Diving-di-Bunaken-1

Merasakan Diving di Bunaken

Taman laut Bunaken dulunya hanya diketahui dari buku bacaan sekolah dasar. Siapa sangka di usia 31 tahun akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di pulaunya, sekaligus menikmati keindahan bawah lautnya. Diving di Bunaken menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.

Tim selam Bengkulu bersiap menjelajah di Pulau Bunaken
Tim selam Bengkulu bersiap menjelajah di Pulau Bunaken

AWAN mendung bergelayut manja saat kami menunggu perahu jemputan dari Pulau Bunaken. Kami menunggu di dermaga milik Grand Luley Hotel di Sulawesi Utara. Dermaga “pribadi” milik hotel ini berada di Kelurahan Tongkeina, Kota Manado. Para wisatawan biasa memanfaatkan dermaga untuk menyeberang ke Pulau Bunaken.

Grand Luley sendiri merupakan hotel berbintang yang menurut saya keren sekali. Walaupun belum sempat menginap ke sana, tapi dari membaca situsnya hotel ini memiliki layanan yang baik. Kawasannya asri dan cocok untuk berlibur. Wisatawan yang menginap tak sedikit diantaranya berasal dari luar negeri alias wisatawan asing. Terbanyak dari Cina, Filipina dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Hari itu sudah menjelang pukul 14.00 WITA. Awalnya kami berencana diving di Bunaken menggunakan jasa dive center Grand Luley. Tapi karena jadwalnya sudah terlewat, jadinya kami menggunakan jasa dive langsung dari Pulau Bunaken.

FYI, setidaknya kalau mau diving di Bunaken melalui hotel ini pemberangkatan terakhir pukul 13.00 WITA. Divingnya di spot khusus. Biayanya Rp 900 ribu per dive bagi yang sudah punya lisensi minimal A1 atau open water. Lalu Rp 1,3 juta per dive bagi yang belum punya lisensi.

Grand Luley Hotel

Kawasan mangrove di Grand Luley Hotel Manado
Kawasan mangrove di Grand Luley Hotel Manado

Menuju dermaga dari Grand Luley Hotel, kita mesti berjalan melintasi jembatan dengan hutan mangrove di kiri kanannya. Panjangnya sekitar 1 kilometer. Jika berjalan kaki, bisa 20-30 menit. Untungnya ada mobil pick up yang melintas. Jadi hanya duduk tak sampai 5 menit.

Sejujurnya, rencana menyelam sore itu Minggu, 19 Agustus 2018 bisa dibilang diving dadakan. Awalnya kami sudah sempat “putus harapan” untuk bisa menyelam selama berada di Manado. Beberapa teman yang dihubungi, sudah kehabisan tabung dan full booking perahu.

Gimana nggak kehabisan. Kami ke Manado bertepatan dengan kegiatan Wanita Selam Indonesia (WASI) memecahkan Rekor Museum Rekor Indonesia (MURI). Saya, Cece Silvia, Jeni, Maryam dan Mbak Devi ikut serta memecahkan rekor penyelam wanita terbanyak dan membentangkan bendera terpanjang di bawah laut. Kami didampingi official Bang Ari Anggoro yang juga dosen Universitas Bengkulu.

Dermaga di Grand Luley Hotel
Dermaga di Grand Luley Hotel

Berhubung yang ke sana para lady divers, sudah barang tentu sayang melewatkan momen menyelami keindahan bawah laut Sulawesi Utara. Apalagi di sana memang terkenal sebagai salah satu surganya para penyelam. Ada begitu banyak pulau dan spot indah untuk dijelajah.

Alhasil sore itu kami ke Bunaken tanpa membawa perlengkapan pribadi.  Di Pulau Bunaken, sudah disediakan pakaian sewa. Sebenarnya kurang sreg. Lebih nyaman pakai punya sendiri. Minimal masker sama rashguard sendiri. Tapi daripada nggak ada ya.

Setelah menunggu di dermaga, akhirnya perahu yang ditunggu tiba. Perahunya cukup nyaman. Memang untuk wisata. Ada tiga kru di perahu, termasuk dua guide. Mereka adalah warga Pulau Bunaken yang sudah terlatih menjadi guide. Salah satunya bernama Darman Makausi yang menjadi buddy utama kami. Oia, untuk trip ini kami merogoh kocek Rp 800 ribu per orang.

Membelah Ombak

Perahu melaju perlahan membelah air. Dengan kecepatan 20 kilometer per jam, kami pun merasa puas melihat pemandangan di sana. Berbeda dengan diving di Bengkulu yang sepanjang mata memandang hanya melihat lautan dan pulau. Di perairan menuju Pulau Bunaken ada gugusan pulau yang berbukit-bukit.

Gugusan pulau yang membentuk Taman Nasional Bunaken ini terdiri dari Pulau Manado Tua, Pulau Bunaken, Siladen, Mantehage dan Nani. Dari beberapa referensi, luas taman nasional menccapai 89.065 hektare.

Yang paling mencolok adalah Pulau Manado Tua. Bisa dibilang pulau ini adalah yang tertinggi dibanding dengan pulau lainnya. Sehingga lebih mencolok. Daratannya berbentuk gunung, berdiri kokoh dengan ketinggian 655 meter dari permukaan laut (mdpl).

Pulau didominasi warna hijau pepohonan rindang. Dari info Hal yang menarik dari Pulau Manado Tua, walau berbentuk gunung namun bukan gunung berapi. Justru gunung api aktif ada di bawah lautnya dengan kedalaman 150 meter.

Menuju Pulau Bunaken

Bapak tua, salah satu awak perahu yang membawa kami ke Bunaken
Bapak tua, salah satu awak perahu yang membawa kami ke Bunaken

 

Gapura selamat datang di Pulau Bunaken
Gapura selamat datang di Pulau Bunaken

Makin dekat dengan Pulau Bunaken, kami bisa melihat rumah-rumah penduduk berada di tepi pantai. Di sana ada masjid dan gereja sebagai tempat ibadah. Tapi yang begitu mencolok dari kejauhan adalah gereja yang bentuknya unik. Gereja memang lebih mencolok di Manado karena di sana mayoritas penduduknya adalah umat Kristen.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, kami tiba di Pulau Bunaken. Tulisan selamat datang menyambut kunjungan perdana kami di pulau itu. Sayangnya, baru beberapa menit menjejakan kaki dan belum sempat banyak foto-foto, hujan deras mengguyur.

Kami memilih berteduh di pondok-pondok milik pedagang. Pondok berjajar di sepanjang pantai. Mereka menjajakan makanan dan minuman. Yang lainnya menyewakan aneka peralatan diving. “Alat-alat divingnya ada yang bantuan dari pemerintah untuk mengembangkan wisata, sekaligus meningkatkan ekonomi warga di sini,” cerita Darman Makausi yang menjadi guide kami.

Setengah jam kemudian, hujan pun reda. Kami memilih wetsuit (baju selam), masker dan fins yang pas. Rada susah memang. Saya yang maunya dapat lengan panjang, harus pakai yang pendek. Usai berganti pakaian, kami naik lagi ke perahu menju spot diving.

Aslinya rada kurang nyaman menggunakan alat sewa. Apalagi yang ala kadarnya. Padahal peralatan kami sendiri sangat lengkap di hotel. Gara-gara sudah putus asa duluan nggak dapat tabung dan perahu, jadi gak bawa apa-apa sama sekali. Bahkan kamera dan go pro pun ditinggalkan.

Menuju Spot Diving

Saya bersama Darman Makausi, buddys yang menjadi guide selam di Likuan 3
Saya bersama Darman Makausi, buddys yang menjadi guide selam di Likuan 3

Dari perjalanan Pulau Bunaken menuju spot diving, Darman bercerita ada banyak spot diving di sekitar Bunaken untuk berbagai jenis penyelaman. Mulai dari yang dangkal dibawah 10 meter, penyelaman sedang dibawah 30 meter hingga yang diatas 30 meter untuk penyelaman dalam.

Untuk jenis penyelaman dalam, tidak bisa dilakoni sembarangan. Harus menyesuaikan dengan lisensi yang dimiliki oleh penyelam, juga jumlah jam selam. Berhubung kami rata-rata baru mengantongi lisensi selam A1 alias open water, so pasti ikut penyelaman dangkal.

Lagipula besok paginya kami harus terbang ke Jakarta dari Manado kembali pulang ke Bengkulu. Yang artinya durasi dan kedalaman menyelam memang harus terbatas. Secara kesehatan, harus ada jeda bagi tubuh untuk mengeluarkan nitrogen dari dalam darah setelah menyelam.

Jika langsung terbang sementara kadar nitrogen di darah belum habis, dampaknya bisa membuat kadar nitrogen tidak bisa lepas. Inilah yang kerap menyebabkan penyakit lumpuh pada para penyelam. So, kami pilih yang aman-aman saja. Biar sebentar dan ga terlalu dalam, yang penting sudah merasakan asinnya laut Bunaken.

Fukui Point

Masih dari cerita Darman, di perairan Bunaken ada beberapa spot menyelam yang menjadi favorit. Seperti spot penyelaman yang bernama Fukui Point. Spot ini cukup terkenal. Penemunya orang Jepang. Di Fukui Point, areanya berupa lereng turunan yang rendah hingga curam dengan begitu banyak biota laut. Ada belut moray berbintik putih (white-spotted moray eels), napoleon wrasse dan hingga kerang raksasa (giant clams) di kedalaman 15 meter.

Celah-celah

Lalu ada spot favorit bernama Celah-celah. Seperti namanya, di spot ini ada dinding laut yang dalam dengan rekahan-rekahan besar pada permukaannya. Celah-celah berada di bagian Selatan Pulau Bunaken dekat Teluk Liang.

Masyarakat Pulau Bunaken kerap memanfaatkan pantainya untuk bersantai. Lekukan pulau yang ada pada titik ini melindungi area Celah-celah dari angin dan ombak yang terlalu besar. Bagi yang beruntung, penyelam bisa melihat hiu karang (reef shark) atau pari elang (eagle ray) sesekali muncul saat kita diving  di Bunaken.

Selain Fukui dan Celah-celah, juga ada spot bernama Likuan 1, 2 dan 3. Tiga tempat yang terpisah. Spot ini kerap dimanfaatkan bagi wisatawan yang ingin snorkeling, penyelam pemula, maupun penyelam berpengalaman.

Likuan 1, 2 dan 3

Di Likuan 1, 2 dan 3 spotnya berupa ombak yang tenang dan air yang jernih. Di area Taman Laut Bunaken ini ada variasi jenis ikan yang beragam. Beberapa biota laut yang ada disana adalah penyu, bannerfish, napoleon wrasse dan pyramid butterflyfish. “Di Likuan 2 ada dinding vertikal ditumbuhi berjenis terumbu karang yang keras dan lunak,” ujarnya.

Darman mengajak kami ke spot Likuan 3. Karena hari sudah menjelang sore, kami mencari spot yang dekat. Katanya Likuan 3 adalah salah satu spot selam terbaik di Bunaken. Saat mulai turun menyelam petualangan dimulai dari lereng pasir yang landai dengan sedikit puncak bawah laut, setelah itu kamu akan menjumpai dinding laut.

Konon katanya dinding itu tingginya hampir sedalam 200 meter. Sementara kami hanya menyisir tipis-tipis di tepiannya. Sebelum melepas oksigen dari jaket BCD (Bouyancy Control Device) Darman mengingatkan untuk tidak terlalu jauh dari dinding. Jaga-jaga kalau ada arus, bisa berpegangan atau menjaga keseimbangan dengan berpegangan pada dinding.

Menyelam di Likuan 3

Mulai turun menyelam di Lakuan 3
Mulai turun menyelam di Lakuan 3 Pulau Bunaken

Perlahan tapi pasti, kami turun masuk ke dalam air. Setelah beradaptasi di kedalaman 5 meter, mulai lah kami menjelajah. Walau jarak pandang saat itu sudah tidak terlalu jauh karena sudah sore, tapi masih terlihat koral kipas laut (gorgonians) dan spons-spons besar menghiasi dinding. Ikan yang berwarna-warni tampak berenang-renang.

Berdasarkan catatan log book saya, kami menyelam selama 50 menit. Mulai pukul 17.00 WITA hingga pukul 17.50 WITA. Kami masuk hingga kedalaman rata-rata 10 meter. Jarak panjang saat itu secara horizontal sekitar 8-10 meter. Begitupun dengan jarak pandang vertikal. Tapi seiring bertambahnya waktu, jarak pandang semakin pendek karena sudah menjelang magrib.

Habitat Penyu

Di Likuan 3 pemandangan yang paling berkesan tentu saja dinding tinggi dengan berbagai macam tanaman laut dan karang. Pada beberapa bagian, sudah ada yang rusak karena aktivitas penyelaman. Kadang kala ada penyelam yang tidak sengaja finsnya menyapu atau menginjak karang. Begitu kata Darman. Makanya saat menyelam ia juga mengajak kami menjaga jarak supaya tidak terlalu dekat dengan karang.

Pemandangan lainnya yang paling berkesan adalah banyaknya penyu yang ada di sana. Likuan 3 memang dikenal sebagai habitatnya penyu. Rasanya ada belasan penyu yang saya lihat dari jarak sangat dekat. Sementara saat menyelam di Pulau Tikus, Kota Bengkulu, baru satu kali saya bertemu penyu. Itupun jaraknya cukup jauh.

Walau bisa dipegang dengan tangan, saya memilih untuk tidak menyentuh penyu-penyu itu. Saya kuatir sentuhan saya justru akan membuat penyu merasa tidak nyaman, lalu malah kabur. Pokoknya buat saya menyelam sama lah kira-kira dengan menyusuri goa. Tidak mengambil/menyentuh apapun, tidak membunuh apapun dan tidak meninggalkan apapun.

Di Likuan 3 saya juga sempat membentangkan bendera ucapan selamat ulang tahun Harian Rakyat Bengkulu yang ke-17 tahun. Ini menjadi salah satu misi saya berkeinginan datang ke sana. Sayangnya fotonya kurang bagus karena kami menggunakan GoPro sewaan yang sangat standar kualitasnya.

Laut biru semakin pekat. Artinya malam semakin dekat. Darman memberikan kode jempol ke atas yang artinya kami harus mulai baik secara perlahan. Begitu sampai di perumukaan, matahari sudah menghilang dari barat. Walaupun masih cukup terang. Kami pun kembali ke Pulau Bunaken untuk membilas diri, mengembalikan peralatan dan mengenakan kembali pakaian kering.

Pulang ke Manado

Saya bersama bendera RBDC di perairan Pulau Bunaken
Saya bersama bendera RBDC di perairan Pulau Bunaken

Perjalanan pulang dari Pulau Bunaken ke dermaga Grand Luley Hotel bagi saya cukup mencekam. Rupanya perahu yang kami naiki adalah perahu wisata yang biasa digunakan hanya pada siang hari. Malamnya perahu ini tidak punya lampu penerangan. Beruntung kru kapal sudah siap dengan lampu senter. Walau tidak mumpuni, tapi cukup untuk menerangi perjalanan dengan kecepatan lambat.

Begitu tiba di lobi hotel, kami kembali dijemput untuk kembali ke Kota Manado. Sepanjang perjalanan saya sangat bersyukur dengan hari itu. Akhirnya bisa merasakan diving di Bunaken. Sangat bersyukur pada Allah SWT memiliki kesempatan dan rezeki ke sana. Apalagi biaya perjalanannya nyaris semuanya gratis. Terima kasih RBDC dan Polair Bengkulu.

Btw, kalau kalian juga suka wisata petualangan lainnya seperti menjelajah goa, silakan baca travel story saya saat ke Goa Petruk di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. (**)

Komi Kendy

Halo, saya adalah blogger pemula yang menyukai dunia menulis, fotografi dan traveling.

3 Comments

Join the discussion and tell us your opinion.

Juni 22, 2019 - 08:26

Keren. Kapanlah bisa ke Bunaken? Pengalaman seru yang tak semua orang bisa merasakannya.

Balas
Juni 22, 2019 - 01:41

Iyaahh mas. Merasa beruntung punya kesempatan bisa ke sini. Secara Manado itu jauh dari Bengkulu 🤣

Balas
Agustus 14, 2019 - 14:32

[…] Waktu itu keinginan untuk mengikuti arah berenang penyu sangat besar. Sayangnya walau terlihat santai mengayuh kaki, penyu meluncur dengan cepat di dalam air. Jadinya ga sempat mengamati penyu jenis apakah itu. Tulisan lain tentang pengalaman melihat penyu bisa dibaca di artikel saat saya Diving ke Bunaken. […]

Balas

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: