Siapkan Buku “Bengkulu, I Adore”, Angkat Bengkulu ke Nasional (2)

Siapkan Buku “Bengkulu, I Adore”, Angkat Bengkulu ke Nasional (2)

Maya Miranda Ambarsari memang sudah 30 tahun meninggalkan Bumi Rafflesia. Namun baginya kampung halaman tetap tidak bisa dilupakan. Liburan bersama keluarga di awal Oktober lalu ke sejumlah spot wisata di Bengkulu, membuatnya punya keinginan besar mengenalkan Bengkulu ke nasional. 

****

KITA harus bangga menjadi orang Bengkulu. Begitu kata saya saat memberi motivasi di SMPN 2 Bengkulu beberapa waktu lalu, saya bilang ke adik-adik di sana. Kuliah jauh-jauh ke luar negeri sekalipun, kita tetap harus membanggakan Bengkulu,” tutur Maya.

Maya Miranda memang sempat singgah ke SMPN 2 pada 10 Oktober lalu. Kunjungannya ke Bengkulu, lanjut Miranda, tadinya memenuhi undangan Gubernur Bengkulu Dr. H. Ridwan Mukti, MH. Ia diundang untuk menyaksikan penutupan Festival Tabot.

Maya juga sempat ke Benteng Marlborough dan ke beberapa lokasi wisata lainnya. “Lebih luar biasanya lagi, saat saya pulang ke Bengkulu ada bunga Rafflesia dan bunga Kibut yang mekar bersamaan. Saya jadi melihat kekayaan sumber daya alam Bengkulu sangat berpotensi untuk dijadikan wisata andalan,” ungkap wanita yang tahun ini baru saja menerima penghargaan “Srikandi Pendidikan” dari Women’s Obsession dan “Kartini Masa Kini” dari MNC Life Style.

Kurun 30 tahun sejak ia pindah ke Jakarta, Maya menilai Bengkulu belum banyak perubahan. Khususnya dari segi pembangunan. Salah satu penyebab lambannya pembangunan di Bengkulu, maya memperkirakan karena belum banyak investor yang masuk.

Maya juga sempat melintasi jalur darat dengan rute Jakarta-Lampung-Bengkulu. Dari segi infrastruktur jalan, kondisi jalan lintas di Bengkulu banyak yang rusak. Jalan mulus lebih ditemui saat masih berada di wilayah Provinsi Lampung.

Lalu terkait potensi Bengkulu, juga masih kurang promosi. Misalnya saja pada Senin (24/10), ketika di Jakarta ia mengundang 32 media untuk konferensi pers. Ternyata masih banyak wartawan media nasional yang belum tahu tentang adanya Festival Tabot setiap 1-10 Muharram di Bengkulu.

“Sungguh sayang kalau potensi wisata yang punya efek domino besar bagi kesejahteraan masyarakat, tidak dimaksimalkan penggarapannya. Perlu dikemas lebih cantik lagi agar makin banyak wisatawan yang datang ke Bengkulu,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Maya pun berniat menulis buku berjudul “Bengkulu, I Adore”. Buku ini akan berisi segala sesuatu tentang Bengkulu. Mulai dari kesenian, budaya, wisatanya. “Diharapkan buku ini nantinya bisa menggugah makin banyak orang untuk datang lagi ke Bengkulu. Dari kunjungan saya kemarin ke Bengkulu, banyak informasi yang saya dapatkan,” ujarnya.

Selain buku, Maya pun akan memanfaatkan saluran komunikasi lainnya untuk membantu pemerintah daerah dalam melakukan destination branding Bengkulu. Misalnya, dengan membuat film yang mengeksplorasi kekayaan Bengkulu, memberikan pelatihan bagi masyarakat Bengkulu dalam mengemas produk-produk asli daerahnya.

Seperti mengemas aneka kulinernya hingga bernilai jual tinggi. Mengajak persatuan orang Bengkulu yang tinggal di Jakarta untuk turut berperan mengenalkan Bengkulu ke daerah luar. (ken)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *