Cumi Tumis Kecombrang

Cumi Tumis Kecombrang

MENULIS soal kuliner nusantara, memang nggak ada habisnya. Kebetulan nih, sudah lama nggak nulis soal masak-masak. Kali ini saya ingin menulis resep masakan yang menjadikan hutan sumber makanan. Menunya adalah cumi tumis kecombrang. Tentu sudah pada tahu kan sama kecombrang.

Kecombrang ini disebut juga unji/ honje, merupakan jenis tanaman yang tumbuh di hutan dan juga di sekitar kita. Bentuknya mirip gasing dan lancip di ujungnya. Berwarna merah muda, hingga merah merekah jika sudah membentuk bunga.

Di pasar, masih cukup mudah ditemukan. Kecombrang ini aslinya bisa banget diolah untuk berbagai macam ragam masakan karena memiliki cita rasa tinggi. Aromanya segar, rasanya sedikit pedas dan bisa menggugah selera makan bagi penggemar makanan ini.

Nah, untuk memasak cumi tumis kecombrang tidak sulit didapat. Berikut bahan-bahannya :

Bahan

Bahan memasak cumi tumis kecombrang

Bahan memasak cumi tumis kecombrang

500 gr                   Cumi basah yang masih segar

1/2 ons                 Kecombrang

1/2 ons                 Cabai merah

10 buah                Cabai rawit (sesuai selera)

1 batang               Serai

1 iris                      Lengkuas

3 lembar              Daun Jeruk

5 siung                 Bawang merah

2 siung                 Bawang Putih

Garam, lada, penyedap rasa dan minyak goreng

Cara Memasak

Semua bahan cumi tumis kecombrang dicampur jadi satu

Semua bahan cumi tumis kecombrang dicampur jadi satu

  1. Panaskan minyak goreng secukupnya di penggorengan. Tumis bawang merah, bawang putih hingga tercium aroma wangi.
  2. Masukkan cabai merah dan cabai rawit, lengkuas dan serai yang sudah digepruk, daun jeruk, garam, lada dan penyedap rasa.
  3. Masukkan cumi, tunggu hingga lembut.
  4. Setelah cumi masak, baru masukkan irisan kecombrang.
  5. Kecombrang tidak perlu ditumis terlalu lama.
  6. Angkat, sajikan.

Mudah sekali bukan masak cumi tumis kecombrang. Paling lama untuk memasak menu yang satu ini, hanya memakan waktu tidak sampai setengah jam. Cocok untuk menu harian. Setengah kilogram cumi itu bisa untuk makan dua orang, satu kali makan. Paling nikmat disantap dengan nasi hangat.

Manfaat Kecombrang

Kecombrang memiliki manfaat dan khasiat yang tinggi. Baik itu manfaat untuk kesehatan atau dijadikan untuk kosmetik. Manfaatnya antara lain baik untuk produksi Air Susu Ibu (ASI) bagi ibu menyusui. Mencegah kanker serviks dan payudara, buahnya bisa menjadi obat sakit telinga. Daunnya bisa untuk membersihkan luka karena mengandung antimikroba dan antioksidan.

Selain itu kecombrang juga menguatkan tulang dan gigi, mencegah dehidrasi, mengihlangkan bau mulut  dan bau badan, menjadi pewarna alami untuk lipstik. Untuk lebih lengkapnya tentang kecombrang, silakan baca tulisan saya yang lainnya di blog ini Kecombrang, Hutan dan Pemenuhan Hak Perempuan. Sampai jumpa di tulisan kuliner berikutnya.(**)

Kecombrang, Hutan dan Pemenuhan Hak Perempuan

Kecombrang, Hutan dan Pemenuhan Hak Perempuan

HUTAN SUMBER MAKANAN

Kecombrang merupakan tanaman beraroma khas saat dikunyah. Di Rejang Lebong, tanaman ini tidak hanya menjadikan hutan sumber makanan. Tapi juga menjadi “simbol” pelestarian dan pemenuhan hak perempuan.

**

Tanaman kecombrang memiliki banyak nama
Tanaman kecombrang memiliki banyak nama. Hutan sumber makanan. Foto: canva.com

Perkenalan dengan kecombrang berawal saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Waktu itu setiap libur sekolah, bersama adik lelaki yang nomor dua, kami kerap diajak berlibur ke Sebelat, Kabupaten Bengkulu Utara oleh opung.

Opung merupakan panggilan kakek dari suku Batak. Beliau merupakan bos papa semasa masih bekerja di sebuah perusahaan swasta. Bagi orang Batak, kecombrang biasa diolah menjadi masakan enak. Terutama saat menggelar acara-acara tertentu.

Salah satu yang cukup terkenal adalah ikan mas dimasak arsik. Pada suatu kesempatan, jadinya ikut memakan menu asing bagi lidah orang Jawa seperti saya ini.

Kecombrang yang dijual di pasar tradisional.
Kecombrang yang dijual di pasar tradisional. Foto: Komi Kendy

Dimasak Ala Rumahan

Di rumah, mama memasak kecombrang untuk dijadikan urap atau lotek. Jika dimasak urap, kecombrang dicampur dengan kelapa parut yang agak muda, ditambah dengan bumbu, bawang dan cabai sebagai cita rasa.

Sayur rebusan lainnya yang ikut dicampur ada kangkung, pucuk ubi, toge, kacang panjang dan lain-lain. Sementara kalau dilotek, bahan sayurnya pun sama saja. Bedanya ada campuran kuah kacang.

Saya sendiri pernah memasak kecombrang tumis cumi. Walau belum ada penelitian yang membuktikan, konon kata orang-orang tua, kecombrang menjadi bahan makanan dari hutan yang bisa merangsang produksi Air Susu Ibu (ASI). Kebetulan saat ini saya sedang menyusui anak kedua.

Yang saya suka dari kecombrang adalah aromanya yang segar, ibarat jeruk nipis. Di lidah, agak terasa sedikit pedas. Bahan bakunya mudah dicari di pasar dan tidak mahal. Di pasar, kecombrang dijual Rp1.000-Rp2.000 per ons. Sekali masak, dua ons cukup untuk satu hidangan sekeluarga.

kecombrang-hutan-sumber-makanan (3)
Cumi tumis kecombrang. Foto: Komi Kendy

Cara memasak kecombrang tumis cumi, cukup sederhana. Pertama, bersihkan dulu cuminya. Khususnya tinta, supaya masakannya tidak berwarna hitam. Lalu iris bawang merah dan bawang putih.

Bahan lainnya adalah lengkuas diiris tebal, lalu digepruk (tumbuk kasar jangan sampai hancur). Tambah irisan cabai merah dan lada sebagai bumbunya. Bagi yang suka pedas, bisa tambah rawit. Tumis semua bumbu hingga wangi.

Selanjutnya campur dengan kecombrang yang sudah diiris dan cumi yang sudah dibersihkan. Masak hingga cumi lembut. Sangat nikmat disantap dengan nasi putih hangat. Untuk membaca lebih lengkap resep cumi tumis kecombrang, boleh banget baca di artikel lainnya di blog ini.

Menurut saya, orang perlu tahu tentang kecombrang. Sebab tanaman yang menjadikan hutan sumber makanan ini kaya akan manfaat dan khasiat. Sangat baik dikonsumsi untuk menjaga kesehatan. Berikut ciri-ciri dan khasiat tanaman kecombrang :

Dipanen dari Hutan TNKS

Di Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, kecombrang tidak hanya menjadikan hutan sumber makanan yang diolah untuk konsumsi sehari-hari. Di Desa Pal VIII tepatnya, ada Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) yang memproduksi kecombrang menjadi aneka makanan dan minuman kemasan. Seperti wajik, dodol dan sirup.

Selain itu mereka juga membuat keripik bawang dengan campuran daun pakis yang bahannya bakunya berasal dari hutan.

Menariknya, kecombrang dan pakis itu dipanen dari lahan yang masuk wilayah kawasan konservasi  Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). Arealnya masuk pula sebagai kawasan hutan yang berstatus ASEAN Heritage Parks dan menjadi bagian dari situs warisan dunia (heritage sites).

Di sana, hutannya juga sudah ada yang menjadi hutan wisata yang dikenal masyarakat sebagai hutan Madapi (Mahoni Damar Pinus).

Perempuan anggota KPPL Maju Bersama dalam sebuah pertemuan di Desa Pal VIII. Foto: Komi Kendy

KPPL Maju Bersama berkelompok sejak Juli 2017. KPPL ini menjadi kelompok perempuan pertama di Indonesia yang mendapatkan hak akses memanen kecombrang liar dan membudidayakannya di areal taman nasional. Hak akses ini didapat setelah KPPL yang beranggotakan 20 perempuan menjalin kemitraan konservasi dengan Balai Besar TNKS. Luas lahan yang boleh dikelola mencapai 10 hektare.

Di areal 10 hektare itulah, mereka menerapkan 3P di kawasan konservasi. Perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. Perjanjian kerjasama kemitraan konservasi antara Kepala Balai Besar TNKS Tamen Sitorus dengan Ketua KPPL Maju Bersama Rita Wati sudah disepakati pada 5 Maret 2019 lalu.

Awalnya KPPL mengidentifikasi ada 26 jenis makanan dari hutan TNKS. Ada tepus, cemploka, pisang hutan, kemiri dan lainnya. Lalu setelah dianalisa bersama-sama, diputuskan kecombrang dan pakis sebagai bahan makanan dari hutan yang bisa dikelola di TNKS.

Penetapannya dianalisis berdasarkan potensi banyak atau tidak tanaman tersebut, apakah dalam proses menanam dan panen merusak kawasan hutan atau tidak. Lalu ada pertimbangan jarak antara areal tumbuhnya kecombrang dan pakis dengan pemukiman.

Mengutip liveindonesia.id, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melansir data ada 6.112 kelompok masyarakat di Indonesia yang mendapatkan hak kelola kawasan hutan hingga per November 2019.  Luas kawasan yang dikelola mencapai 3,436 juta hektare.

TNKS memiliki luas 1.389.510 hektare. Kawasannya membentang di Provinsi Bengkulu, Jambi, Sumatera Barat dan Provinsi Sumatera Selatan. Di Bengkulu, luas kawasan TNKS mencapai 348.841 hektare. Wilayahnya ada di Kabupaten Rejang Lebong 25.815 hektare, Lebong 98.287 hektare, Bengkulu Utara 71.702 hektare dan Kabupaten Mukomuko 150.036 hektare.

Di Rejang Lebong, luas kawasan TNKS mencapai 51,19 persen dari luas kawasan hutan di Rejang Lebong (50.428 ha) dan berada di 26 desa di lima kecamatan. Salah satunya Desa Pal VIII Kecamatan Bermani Ulu Raya.

Sebagai mitra konservasi, KPPL Maju Bersama sekarang punya hak memanen dan membudidayakan kecombrang dan pakis. Mereka juga berkewajiban menjaga kelestarian TNKS. Setiap Minggu, ibu-ibu yang tergabung di KPPL melakukan pemeliharaan atau panen. Seninnya mereka memproduksi wajik dan sirup di Sekretariat Pusat Produk Olahan Pakis dan Kecombrang dari TNKS.

Selain mendapat dukungan dari Balai Besar KPPL Maju Bersama dalam beraktivitas mereka mendapatkan dukungan dari Non Timber Forest Product Exchange Proggrame (NTFP-EP) LivE dan Universitas Bengkulu.

Dodol, stik dan sirup dari kecombrang. Foto: Komi Kendy
Wajik dan sirup dari kecombrang, juga stik bawang pakis. Foto: Komi Kendy

Wajik dari Kecombrang

Wajik dan sirup kecombrang sekarang menjadi makanan yang tengah diupayakan untuk menjadi produk lokal yang bisa dijual di pasaran oleh KPPL Maju Bersama. Senin, 10 Februari lalu saya sempat bertanya langsung proses pembuatannya dengan ibu Rita Wati di Desa Pal VIII. Untuk kesana, dari Kota Bengkulu menempuh perjalanan 2,5-3 jam mengendarai mobil.

Cara membuat wajik kecombrang cukup mudah dan bisa dilakukan di rumah. Membuat wajik dibutuhkan bahan-bahan berupa beras ketan, kecombrang, gula pasir dan kelapa parut yang tidak terlalu tua (kelapa untuk membuat inti).

Adonan utamanya adalah beras ketan yang ditanakkan. Setelah masak campur dengan kelapa parut dan gula pasir. Untuk kecombrangnya, rebus hingga matang lalu digiling halus sebelum masuk ke adonan utama.

“Campur semuan bahan sampai rata. Nanti ambil setengah sendok untuk dibentuk. Udah tinggal  dibungkus ke dalam kertasnya (kertas khusus pembungkus wajik),” tutur ibu Rita Wati sambil menyodorkan kantong plastik kemasan untuk mengemas wajik yang akan saya bawa pulang.

Wajik kecombrang ditimbang sebelum dikemas. Foto: Komi Kendy
Wajik kecombrang ditimbang sebelum dikemas. Foto: Komi Kendy

Pemenuhan Hak Perempuan

Berbicara tentang hutan sumber makanan, tidak lepas dari hak perempuan atas lingkungan hidup dan perempuan. Di desa khususnya, perempuan bisa dibilang paling dekat dan sangat bergantung pada hutan untuk menjalankan aktivitasnya. Paling utama, hutan sumber makanan, udara dan air bersih.

Hutan yang terjaga kelestariannya akan menghasilkan bahan makanan yang baik untuk dikonsumsi keluarga. Karena hutan sumber makanan. Hutan menghasilkan udara yang baik untuk kesehatan keluarga. Hutan juga menjadi sumber air bersih. Dimana air bersih menjadi kebutuhan utama manusia, termasuk perempuan.

Dengan memberikan akses kepada perempuan untuk mengelola kawasan hutan untuk membudidayakan dan memanen kecombrang dan pakis, artinya hak perempuan terhadap lingkungan sudah mulai terpenuhi. Bahwasanya perempuan memiliki peran besar terhadap ketangguhan dan ketahanan pangan, serta peduli terhadap isu lingkungan dunia yakni perubahan iklim.

Hak-hak perempuan atas lingkungan dan hutan sesuai dengan Undang-undang (UU) Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU 41/99 tentang Kehutanan dan UU 1945.

Adapun hak tersebut antara lain hak memanfaatkan hasil hutan, hak akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, hak untuk berperan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, hak mengadu atas dugaan pencemaran lingkungan dan hak mengajukan usul dan atau keberatan terhadap rencana dan atau kegiatan yang dapat menimbulkan dampak lingkungan.

Didapatnya hak tersebut diakui Rita Wati. Masyarakat yang dulunya takut melihat aparat polisi hutan, kini justru bisa ikut berkontribusi dan berkolaborasi untuk merawat kelestarian hutan. “Kini suara kami didengar. Kami mendapat akses mengelola lahan sebanyak 10 hektare di TNKS. Kami juga bisa melakukan audiensi dengan bupati, gubernur, untuk menyampaikan aspirasi,” kata Rita.

Walhi dan Pelestarian Hutan

Di Indonesia, ada berbagai Non Government Organization (NGO) yang peduli terhadap isu-isu lingkungan. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) salah satunya. Selama ini, nama Walhi sudah  sangat dikenal sebagai organisasi yang gencar melakukan kampanye lingkungan hidup. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang organisasi ini, silakan kunjungi situs Walhi.

Namun meski sudah ada Walhi, KPPL Maju Bersama, kelomok dan organisasi lain, pemerintah, juga elemen lainnya yang gencar mengampanyekan pentingnya menjaga lingkungan dan hutan, kita seluruh masyarakat Indonesia tentunya harus ikut berperan. Jangan sampai kerusakan lingkungan membuat hutan tidak lagi menjadi sumber makanan.(**)

Artikel ini diikutsertakan pada Forest Cuisine Blog Competition bertema Hutan adalah Sumber Pangan yang diadakan Walhi dan Blogger Perempuan.

#PulihkanIndonesia #RimbaTerakhir #WALHIXBPN #HutanSumberPangan #BlogCompetitionSeries 

Mombassador SGM Eksplor

Mombassador SGM Eksplor

PERJALANAN AGAR SI KECIL JADI ANAK GENERASI MAJU

BISA dibilang perjalanan menjadi Mombassador SGM Eksplor adalah berkat keberadaan Sean Kilimanjaro. Dia anak lelaki pertamaku. Empat tahun usianya kini. Sejak Sean dalam kandungan, bunda mulai banyak cari referensi soal parenting, nutrisi dan gizi supaya mendapat informasi untuk memantau tumbuh kembang anak. Kan saya pengennya Sean menjadi anak generasi maju.

Pas usia 3 bulan, Sean sempat mengonsumsi susu SGM Ananda Soya untuk usia 0-6 bulan. Saat itu kami sempat mengira Sean alergi karena di punggung, perut, leher, tangan dan kaki tumbuh bentol-bentol merah.

Dua kali periksa ke dokter anak, dibilang begitu. Sean alergi dari ASI bundanya. Untuk sementara disuruh membatasi Air Susu Ibu (ASI) dan mengonsumsi makanan yang tidak amis-amis. Karena ragu, kami pun ke dokter kulit. Hasilnya, Sean bukan alergi dari ASI bunda. Tapi kena scabies.

Pengalaman dari penyakit kulit yang sempat dialami Sean, bundanya makin aktif browsing dan gabung di grup facebook yang isinya membahas soal parenting, nutrisi dan gizi. Gabung juga grup-grup blogger yang membernya didominasi perempuan. Seperti Blogger Perempuan dan Kumpulan Emak Blogger.

Dari grup-grup Facebook, sekitar pertengahan Januari 2018 ada informasi bahwa SGM Eksplor mengundang bunda-bunda yang aktif di media sosial untuk gabung di Mombassador SGM Eksplor. Langsung dah diisi formnya. Alhamdulillah setelah proses seleksi, dinyatakan lolos dan bergabung di salah satu komunitas bunda terbesar di Indonesia.

Mombassador SGM Eksplor

Mombassador SGM Eksplor saat mengikuti outbound di Candi Prambanan.

Tentang Mombassador SGM Eksplor

Bunda sudah kenal belum apa itu Mombassador SGM Eksplor? Mombassador SGM Eksplor dibentuk oleh PT. Sarihusada Generasi Mahardika, sebuah perusahaan produsen susu untuk anak, ibu hamil dan menyusui. Komunitas ini bertujuan mengajak bunda-bunda Indonesia menjadi lebih paham dan peduli terhadap gizi, nutrisi dan perkembangan anak.

Harapannya kelak para bunda dapat mempersiapkan anak-anak menjadi anak generasi maju dan memiliki lima potensi anak generasi maju. Yakni mandiri, supel, kreatif, percaya diri, tumbuh tinggi dan kuat.

Proses Seleksinya

Untuk menjadi Mombassador, sudah barang tentu kita mesti ikut seleksi bunda. Pertama, kita mendaftar melalui form yang biasanya disampaikan melalui FanPages Facebook Aku Anak SGM atau juga info dari komunitas seperti Blogger Perempuan dan Komunitas Emak Blogger. Jadi bunda jangan lupa like Aku Anak SGM dan pantau terus informasi terupdatenya.

Lolos diseleksi pertama, ada seleksi lagi melalui pengisian form. Selanjutnya setelah lolos tahap dua, ada telepon masuk dari tim community SGM Eksplor yang memberikan informasi bahwa saya lolos. Duhh senangnya. Begitu menutup telepon, beneran lompat-lompat kegirangan. Yogja, Yogja. Yap, pengumuman lolos ini sekaligus undangan buat berangkat ke acara Temu Bunda di Kota Yogjakarta. Plus mengunjungi secara langsung pabrik SGM Eksplor.

MOMEN MENARIK, YA YOGJA

Bagi saya selama bergabung di Mombassador SGM Eksplor adalah ketika mendapat undangan ke Kota Gudeg itu pada Maret 2018 lalu. Istimewanya, ini adalah pertama kalinya ke Yogyakarta sendirian setelah dewasa. Dulu ke sana masih anak-anak. Terus untuk pertama kalinya diajak ke pabrik susu SGM Eksplor. Ikut workshop di Hotel The Alana Yogyakarta dan outbound di Prambanan.

Biar kata cuma dua malem menginap, tapi rasanya senang sekali. Untuk pertama kalinya saya berkumpul bersama bunda-bunda lain dengan berbagai latar belakang. Ada yang ibu rumah tangga, influencer, blogger, vlogger penyiar, guru, pekerja media dan lain-lain. Semuanya punya satu kesamaan. Sama-sama senang menebar manfaat melalui media sosial dan menginginkan anaknya menjadi anak generasi maju.  

Para Mombassador foto bersama di depan pabrik.
Mombassador SGM Eksplor berada di depan pabrik SGM

Benefit Mombassador SGM Eksplor

Kalau ditanya benefit apa yang didapat dengan bergabung dengan Mombassador SGM Eksplor, jawabannya jelas tidak bisa terhitung lagi. Jadi banyak mendapat informasi yang bermanfaat seputar tumbuh kembang anak dan nutrisi melalui live chat di IGTV @Aku Anak SGM dan fanspage Aku Anak SGM. Bunda juga bisa mendapatkan informasi tersebut melalui situs resmi Aku Anak SGM.

Di komunitas Mombassador SGM Eksplor, saya juga jadi paham akan pentingnya personal branding. Bagaimana membangun citra yang baik, bukan hanya di dunia maya melalui media sosial saja. Tapi juga di dunia nyata. Bagaimana pikiran, perilaku, ucapan dan penampilan bisa menjadikan diri kita sebagai perempuan yang luar biasa. Memiliki etiket, etika dan berkarakter.

Terus yang bikin saya bangga nih, tahun 2019 mendapat kesempatan menjadi Bundafluencer. Semoga tahun 2020 ini bisa kepilih lagi. Karena tahun lalu itu saya tidak mendapat izin suami berangkat ke Jakarta lantaran hamil anak kedua.

Benefit lainnya, sering voucher belanja dan transferan GoPay dari berbagai program yang diikuti. Dapet tas cantik, kain batik sebagai “baju seragamnya” Mombassador. Soal pertemanan, jaringan pun bertambah. Sekarang banyak kenal sama bunda-bunda inspiratif melalui media sosial.

Tak kalah pentingnya nih. Jadi dapet banyak ilmu soal dunia digital. SGM Eksplor rajin bener mengadakan workshop soal blog, fotografi dan media sosial. Yang jauh dan belum bisa merapat, difasilitasi melalui Kulwap alias Kuliah WhatsApp. Pokoknya bahagia banget bisa gabung di komunitas ini. Pengalaman menjadi Mombassador Eksplor juga bisa dibaca melalui artikel Tahun Baru Semangat Baru Bersama SGM Eksplor 

Nah, tahun ini SGM Eksplor berencana menambah member lagi. Sepertinya akan dibuka batch 8. Bunda-bunda yang ingin bergabung, silakan ikutin terus postingan Aku Anak SGM supaya tidak ketinggalan informasi. Semoga makin banyak lagi bunda yang bergabung, mendapat manfaat dan menebar manfaat untuk bunda-bunda lainnya.(**).