Pendakian Gunung Dempo

DIANTARA gunung yang pernah didaki, Gunung Dempo yang paling berkesan. Pengalaman pendakian perdana ke puncak 3.159 meter diatas permukaan laut (mdpl) berlangsung lima hari 11-15 Februari 2008. Kenapa paling berkesan? Itu karena pertama kalinya saya mendaki sebagai pendamping dua adik junior dalam program pengembaraan, sekaligus gunung pertama yang didaki selain Gunung Kaba.

Saat  itu saya masih aktif berorganisasi sebagai Kepala Bidang (Kabid) I Dikbang Palasostik. So kalau biasanya naik gunung atau masuk hutan masih “bergantung” sama kawan-kawan seangkatan dan kakak ayuk senior, maka yang kali ini mau tak mau harus mau mandiri 100 persen.

Kami berangkat berempat. Selain saya ada dua anggota muda Palasostik angkatan XV Al Kausar dan Ade Bayor, serta satu rekan dari Riau Jhony Nasution. Kebetulan Jhony tengah mampir di markas kami dalam ekspedisinya bersepeda keliling Sumatera.

Pengembaraan kuartet, belajar mengenal alam dari Gunung Dempo.
Persiapan pendakian di Sekretariat Palasostik tahun 2008.

Seperti biasa, kegiatan resmi organisasi diawali dengan upacara pelepasan padaSenin, 11 Februari 2008. Setelahnya, keluar dari gerbang Unib depan petualangan pun dimulai. Hehe…

Ongkos yang pas-pasan (seperti umumnya mahasiswa yang kondisi kantongnya sangat tipis), membuat kami memilih ngompreng. Estafet pertama agak sial memang, karena sopir mobil pick up pengangkut karet yang pertama kali mengangkut kami. Sepanjang jalan tak bisa duduk, kuatir bau karet membekas. Untungnya tak jauh, hanya sebatas Kecamatan Karang Tinggi Kabupaten Bengkulu Tengah mobil belok ke pabrik yang memang banyak di kawasan tersebut.

Perjalanan berlanjut dengan menumpang truk hingga Kepahiang, makan siang di alun-alun Kota Kepahiang-simpang Padang Tepong. Hari sudah cukup sore, sehingga dari simpang Padang Tepong-Kota Pagar Alam kami memilih menumpang bus Putra Rafflesia.

Kota Pagar Alam secara administratif masuk ke dalam wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Berada persis di kaki gunung membuat kotanya sangat sejuk dan udaranya pun dingin. Boleh dibilang, Pagar Alam “Bandungnya” Sumatera Selatan.

Di Pagar Alam kami turun di terminal. Karena sudah malam, satu-satunya transportasi menuju tangsi I hanya ada becak motor. Hari pertama perjalanan kami memang menargetkan tiba di tangsi I untuk beristirahat, yakni di tempat Pak Anton, salah satu tokoh masyarakat yang dituakan oleh pendaki yang ingin ke Dempo. Di bagian belakang rumahnya ada camp berupa rumah kayu yang biasa digunakan pendaki untuk menginap. Di sana juga biasanya pendaki juga mengurus izin pendakian.

Naik becak motor dari terminal Pagar Alam ke rumah Pak Anton, ada pengalaman yang kalau diingat bikin nyengir sendiri. Malam itu, kami berempat tadinya mau jalan kaki saja ke tangsi I. Waktu itu memang nggak tahu ada angkutan lain selain angdes. Lagi asyik jalan sambil makan gorengan, ada sopir becak motor menghampiri. Menawarkan naik ojeknya dengan ongkos nego.

Sambil rada jual mahal, kami cuma menyanggupi Rp 20.000 untuk naik empat orang plus tiga carriel besar. Padahal yang namanya becak motor, kapasitas penumpangnya hanya dua orang. Kalaupun bertiga pasti impit-impitan. Apalagi kalau ditambah carriel, pangku-pangkuan dan super sesak 😀. Pas pula motornya tipe Honda GL 100 edisi ’80an dipaksa membawa beban berat di jalan menanjak dan berliku, gas pooolll.

Agak was-was malam itu. Motor oleh ke kanan oleng ke kiri di jalan berkabut tebal. Pas tiba di depan gerbang pabrik teh, terdengar bunyi duarrrr…, bikin kaget. Rupanya itu dari knalpot motor. Kopling motornya pun sampe los. Asli rugi sopir ojek itu. Kami pun cepat-cepat membayar dan melangkah ke rumah Pak Anton.

Saya berada di camp pendaki di belakang rumah Pak Anton.
Saya berada di camp pendaki di belakang rumah Pak Anton.

Menginap semalam, paginya Selasa, 12 Februari 2008 kami kembali melanjutkan perjalanan hari kedua. Targetnya gak langsung nanjak, tapi sebatas Pintu Rimba. Di tempat Pak Anton kami dipesani berbagai hal, termasuk mitos-mitos yang berbau mistis. Seperti jangan takabur dan sombong, berpamitan pada yang tidak terlihat jika ingin buang air dan lain-lain.

Bukan apa-apa, di Dempo ini sudah banyak pendaki yang hilang. Baik sekadar nyasar atau bahkan tewas. Peringatan itu tentunya sangat bermanfaat agar kita mawas diri alias berhati-hati.

Buat saya, pesan yang paling diingat adalah mengirim Al-Fatehah dan peringatan untuk tidak mendaki jika sedang datang bulan. Mengirim Al-Fatehah disarankan agar di lakukan di Cadas. Konon kata beliau di sana ada makam petapa yang meninggal dan dikubur. Surat Al-Fatehah dibaca tiga kali dan dibacakan untuk Allah SWT, orang tua dan penghuni makam.

Sementara pesan untuk tidak mendaki saat datang bulan, dengan berat hati pada saat itu saya langgar. Kebetulan baru hari kedua. Tidak mungkin jika menunggu selesai karena deadline waktu. Sementara jika membiarkan dua anggota yang baru saja di-Diksar mendaki hanya bersama seorang tamu dari Riau, rasanya seperti saya meninggalkan tanggung jawab.

Pilihannya saya tutup mulut saja dan baru memberi tahu rekan-rekan setelah berada di puncak Dempo. Hehe.. maaf saudara sedulur. Alhamdulillah, selama perjalanan, nge-camp di puncak hingga pulang kami semua selamat sehat sentosa hingga hari ini. Saya pun menyimpulkan asalkan niat kita mendaki ke sana baik, menjaga tata krama, tidak sembrono, memiliki persiapan yang matang dan mengikuti prosedur Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa.

Bersama Mapala UMY Palembang sebelum melakukan pendakian ke Puncak Dempo Rabu (13/2).
Bersama Mapala UMY Palembang sebelum melakukan pendakian ke Puncak Dempo Rabu, 13 Februari 2008.

Cerita berlanjut dari Tangsi I ke Tangsi IV. Sepanjang jalan kita akan melewati perkebunan teh yang berkelok-kelok. Track-nya cukup jauh dan rasanya berjalan setengah di aspal, setengah di kebun teh jauh lebih melelahkan dibanding nanjak ke top. Akhirnya pukul 15.00 WIB kami tiba di dekat pintu rimba. Letak camp-nya dekat mata air, jadi stok air minum dan sedikit bersih badan aman.

Rabu, 13 Februari 2008 perjalanan kembali berlanjut dengan target Summit Attack alias langsung tembak ke top. Usai membaca doa di depan Pintu Rimba, Bismillahirrohmanirrohin, kami menapak jejak menuju shelter I. Waktu tempuhnya sekitar 2 jam menuju shelter I. Jalurnya setapak, namun di beberapa titik ada simpang. Waktu itu pun sesuai pesan senior-senior jika ditanya sama dua adik ini pernah ke Dempo atau belum, jawab saja pernah. Supaya tidak was-was.

Jadi setiap kali ketemu simpang Ade atau Al bertanya pilih jalan yang mana, saya selalu setengah mengomel nyuruh cari sendiri jalurnya (lebih sering Ade Bayor nan bawel yang nanya. Al lebih kalem :D). Masa senior yang disuruh nyari. Xixixixi, ngajarin nggak bener saya disuruh bohong sama senior. Beruntungnya pula, jalur Dempo yang kami lewati memang termasuk jalur lumrah pendakian. Paling gampang nge-track ikut jalur sampah wae (-.-” prihatin sama yang suka buang sampah sembarangan).

Jamur yang banyak tumbuh di batang-batang pohon tumbang di jalur shelter I menuju shelter II.
Jamur yang banyak tumbuh di batang-batang pohon tumbang di jalur shelter I menuju shelter II.

Vegetasi pintu rimba ke Shelter I didominasi pohon besar dan semak belukar. Udaranya masih segar dan nggak bikin sesak napas. Jalur bonus nan datar, masih ada lah sekali-sekali. Shelter I merupakan kawasan datar yang kira-kira muat dua tenda doom kapasitas empat orang. Kami pun istirahat sejenak sembari bercanda.

Dari shelter I ke shelter II hutannya sudah mulai rapat. Tapi jalurnya masih mirip dengan jalur menuju shelter sebelumnya. Perjalanan sekitar 1,5 jam. Di shelter II atau dikenal sebagai pintu masuknya hutan lumat, tempat beristirahat tidak selebar shelter I. Letaknya berada di punggungan. Kami pun duduk-duduk di batang pohon yang agar besar dan diselimuti lumut.

Di hutan lumut, pepohonan kanopi cukup rapat. Udara lembab membuat oksigen yang masuk ke paru-paru sangat sedikit. Mungkin juga karena ketinggiannya yang kami prediksi sudah mulai diatas 2000 mdpl. Saat berkabut, suasanya sih nggak terlalu “horor”. Tapi 10 menit kami beristirahat dan saya pun ditinggal sendiri kawan-kawan mencari air, mendadak kabutnya turun. Hiks, seram.

Rute dari shelter II hutan lumut menuju shelter III cadas, saya rasa adalah yang paling berat. Medannya melintasi akar-akar licin berbalur lumut. Selain harus memanjat, terkadang juga harus merangkak saat melintas akar-akar.

Tentunya di jalur ini juga melintasi track terkenal di Dempo, yakni dinding lemari. Disebut dinding lemari, karena kita harus melewati jalur tebing tanah sekitar 6-8 meter. Memanjatnya bisa melalui akar yang menjulur dari pohon.

Ada dua jalur dinding lemari, yakni dinding berakar dengan sudut sekitar hampir 90 derajat dan satu jalur lainnya dinding berbatu sekitar 60 derajat namun agak curam. Kami pilih yang aman dengan banyak pegangan dan pijakan, yang dinding 90 derajat saja.

Semakin mendekat ke cadas, akar-akar dari pohon seribu tahun (kami menyebutnya begitu karena nama asli dan nama ilmiahnya tidak tahu) semakin banyak. Mata kaki kerap terantuk-antuk sampai biru. Kadang kaki pun nyelip disela akar. Saran nih ya, kalau mau mendaki malam mesti hati-hati. Tapi itu tidak lama, begitu sampai di kawasan cadas jalurnya mulai bebatuan dan terbuka.

Di cadas, sesuai pesan saya berkalan sembari melihat ke sebelah kiri (jika kita menghadap ke arah puncak Dempo). Mencari-cari makam yang dimaksud. Meski tanpa tulisan dan baru perdana ke sana, tapi insting membawa saya ke tempat yang disebut makam itu dimaksud untuk mengirim doa.

Matahari yang semula diatas kepala, mulai condong ke barat tanda hari mulai sore. Agak ngos-ngosan di cadas karena nyaris tidak ada jalur bonus. Beberapa kali sempat berhenti sembari menyaksikan pemandangan indah kebun teh, kota pagar alam dan awan yang berada dibawah kami. Sekitar pukul 16.00 WIB kurang, sujud syukur kami tiba di puncak 3.159 mdpl.

Bertiga dari kiri ke kanan Ade, Al, Komi di puncak Dempo. Tak ada kabut, plakatnya berserak cik.
Bertiga dari kiri ke kanan Ade, Al, Komi di puncak Dempo. Tak ada kabut, plakatnya berserak cik.

Subhanallah, sore itu Allah memberkahi perjalanan  kami. Kalau beberapa foto senior di puncak Dempo dalam kondisi berkabut, hari itu langit biru cerah menyambut kedatangan kami. Bahkan hingga kami turun dan pulang. Sama seperti ritual pendaki lainnya, setelah mengucap syukur kami berfoto-foto di puncaknya. Ada sangat banyak plakat yang dipasang KPA, mapala, sispala dan pendaki-pendaki lainnya.

Puncak Dempo, meskipun lumayan datar dan dikelilingi pohon seribu tahun dirasa kurang pas buat nge-camp. Kami berempat turun ke pelataran. Waw, camping groundnya luas sangat. Ada mata air yang jernih pula disela rekahan tanah yang disebut Telaga Dewi. Air di gunung ketinggian sekitar 3.000 mdpl sangat, sangat dingin. Mirip air yang menjelang beku di freezer. Tangan dan muka terasa kebas ketika beraup. Tapi terpenting, bersih.

Dua malam nge-camp, hanya tenda kami yang berdiri. Selama itu bulan Februari yang masih musim penghujan sangat bersahabat. Cuaca panas, cerah dan sedikit berangin di pagi hari hingga menjelang siang, lalu hanya turun gerimis dan kabut.

 

Kawah di puncak GAD pada Kamis, 14 Februari 2013 berwarna abu-abu. Kata kawan-kawan, kawahnya bisa berubah-ubah warna. Sesekali hijau, biru, kadang kala merah. Hanya saja untuk merah kerap dianggap sebagai pertanda buruk. Entahlah, karena hari itu hanya abu-abu yang kami lihat. Hari itu rasanya menjadi salah satu hari terbaik dalam hidup atas penaklukan diri. Berada di puncak gunung ibarat merebut tujuan setelah kita melewati proses yang tidak mudah.

Keesokan harinya Jumat, 15 Februari kami turun dari puncak Dempo. Perjalanan pulang terasa lebih ringan dan tanpa beban karena sudah berhasil menjalankan misi. Dua kader Palasostik yang saya bawa, juga tergolong sebagai kader aktif sepanjang perjalanan mereka berorganisasi. Ade Bayor bahkan sempat menjadi ketua umum.

Kawah pagi itu berwarna abu-abu. Pendaki tidak bisa turun mendekat. Selain karena dikhawatirkan menyemburkan kandungan gas berbahaya, jalur menuju ke sana sangar curam dan terjal. Batuannya longsor.
Kawah pagi itu berwarna abu-abu. Pendaki tidak bisa turun mendekat. Selain karena dikhawatirkan menyemburkan kandungan gas berbahaya, jalur menuju ke sana sangar curam dan terjal. Batuannya longsor.

Untuk pulang ke Bengkulu, dari Kota Pagar Alam kami lebih memilih naik bus Waspada dengan ongkos nawar semurah-murahnya. Lelah rasanya kalau masih mesti estafet atau kembali bermalam. Sekitar pukul 04.00 WIB Sabtu, 16 Februari 2008 sudah bisa istirahat dengan nyaman di sekre tercinta gedung B.

Hari ini 2 Januari 2013, akhirnya saya pun menuliskan sedikit cerita perjalanan ke Gunung Dempo. Walau lima tahun sudah berlalu, tapi pendakian Dempo tidak akan pernah menjadi cerita basi. Menuliskannya, semoga bermanfaat bagi yang membaca. Bagi saya, menuliskan cerita ini menjadi catatan sejarah perjalanan hidup. Suatu hari nanti kalaupun terulang, perjalanan ke Dempo tidak akan sama indahnya dengan yang kali itu.

Difoto dari puncak GAD ke arah pelataran. Dari kiri ke kanan Komi Kendy, Ade Bayor dan Jhony Nasution.
Difoto dari puncak GAD ke arah pelataran. Dari kiri ke kanan Komi Kendy, Ade Bayor dan Jhony Nasution.

Sedikit share, saya juga menuliskan rute, transportasi dan biaya bagi yang ingin nge-trip ke Gunung Dempo. Hanya saja rutenya start dari Kota Bengkulu ya. Kalau dari Kota Palembang, belum pernah. Berikut rutenya :

Rute & Transportasi Dempo

Adapun rute pendakian Gunung Dempo dari Kota Bengkulu : Kota Bengkulu-Kota Pagar Alam-Tangsi I (PAbrik Teh PTPN VII)-Tangsi IV-Pintu Rimba-Shelter I – Shelter II Hutan Lumut, Shelter III Cadas-Puncak Dempo-pelataran camping ground-Puncak Gunung Api Dempo (GAD)

Estimasi waktu tempuhnya :

Kota Bengkulu – Kota Pagar Alam : 6 jam menggunakan bus Waspada, Marlin atau Sriwijaya dengan ongkos Rp 60.000 tahun 2013. Bisa seharian kalau estafet, tergantung nasib baik.

Kota Pagar – Tangsi I (Pabrik Teh PTPN VII (rumah Pak Anton) :  10 menit (naik becak motor). Ongkos Rp 15 ribu/2 orang.

Tangsi I – Tangsi IV : 20 menit naik angdes ongkos sekitar Rp 5.000/ orang. Jalan kaki santai 4 jam melintasi kebun teh dan rumah-rumah warga.

Tangsi IV – Pintu Rimba : 45 menit jalan kaki.

Pintu Rimba – Shelter I : 2 jam melintas jalan setapak dan hutan belukar.

Shelter I – Shelter II Hutan Lumut : 1,5 jam melintas jalan setapak  dan hutan belukar.

Shelter II Hutan Lumut – Shelter III Cadas : 2,5 jam jalan setapak melewati hutan lumut yang lembab. Tingkat kesulitan ada di areal dinding lemari, karena pendaki perlu memanjat akar.

Shelter III Cadas – Puncak Dempo : 2 jam melintasi jalur terbuka dan bebatuan. Vegetasi semak belukar tanpa pohon tinggi. Hanya ada tanaman paku dan pohon seribu tahun.

Puncak Dempo – Pelataran (Camping Ground) : 15 menit menuruni jalan berbatu.

Camping Ground – Puncak GAD : 20 menit mendaki di daerah bebatuan, bisa melihat view kawah.

Biaya

Ongkos Pulang Pergi Kota Bengkulu-Gunung Dempo          : Rp 160-180 ribu

Logistik (menyesuaikan lama pendakian dan jenis makanan)   : Rp  100.000/4 hari

Total                                                                               : Rp 260-280 ribu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *