Menjelajah Goa Petruk

Berada di pesisir pantai dan perbukitan, membuat Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah kaya potensi wisata. Mulai dari pantai, hingga goa kapur. Beberapa waktu lalu saya sempat menjelajah ke beberapa tempat. Salah satunya Goa Petruk. Seperti apa rasanya menjelajah goa yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terindah di Asia dan terdalam di dunia? Berikut perjalanannya.

***

HARI beranjak siang ketika saya bersama mama mengendarai Revo pinjaman dari Pak Lek Karmanto. Kami mengikuti sepeda motor lain yang dikendarai Lek Yani dan Lek Wati saat menjadi guide menuju Goa Petruk. Maklum tidak hapal jalan. Sebab walau Kebumen adalah kampung halaman, kami tidak terlalu sering pulang kampung.

Kami berkendara dari Desa Jogomulyo Kecamatan Buayan, menuju Desa Candirenggo Kecamatan Ayah. Jaraknya sekitar 20 km. Jika dari pusat Kota Kebumen, jaraknya sekitar 39,5 km.

Saat itu bagi saya, agak sulit menghapal rutenya. Karena begitu banyak gang dan belokan yang dilalui. Akses angkutan umum pun masih terbatasa. Jadi bagi yang ingin traveling ke goa ini, lebih baik ada teman yang sudah pernah ke sana.

Pintu masuk utama areal wisata Goa Petruk.
Pintu masuk utama areal wisata Goa Petruk.

Tiba di depan pintu gerbang, areal wisata tampak sepi. Apalagi jika dibandingkan dengan tempat wisata goa lainnya, Goa Jatijajar, yang jaraknya sekitar 7 km dari Goa Petruk. Mungkin ini karena fasilitas dan sarananya belum dibuat seperti Jatijajar yang lebih lengkap. Tapi di sinilah asyiknya.

Untuk masuk, pengunjung wajib beli tiket. Dewasa Rp 7.500 dan anak-anak dibawah 5 tahun Rp 4.000. Tarif itu sesuai dengan Peraturan  Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 15 Tahun 2011 Tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga.

Biaya tambahan dikenakan jika tidak membawa senter atau headlamp, plus guide Goa Petruk. Waktu itu untungnya saya bawa perlengkapan senter dan headlamp sendiri dari Bengkulu. Jadi tak perlu sewa. Hanya saja untuk guide yang membawa lampu petromaks, diberi sukarela Rp 20 ribu.

Kode Etik Penelusuran Goa: Tidak membunuh apapun kecuali waktu. Tidak meninggalkan apapun kecuali jejak. Tidak mengambil apapun kecuali foto.

Kesan mistis dan angker, sebenarnya sedikit terbesit di hati saat mempersiapkan perlatan masuk ke goa. Lokasinya yang sepi dan rimbun, ditambah lagi memang baru pertama kalinya menginjakkan kaki ke sana, membuat kesan itu jadi terasa. Untung saja ada yang menemani.

Air terjun ini terlihat ketika kita menanjak menuju Goa Petruk.Foto: Komi Kendy
Air terjun ini terlihat ketika kita menanjak menuju Goa Petruk.Foto: Komi Kendy

Dari gerbang menuju mulut goa, pengunjung Goa Petruk harus melewati undakan tangga menanjak hingga 1 km. Kira-kira ada 250 anak tangga yang dilewati. Karena jarak yang jauh ini, mama dan Lek Wati lebih memilih menunggu saja di pondok yang ada dekat pintu masuk. Jadilah saya, Lek Yani dan guide saja yang berjalan ke sana.

Udara segar dan dingin menghapus rasa lelah meniti anak tangga. Apalagi di sebelah kiri tersaji pemandangan indah air terjun mini. Gemericik air sungai dan hewan-hewan khas hutan, menemani sepanjang perjalanan. Sekitar 15 menit kemudian, tibalah di depan mulut goa. Setelah menunggu mas guide menghidupkan lampu, kami pun mulai menjelajah goa yang masih alami ini.

Aroma khas guano (kotoran kelelawar) mulai menusuk hidung ketika kaki terus melangkah masuk. Cahaya matahari yang tadinya terang benderang, mulai redup berganti kegelapan hingga pekat. Saya pun lekas-lekas menghidupkan headlamp dan senter.

Berada di mulut Ga Petruk.
Berada di mulut Ga Petruk.

Dari mulut goa, pengunjung akan melintasi anak sungai di dalam goa untuk menyeberang ke dalam perut goa. Sebaiknya memang yang ingin ke sini mempersiapkan sepatu boot supaya tidak basah. Tapi saat itu saya pakai sandal jepit. Sepanjang jalan, suara air dan kelalawar sesekali terdengar.

Setelah menyeberangi anak sungai, mata disuguhkan pemandangan menarik berbagai ornamen goa. Beberapa diantaranya yang cukup khas, sudah diberi papan nama. Sebut saja sendang katak, batu otak, batu tirai, sendang gulung, batu prangko, batu semar, batu petruk, kali pelangi, batu layon, batu buaya, kamar lukar busono dan lain-lain.

Sendang Katak
Sendang Katak

Pemberian nama ornamen itu biasanya menyesuaikan dengan bentuknya. Misalnya batu semar. Dinamai begitu karena ada ornamen yang mirip patung semar, tokoh perwayangan.

