Ini Dia Syarat Terbaru Traveling ke Jawa dan Bali

Ini Dia Syarat Terbaru Traveling ke Jawa dan Bali

Ini Dia Syarat Terbaru Traveling ke Jawa dan Bali – Akhir tahun menjadi waktu yang ditunggu-tunggu. Banyak orang membuat rencana berlibur sepanjang musim libur Natal dan Tahun Baru. Libur bertambah karena anak-anak sekolah sudah bagi rapor semester.

Sebenarnya, ditengah musim pandemi Covid-19 seperti sekarang ini ada baiknya untuk tetap #stayathome alias #DiRumahAja. Tapi jika memang ingin bepergian, pastikan tetap mematuhi protokol kesehatan ya. Kenakan masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan. Dan tentunya harus tahu dulu aturan baru perjalanan.

Peraturan Perjalanan

Paling anyar nih Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sudah mengeluarkan peraturan terbaru. Khususnya yang mengatur perjalanan untuk Pulau Jawa dan Bali selama periode Natal dan Tahun Baru 18 Desember 2020 – 8 Januari 2021. Ini dia peraturan yang menjadi syarat terbaru traveling ke Jawa dan Bali :

Aturan Jalur Penerbangan

  • Penerbangan dari semua bandara di Jawa dan Bali, penumpang diwajibkan buat tes PCR atau rapid antigen maksimal H-3 sebelum keberangkatan.
  • Penerbangan menuju semua bandara di Jawa, penumpang wajib PCR atau rapid antigen maksimal H-3 sebelum keberangkatan.
  • Khusus penerbangan menuju Bali, penumpang wajib PCR maksimal H-3 sebelum keberangkaran.

Aturan Kereta Api

Seluruh penumpang kereta api jarak jauh wajib PCR atau rapid antigen. Tes ini dilakukan maksimal 3 hari sebelum keberangkatan.

Aturan Perjalanan Darat

  • Khusus perjalanan darat menuju Bali, seluruh penumpang wajib minimal rapid antigen maksimal H-3 sebelum keberangkatan.
  • Diskresi  biaya tes kesehatan akan diberikan bagi angkutan logostik yang masuk ke Bali.
  • Untuk perjalanan darat di Jawa, pelaku perjalanan diimbau melakukan rapid antigen sebelum keberangkatan.

Ketentuan Lainnya

Selain aturan perjalanan menggunakan pesawat, kereta api maupun mobil atau motor seperti yang sudah dituliskan diatas, masih ada ketentuan lainnya yang juga harus diketahui. Berikut syarat traveling Jawa dan Bali jika melalui jalur darat:

  1. Terkait wajib rapid antigen yang diberlakukan, pastikan tes yang dijalani menggunakan 4 merk yang telah mendapatkan izin edar resmi dari Kementerian Kesehatan. Yaitu GenBody, Indec, SD Biosensor (rekomendasi WHO/ badan kesehatan dunia) dan Abbott Panbio (direkomendasikan oleh WHO). So, saat akan mendaftar rapid antigen harus ditanya dulu ke klinik apakah alat rapid yang digunakan sesuai merk diatas.
  2. Sebelumnya, rapid yang diberlakukan adalah jenis rapid antibodi, maka rapid ini sudah tidak diberlakukan lagi.
  3. Bagaimana dengan anak-anak? Khusus perjalanan domestik, anak dibawah usia 12 tahun tidak wajib mengikuti tes PCR maupun tes rapid antigen sebagai syarat perjalanan.
  4. Yang perlu diperhatikan juga, semua biaya tes ini bukan tanggungan pemerintah. Tapi menjadi tanggungan pribadi.
  5. Perhatikan protokol kesehatan selama perjalanan. Sebab di titik-titik kumpul, protokol kesehatan diperketat oleh pemerintah.

Apa Itu PCR, Rapid Antigen dan Rapid Antobodi?

Dari beberapa jenis tes yang diatur pada peraturan perjalanan libur Natal dan Tahun Baru, ada yang namanya tes PCR, rapid antigen dan rapid antibodi. Untuk mengetahui apa perbedaannya, saya mengutip dari situs Halodoc.

Tentu sudah pada tahu kan ya sama Halodoc. Yap. Halodoc adalah perusahaan teknologi karya anak negeri yang menyediakan pelayanan bidang telekonsultasi kesehatan. Tahun 2016 Jonathan Sudharta mendirikan Halodoc di Jakarta.

Istimewanya, hanya melalui smartphone dan aplikasi Halodoc, pasien bisa berbicara dengan dokter spesialis, membeli obat, serta melakukan pemeriksaan laboratorium kapan saja, dimana saja selama 24 jam. Jadi memudahkan pasien untuk tidak perlu antre lama di klinik atau praktik dokter secara offline. Terutama di masa pandemi seperti sekarang.

Tes PCR

PCR merupakan singkatan dari Polymerase Chain Reaction (PCR). Dikenal juga dengan nama tes swab PCR. Tes ini direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tes ini dinilai paling ampuh mendeteksi virus Covid-19 dari dalam tubuh melalui pemeriksaan molekuler guna mencari jejak materi genetic virus pada sampel yang dikumpulkan. Sampel diambil melalui teknik usap hidung atau tenggorokan.

Tes PCR dinilai paling akurat. Disarankan untuk melakukan tes ini jika sudah masuk kategori suspect karena ada gejala sesak, tenggorokan sakit, batuk dan demam. Pengambilan spesimen ini dilakukan maksimal dua hari setelah munculnya gejala-gejala tersebut.

Orang yang terkonfirmasi reaktif berdasarkan hasil rapid test, juga perlu tes PCR. Begitu juga ketika habis bepergian keluar kota atau luar negeri pada 14 hari terakhir dan memiliki kontak erat dengan pasien COVID-19.

Rapid Test Antigen

Beberapa hari lalu, saya baru saja menjalani tes antigen di Klinik Armina Sakti Kelurahan Pematang Gubernur, Kota Bengkulu. Syaratnya mendaftar pakai Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan membayar Rp 350 ribu.

Rapid antigen dilakukan dengan mendeteksi antigen atau protein yang dapat membentuk badan virus penyebab COVID-19. Sampel diambil dari cairan lender di hidung. Rasanya lumayan nyeri. Persis ketika kita sedang berenang lalu hidung masuk air. Setelah 10-15 menit, hasilnya diketahui negatif.

Tes Rapid Antibodi

Tes rapid antibodi punya keunggulan dari segi kecepatan hasil. Kurun 10 menit setelah darah diambil, garis satu atau garis dua akan menunjukkan negatif positifnya hasil rapid. Tes rapid test antibodi menggunakan metode untuk mendeteksi antibodi, yaitu IgM dan IgG yang dapat diproduksi oleh tubuh saat melawan virus.

Nah, antibodi hanya terlihat ketika tubuh terpapar virus Covid-19. Tes rapid memang bisa dilakukan untuk mendeteksi virus corona. Tapi tidak disarankan oleh WHO karena tingkat akurasinya yang rendah. Hasil negatif bisa saja palsu.

Pekan lalu, saya juga mendapat tes ini. Kebetulan ada tes masal gratis di kantor Graha Pena Rakyat Bengkulu. Pemeriksaan dilakukan menggunakan sampel darah dari ujung jari tangan kanan. Darah kemudian diteteskan pada alat tes rapid. Selanjutnya tetesan darah pada alat rapid ditetesi cairan untuk menandai antibodi. Saat itu hasil tes saya juga negatif.

Baca Juga : 8 Kiat Menjalani Kehidupan New Normal

Menanti Vaksin Covid-19

Kondisi sekarang ini memang masih sungguh mengkhawatirkan. Jangankan berbicara angka Covid-19 se-Indonesia. Untuk ukuran Provinsi Bengkulu saja, angkanya terus bertambah. Walau kemudian banyak juga yang sembuh, namun angka korban meninggal juga tidak bisa diabaikan begitu saja.

Per 17 Desember 2020 kasus Covid-19 mencapai angka 644 ribu, pasien sembuh 527 ribu dan 19.390 ribu orang diantaranya meninggal. Di Bengkulu, dari 2.950 kasus Covid-19, 1.962 orang diantaranya sembuh dan 103 orang meninggal dunia.

Tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan selain sama-sama peduli dan menjaga diri. Sekali lagi, taati protokol kesehatan. Bisa kita lihat, makin hari makin banyak orang yang abai. Paling mudah dilihat adalah enggan mengenakan masker. Terutama saat berada di tempat umum.

Masyarakat juga sekarang menanti vaksin benar-benar aman digunakan dan mampu membentuk kekebalan tubuh dari virus Covid-19. Ada enam vaksi yang bisa dipilih masyarakat yaitu Sinovac, Sinopharm, BioNTech, AstraZenaca, Pfizer dan Vaksin Moderna.

Memang sih, hingga pertengahan Desember 2020 ini belum ada satu vaksin pun yang sudah melewati fase ketiga. Namun upaya uji coba agar pemberian vaksin ini aman untuk semua kalangan, baik anak-anak, wanita hamil dan menyusui, terus dilakukan. Begitu juga dari sisi kehalalannya.

Tentu kita sama-sama berharap setiap vaksin yang beredar di masyarakat benar-benar ampuh, dapat diterima dan membuat penyebaran Covid-19 terhenti. Kalau kondisi sudah kembali normal, tentu rangkaian tes dan protokol yang harus dijalani acapkali melakukan perjalanan jauh, sudah tidak perlu dilakukan kembali.(**)

Perencanaan Keuangan Agar Aman di Masa Depan

Perencanaan Keuangan Agar Aman di Masa Depan

Perencanaan Keuangan Agar Aman di Masa Depan – Berbicara tentang  mempersiapkan hari di masa depan, pernah nggak sih kamu merasa belum aman secara finansial? Terutama yang bekerja di sektor swasta tanpa berangan-angan mengandalkan pensiunan. Kalau pernah, sepertinya kamu gak sendirian.

Merencanakan Keuangan

Mumpung masih muda nih ya, merencanakan keuangan harus dimulai sekarang juga. Financial Planner Ghita Argasasmita, RFA mengatakan, dalam basic foundation atau pondasi dasar keuangan, ada tiga hal yang harus kita miliki. Tabungan, dana darurat dan asuransi.

“Dengan memiliki tabungan, dana darurat dan asuransi, kita akan lebih merasa aman dan nayama dalam menghadapi masa depan,” kata Founder dan CEO of Integrita Financial ini saat menjadi salah satu pembicara pada talkshow yang diadakan oleh sebuah perusahaan asuransi beberapa waktu lalu.

Tabungan

Memiliki tabungan tentu akan sangat bermafaat. Terutama untuk menghadapi kondisi-kondisi tertentu yang mengharuskan kita memiliki dana dalam jumlah cukup besar, baik mendadak atau sudah direncanakan sebelumnya. Seperti untuk biaya pendidikan anak, liburan atau membeli aset seperti tanah, rumah dan kendaraan.

Konon menurut saran dari beberapa ahli perencanaan keuangan, ketimbang kredit atau mengambil pinjaman, lebih baik kita menyiapkan tabungan. Mengingat bunga kredit atau pinjaman lainnya yang terkadang cukup besar. Kan lumayan tuh selisihnya kalau semisal buat ditabung lagi.

Dana Darurat

Menyisihkan gaji atau pendapatan untuk dana darurat, juga sangat diperlukan. Dana darurat ini bisa dipakai kalau kita atau keluarga mendadak sakit dan memerlukan biaya untuk pengobatan, kecelakaan. Dana darurat juga bisa dipakai untuk pengeluaran-pengeluaran lain yang tidak terduga.

Apalagi seperti yang kita ketahui dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Tidak sedikit orang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Dana darurat inilah yang bisa menopang untuk biaya hidup sehari-hari hingga kembali mendapat pekerjaan.

Asuransi

Punya asuransi juga sangat bermanfaat. Saya termasuk yang sudah merasakan langsung manfaatnya. Sejak menikah, karena suami bekerja di BNI Syariah, kami sekeluarga sudah terdaftar di asuransi BNI Life. Setiap bulan, tentu saja ada premi yang dibayarkan oleh suami yang dialokasikan dari gaji rutinnya.

Manfaat yang dirasakan dengan punya asuransi, ketika sakit biaya berobat semua ditanggung oleh asuransi. Baik saya, suami maupun anak-anak. Begitu juga ketika melahirkan. Seluruh biaya menjadi tanggungan asuransi, termasuk biaya menginap di kamar VIP.

Selain asuransi kesehatan, ada juga asuransi pendidikan yang bisa diklaim acapkali anak kita mulai masuk sekolah ke jenjang baru. Tapia da yang perlu menjadi catatan dalam memilih asuransi. Tidak sedikit yang mengeluhkan prosesnya yang panjang, rumit dan susah klaim.

Jadi boleh banget ya dipertimbangkan dan dicari info sebanyak-banyaknya sebelum memilih investasi ke salah satu brand asuransi. Dalam memilih preminya pun kita harus menyesuaikan dengan budget dari pendapatan kita.

Kiat Mengatur Pendapatan

Agar kita bisa memiliki tabungan, dana darurat dan asuransi, tentu saja ada kiatnya. Menurut Ghita kita harus mengatur pendapatan. “Sebesar 5 persen dari pendapatan per bulan, bisa dibayarkan premi asuransi,” kata Ghita.

Pendapatan per bulan, sebesar 40 persennya untuk pengeluaran sehari-hari. Makan, biaya sekolah, listrik dan lain. Sebesar 30 persen bayar cicilan, 10 persen menabung dan dana daruta, 15 persen gaya hidup. Dan tentu saja yang 5 persen itu untuk asuransi.

Menabung Ala Milenial

Pas lagi buat tulisan ini, nggak sengaja liat postingan VOA Indonesia yang mewawancara salah satu ekonom muda Universitas Indonesia (UI) Nadia Amalia. Wanita yang sekarang tengah kuliah di MIT ini juga memberikan kiat tentang perencanaan keuangan.

Pertama, track pengeluaran. Nggak ada salahnya kita mencatat apa saja pengeluaran setiap bulannya. Dengan begitu kita bisa tahu kemana saja duit yang kita dapatkan itu dihabiskan. Kedua, compare atau bandingkan anara pendapatan dan pengeluaran. Jangan lebih besar pasak daripada tiang ya gaes.

Kemudian ada pula yang namanya golden ratio dalam mengatur keuangan. Menurut Nadia, 50 persen gaji itu bisa dipakai buat kebutuhan primer. Yang mana kita nggak bisa hidup kalau nggak menggunakan dana itu. Seperti buat makan, transportasi dan membayar tagihan-tagihan.

Selanjutnya 30 persen buat kebutuhan sekunder. Misal yang cowok buat traktir pacar, hangout bareng sohib atau buat beli make up buat yang cewek. Sisanya 20 persen untuk tabungan dan investasi. “Inget ya, untuk tabungan dan investasi itu disisihkan. Bukan disisakan,” celutuk Nadia.(**)

eServices FWD MAX, Layanan Asuransi Berbasis Teknologi

eServices FWD MAX, Layanan Asuransi Berbasis Teknologi

Proses mudah, sederhana dan relevan, menjadi keinginan setiap orang untuk mempercayakan jaminan dan proteksi hidupnya pada asuransi. eServices FWD MAX yang baru saja diluncurkan FWD Life, menjadi produk yang sangat bisa menjadi pilihan terbaik untuk mendapatkan keamanan dan ketenangan di masa depan. 

Kenapa Harus Punya Asuransi?

Ghita Argasasmita, RFA, Financial Planner yang juga Founder dan CEO of Integrita Financial saat menyampaikan strategi perencanaan keuangan yang ideal.

Ghita Argasasmita, RFA, Financial Planner yang juga Founder dan CEO of Integrita Financial saat menyampaikan strategi perencanaan keuangan yang ideal.

Yang namanya roda hidup, pasti berputar. Kadang kita berada diatas, namun ada kalanya berada dibawah. Ini bisa terjadi dalam hal apapun, termasuk soal finansial dan kondisi kesehatan. Toh, tidak ada manusia yang selalu sehat terus. 

Untuk meminimalisir segala risiko, kerugian dan memberikan keamanan untuk masa depan, tidak ada salahnya jika kita memiliki asuransi. Yang wajib dimiliki tentu saja, asuransi kesehatan. Terutama di masa pandemi Coronavirus Disease (Covid)-19 seperti yang tengah terjadi sekarang ini. 

Hal ini seperti yang disarankan Ghita Argasasmita, RFA, Financial Planner yang juga Founder dan CEO of Integrita Financial. “Selain memiliki tabungan dan dana darurat, dalam basic foundation keuangan, asuransi juga wajib dimiliki,” kata Ghita, saat menjadi pembicara saat peluncuran layanan eServices FWD MAX, produk baru dari FWD Life, Jumat, 17 Oktober 2020.

Namun sayangnya, selama ini orang masih merasa enggan untuk berinvestasi melalui asuransi karena ada stigma yang terlanjur melekat. Bahwa asuransi itu prosesnya ribet, prosedur dan mekanismenya tidak mudah dipahami dan klaim yang sulit. Hal ini berpengaruh pada tingkat penetrasi asuransi jiwa yang masih sebesar 1,1 persen (per Juli 2020) berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Sebenarnya orang menyadari bahwa asuransi itu penting, sangat bermanfaat. Tapi karena masih banyak yang sulit mengakses informasi daftarnya dimana, banyak dokumen yang harus dibaca dan syaratnya panjang sekali, jadi menunda-nunda untuk berinvestasi melalui asuransi,” ungkap Ghita.

Mengatur Pendapatan untuk Asuransi

Ghita juga menyampaikan kiat bagaimana caranya agar kita dapat mengatur pendapatan, sehingga ada alokasi yang cukup untuk asuransi. Dalam memilih premi, harus sesuai dengan budget dan kebutuhan. Sebesar 5 persen dari pendapatan per bulan, bisa dibayarkan premi asuransi. 

“Pendapatan per bulan, sebesar 40 persennya untuk pengeluaran sehari-hari. Makan, biaya sekolah, listrik dan lain. Sebesar 30 persen bayar cicilan, 10 persen menabung, 15 persen gaya hidup. Dan tentu saja yang 5 persen itu untuk asuransi,” ujarnya.

Asuransi di Era Digitalisasi

Para narasumber yang hadir pada peluncuran FWD Max.

Para narasumber yang hadir pada peluncuran FWD Max.

Di era digital, perusahaan asuransi juga harus bertransformasi. Jika dulu perusahaan asuransi fokus pada jenis-jenis produk dan bagaimana produknya bisa merangkum kepada kebutuhan, sekarang berbeda. Perusahaan asuransi lebih fokus pada keamanan dan kenyamanan pengguna. 

Melalui aplikasi, setiap calon pemegang polis bisa memperoleh akses informasi yang luas tentang produk, syarat, proses klaim, top up dan mendapatkan benefit lainnya. Bahkan transaksi pembayaran polis bisa dicek secara real time. 

Dengan mengeluarkan layanan eServices, pemegang polis memiliki kemudahan mengakses asuransinya. Dimanapun dan kapanpun bisa dengan gampang mengecek syarat, benefit dan sudah berapa banyak premi yang dibayar,” ujar Ghita. 

Transparansi melalui layanan eServices, lanjut Ghita, bisa memperkecil mispersepsi yang kerap terjadi terhadap perusahaan asuransi. Melalui aplikasi yang ada dalam genggaman, pemegang polis jadi lebih peduli terhadap produk investasi yang dibelinya. Tidak ada lagi alasan bagi pemegang polis untuk enggan membaca ketentuan asuransi yang dimilikinya. 

Layanan eServices dari FWD Finance

Kemudahan-kemudahan yang bisa didapat dengan mengandalkan teknologi inilah yang membuat FWD Life, pelopor asuransi jiwa berbasis digital untuk meluncurkan eServices FWD MAX. Direktur Utama FWD Life Anantharaman Sridharan mengatakan, FWD Life membawa pendekatan baru ke industri yang identik dengan cara tradisional dan melihatnya melalui perspektif nasabah. Visi mengubah cara pandang masyarakat tentang asuransi, telah menginspirasi FWD Life untuk membuat asuransi menjadi lebih relevan dan dapat dijangkau semua orang. 

Pendekatan yang berfokus pada nasabah ini yang mendorong kami untuk terus berinovasi memenuhi kebutuhan pemegang polis. “Fitur eServices terbaru ini akan menjadi salah satu bukti bagaimana kami berusaha mencapai visi kami setiap harinya,” kata Anantharaman.

Chief Marketing Officer FWD Life Maika Randini

Chief Marketing Officer FWD Life Maika Randini.

Chief Marketing Officer FWD Life Maika Randini mengatakan, FWD Life memiliki visi mengubah cara pandang masyarakat tentang asuransi. “Persepsinya ribet dan complicated. Pengalaman inilah yang ingin diubah di masyarakat,” kata Maika. 

Sejak sebelum pandemi, lanjut Maika, FWD Life memang sudah fokus pada digital teknologi untuk memudahkan masyarakat memiliki asuransi. Proses menanamkan asuransi sebagai kebutuhan melalui teknologi jadi lebih terbantu di saat pandemi seperti sekarang. Sebab sekarang ini masyarakat jadi terdorong melek teknologi dan memanfaatkan digital untuk beraktivitas. 

“Melalui pendekatan yang berfokus pada nasabah, tidak hanya kami melihat gaya hidup digital para millennial. Tetapi juga bagaimana generasi sebelumnya menjadi lebih melek teknologi,” tutur Maika. 

Peluncuran eServices FWD MAX bertepatan dengan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2020. Momen ini menjadi waktu yang tepat untuk mengenalkan produk-produk dan layanan terbaik FWD Life. Dengan fitur eServices pada aplikasi FWD MAX, FWD Life mengajak nasabah bersemangat untuk ‘berubah’ dan merayakan hidup.

Fitur-Fitur FWD MAX

FWD MAX ini, merupakan perusahaan asuransi yang berorientasi pada pengurangan keluhan nasabah. Setiap pemegang polis kini memiliki kemudahan mengakses dan mengelola polis FWD Life dengan cepat dan mudah. Peningkatan ini melengkapi fitur eFriend.

Sebelumnya fitur eFriend telah diluncurkan untuk nasabah korporasi. Bagi nasabah individu, sekarang hanya perlu menggunakan FWD MAX untuk semua kebutuhannya. Adapun beberapa fitur-fitur yang memudahkan nasabah :

1. My Profile

Fitur my profile bisa digunakan untuk memperbarui data secara mandiri langsung oleh nasabah.

2. My Policies

Fitur ini untuk mengakses data polis nasabah secara real-time dari manapun dan kapanpun selama terakses dengan jaringan internet.

3.My Claim

Pengajuan klaim nasabah, juga tidak harus datang secara tatap muka menemui agen asuransi atau berkirim surat. Pengajuan klaim bisa dilakukan secara online tanpa harus mengirimkan dokumen fisik (syarat dan ketentuan berlaku). 

4.My Payment

Dengan my payment, nasabah bisa melakukan pembayaran premi dan melihat langsung hasil transaksinya. 

5. My Investment

Fitur ini digunakan untuk memantau investasi nasabah secara real-time

6. My Request

Pada aplikasi FWD MAX ada 11 fitur tambahan. Termasuk pengalihan nilai investasi, ganti alokasi premi investasi, penarikan nilai investasi sebagian, aktivasi polis, top-up reguler, top-up tunggal, cuti premi, cetak kartu kesehatan, cetak polis, perubahan data tertanggung, dan ganti cara pembayaran.

Produk-Produk FWD Life

Pada aplikasi FWD Life, tentu saja kita bisa mendapat informasi sebelum memilih apa produk yang tepat buat diri sendiri dan keluarga. Saat ini ada enam produk FWD Life yang bisa dibeli mulai dari Rp 10 ribu per bulan :

  1. FWD Cancer Protection
  2. Asuransi bebas handal.
  3. FWD Loop
  4. Bebas Aksi
  5. Bebas Aksi Flash 3 Bulan
  6. Bebas Rencana

Nah, untuk tahu lebih lengkapnya seperti apa produk-produknya, bisa cek langsung ke aplikasi FWD MAX. Aplikasinya bisa diunduh di Google Play Store dan App Store. Untuk informasi lebih lanjut tentang FWD Life, bisa dibaca juga melalui situs www.fwd.co.id. 

FWD Life Pilihan yang Tepat

Digital Enthusiast Desy Bachir mengatakan, FWD Life merupakan solusi dan pilihan yang tepat, sehingga dapat memecahkan persoalan mengapa orang enggan memiliki asuransi.  Menurutnya di era sekarang, gaya hidup orang ingin yang mudah, cepat dan simple. Hal inilah yang dilakukan oleh asuransi jika ingin menarik masyarakat. 

“Sekarang orang makin sibuk. Kadang tidak punya waktu luang dan tidak sabar untuk mengurusi hal-hal yang menggunaan prosedur panjang. Seperti saya. Jika ingin mengecek polis, transaksi dan lain-lain, saya tentu akan lebih memilih asuransi yang sudah memanfaatkan teknologi digital untuk bertransaksi.(**)

Hari Oeang, Ajak Bangun Kepedulian Lingkungan

Hari Oeang, Ajak Bangun Kepedulian Lingkungan

TAHUKAH kamu, tanggal 30 Oktober setiap tahunnya di Indonesia, diperingati sebagai Hari Oeang? Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bengkulu Ismed Saputra mengatakan, Hari Oeang merupakan bagian dari sejarah bangsa yang tidak boleh dilupakan. Oeang (baca: uang) adalah tanda dari kemerdekaan negara.

Sejarah Hari Oeang

Ismed mengatakan, detik-detik penetapan mata uang Indonesia sebagai alat pembayaran yang sah ikut mewarnai perjalanan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sejarahnya bermula ketika pada 29 Oktober 1946 Menteri Keuangan A. A. Maramis mengeluarkan keputusan yang menetapkan berlakunya Oeang Republik Indonesia (ORI).

Sebelumnya, masyarakat Indonesia masih menggunakan uang Jepang dan uang Javasche Bank peninggalan penjajah Belanda. Atas keputusan Menteri Keuangan, ORI menjadi alat pembayaran yang sah mulai 30 Oktober 1946 pukul 00.00.

Pengumuman ORI menjadi alat tukar yang sah  disampaikan langsung oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta memberikan pidatonya pada 29 Oktober 1946 melalui Radio Republik Indonesia. Bersamaan dengan berlakunya ORI mulai 30 Oktober 1946, saat itu pula usaha penerbitan uang menerbitkan Emisi Pertama uang kertas ORI.

Hari Oeang di Bengkulu

Melepas penyu di Pantai Tapak Paderi.

Melepas penyu di Pantai Tapak Paderi. Foto: Komi Kendy

Peringatan Hari Oeang ke-74 yang jatuh pada 30 Oktober, dimanfaatkan sebagai momen mengajak masyarakat di Bengkulu untuk peduli lingkungan. Seperti yang dilakukan Kantor Wilayah (Kanwil) Ditjen Perbendaharaan Negara Provinsi Bengkulu pada Sabtu, 24 Oktober 2020.

Dibuka dengan giat fun bike, kick off peringatan Hari Oeang dilanjutkan penyerahan donasi untuk yayasan pelestari penyu Lestari Alam Laut untuk Negeri (Latun) dan kelompok nelayan Camar Laut, penanaman bibit pohon camar, ketapang dan pandan laut, serta melepas puluhan tukik (anak penyu) di Pantai Tapak Paderi.

Selain tukik, ada juga dua penyu berukuran besar yang kembali dilepasliarkan ke lautan. Dua penyu ini sebelumnya sempat terjerat jaring nelayan dan diselamatkan ke tempat penangkaran sementara di Tapak Paderi.

Baca Juga : Jejak Zulkarnedi, Pendiri Penangkaran Alun Utara

Hadir pada peringatan Hari Oeang ini Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Dedy Ermansyah, Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bengkulu Ismed Saputra, Direktur Latun Ari Anggoro, Kelompok Nelayan Camar Laut, perwakilan dari Kantor Pajak Pratama (KPP), Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) dan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN).

Setiap tahunnya Hari Oeang diselenggarakan dengan meriah oleh Kanwil Ditjen Perbendaharaan. Seperti dengan menggelar jalan santai dan lain-lain. Dimasa pandemi Covid-19, kegiatan diadakan tidak dengan mengumpulkan orang banyak, namun tetap bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Kegiatan lainnya juga dalam bentuk perlombaan secara daring, kegiatan sosial pemberian santunan dan donor darah. “Termasuk salah satunya yang kita lakukan hari ini sebagai ajakan kepada masyarakat untuk terus peduli terhadap lingkungan,” kata Ismed.

Sementara itu, Plt. Gubernur Bengkulu Dedy Ermansyah mengapresiasi dukungan yang diberikan Kanwil Ditjen Perbendaharaan terhadap pelestarian lingkungan. Terutama penyu yang memang sudah sejak beberapa tahun terakhir merupakan binaannya.

Di momen Hari Oeang, Dedy berharap agar Kanwil Ditjen Perbendaharaan bisa mendorong Pemerintah daerah (Pemda) kabupaten/kota untuk meningkatkan serapan anggaran yang masih rendah. Terutama dimasa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

Menurutnya, saat ini sebagian besar masyarakat tengah mengalami kondisi keuangan yang tidak baik. Bisnis hancur, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan pendapatan menurun bahkan hilang, menjadi persoalan ekonomi dan sosial.

“Apabila Pemda membelanjakan uangnya, semakin banyak uang berputar. Semakin meningkat peredarannya di masyarakat, diharapkan ekonomi masyarakat juga jadi terbantu,” harap politisi Partai NasDem itu.

Target Jadi Ekowisata

Penanaman pohon di kawasan Pantai Tapak Paderi. Foto: Komi Kendy

Penanaman pohon di kawasan Pantai Tapak Paderi. Foto: Komi Kendy

Direktur Latun Ari Anggoro menargetkan penangkaran penyu di Kota Bengkulu bisa menjadi kawasan edukasi dan ekowisata. Terutama di kawasan Tapak Paderi yang menjadi penangkaran penyu buatan dan Pulau Tikus sebagai penangkaran alami.

“Kami berharap bisa mendapatkan dukungan dan founding internasional untuk mewujudkan ekowisata Penangkaran Penyu di Bengkulu,” kata Ari.

Di sekitar Kota Bengkulu-Bengkulu Tengah, ada tiga tempat yang menjadi tempat bertelurnya penyu. Di Pulau Tikus, areanya yang masih alami karena masih sedikit bersentuhan dengan pemukiman masyarakat, di kawasan Teluk Sepang dan kawasan Pekik Nyaring (Kabupaten Bengkulu Tengah)-Pantai Zakat.

“Untuk yang di Teluk Sepang, telur penyu yang ditemukan oleh nelayan, direlokasi ke Tapak Paderi. Karena memang di sana dekat dengan pemukiman. Dalam setahun, ada sekitar 1.200 telur yang ditemukan,” kata Ari.

Penyelamatan penyu yang sudah dilakukan bersama para pemuda pelestari alam laut, sudah dilakukan sejak tahun 2017. Pelan tapi pasti, Latun tidak hanya mengajak para pemuda untuk melestarikan penyu. Tapi juga nelayan setempat yang sekarang sudah membetuk kelompok-kelompok. Seperti kelompok nelayan Camar Laut.

Gerakan Menyelamatkan Penyu

Dukungan pelestarian penyu disampaikan Plt Gubernur Bengkulu Dedi Ermansyah

Dukungan pelestarian penyu disampaikan Plt Gubernur Bengkulu Dedi Ermansyah. Foto: Komi Kendy

Gerakan penyelamatan penyu, lanjut Ari, semakin gencar ketika pada rentang Desember 2019-Februari 2020 ada banyak penyu yang mati di perairan pantai Kota Bengkulu. Latun lantas mengajak nelayan ikut berkolaborasi melakukan upaya penyelamatan. Sosialisasi dan pembekalan pengetahuan tentang penyu dilakukan. Nelayan juga diberikan modal sosial.

Penyu-penyu yang tidak sengaja terjerat jaring diselamatkan. Lalu diantar ke penangkaran sementara di Tapak Paderi. Sebelum dilepasliarkan kembali, penyu yang dirawat, dipasangi metal tagging, microchip juga GPS untuk memantau pergerakannya di lautan. Pemasangan metal tagging juga dilakukan untuk mendapatkan data populasi penyu.

 Selain menggandeng nelayan, Latun juga menggandeng komunitas lainnya untuk sama-sama membangun Tapak Paderi sebagai kawasan edukasi dan ekowisata. Seperti KPA Gendong, Rafflesia Bengkulu Diving Center (RBDC), koperasi, Sapta Pesona Wisata sebagai penyedia jasa wisata Pulau Tikus dan lainnya.(**)

Amanat, Inovasi Bidan Desa Menekan Stunting

Amanat, Inovasi Bidan Desa Menekan Stunting

Pandemi membuat pendapatan warga Desa Sengkuang menurun. Meski begitu, para ibu tidak kesulitan mencari bahan bakanan yang terjangkau harganya dan bergizi. Semua berkat Gerakan Amanat.

TERIKNYA mentari pagi tak menyurutkan semangat 70 perempuan Desa Sengkuang Kabupaten Bengkulu Utara, untuk berkumpul di halaman Puskesmas Tanjung Agung Palik. Sejak pukul 07.00 WIB pagi, mereka kompak mengenakan seragam kaos berwarna hijau, bersiap mengikuti kegiatan Amanat. Gerakan Ayo Makan Tahu dan Tempe.

Begitu Camat Tanjung Agung Palik Benhar tiba di puskesmas, tua, muda, semua serentak mengikuti alunan musik senam jantung sehat dan senam lansia. Setelah senam, semua yang hadir bersama-sama memakan sajian kue berbahan tahu dan tempe. Ada pastel isi tempe, puding tahu, juga bola-bola tahu.

Jumat pagi itu, tepatnya 21 Agustus 2020 menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Setelah delapan bulan menanti, akhirnya Gerakan Amanat di Desa Sengkuang resmi diluncurkan. Seharusnya gerakan ini sudah ingin diresmikan lebih cepat. Namun apa daya. Covid-19 keburu melanda Indonesia di pertengahan Maret.

Gerakan Amanat merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh bidan penggerak desa, Meta Kosasih. Tujuannya adalah untuk menekan angka gizi buruk dan stunting, kondisi dimana tinggi badan anak jauh lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya, yang cukup tinggi di desa ini dan bahkan tertinggi di Kecamatan Tanjung Agung Palik.

Tahun 2018 lalu, jumlah penderita stunting mencapai 60 anak. Sebuah angka yang sangat tinggi bagi ukuran wilayah desa. Bukan hanya stunting, di desa ini juga terdapat anak penderita gizi buruk.

Asupan Gizi Rendah

Leniwati bersama kedua anaknya.

Leniwati bersama kedua anaknya.

Leniwati (40) bisa sedikit bernapas lega. Putrinya, Nela Zakira, yang berusia 5 tahun dinyatakan bebas dari stunting dan gizi buruk. Kini, tinggi badan Nela sudah sekitar 110 cm dan berat 15 kilogram, sesuai dengan standar yang disarankan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tinggi dan berat badan gadis cilik itu bukan lagi dibawah garis normal.

Leni, sapaan Leniwati, menuturkan, dia sudah merasa curiga putrinya itu mengalami kurang gizi dan stunting sejak Nela bersusia 1,5-2 tahun. Bahkan, ketika sudah berusia dua tahun, Neli belum bisa berjalan.

“Cuma bisa berdiri, tidak bisa melangkah. Badannya selalu terlihat lesu dan tidak bertenaga. Setiap timbang ke posyandu, beratnya tidak naik-naik,” tutur Leni.  Tidak hanya itu, Nela kecil sering demam dan bahkan mengalami kejang.

Dalam pikirannya, anak dalam kondisi sehat jika pada saat ditimbang berat badannya selalu naik. “Pokoknya, kalau timbang berat anak naik tiga mato (ons), artinya sehat. Tapi, setiap penimbangan berat badannya tidak naik-naik. Kalaupun naik, sedikit sekali,” kata Leni.

Dia mengakui kalau dirinya kurang maksimal memberikan asupan gizi dan nutrisi untuk anak. Makanan bagi dirinya dan anaknya seadanya saja. “Yang penting ada nasi. Gulainya (lauk) yang ada di sekitar rumah. Kates (pepaya) muda ditumis atau sayur pucuk ubi,” ujar Leni sambil memangku putra bungsunya Wilza Ramadani yang baru berusia tiga tahun.

Tidak hanya asupan yang seadanya, Nela juga tidak menikmati ASI eksklusif hingga dua tahun seperti yang direkomendasikan bagi balita. Leni terpaksa menghentikan pemberian ASI pada Nela ketika usianya memasuki sembilan bulan karena guru muatan lokal Bahasa Rejang ini divonis mengidap pembengkakan jantung dan kelenjar tiroid.

Untuk menjaga agar asupan gizi Nela tetap terjaga, Leni sempat memberikan susu kental manis selama beberapa bulan sebagai pengganti ASI. Tapi, hal itu diketahui oleh bidan desa dan kemudian dihentikan karena kandungan gulanya yang terlalu tinggi. Atas masukan bidan, SKM itu diganti produk lain yang harganya terjangkau namun memiliki kandungan nutrisi lebih baik. Meski tidak ada yang bisa menggantikan kandungan nutrisi ASI.

Leni mengakui dalam benaknya asupan yang bergizi harus selalu terkonsentrasi pada ketersediaan protein hewani, seperti daging, ikan dan sejenisnya. Penghasilannya sebagai guru honor dengan jumlah yang tidak tetap dan pembayarannya dirapel empat bulan sekali, membuat dirinya kesulitan untuk mengatur asupan gizi anak-anaknya. Penghasilan sang suami, Ropi (40), yang bekerja di pemotongan kayu juga tidak tetap, membuat mereka semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka.

Ditambah lagi keluarganya tidak mendapatkan bantuan stimulan apapun dari pemerintah seperti melalui Program Keluarga Harapan (PKH), juga Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Ia bahkan kini tengah menunggak tagihan BPJS Kesehatan, sehingga kesulitan jika ingin berobat. “Karena sudah terlalu lama menunggak, sudah tidak sanggup bayar. Nilainya sekitar Rp 2 jutaan,” tuturnya.

Nela, Bidan Meta dan Gerakan Amanat

Para ibu-ibu peserta senam Gerakan Amanat.

Para ibu-ibu peserta senam Gerakan Amanat.

Nela hanyalah satu dari ratusan balita yang menderita stunting di Kecamatan Tanjung Agung Palik. Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat Tanjung Agung Palik Endang Antoni Jaya mengatakan tahun 2018 terdapat 277 anak mengalami stunting. Sebanyak 60 anak diantaranya berada di Desa Sengkuang.

Tahun 2019 jumlahnya menurun menjadi 71 anak dan 16 anak diantaranya berada di Desa Sengkuang. Per Februari 2020, jumlah kembali turun menjadi 45 anak dan 9 anak diantaranya berada di Desa Sengkuang. “Untuk data terbaru masih kita himpun,” kata Endang.

Endang mengatakan, persoalan gizi ibu dan anak di Desa Sengkuang memang jadi perhatian. Angka stunting yang tertinggi se-kecamatan ada di Sengkuang, yang sebenarnya jarak dari ibu kota provinsi kurang dari 50 kilometer.

Tidak mudah bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Tanjung Agung Palik, khususnya Meta Kosasih, untuk mengubah dan menanamkan pola pikir orang tua akan pentingnya asupan gizi seimbang dan pola hidup sehat. Cukup sulit bagi Meta untuk mengajak para ibu dan kaum perempuan yang mayoritas adalah ibu rumah tangga dan petani untuk bergerak bersama. Jika tidak ke kebun, para ibu memilih di rumah saja.

Siapa sosok bidan Meta Kosasi? Ini dia profilnya.

Meski Meta lahir, besar dan mengenal banyak warga, kegiatan penyuluhan kesehatan yang diadakan setiap Jumat pagi awalnya hanya dihadiri tiga hingga lima orang saja. Pendekatan secara kekeluargaan dan kesukuan pun terpaksa dilakukan agar para ibu mau hadir. Selain itu, Meta juga mengundang perempuan yang dikenal dekat untuk mau datang ke Puskesmas.

Usai senam, Meta mengenalkan sumber protein yang harganya terjangkau tapi kandungan gizinya sangat banyak, yaitu tahu dan tempe. Beberapa nutrisi yang dibutuhkan tubuh, terutama ibu hamil dan bagi pertumbuhan anak, seperti karbohidrat, lemak, protein, zat besi hingga vitamin B, ada di dalam tempe dan tahu.

Meta tidak hanya mengenalkan tempe dan tahu goreng semata. Dia bersama rekan nakes lainnya juga mengajari ibu-ibu untuk lebih kreatif mengolah produk berbahan dasar kedelai ini. “Harapannya tentu saja anak-anak jadi suka. Kalau digoreng terus, anak-anak kurang tertarik. Prinsipnya menjadikan tahu tempe dari bahan makanan yang biasa menjadi luar biasa,” ujar Meta.

Tidak hanya tempe dan tahu, Meta juga berusaha mengenalkan bahan pangan lain yang tidak mahal, namun bergizi baik untuk balita dalam masa pertumbuhan. Masih ada telur danikan. Kepada mereka yang hadir, Meta selalu berpesan agar Jumat selanjutnya datang lagi dengan membawa teman.

Meski harus pergi pulang ke Kota Bengkulu, Meta aktif mendatangi rumah para ibu satu per satu. “Supaya semangat, kami siasati sesekali senamnya kami adakan lomba. Ada hadiahnya. Akhirnya lama-lama warga jadi tertarik,” ujar Meta.

Upaya terus mengampanyekan Gerakan Amanat sempat tersendat ketika ada larangan pengumpulan massa dari Presiden Joko Widodo. Meta dibantu rekan sesama tenaga kesehatan mencari akal agar program swadaya itu terus berjalan. Pengikisan jumlah anak penderita stunting dan gizi buruk, harus tetap berjalan.

Rumah yang didatangi tidak semuanya mudah diakses dengan kendaraan roda empat. Ada juga yang tinggal di gang-gang desa yang jalannya masih tanah dan berbatu. Kunjungan dilakukan sembari memberikan imunisasi bagi balita yang sudah masuk jadwal, juga memberikan konseling pemberian makanan bergizi untuk bayi dan anak.

“Protokol kesehatan, seperti penggunaan alat pelindung diri (APD) lengkap, tetap dijalani. Kami juga membagikan brosur tentang Covid-19,” ungkap Meta. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Saat dampak pandemi Covid-19 mulai dirasakan masyarakat, terutama dari segi ekonomi, gerakan ini menemukan momentumnya. Pandemi memang memukul warga yang sebagian besar adalah petani karet. Harga getah karet sempat anjlok, dari semula Rp 8000 per kilogram menjadi hanya Rp 3000-Rp 5000 per kg, membuat penghasilan warga menurun. Meski begitu, mereka masih dapat membeli bahan pangan yang terjangkau namun memiliki kandungan gizi yang tinggi.

Dari segi harga, tahu dan tempe terbilang murah di Desa Sengkuang. Satu potong tempe seukuran telapak tangan harganya Rp 1.000. Untuk makan sekeluarga, setidaknya perlu 5 potong tempe. Sementara untuk tahu, bisa dibeli dengan harga Rp 2.000 per tiga potongnya.

Intervensi lain

Senam Amanat membuat tubuh menjadi segar bugar.

Senam Amanat membuat tubuh menjadi segar bugar.

Selain memberikan pengetahuan tambahan soal asupan bergizi dengan harga terjangkau, masalah stunting dan gizi buruk tidak terlepas dari faktor kebersihan lingkungan atau sanitasi. Endang mengatakan, pemukiman warga dekat Daerah Aliran Sungai (DAS), tidak sedikit warga yang kerap buang air di sungai atau di tanah.

“Kotoran menguap terkena sinar matahari, terhirup oleh anak-anak yang main di sekitar sungai. Kadang tangan kotor masuk mulut atau ada lalat hinggap di makanan. Ini bisa menjadi penyebab imun anak terpengaruh. Penyerapan gizinya jadi tidak baik karena terpapar bakteri,” terang Endang. Beruntung, sebelum Covid-19 meluas, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sengkuang sudah membangun toilet di rumah-rumah warga.

Stunting pun bisa disebabkan faktor keturunan. Namun, kata Endang, jumlahnya tidak terlalu signifikan. “Stunting karena faktor keturunan ini jumlahnya lebih sedikit. Hanya sekitar 5 persen dari total kasus stunting,” ujar Endang.

Agar persoalan gizi ditengah Pademi Covid-19 tidak terus bertambah, selain Gerakan Amanat, ahli gizi di puskesmas juga mengajak warga memanfaatkan lahan pekarangan di rumahnya untuk ditanami sayuran. Program Pos Gizi desa, yang salah satu kegiatannya adalah pemberian makanan tambahan, juga membantu mempercepat penurunan jumlah penderita stunting di desa ini.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bengkulu Herwan Antoni mengakui, mereka tetap mengupayakan angka stunting di provinsi ini berada di bawah angka nasional, yaitu 20 persen. Kini, di Bengkulu, jumlah anak penderita stunting tercatat berjumlah 85.278 orang atau setara 28 persen angka nasional.

Meski belum ada inovasi gizi yang berkelanjutan, kegiatan pelayanan gizi dan surveilans gizi secara kualitas terus ditingkatkan. Terutama pada empat kabupaten yang menjadi fokus penanganan stunting yang ditetapkan oleh Bappenas, yaitu Kabupaten Kaur, Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan dan Seluma.

“Dalam waktu dekat kami akan menyalurkan logistik berupa vitamin A bayi, balita, ibu nifas, tablet tambah darah untuk ibu hamil dan remaja putri. Makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita kurus, juga tetap diberikan,” ujarnya.

Meski di Desa Sengkuang, Gerakan Amanat cukup ampuh untuk mengurangi angka penderita stunting, Pemerintah Provinsi Bengkulu masih memilih jalan memutar untuk menekan angka stunting di wilayah ini. Dinkes Provinsi Bengkulu berencana memfasilitasi Rembuk Stunting untuk mengetahui penyebab stunting dibandingkan mengadopsi Gerakan Amanat, makan tahu dan tempe, yang terjangkau dan memiliki kandungan gizi yang tinggi di seluruh provinsi. (ken)

Artikel ini ditulis dan dipublikasi di www.rakyatbengkulu.com sebagai hasil liputan Program Fellowship Pemenuhan Gizi Anak Ditengah Pandemi Covid-19 yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Unicef tahun 2020.