Padang Betuah, Masjid Cagar Budaya Berusia Ratusan Tahun

Padang Betuah, Masjid Cagar Budaya Berusia Ratusan Tahun

MASJID menjadi tempat beribadah dan memperkuat tali silaturahmi sesama umat, serta tempat syiar agama Islam. Di Bengkulu, masjid yang usianya sudah mencapai ratusan tahun tidaklah banyak.
 Salah satunya yang sudah dikenal adalah Masjid Padang Betuah. Masjid ini dinamai sama dengan nama desanya, Desa Padang Betuah. Konon masjid yang dibangun semasa penjajahan Belanda pada 1823 itu tahun ini usianya sudah 194 tahun. Kini statusnya sebagai masjid benda cagar budaya.
Hari Jumat merupakan waktu yang tepat mengunjungi Masjid Padang Betuah, Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng). Hanya seminggu sekali saja masjid sangat sederhana itu dimanfaatkan oleh warga desa yang tersebar di empat dusun, beribadah secara berjemaah di hari Jumat.
Warga yang salat di sana pun khusus kaum wanita yang menunaikan salat Zuhur berjamaah. Sementara para lelaki melaksanakan salat Jumat di tiga masjid lainnya, baik yang ada di Desa Padang Betuah maupun masjid di desa terdekat.
Kaum wanita warga Desa Padang Betuah melaksanakan ibadah salat Jumat.Foto: Komi Kendy
Secara khusus, tempat wudhu yang ada dibiarkan seperti bentuk aslinya. Berupa bak terbuka ukuran sekitar 2×3 meter yang isinya menampung air hujan. Tempat wudhu ini jarang digunakan, karena biasanya warga sebelum salat memilih wudhu di rumah masing-masing.
Salah satu penanda bahwa masjid ini adalah benda cagar budaya berupa plang bertuliskan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Tulisan berisi peringatan untuk melindungi bangunan dan sanksi bagi yang merusak.
Baca Juga Tulisan Mildaini di Blog Keluarga Nawra :
Sebagai deskripsi, masjid yang berjarak 24 kilometer dari Kota Bengkulu itu berbentuk segi empat dengan ukuran sekitar 10×9,4 meter. Tinggi bangunan sekitar 7,75 meter. Sama dengan masjid lainnya, di dalam ruangan terdapat mimbar dan mihrab (ruang khusus imam). Sementara pada bagian serambi terdapat sebuah bedug tua yang tak terawat.
Imam Desa Padang Betuah Arezen menuturkan, dari cerita turun-temurun orang tua disebutkan bahwa dulunya masjid dibangun oleh tokoh masyarakat setempat bernama H. Mansyur.  Konon lokasi aslinya berada 50 meter dari masjid yang sekarang. Masjid sempat dipindahkan dengan cara diangkat ramai-ramai oleh warga ke lokasi yang sekarang.
Pada bagian atap dipasang daun rumbia dan alang-alang. Dindingnya terbuat dari kayu dan bambu. Tapi sejak diperbaiki pada 1920, sudah diubah menjadi atap seng berbentuk prisma bersusun tiga. Dinding sudah dibangun dengan semen. Selain dari atapnya, bentuk kuno masjid masih terlihat dari tiang-tiang. Juga ada ornamen-ornamen kayu yang bentuknya khas Sumatera.
Seingat Arezen, perbaikan juga pernah dilakukan sekitar tahun 1996 oleh Pemda Bengkulu Utara. Namun sampai sekarang setelah 18 tahun lamanya tidak pernah diperbaiki.
“Dulunya semua aktivitas ibadah warga dusun baru (sebutan untuk Desa Padang Betuah), ya di masjid itu. Tapi sejak dibangunnya Masjid Al-Ikhlas tahun 1984 secara swadaya oleh masyarakat, kini masjid cagar budaya hanya dimanfaatkan oleh ibu-ibu untuk salat Zuhur berjemaah, itu pun hanya di hari Jumat,” tuturnya.(ken)
Tulisan ini diposting ulang untuk menjawab tantangan #nulisserempak dari Blogger Bengkulu tentang #masjiddibengkulu.

One Reply to “Padang Betuah, Masjid Cagar Budaya Berusia Ratusan Tahun”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *