Kawasan wisata mangrove Badrika.
TRAVELING

Wisata Mangrove Kece di Bengkulu, Nomor Empat yang Terbaru

Bengkulu sepanjang 525 kilometer merupakan daerah pesisir. Dari ujung Kabupaten Kaur di arah selatan, hingga Mukomuko di bagian utara. Sebagai daerah pesisir, maka sebagian wilayahnya adalah  kawasan mangrove.

Di Kota Bengkulu, luas hutan mangrove mencapai 247,61 hektare. Termasuk 118,14 hektare berstatus Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang-Pulau Baai. Keberadaan hutan mangrove, tentu saja memiliki banyak fungsi yang sangat bermanfaat bagi keberlangsungan manusia dan mahluk hidup lainnya. Apa fungsinya? Kawasan mangrove memiliki berbagai macam fungsi. Antara lain :

Mencegah Kerusakan Parah Akibat Tsunami

Pesisir Bengkulu dikenal sebagai kawasan rawan tsunami. Seban Provinsi Bengkulu sendiri merupakan daerah rawan gempa. Yakni berada di sesar Lempeng Indo-Autralia. Jika kawasan pesisir pantainya memiliki hutan mangrove yang baik, maka air pasang atau tsunami bisa meminimalisir dampak kerusakan.

Mencegah Abrasi dan Erosi

Abrasi adalah pengikisan permukaan tanah akibat hempasan ombak. Sedangkan Erosi merupakan pengikisan permukaan tanah oleh aliran air. Mangrove memiliki akar yang efisien dalam melindungi tanah di wilayah pesisir, sehingga dapat menjadi pelindung pengikisan tanah akibat air. Akarnya mengikat tanah sehingga tak lekas menyusut.

Mencegah Intrusi

Intrusi laut merupakan peristiwa perembesan air laut ke tanah daratan. Intrusi dapat menyebabkan air tanah menjadi payau sehingga tidak baik untuk dikonsumsi. Nah, kawasan mangrove memiliki fungsi mengendapkan lumpur di akar-akar pohon bakau sehingga mencegah intrusi air laut ke daratan.

Penyaring Alami

Perhatikan. Hutan mangrove biasanya akan dipenuhi akar pohon bakau dan berlumpur. Akar tersebut dapat mempercepat penguraian limbah organik yang terbawa ke wilayah pantai. Selain pengurai limbah organik, hutan mangrove juga dapat membantu mempercepat proses penguraian bahan kimia yang mencemari laut seperti minyak dan deterjen, serta penghalang alami terhadap angin laut yang kencang pada musim tertentu.

Ekosistem Satwa

Hutan mangrove merupakan ekosistem alias rumah bagi banyak satwa. Akar tongkat pohon mangrove memberi zat makanan bagi hewan yang hidup di sekitarnya. Ikan dan udang yang ditangkap di laut dan di daerah terumbu karang sebelum dewasa memerlukan perlindungan dari predator dan suplai nutrisi yang cukup di daerah mangrove ini.

Jadi Tempat Wisata

Di banyak daerah, hutan mangrove dijadikan sebagao tempat wisata. Baik pemerintah pusat melalui Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA), pemerintah daerah maupun swasta, menyediakan fasilitas seperti area tracking.

Di Kota Bengkulu, setidaknya ada empat tempat wisata mangrove yang paling kece. Dimana saja?

1. Kampung Sejahtera

Perahu nelayan yang dijadikan sebagai sarana wisata.
Perahu nelayan yang dijadikan sebagai sarana wisata.

Spot mangrove yang satu ini sempat booming awal tahun 2017. Penyebabnya karena di sana dibangun sebuah dermaga pinggir sungai yang instagramable alias bagus buat sesi foto. Lokasinya berada di Kelurahan Sumber Jaya Kecamatan Kampung Melayu.

Paling gampang menuju ke sini, lihat gang masuknya yang berada tepat di seberang Tempat Penampungan Ikan (TPI) Pulau Baai. Selain foto-foto di pinggir dermaga, pengunjung juga bisa menyusuri hutan mangrove melalui jalur sungai.

Ada kapal-kapal nelayan yang sengaja disewakan untuk mengangkut pengunjung. Biayanya tidak mahal hanya berkisar Rp 5.000-Rp 10.000 per orang. Pengunjung akan diantar berkeliling menyusuri sungai selama 15-20 menit.

2. Taman Wisata Family

Hutan mangrove di Taman Wisata Family
Hutan mangrove di Taman Wisata Family

Taman Wisata Family merupakan taman hiburan buatan yang ada di perbatasan Kota Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Tengah. Lokasinya berada di pesisir Sungai Hitam.

Meski ada arena lain seperti flyng fox, perahu bebek, komidi putar dan lain-lain, namun tempat wisata ini mengunggulkan kawasan wisata mangrove sebagai tempat wisaya andalan. Ada spot khusus hutan mangrove dengan pondok-pondok menarik, juga menyisiri sungai dengan perahu.

Setiap pengunjung dikenakan tiket masuk Rp 10.000 per orang. Jika ingin naik wahana lain, ada biaya tambahan. Misalnya untuk naik perahu, biayanya Rp 15.000. Demikian pula dengan flying fox. Bagi yang ingin outbound bersama perusahaan atau komunitas, ada paket khusus dan menarik.

3. Taman Wisata Badrika

Spot favorit di Taman Badrika
Spot favorit di Taman Badrika

Taman Wisata Badrika berada di kawasan Jalan Jenggalu, Kelurahan Lingkar Barat. Kawasan mangrove di taman ini dijadikan sebagai restoran dan arena outbound. Jembatan yang dibangun oleh pengelolanya ke arah muara sungai, menjadi tempat yang menarik untuk foto-foto.

Jika ke sini, pengunjung memang tidak dikenakan biaya masuk. Namun setidaknya harus memesan minuman karena Taman Wisata Badrika juga merupakan tempat usaha restoran. Paling asyik duduk di sini sore hari, sembari menikmati matahari terbenam. Jangan lupa pesan kelapa muda ya.

4. Tracking Mangrove Pasir Putih

Jalan masuk menuju jembatan Tracking Mangrove di TWA Pasir Putih
Jalan masuk menuju jembatan Tracking Mangrove di TWA Pasir Putih

Jalur tracking mangrove terbilang masih baru yang dibuat oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu. Kalau mau ke sini, pintu masuknya bisa melalui gerbang Taman Wisata Alam (TWA) Pasir Putih. Biasa dikenal dengan Pantai Panjang ujung.

Sebelum masuk ke area ini, pengunjung wajib membayar tiket masuk Rp 5.000 per orang. Biaya itu belum termasuk parkir kendaraan.

Setelah melintasi gerbang, pengunjung mengikuti jalan selebar 5 meter hingga ke ujung pantai. Lalu belok ke kiri hingga bertemu dengan tulisan Tracking Mangrove. Sejujurnya sih, dari pintu masuk pengunjung apalagi yang pertama kali ke sana, pasti bakal merasa sedikit khawatir.

Khawatirnya karena jalur dari gerbang menuju lokasi tracking, pepohonannya sudah rimbun. Kesannya juga sepi karena sedikit kendaraan yang lalu lalang. Padahal kalau sudah sampai ke ujung pantai, di sana banyak orang mancing. So, aman lah ya.

Di tracking mangrove yang lokasinya dibuat seperti jembatan sepanjang 500 meter, pengunjung bisa jalan-jalan santai. Atau jika ingin jogging udara segarnya jadi bikin makin fresh. Untuk lokasi berfoto juga instagramable.

Tipsnya jika ingin berkunjung  Tracking Mangrove, yang pertama sebaiknya menggunakan lotion anti nyamuk. Asli, nyamuknya besar-besar. Mungkin karena banyak air tergenang.

Tips lainnya, bawa minum dan camilan dari luar. Di Tracking Mangrove nggak ada yang jualan. Tapi jangan lupa bawa lagi sampahnya ya. Jangan sampai TWA yang tujuannya menjadi tempat wisata asri, malah jadi penuh dengan tumpukan sampah.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top