Nah buat pengunjung, sebaiknya ornamen tidak disentuh, karena mudah rusak. Cukup dilihat dan ambil fotonya saja. Pemandangan indah terlihat saat ornamen-ornamen itu tertimpa cahaya. Berkilauan mirip berlian. Ada juga yang bias warna-warni mirip pelangi.

Selain itu sama dengan goa-goa lainnya, di dalam Goa Petruk juga ada stalagtit dan stalakmit yang masih tampak hidup dan berair. Stalagmit merupakan pembentukan gua secara vertikal (tumbuh dari bawah ke atas). Stalagmit terbentuk dari kumpulan kalsit yang berasal dari air yang menetes. Stalagmit ditemukan di lantai gua, biasanya langsung ditemukan di bawah stalaktit.

Stalagtit dan stalagmit yang sudah menyatu.
Stalagtit dan stalagmit yang sudah menyatu.

Semakin masuk ke dalam goa, semakin penasaran. Pengunjung akan melintasi jalan menanjak menuju “lantai dua”. Perlu berhati-hati karena licin. Namun di bagian kiri sudah ada pegangan yang dibuat oleh pengelola.

Di “lantai dua” ini pemandangannya nyaris serupa. Hanya saja ada semacam kolam besar yang airnya terasa dingin sekali. Di dalam goa ini kita bisa berfoto-foto. Tapi perlu blitz atau lampu yang menerangi.

Menelusuri Goa Petruk ini hingga ke lantai 2, saya kira bisa dilakukan oleh siapa saja. Termasuk anak-anak. Hanya saja memang perlu berhati-hati karena licin dan jangan sampai merusak bebatuan yang ada. Teknik penelusuran di areal wisata juga bisa dilakukan dengan berjalan seperti biasa. Tak perlu jongkok, merangkak apalagi sambil merayap. Langit-langit goanya terbilang cukup tinggi.

Menikmati pemandangan di dalam goa selama 30 menit, kami sebenarnya masih penasaran dengan “lantai tiga” goa ini. Namun memang tidak bisa dilintasi begitu saja. Perlu peralatan standar climbing agar aman saat memanjat. Akhirnya kami pun memilih putar balik kembali ke mulut goa.

Anak tangga alami menuju lantai dua Goa Petruk.
Anak tangga alami menuju lantai dua Goa Petruk.

Secara keseluruhan, saya sangat puas sudah berhasil mengunjungi goa ini. Apalagi sejak kecil saat pulang kampung bersama papa, sudah beberapa kali minta diajak kemari, tapi batal terus. Alasannya karena khawatir berbahaya karena fasilitas dan kondisi goanya berbeda dengan Goa Jatijajar.

Lalu meski sudah menjadi goa wisata namun Goa Petruk terbilang masih alami dan terjaga. Arealnya bersih bebas sampah. Ornamen yang masih tampak basah dan hidup menandakan bahwa ekosistem sekitarnya, khususnya pada bagian atas goa, masih hutan. Lalu tidak ada listrik yang dipasang membuat mahluk hidup yang ada di dalamnya tetap natural.

Kondisi ini tentu berbeda jika kita melihat Goa Jatijajar. Meski sudah dibangun jalan khusus dari semen dan paving block, juga dipasangi lampu dimana-mana, tapi sepertinya sedih melihat bagian dinding dan ornamen goa yang tampak kering. Belum lagi banyak coret-coretan.

Keluar dari Goa Petruk.
Keluar dari Goa Petruk.

Mirip Petruk

Nama Goa Petruk yang ruang jelajahnya mencapai 2 km ini sendiri memang diambil dari nama salah satu tokoh wayang Punakawan, yakni Petruk. Konon di lantai dua juga terdapat patung petruk yang sedang berdiri nyodong menerima wahyu dari Dewata Yang Agung. Namun karena aktivitas penambangan oleh Belanda, patung runtuh karena peledak. Sehingga patungnya sudah tidak bisa ditemukan lagi.(**)

 

 

 

 

 

9 Comments Add yours

  1. Zefy berkata:

    Ternyta mbk komi bukan asli bngkulu ya, waduhhh..perantauan ternyta

    1. admin berkata:

      Iyaah Zefy.. Dari Jawa.. Tapi sejak kecil udah di sini

  2. Elva Susanti berkata:

    Bagus lokasi wisatanya, tapi kok ya ada serem2nya gitu, tangga alami dan ruang yg gelap memberi kesan horor. Tapi, kereeen

    1. admin berkata:

      Iyaah mbak.. Untung ada kawannya 😀

  3. Keluarganawra berkata:

    saya belum pernah masuk goa, dulu sempat mau masuk guo sruman di kedurang gagal. pasti seru ya masuk goa, takut2 gimana gitu

  4. Apura berkata:

    Pengin juga menjelajah gini. Seru seru serem

  5. Ata berkata:

    Kalo ke sini sendirian bisa langsung kabur. Hihi. Tapi aku lebih suka yang masih alami dan sepi begini, kalo udah rame takutnya malah objek wisatanya rusak plus dapet bonus sampah. 😓

    1. admin berkata:

      iya mbak dewi.. di satu sisi kalo akses sudah terbuka, semua orang mudah menjangkau. Tapi disisi lain, justru malah jadi cepat merusak

  6. Ria fasha berkata:

    Wahh mbak komy keren deh travellingny dah kemana2
    Seumur2 blm pernah ke gua kayak begini hihii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *