Suminah, Pengusaha Sederhana Peduli Masyarakat

Suminah, Pengusaha Sederhana Peduli Masyarakat

SUMINAH atau akrab disapa ibu Sum merupakan pengusaha industri rumahan kerajinan dan panganan olahan di Desa Harapan Makmur Kecamatan Pondok Kubang, Kabupaten Bengkulu Tengah. Tidak hanya dikenal sebagai pengusaha, wanita ini juga dikenal sebagai sosok yang memiliki kepedulian dan melakukan pemberdayaan dengan membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Anggrek Putih.

Hasil kerajinan dari usahanya yang paling dikenal adalah memproduksi sepatu dari batang pisang dan mengolah tanaman umbi ganyong menjadi tepung, lalu diolah untuk berbagai jenis panganan siap saji.

Dari usahanya yang berawal dari modal Rp 150 ribu sejak tahun 1995, kini aset yang dimilikinya hingga setengah miliar. “Kalau omzet, bisa mencapai Rp 20 juta per bulan,” tutur Suminah saat dijumpai di kediamannya di Dusun II No. 119 RT. 04 Desa Harapan Makmur.

Di desanya, Suminah dikenal sebagai sosok yang memiliki kepedulian sosial. Keterampilannya tidak hanya untuk dirinya sendiri. Selain melibatkan warga setempat sebagai karyawan, ia juga berbagi ilmu memberikan berbagai keterampilan terhadap warga sekitar tempat tinggalnya.

Warga-warga yang sudah dilatih keterampilan, diajak bergabung ke dalam KUB Anggrek Putih yang memiliki cabang-cabang atau sub kelompok. Anggotanya kini sudah mencapai 300 orang lebih.

Ratusan warga itu dibagi-bagi menjadi kelompok untuk membuat aneka kerajinan, berternak lele, pengolahan daging bakso, dodol, sirup kalamansi batu akik dan yang terbaru mengolah minyak kelapa hasil fermentasi atau disebut Virgin Coconut Oil (VCO) kemasan. Penjualannya bukan hanya di wilayah Bengkulu saja, tapi sudah ke provinsi lain berkat penjualan secara online.

Seiring dengan makin banyaknya cabang-cabang usaha dalam KUB, kebutuhan akan modal berupa bahan baku dan peralatan sangat diperlukan. Dari hasil keuntungan usahanya, Suminah memberikan bantuan modal secara cuma-cuma kepada warga yang berkeinginan membuka usaha.

Persoalan modal dan kendala peralatan juga tidak sulit diatasi berkat jaringan dan kemampuannya mencarikan bantuan melalui program pemerintah. Baik daerah maupun pusat.

“Paling kembalinya kalau misalnya ada yang panen lele, saya diberi ala kadarnya. Selain itu tidak ada kembali-kembali modal. Ya ikhlas saja membantu warga di sini,” tutur wanita kelahiran Nganjuk, 12 Agustus 1968 itu dengan ramah.

Keahliannya menjadi motivator bagi lingkungan warga sekitar menarik perhatian pemerintah daerah. Suminah yang tadinya menjadi peserta pelatihan-pelatihan didaulat menjadi pembicara dalam sejumlah program-program pemerintah. Menjadi motivator sekaligus berbagi keterampilan.

Selain itu, Suminah juga mencoba membuka jaringan ke pemerintah. Sehingga jika ada program-program bantuan, bisa disalurkan ke desanya dan bermanfaat bagi warga. Sejumlah warga juga ada yang “disekolahkan” olehnya ke Sidoarjo untuk belajar membuat sepatu sejak tahun 2012.

Tiap tahun jumlahnya terus bertambah. Hingga 2015 mendatang warga yang dikirim belajar membuat sepatu menjadi lima orang. Sebagian dana untuk mengirim warga ikut pelatihan, dicarikan oleh Suminah.

Bagi Suminah, kerelaannya membantu warga Desa Harapan Makmur tak lepas dari keprihatinannya jika kaum perempuan hanya menunggu nafkah dari suami. Apalagi rata-rata penghasilan warga di sana tidak terlalu besar. Mata pencaharian warga desa tersebut sebagian besar adalah buruh bangunan dan buruh tanam.

Awalnya ia hanya mengajak tetangga menanam tanaman rumahan seperti cabai. “Paling tidak kalau nanti sudah berbuah cabainya, ibu-ibu tidak perlu beli. Bibit saya bagikan, polybagnya pun saya kasih,” ujarnya.(ken)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *