahuan tambahan soal asupan bergizi dengan harga terjangkau, masalah stunting dan gizi buruk tidak terlepas dari faktor kebersihan lingkungan atau sanitasi. Endang mengatakan, pemukiman warga dekat Daerah Aliran Sungai (DAS), tidak sedikit warga yang kerap buang air di sungai atau di tanah.

“Kotoran menguap terkena sinar matahari, terhirup oleh anak-anak yang main di sekitar sungai. Kadang tangan kotor masuk mulut atau ada lalat hinggap di makanan. Ini bisa menjadi penyebab imun anak terpengaruh. Penyerapan gizinya jadi tidak baik karena terpapar bakteri,” terang Endang. Beruntung, sebelum Covid-19 meluas, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sengkuang sudah membangun toilet di rumah-rumah warga.

Stunting pun bisa disebabkan faktor keturunan. Namun, kata Endang, jumlahnya tidak terlalu signifikan. “Stunting karena faktor keturunan ini jumlahnya lebih sedikit. Hanya sekitar 5 persen dari total kasus stunting,” ujar Endang.

Agar persoalan gizi ditengah Pademi Covid-19 tidak terus bertambah, selain Gerakan Amanat, ahli gizi di puskesmas juga mengajak warga memanfaatkan lahan pekarangan di rumahnya untuk ditanami sayuran. Program Pos Gizi desa, yang salah satu kegiatannya adalah pemberian makanan tambahan, juga membantu mempercepat penurunan jumlah penderita stunting di desa ini.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bengkulu Herwan Antoni mengakui, mereka tetap mengupayakan angka stunting di provinsi ini berada di bawah angka nasional, yaitu 20 persen. Kini, di Bengkulu, jumlah anak penderita stunting tercatat berjumlah 85.278 orang atau setara 28 persen angka nasional.

Meski belum ada inovasi gizi yang berkelanjutan, kegiatan pelayanan gizi dan surveilans gizi secara kualitas terus ditingkatkan. Terutama pada empat kabupaten yang menjadi fokus penanganan stunting yang ditetapkan oleh Bappenas, yaitu Kabupaten Kaur, Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan dan Seluma.

“Dalam waktu dekat kami akan menyalurkan logistik berupa vitamin A bayi, balita, ibu nifas, tablet tambah darah untuk ibu hamil dan remaja putri. Makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita kurus, juga tetap diberikan,” ujarnya.

Meski di Desa Sengkuang, Gerakan Amanat cukup ampuh untuk mengurangi angka penderita stunting, Pemerintah Provinsi Bengkulu masih memilih jalan memutar untuk menekan angka stunting di wilayah ini. Dinkes Provinsi Bengkulu berencana memfasilitasi Rembuk Stunting untuk mengetahui penyebab stunting dibandingkan mengadopsi Gerakan Amanat, makan tahu dan tempe, yang terjangkau dan memiliki kandungan gizi yang tinggi di seluruh provinsi. (ken)

Artikel ini ditulis dan dipublikasi di www.rakyatbengkulu.com sebagai hasil liputan Program Fellowship Pemenuhan Gizi Anak Ditengah Pandemi Covid-19 yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Unicef tahun 2020.

Klinik Asiki dan Kebutuhan Layanan Kesehatan di Daerah Terpencil

Klinik Asiki dan Kebutuhan Layanan Kesehatan di Daerah Terpencil

“Yang namanya ajal memang ditangan Yang Maha Kuasa. Tapi setiap kali ada warga sakit yang meninggal karena keterlambatan penanganan dan minimnya fasilitas kesehatan, tentu ini sangat menyedihkan sekali,” tutur Rafli Kaitora, Kepala Suku Adat Kaitora Pulau Enggano. 

Rafli Kaitora tak kuasa  meluapkan kegundahannya ketika kami berbincang selama 30 menit melalui sambungan telepon. Warga asli yang tinggal menetap di Pulau Enggano itu masih merasakan kesedihan. Kurun sebulan terakhir sudah dua warganya meninggal dunia.

Penyebabnya sama. Sama-sama sakit. Mengalami sesak napas sebagai gejala awal dan terlambat mendapat penanganan karena keterbatasan tenaga kesehatan di pulau yang statusnya di catatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) masih termasuk Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Pulau Terluar (DTPK).

“Tanggal 31 Agustus yang meninggal Imri Aryadi Kauna, usia 68 tahun. Lalu sekitar seminggu kemudian,  Lirawati Kauna meninggal usia 40 tahun. Saat dibawa ke puskesmas, kebetulan dokternya sedang bertugas dinas ke luar pulau. Jadi ya memang terlambat penanganan,” tutur Rafli.

Rafli menuturkan, kejadian ada warga meninggal karena terlambat penanganan atau meninggal saat mengarungi lautan lepas Samudera Hindia, bukan kali pertama. Akses pelayanan dan fasilitas kesehatan di Pulau Enggano terbilang masih minim.

Hanya Ada Satu Dokter Umum

Rumah Sakit Bergerak Enggano atau disebut juga rumah sakit terapung memiliki fasilitas kesehatan yang masih terbatas. Foto: dr. Meinoffiandi.

Rumah Sakit Bergerak Enggano atau disebut juga rumah sakit terapung memiliki fasilitas kesehatan yang masih terbatas. Foto: dr. Meinoffiandi.

Meski di sana sudah ada Puskesmas Enggano dan Rumah Sakit Bergerak (Rumah Sakit Terapung), namun hanya memiliki satu dokter umum saja. Alhasil warga yang berobat ke fasilitas kesehatan dilayani oleh perawat dan bidan yang dinilai oleh warga penanganan kesehatannya tidak seampuh dokter.

Tak hanya itu saja. Apabila ada warga yang harus dirujuk ke rumah sakit di Kota Bengkulu, tidak bisa langsung berangkat. Transportasi yang tersedia hanya kapal perintis yang berangkat dua kali saja dalam sepekan. Begitu pula dengan pesawat Susi Air. Jadi jika tidak ada jadwal keberangkatan baik kapal maupun pesawat, pasien tentu harus menunggu.

“Perjalanannya juga cukup jauh. Berlayar 12 jam. Kadang sudah dirujuk jauh-jauh, belum lagi sampai ke rumah sakit di Kota Bengkulu, sudah meninggal di kapal. Lalu obat-obatan juga. Persediaannya di sini (Enggano) sangat terbatas,” ungkap Rafli.

Kondisi pelayanan dan fasilitas kesehatan yang masih minim, lanjut Rafli, masih harus dirasakan oleh masyarakat Enggano bahkan setelah 75 tahun Indonesia merdeka. Ia menuturkan, daya juang masyarakat Pulau Enggano untuk mempertahankan kehidupan, benar-benar tinggi. “Mau bagaimana lagi. Sebisa mungkin kami berusaha untuk tidak sakit. Tapi yang namanya manusia kadangkala ya merasakan sakit,” ujar Rafli.

Berharap Ada Penambahan Dokter

Mewakili warga Enggano, Rafli berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkulu Utara bisa menambah tenaga dokter di Pulau Enggano. Baik dokter umum maupun spesialis. Sehingga jika ada dokter yang harus bertugas ke luar pulau, tetap ada dokter lain yang siaga.

“Apalagi pada kondisi pandemi Covid-19 ini. Kami bersyukur sampai hari ini Enggano masih zona hijau. Tapi untuk menjaga agar jangan sampai virus itu masuk ke sini, tentu harus ada penanganan ekstra. Bahkan jika perlu, tutup dulu untuk  sementara akses masuk ke pulau untuk pendatang,” harap Rafli.

Pulau Enggano merupakan pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Di sana, sebanyak 3.274 penduduk (data Badan Pusat Statistik (BPS) Kecamatan Enggano dalam Angka 2019) menempati pulau seluas 400,6 meter persegi itu. Warga tersebar di enam desa yakni Banjarsari, Meok, Apoho, Malakoni, Kahyapu dan Kaana. Untuk menopang kehidupannya, di Enggano warga mengandalkan potensi tangkapan laut, serta perkebunan kakao, kopi robusta dan kelapa.

Meski memiliki potensi wisata karena keindahan bawah lautnya, namun akses transportasi yang tidak menentu membuat upaya pengembangan pariwisata ikut tersendat. Transportasi kapal hanya tersedia pada Rabu dan Jumat dari Pelabuhan Pulau Baai-Pelabuhan Malakoni. Sementara pesawat perintis Susi hanya ada Selasa dan Jumat dengan ongkos Rp 300 ribu sekali penerbangan .

Berada 156 kilometer atau 90 mil dari pusat ibukota provinsi, warga Pulau Enggano acapkali merasakan menjadi warga yang terisolir. Bukan sekali dua kapal perintis tidak bisa angkat jangkar dari Pelabuhan Pulau Baai lantaran badai melanda hingga berminggu-minggu.

Bertugas dengan Penuh Tantangan

Hanya ada satu dokter yang melayani pasien baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit Bergerak Enggano. Dokter Meinoffiandi saat sedang memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Foto: Dokumen dr. Meinoffiandi.

Hanya ada satu dokter yang melayani pasien baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit Bergerak Enggano. Dokter Meinoffiandi saat sedang memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Foto: Dokumen dr. Meinoffiandi.

Keterbatasan pelayanan dan fasilitas kesehatan di Pulau Enggano seperti yang diutarakan Rafli Kaitora diakui oleh satu-satunya dokter umum di Pulau Enggano, dr. Meinofiandi Leswin. Ia bertugas di dua tempat sekaligus, Rumah Sakit Bergerak dan di Puskesmas Enggano.

Dokter muda berusia 35 tahun yang akrab disapa Andi itu mengungkapkan, selama bertugas di sana ada beberapa tantangan yang dihadapi. Mulai dari jumlah dokter yang hanya satu orang saja, kebutuhan akan dokter spesialis, laboratorium sederhana yang belum bisa difungsikan secara maksimal karena tidak ada tenaga ahli yang menangani, pasokan obat-obatan yang terbatas. Tidak ada apotek maupun apoteker.

“Fasilitas dan sumber daya yang ada sekarang lebih pada yang sifatnya emergency. Sebisa mungkin mempertahankan pasien yang mengalami sakit parah untuk tetap hidup, hingga bisa dirujuk ke rumah sakit yang ada di Kota Bengkulu,” kata Andi yang sehari-hari keluarganya berada di Kota Bengkulu.

Meningkatkan Kualitas Kesehatan

Salah satu kegiatan pelayanan di Puskesmas Enggano. Foto: Dokumen dr. Meinoffiandi

Salah satu kegiatan pelayanan di Puskesmas Enggano. Foto: Dokumen dr. Meinoffiandi

Segala tantangan dalam menunaikan tugas di pulau terluar, tidak serta-merta menjadi hambatan untuk tidak bisa berbuat. Peningkatan kualitas kesehatan di Pulau Enggano tetap dilakukan dengan melakukan upaya preventif. “Yang dilakukan adalah bagaimana caranya kami mengupayakan agar masyarakat di pulau itu sehat,” ujarnya.

Beberapa hal yang dilakukan antara lain menyosialisasikan pentingnya hidup sehat kepada warga, melakukan penyuluhan, mengingatkan warga untuk mengonsumsi makanan bergizi, menggalakkan program desa Open Defecation Free (ODF) dengan pembuatan jamban sehat.

Pada situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, puskesmas dan rumah sakit bersama Gugus Covid-19 mengawasi dan membatasi kedatangan orang dari luar ke Enggano. Salah satunya dengan memberlakukan syarat wajib menunjukkan hasil rapid test sebelum naik ke kapal.

Baca Juga Artikel Kesehatan Lainnya :

Gerakan Amanat, Dari yang Biasa Menjadi Luar Biasa

8 Kiat Menjalani New Normal Ditengah Pandemi Covid-19

Aturan ini diutamakan bagi penumpang yang Kartu Tanda Penduduk (KTP)-nya tidak berdomisili di Enggano. Setibanya di pulau, lanjut Andi, kembali dicek. Jika ternyata ada yang tidak punya surat keterangan tapi tetap bisa datang ke pulau, diberlakukan rapid test di pelabuhan.

Cegah Angka Kematian Ibu dan Anak

Terkait dengan angka kematian ibu, di Pulau Enggano belum mengkhawatirkan. Akan tetapi untuk kasus kematian anak, perlu mendapat perhatian. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, angka kematian ibu dan anak pada periode Januari-Juli 2020 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Untuk kasus kematian ibu, tahun ini total ada 21 ibu meninggal dunia dan tahun 2019 ada 18 ibu meninggal dunia. Dimana terbanyak adalah Kabupaten Bengkulu Utara dengan jumlah 7 ibu meninggal. Sementara untuk kasus kematian bayi, jumlahnya mencapai 153 bayi meninggal. Sedangkan tahun 2019 ada 149 bayi meninggal. Kasus terbanyaknya pun di Kabupaten Bengkulu Utara yakni 40 bayi meninggal. Dimana dua diantaranya ada di Kecamatan Enggano. “Ibu-ibu hamil di Pulau Enggano kesulitan jika ingin melakukan periksa USG. Alatnya selama ini rusak. Baru tahun 2020 ada alat bantuan, tapi belum bisa dioperasikan karena tenaganya harus ikut pelatihan dulu,” ujar Andi.

KORINDO dan Klinik Asiki

Keberadaan Klinik Asiki di Boven Digoel, Papua. Klinik di Kampung Asiki ini diresmikan sejak 2 September 2017. Foto : korindo.co.id

Keberadaan Klinik Asiki di Boven Digoel, Papua. Klinik di Kampung Asiki ini diresmikan sejak 2 September 2017. Foto : korindo.co.id

Akses mendapat pelayanan kesehatan yang minim seperti di Pulau Enggano, jelas bukan satu-satunya di Indonesia. Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Teringgal tahun 2020-2024 ada 62 daerah. Dari 62 daerah tertinggal itu, sebanyak 22 diantaranya berada di Papua. Salah satunya Boven Digoel.

Ingat Boven Digoel, ingatan saya melayang pada Klinik Asiki. Sebuah klinik yang didirikan oleh KORINDO Group dan KOICA (Korea International Cooperation Agency). KORINDO sendiri merupakan perusahaan perintis dalam hal pelestarian lingkungan.

Mengutip situs korindo.co.id, perusahaan ini sudah sudah menunjukkan eksistensinya selama 51 tahun di pasar Asia Tenggara atau sejak 1969, sudah dikenal keberhasilannya sebagai pemasok kertas koran domestik. Serta melaksanakan imbauan pemerintah dalam hal melakukan pembaruan industri koran yang sebelumnya sangat bergantung pada produk kertas koran impor.

Melalui kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR), KORINDO juga membantu masyarakat setempat menciptakan mata pencaharian sendiri secara mandiri dalam bentuk bantuan usaha di perkebunan karet dan penyediaan pelatihan di sektor peternakan unggas. Dan tentunya KORINDO juga menjadi perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan yang baik untuk sesama.

Klinik Asiki di Kampung Asiki, Boven Digoel memiliki fasilitas yang lengkap dan modern, berikut tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan dan penyuluhan gratis kepada masyarakat. Klinik ini berdiri sejak 2 September 2017 di kabupaten dengan jumlah penduduk 67.717 jiwa (data BPS tahun 2018) itu.

Kampung Asiki di Boven Digoel merupakan sebuah kampung pedalaman Papua. Letaknya di perbatasan negara Indonesia – Papua New Guena (PNG). Klinik ini dibuka tentu saja dengan tujuan dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di sana.

Klinik Asiki memiliki gedung sendiri seluas 1.100 meter persegi. Fasilitasnya terdiri dari ruang inap, ruang rawat jalan, ruang bersalin, perawatan bayi/perinatologi, Instalasi Gawat Darurat (IGD), ruang bedah minor, USG, farmasi, dan fasilitas lainnya hingga penyediaan kendaraan ambulans.

Delapan Program Unggulan

Ada 8 program yang gencar dilakukan oleh Klinik Asiki, yaitu sebagai berikut :

  1. Menurunkan angka kematian ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi baru lahir melalui peningkatan pelayanan kesehatan ibu, balita dan Keluarga Berencana (KB), serta memperbaiki status gizi masyarakat
  2. Mengendalikan penyakit menular serta penyakit tidak menular
  3. Penyehatan lingkungan
  4. Mengembangkan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
  5. Memberdayakan masyarakat dan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan
  6. Peningkatan pelayanan kesehatan primer
  7. Meningkatkan lingkungan kerja yang aman dan nyaman
  8. Fokus dalam meningkatkan sumber daya manusia yang profesional

Dengan fasilitas lengkap dan pelayanan yang kerap dilakukan dengan “jemput bola”. Salah satunya  dengan membuka layanan mobile service.  Program ini dilakukan secara langsung ke kampung-kampung terpencil dan perbatasan di wilayah sekitar perusahaan yang berada di Boven.

Layanan Mobile Service

Layanan Mobile Service Klinik Asiki bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak. Foto: korindi.co.id

Layanan Mobile Service Klinik Asiki bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak. Foto: korindi.co.id

Bekerjasama dengan Puskesmas, saat pertama kali dimulai tahun 2017, Mobile Service Klinik Asiki menjangkau enam kampung. Lalu secara berkelanjutan menyasar kampung-kampung lain. Program Mobile Service Klinik Asiki dilakukan untuk meningkatkan akses dan pemanfaatan layanan kesehatan, serta meningkatkan aksebilitas pelayanan medis untuk daerah. Sasarannya ditujukan untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil dan bayi atau balita. Oleh sebab itu kegiatannya pun dilakukan di posyandu-posyandu.

Berkat upayanya meningkatkan kualitas kesehatan di Kampung Asiki Boven Digoel, kurun dua tahun saja Klinik Asiki berhasil menjadi klinik terbaik tingkat nasional. Yakni dalam kategori Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Penghargaan ini diberikan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada 15 Agustus 2019 dengan predikat “FKTP dengan Komitmen Tinggi dalam Memberikan Pelayanan Terbaik bagi Peserta JKN-KIS Kategori Klinik Pratama.”

Sungguh beruntung warga Kampung Asiki saat ini telah memiliki pusat pelayanan kesehatan dengan fasilitas dan sumber daya tenaga kesehatan yang lengkap. Ah, andai Pulau Enggano memiliki klinik dengan pelayanan maksimal serupa seperti Klinik Asiki, niscaya masyarakat di sana akan merasakan kualitas dan jaminan kesehatan terbaik. Dengan industri yang terus berkembang dan semakin maju di masa yang akan datang, bukan tidak mungkin jika kedepannya KORINDO Group memperluas wilayah kegiatan sosialnya ke daerah-daerah pedalaman, perbatasan dan pulau terluar lainnya. Semoga. (**)

Gerakan Amanat, dari yang Biasa Menjadi Luar Biasa

Gerakan Amanat, dari yang Biasa Menjadi Luar Biasa

Gerakan Amanat, dari yang Biasa Menjadi Luar Biasa – Nama bidan Meta Kosasih, A.Md. Keb di Desa Sengkuang Kecamatan Tanjung Agung Palik, Kabupaten Bengkulu Utara, sudah sangat dikenal. Sudah delapan tahun, tepatnya sejak 2012, ia mengabdi untuk kampung halamannya.

Terinspirasi dari sang kakak yang sudah lebih dulu berprofesi sebagai bidan, membuat Meta memilih jalur serupa. Selepas tamat dari SMA 1 Kerkap, Meta mantap mengambil pendidikan kebidanan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Kota Bengkulu.

“Saya melihat kakak bekerja sebagai bidan banyak menolong orang. Orangtua juga mensupport saya menjadi seorang bidan. Saya bahagia menjadi bidan karena saya memang senang berada ditengah-tengah mereka,” tutur Meta membuka percakapan saat RB menemui di rumahnya Jalan  Semarak I RT. Kelurahan Bentiring.

Bagi Meta, menjadi bidan desa di Sengkuang ia dedikasikan kepada tanah kelahirannya, sekaligus sebagai bentuk pengabdian kepada orangtua. Selama bertahun-tahun Meta menjalankan tugas sebagai bidan desa, sekaligus merawat sang ibu yang terkena stroke. Hal itu membuatnya kerap terpisah dengan sang suami, Sudiyanto Prabowo, yang bekerja di perbankan syariah yang ada di Kota Bengkulu.

Mengingat buah hatinya, Fatih Genta Yudhistira, kini sudah menginjak usia 6 tahun akan masuk ke sekolah dasar, perjuangan Meta pun bertambah ekstra. Ia akhirnya memutuskan untuk pindah kembali ke Kota Bengkulu.

Jika sebelumnya ia menetap di Desa Sengkuang, kini setiap hari ia berkendara menempuh perjalanan 1 jam Kota Bengkulu – Desa Sengkuang. Putra bungsunya Fatur Hisyam Athalah yang berusia 2 tahun juga butuh perhatian ekstra dan ingin dekat dengan ayahnya.

“Biarpun tinggal di Bengkulu, saya stand by siaga 24 jam. Begitu ada panggilan, maka saya akan langsung berangkat ke Desa Sengkuang. Kadang ya pulangnya sampai tengah malam, sendirian. Untungnya jalur dari kota ke desa, cukup ramai truk angkutan yang melintas. Jadi tidak terlalu khawatir,” ungkap ibu dua anak ini.

Di Desa Sengkuang, Meta tidak membuka praktik secara khusus. Sebagai bidan desa, ia bertugas di Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Sengkuang.  Selama bertugas ada berbagai pengalaman menarik yang ia lalui.

Yang paling terkenang adalah ketika dalam waktu hampir bersamaan, Meta menghadapi dua pasien yang akan melahirkan di rumah berbeda. Menurutnya ini hal yang langka terjadi.

“Waktu itu saya masih bidan baru. Pengalaman belum seberapa. Belum ada yang bantu juga (asisten). Malam ada yang telepon katanya mau melahirkan. Lagi menolong persalinan yang satu, sudah ada lagi yang jemput karena ada warga lain yang mau melahirkan juga,” ujar Meta.

“Untungnya ibu yang pertama sudah selesai persalinannya. Tangan masih berdarah-darah, langsung berangkat ke rumah pasien yang satu lagi. Alhamdulillah, dua-duanya ibu dan bayi selamat,”tambah wanita kelahiran Desa Sengkuang, 21 Mei 1990 ini.

Sebelumnya, Meta memang acapkali menolong pasien dari rumah ke rumah. Namun setelah ada kebijakan dari pemerintah daerah, pertolongan pasien melahirkan wajib di Puskesmas. Sebab pasien yang melahirkan harus mendapat fasilitas kesehatan yang memadai. Itu sebabnya sekarang bidan Meta biasa melayani pasiennya di Pustu Desa Sengkuang.

Selain melayani persalinan, sebagai bidan desa, Meta biasa menerima konsultasi ibu-ibu tentang kehamilan, gizi dan nutrisi anak, suntik program Keluarga Berencana (KB) hingga pengobatan ringan untuk flu, batuk dan pilek. Selama ini ia tidak pernah menetapkan tarif layanan. “Warga bisa bayar semampunya. Yang tidak membayar juga ada,” ujar Meta.

Giatkan Gerakan Amanat

Kegiatan senam yang diadakan di Pustu Desa Sengkuang (2)

Kegiatan senam yang diadakan di Pustu Desa Sengkuang 

Di Desa Sengkuang, Meta menjadi penggerak Gerakan Amanat (Ayo Makan Tahu Tempe). Program dikemas dalam bentuk senam sehat mingguan dengan menyisipkan kampanye makan tahu dan tempe untuk pemenuhan gizi dan nutrisi anak.

Setiap Jumat, perempuan Desa Sengkuang yang didominasi kaum ibu,  wajib membawa makanan yang berbahan dasar tempe dan tahu. Setiap habis senam, semua peserta termasuk tenaga kesehatan di Pustu Desa Sengkuang, makan tahu tempe bersama.

Sesekali ada demo memasak untuk memodifikasi tempe dan tahu menjadi menu menarik. Seperti memasak nugget tempe, kue bolu tahu dan bolu tempe. Bahkan tempe bisa dijadikan pudding.

“Harapannya tentu saja anak-anak jadi suka. Kalau digoreng terus kan bosan. Anak-anak kurang tertarik. Makanya kita harus berkreasi dengan menunya. Prinsipnya menjadikan tahu tempe dari bahan makanan yang biasa, menjadi luar biasa,” ujar Meta.

Lantas mengapa tahu dan tempe yang dipilih? Menurut Meta, tahu dan tempe memiliki kandungan gizi yang tinggi yang sangat baik. Terutama untuk ibu hamil dan pertumbuhan anak. Tahu dan tempe yang berbahan dasar kedelai memiliki kandungan karbohidrat, lemak, protein, zat besi, kalium, kalsium, magnesium, vitamin B, zinc, cooper dan mangan dalam jumlah banyak.

“Kami mengajak mereka (warga) untuk makan tahu dan tempe. Harganya terjangkau dan mudah didapat. Tahu dan tempe sebagai sumber protein nabati yang baik bagi ibu dan anak karena mengandung berbagai nutrisi penting,” ungkap Meta.

Untuk melaksanakan senam Gerakan Amanat di desanya, Meta juga sempat menghadapi tantangan. Tantangannya mengajak warga untuk aktif. Perempuan mayoritas ibu rumah tangga dan petani. Selama ini aktivitasnya ke kebun atau di rumah saja. Di awal-awal hanya beberapa orang saja yang merespon Gerakan Amanat.

“Beberapa orang ini kami rangkul terus. Lalu mereka mengajak tetangganya yang lain. Kegiatannya pun bervariasi supaya semangat. Salah satu penyemangatnya, saya sempat mencari donatur. Kami buat lomba. Walau hadiahnya tidak seberapa, tapi warga semangat berlatih. Tadinya kami juga berencana membuat lomba memasak bahan tahu dan tempe. Mudah-mudahan bisa terlaksana setelah musim virus corona berakhir,” tutur Meta.

Sekarang, Gerakan Amanat di Desa Sengkuang sudah rutin berjalan. Bidan Meta dan warga pun punya yel-yel khusus. “Tahu, Tempe, Mantap Gizinya.”

Baca Juga Kisah Inspiratif Lainnya :

Jejak Zulkarnedi, Pendiri Penangkaran Penyu Alun Utara

Fokus dan Sabar, Kunci Sukses Eva Lenawati Jadi Pengusaha

Bidan Ditengah Pandemik

Ditengah pandemik Corona Virus Disease (Covid) 19, tantangan bidan pun bertambah. Tergabung ke dalam Gugus Covid Desa, bidan berperan sebagai ujung tombak. Khususnya dalam menyosialisasikan tentang pencegahan Virus Corona, baik ke perangkat desa yang juga tergabung dalam Gugus Covid-19, juga kepada masyarakat.

Ia merasa bersyukur dukungan Pemerintah Daerah Bengkulu Utara sangat baik. Pustunya mendapat bantuan brosur, yang bisa dibagi-bagikan ke warga sebagai bahan sosialisasi.

“Kami sudah sosialisasikan kepada warga untuk mengenakan masker saat keluar rumah, rajin cuci tangan selama 20 detik minimal menggunakan sabun. Juga physical distancing alias jaga jarak fisik. Kalau ada yang baru pulang dari daerah lain, saya sudah mengingatkan ke warga untuk tidak langsung melakukan kontak fisik seperti bersalaman. Sebab kebiasaan di desa, jika ada yang baru datang dari luar kota, biasanya akan tetangga akan berkunjung,” kata Meta.

Sadar Gizi Sejak Remaja

Untuk kedepannya, Meta berharap semakin banyak lagi perempuan yang sadar akan gizi dan nutrisi. Kesedaran ibu bukan hanya setelah menjadi ibu. Justru menurutnya sejak remaja, perempuan harus sudah peduli akan kesehatannya.

Remaja putri harus giat makan bergizi dan bernutrisi. Tambah vitamin, seperti tablet Fe (baca: ef e) penambah darah. “Jadi kelak saat sudah hamil, menjadi calon ibu, gizinya sudah seimbang dan siap melahirkan anak-anak Generasi Maju,” ujar Meta.

Apalagi penyebab stunting pada anak (tinggi badan kurang) bukan hanya karena faktur kekurangan gizi dan nutrisi saat pertumbuhan. Penyebab stuntung adalah kondisi gizi ibu. Berat badan lahir rendah, membuat si kecil berpotensi menjadi stunting.

“Maka dari itu, sejak masih jadi calon ibu sudah harus peduli gizi. Berikan anak Air Susu Ibu (ASI) ekslusif selama enam bulan. Saat mulai memberikan MPASI (Makanan Pendamping ASI), bayi jangan hanya memakan bubur beras saja. Tambah sayur dan bahan makanan lainnya yang mengandung protein, vitamin dan gizi yang baik,” ungkap Meta.(ken)

Artikel ini sudah terbit di Harian Rakyat Bengkulu pada edisi 3 Agustus 2020 Bidan Meta Kosasih, Kampanyekan Tahu Tempe dari yang Biasa, Menjadi Luar Biasa

Jejak Zulkarnedi, Pendiri Penangkaran Penyu Alun Utara

Jejak Zulkarnedi, Pendiri Penangkaran Penyu Alun Utara

Lima tahun yang lalu, Zulkarnedi hanya nelayan biasa. Melaut, menjual hasil tangkapan ikan, termasuk menjadi penampung sekaligus penjual telur penyu. Semua dilakoninya selama belasan tahun. Hingga pada suatu hari pertemuannya dengan pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) membuat dunianya seketika berubah.

Penangkaran Penyu Alun Utara yang didirikan Zulkarnedi saat ini menjadi salah satu andalan bila ada instansi-instansi atau perusahaan swasta yang berkeinginan untuk merilis/ melepas tukik (anak penyu) di pantai. Namanya menjadi dikenal sebagai salah satu aktivis yang peduli terhadap pelestarian penyu di Bengkulu.

“Sudah lebih dari seribu anak tukik yang sudah kita lepaskan ke lautan,” tutur Zulkarnedi ketika saya dan beberapa rekan dari Universitas Dehasen (Unived) mendatangi Penangkaran Penyu Alun Utara, pada April lalu.

Lokasi Penangkaran Penyu Alun Utara terletak di Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah. Dari pusat Kota Bengkulu, jaraknya hanya sekitar 7 kilometer. Dari gerbang perbatasan Kota Bengkulu – Kabupaten Bengkulu Tengah di kawasan Sungai Hitam  malah cuma 1 kilometer saja ditempun dengan kendaraan bermotor, atau sekitar 15 menit.

Ketika ditemui, Zulkarnedi sendiri sebenarnya tampak sudah tak asing lagi meladeni pertanyaan demi pertanyaan yang saya ajukan. Ia mengungkapkan, sudah ada beberapa jurnalis yang melakukan wawancara. Termasuk membuat film dokumenter tentang aktivitas penangkaran penyu.

ZUlkarnedi mengawali cerita kembali ke tahun 1990. Selepas menyelesaikan pendidikan di Sekolah Teknik Menengah (STM)  -sekarang SMKN 2, Zulkarnedi memilih menjadi nelayan. Pekerjaan yang turun-temurun ia warisi dari kakek buyutnya. Pun hingga sekarang. Keluarga Zulkarnedi bergantung pada hasil laut sebagai mata pencaharian utama.

Tukik yang baru saja menetas dan naik ke permukaan pasir.

Tukik yang baru saja menetas dan naik ke permukaan pasir.

Kala itu, apapun hasil laut yang didapat, dijual oleh Zulkarnedi untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Termasuk menjual telur penyu yang dikenal kaya akan protein. Pria asal Pasar Malabro itu pun sempat menjadi penampung telur-telur penyu. Ia membeli telur penyu itu dari penemu Rp 6.000-Rp 8.000 per butir. Lalu dijual kembali Rp 10.000-Rp 12.000 per butir.

Telur-telur penyu dijual Zulkarnedi di tepi jalan. Berapa pun yang ia jual selalu habis. Sebelum bertemu dengan pegawai DKP ia sebenarnya sudah punya keinginan untuk berhenti jual beli telur penyu. Zulkarnedi punya keinginan untuk mencoba menetaskan telur-telur yang ia dapat.

Zulkarnedi yang mengakui awalnya tidak paham mengapa telur penyu dilarang untuk diperjualbelikan, lantas tersadar. Jika ia terus-menerus menjual telur penyu dan membiarkan hewan langka itu punah dari lautan, maka anak cucu di masa mendatang tidak akan bisa lagi melihat penyu secara nyata. “Kalau penyu tidak dilestarikan, nanti anak cucu kita hanya bisa melihat gambarnya saja,” ujar Zulkarnedi.

Persoalannya, ia tidak punya cukup uang jika harus terus-menerus membeli telur penyu. Hingga suatu hari di tahun 2015, bertemulah ia dengan pegawai DKP tersebut. “Waktu itu saya diberi tahu bahwa menjual telur penyu itu dilarang,” tutur Zulkarnedi.

Lantas pegawai dari DKP menawarkan siap membeli telur-telur yang selama ini dihimpun oleh Zulkarnedi. Ia pun diajak untuk bersama-sama menangkar telur-telur penyu yang didapat. Sejak saat itu, jejak Zulkarnedi melestarikan penyu dimulai.

Baca Juga : Konservasi Penyu di Bengkulu, Yuk Kita Dukung

Menangkar Penyu dari Rumah

Tukik-tukik yang baru menetas dikumpulkan di sebuah ember lebar. Jika alat pernapasannya sudah siap, tukik siap dimasukkan ke dalam kolam berisi air laut.

Tukik-tukik yang baru menetas dikumpulkan di sebuah ember lebar. Jika alat pernapasannya sudah siap, tukik siap dimasukkan ke dalam kolam berisi air laut.

Sebagai percobaan, Zulkarnedi memanfaatkan teras rumahnya untuk meletakkan tong-tong berisi pasir yang digunakan untuk “mengerami” telur penyu. Tantangan cukup besar bagi ia dan keluarga pun datang. Menurutnya, tak sedikit tetangga yang mencemooh apa yang dia lakukan. Rumahnya dinilai lingkungan sekitar jadi tampak kumuh.

“Ada yang bilang saya didik (bodoh). Tidak digaji tapi kok mau saja kerja susah-susah. Malah ada yang bilang saya gila,” cetus Zulkarnedi.  “Tapi sekarang orang yang dulu bilang saya gila dan bodoh, malu sendiri. Ada yang punya keinginan untuk bergabung dengan kelompok kami, tapi terlanjur malu karena pernah berpikiran negatif,” tambahnya.

Jenis penyu yang pertama kali ia etaskan di sarang buatan adalah penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Telur-telur didapatnya dari nelayan dan ada pula dari hasil “patroli” sarang penyu di sepanjang pantai yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Sebagai percobaan, ia membuat tiga sarang. Per sarang bervariasi diisi hingga 100 butir telur. Upayanya membuahkan hasil. Sekitar 80-85 persen telur berhasil menetas.

“Kalau menetaskan telur penyu, tidak terlalu kesulitan. Saya tahu tentang menetaskan telur penyu dari datuk kami dulu. Waktu kami masih kecil-kecil karena terbiasa hidup di pesisir pantai. Insya Allah kalo tepat suhu dan kedalaman menempatkan telur, 60 hari atau dua bulan, telur menetas,” ungkap Zulkarnedi.

Dukungan Berdatangan

Zulkarnedi saat ditemui di tempat penangkaran penyu Alun Utara.

Zulkarnedi saat ditemui di tempat penangkaran penyu Alun Utara.

Tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 2018, Zulkarnedi mendapat dukungan dari Loka Pengelolaan SD Pesisir dan Laut (LPSPL) Serang, Banteng yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan. Selain mendapat support dana untuk “menebus” telur penyu yang ditemukan nelayan, ia juga mendapat tempat baru untuk penangkaran penyu.

Lokasi penangkaran penyu yang masih berdiri hingga sekarang sekitar 100 meter ke arah pantai. Zulkarnedi mendapat lahan sekitar 20×30 meter. Di sana ia membuat sarang-sarang buatan, bak untuk tukik, anak penyu yang baru menetas. Di sisi lainnya ada juga bak-bak untuk menempatkan penyu yang sudah lebih besar, sebelum dirilis ke lautan.

Mendirikan Kelompok Pelestari Penyu

Untuk mengelola penangkaran tersebut, dia mendirikan Kelompok Pelestari Penyu Alun Utara. Tepatnya 12 Mei 2016. Anggotanya sebagian merupakan pemuda desa, termasuk juga anak-anaknya. Hingga saat ini ia sudah berhasil menetaskan empat jenis penyu. Selain penyu lekang, ia juga menangkar penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau ((Chelonia midas) dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea).

“Perbedaan dari keempat jenis penyu itu salah satunya dilihat dari bentuk tempurungnya,” tutur pria kelahiran tahun 1968 itu.

Dari tahun ke tahun, dukungan atas kegigihan Zulkarnedi melestarikan penyu di Bengkulu, terus mendapat dukungan. Termasuk diantaranya dari DKP Provinsi dan DKP Kabupaten Bengkulu Tengah. Sudah beberapa kali ia mendapat kesempatan mengikuti pelatihan di berbagai daerah. Begitupun menjadi pembicara dalam pertemuan-pertemuan terkait pelestarian penyu.

Tahun 2020 ini, Kelompok Pelestari Penyu Alun Utara juga mendapat Corporate Social Responsibility (CSR) dari salah satu produsen kendaraan roda empat. “Bantuan inilah yang cukup besar. Sehingga kami bisa mendirikan bangunan untuk tempat edukasi bagi pengunjung yang mau ke sini. Sayangnya ini belum bisa kita manfaatkan. Karena sejak pandemi Covid-19, jumlah pengunjung menurun drastis,” kata Zulkarnadi.

Peran Penyu di Lautan

Dengan terus melestarikan penyu, maka tangkapan ikan bisa terus melimpah.

Dengan terus melestarikan penyu, maka tangkapan ikan bisa terus melimpah.

Dari yang dirasakan Zulkarnedi sebagai nelayan, peran penyu di lautan sangatlah besar. Penyu, ungkap Zulkarnedi merupakan bagian dari mata rantai untuk menjaga ekosistem laut, juga terumbu karang.

Penyu adalah hewan laut yang memangsa ubur-ubur. Semakin banyak melepas tukik ke laut, maka ikan-ikan kecil bisa tetap hidup. “Alhamdulillah. Dari yang kami rasakan, tidak pernah kami kekurangan ikan besar untuk ditangkap. Hasil laut selalu melimpah,” tutur Zulkarnedi yang menjual sendiri hasil tangkapannya di Pasar Ikan Barukoto setiap subuh.

Zulkarnedi bersyukur, ia tidak patah semangat. Baginya dukungan keluarga membuatnya bisa mendirikan Penangkaran Penyu Alun Utara yang direncanakan akan menjadi tempat wisata edukasi. “Dari cemoohan saya jadi termotivasi untuk tidak menyerah,” ujar Zulkarnedi.(**)

Obat Liver Terbaik, Ini Tips Aman dan Mudah Memilihnya

Obat Liver Terbaik, Ini Tips Aman dan Mudah Memilihnya

MEMILIH OBAT LIVER TERBAIK – Liver masuk dalam salah satu kategori penyakit kronis yang cukup berbahaya. Liver merupakan gangguan kesehatan pada bagian hati. Akibatnya organ vital di tubuh kita ini tidak dapat berfungsi dengan baik.

Organ hati bagi manusia sangat penting. Liver bisa menghasilkan empedu yang membuang racun dalam tubuh dan menghancurkan lemak, mencerna obat-obatan menjadi zat aktif di dalam tubuh, membersihkan darah dari senyawa obat, menghasilkan amino penyusun protein untuk melawan infeksi dan sisa metabolisme, menyimpan zat besi untuk pembentukan Hb (hemoglobin) dan beberapa funsgi lainnya.

Disatu sisi, hati merupakan organ yang dapat meregenerasi sel-selnya yang rusak dengan cepat. Namun disisi lain jika sel yang rusah cukup banyak, maka fungsi dan kerja hati dapat terganggu. Biasanya, fungsi hati akan mulai terlihat penurunannya ketika kerusakan sel-sel hati mencapai 75 persen.

Seperti dilansir oleh situs alodokter.com. Penurunan fungsi hati bisa terjadi dengan 4 tahap hingga dinyatakan kronis. Setelah divonis kronis, kerusakan pada liver tidak bisa disembuhkan. Perlu penanganan khusus bagi orang dengan kerusakan fungsi hati berat. Salah salah satunya dengan transplantasi hati. Dan beberapa kasus yang sering terjadi adalah bahwasanya mereka yang sudah terkena liver memang akan sangat sulit sekali untuk sembuh dan bahkan yang paling parah yakni bisa mencapai kematian.

Di Indonesia, penderita liver bisa dikatakan cukup tinggi. Bahkan menurut data Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) yakni organisasi bidang kerjasama pembangunan ekonomi 33 negara yang salah satunya menyoroti soal kesehatan, liver menjadi salah satu dari 10 jenis penyakit yang terbanyak menyebabkan kematian.

Berdasarkan data OECD tahun 2017 di dunia liver menempati peringkat 10 jenis penyakit mematikan. Penderitanya mencapai 1,32 juta kasus. Sementara di Indonesia, liver menempati urutan ke-7 dengan 82. 145 kasus meninggal dunia. Liver berada dibawah penyakit kardiovaskuler seperti jantung dan stroke, kanker, penyakit pencernaan,  diabetes, penyakit pernapasan dan TBC alias tubercolosis.

Penyebab Liver

Cek Keaslian Obat Liver dan Obat Tipes Pientzehuang-2

Cek Keaslian Obat Liver dan Obat Tipes Pientzehuang-2

Agar terhindar dari penyakit ini, kita harus tahu dulu apa saja penyebab penyakit liver. Liver bisa disebabkan karena mengonsumsi alkohol berlebihan. Pada orang yang mengalami obesitas, penumpukan lemak di sel-sel hati juga dapat menyebabkan gangguan.

Selain dua penyebab diatas, hepatitis juga menjadi penyebab gangguang liver. Hepatitis merupakan golongan penyakit liver yang muncul akibat jaringan hati yang meradang. Jenis yang biasa dikenal antara lain hepatitis A, B, C, D, E dan hepatitis autoimun.

Selain itu, penyakit hati juga bisa muncul akibat faktor keturunan. Penyakit liver ini disebabkan oleh kelainan genetik yang menyebabkan gangguan fungsi organ hati. Dua jenis penyebab penyakit liver genetik yang paling dikenal adalah hemokromatosis dan defisiensi alfa-1 antitripsin.

Selain mengenal penyebabnya, ada juga beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena liver. Seperti obesitas, diabetes, mengonsumsi alkohol berlebihan, penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza), gonta-ganti pasangan seksual, terpapar cairan dan darah tubuh orang lain yang mengidap penyakit.

Kenali Sejak Dini

Sebelum penyakit liver bertambah parah dan masuk ke tahap 4 atau dinyatakan kronis, ada baiknya mengenali gejalanya sejak dini. Penderita liver biasanya akan mengalami penurunan nafsu makan, sehingga berat tubuh pun menyusut. Mual dan muntah, gairah seksual menurun, perubahan warna cairan urin dan warna feses, mudah lelah, mata menjadi kuning, bengkak pada tungkai kaki, demam, kulit mudah memar dan kulit terasa gatal.

Penyakit liver bisa diketahui melalui diagnosis dokter. Selain itu, orang yang mengalami gejala harus menjalani tes darah untuk mengetahui sejauh mana kondisi peradangan. Selain itu dokter dapat meminta pasien menjalani prosedur pemindaian dengan USG, CT Scan atau MRI, untuk mendapatkan gambaran organ hati dan organ yang ada di sekitarnya secara jelas.

Baca artikel lainnya :

8 Kiat Menjalani Kehidupan di Era New Normal

Pengobatan Penyakit Liver

Bila sudah terkena penyakit liver, pengobatan dilakukan tergantung pada sejauh mana tingkat keparahan, penyebab dan kondisi seseorang. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar pula potensi sembuh.  Liver dalam tahap tertentu bisa diobati dengan perubahan gaya hidup. Turunkan berat badan, berhenti minum alkohol dan menghindari konsumsi obat-obatan sembarangan. Perbanyak minum air putih, istirahat yang cukup, serta mengonsumsi makanan yang sehat, terutama untuk mengatasi hepatitis A.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah diperlukan penanganan kesehatan yang tepat dan juga obat liver yang tepat supaya penyakit tidak semakin parah dan bisa mencapai kematian. Karena perkembangan zaman yang sudah semakin modern dan maju seperti saat ini, dunia farmasi dan kesehatan ternyata juga telah menunjukkan perkembangan yang sangat luar biasa.

Sudah banyak sekali jenis obat yang berhasil diciptakan oleh para ahli farmasi dan kemudian bisa dijual di pasar obat atau toko-toko obat resmi seperti apotek yang sudah terdaftar. Salah satu jenis obat yang saat ini sudah banyak di produksi dan beredar bebas di pasaran obat dan juga di apotek adalah seperti obat liver. Mulai dari obat generik sampai dengan obat herbal. Maka dari itu, apabila Anda saat ini sedang mencari obat herbal yang bisa menyembuhkan liver Pien Tze Huang adalah pilihan yang tepat.

Ciri Obat Asli

Cek Keaslian Obat Pientzehuang Disini

Cek Keaslian Obat Pientzehuang Disini

Akan tetapi, Anda juga perlu cermat. Jangan sampai obat Pien Tze Huang yang dibeli adalah tiruan alias palsu. Berikut adalah tips untuk mendapatkan obat Pien Tze Huang yang asli :

  • Jangan tergiur dengan toko yang menjual harga murah di bawah harga aslinya.
  • Perhatikan apakah di kemasan sudah tertera B POM dengan No POM TI 164 250 351.
  • Jangan mudah percaya dengan toko yang selalu menonjolkan kata asli Tiongkok karena obat tersebut belum tentu asli.

Memilih Pien Tze Huang sebagai obat liver memang suatu keputusan yang sangat tepat. Satu hal yang sangat penting dan tidak boleh Anda anggap sepele adalah karena liver masuk dalam salah satu penyakit kritis, jadi jangan asal sembarang mengkonsumsi obat-obatan termasuk obat herbal. Jadi bila Anda ingin mengkonsumsi Pien Tze Huang konsultasikan lebih dulu dengan dokter, dan apabila dokter sudah mengizinkan Anda bisa membeli obat tersebut di distributor resmi obat tersebut yakni PT Saras Subur Abadi.

Itu dia informasi mengenai liver dan salah satu cara pengobatan yang bisa dilakukan. Sebaiknya memang sebelum sampai terkena, sejak masih sehat kita harus berupaya mencegahnya. Beberapa hal yang bisa dilakukan agar kondisi hati kita tetap baik diantaranya :

  1. Jaga berat badan ideal
  2. Stop minuman alkohol. Air putih jauh lebih baik
  3. Rutin vaksin hepatitis sesuai program
  4. Stop Napza
  5. Tidak berganti pasangan seksual
  6. Konsultasi ke dokter
  7. Lakukan pemeriksaan rutin ke dokter untuk memantau kesehatan liver
  8. Hindari paparan zat kimia berbahaya, darah, dan cairan tubuh orang lain, dengan menggunakan APD (Alat Pelindung Diri)