INSPIRASI JAKARTA LIFESTYLE LIPUTAN TRAVELING

Melihat BLK Modern Ala Jakarta Creative Hub

BANK Indonesia kembali menyelenggarakan workshop. Kali ini saya mendapat kesempatan menjadi satu dari 14 jurnalis asal Bengkulu diajak melihat langsung program unggulan Pemprov DKI Jakarta. Khususnya dalam mendorong kemajuan industri kreatif. Tempat yang kami kunjungi adalah Jakarta Creative Hub.

Mirip Balai Latihan Kerja (BLK), tapi lebih modern. Itulah yang diungkapkan beberapa rekan jurnalis saat mengunjungi Jakarta Creative Hub di Graha Niaga Thamrin, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

(Lihat foto-fotonya di : Berbagai Aktivitas di Jakarta Creative Hub)

Berbagai peralatan canggih dan mumpuni, disertai dengan mentor yang memberikan bimbingan langsung, membuat ide-ide kreatif bisa langsung diaplikasikan. Hasilnya berbagai produk fashion, arsitektur, kriya, Desain Komunikasi Visual (DKV) dan desain produk, layak dijual di pasaran.

Tak sedikit diantaranya yang laris manis karena unik dan kekinian. Penjualannya pun tidak harus di toko. Dengan kecanggihan teknologi, Instagram dan website menjadi media pemasaran yang efektif dan irit.

“Jakarta Creative Hub merupakan program Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan Provinsi DKI Jakarta. Kami memfasilitasi komunitas berupa semacam ruang inkubator untuk menuangkan ide produk kreatifnya,” tutur Operational Manager Jakarta Creative Hub Dwi Apriza, Selasa (17/4).

Fasilitas Lengkap

Berdiri sejak Maret 2017 lalu, Jakarta Creative Hub punya fasilitas yang lengkap dan nyaman. Ada ruang makerspace berisi mesin produksi seperti alat print 3D, laser cutting, woodworking atau ruangan berisi mesin-mesin pengolah produk berbahan kayu, mesin jahit, mesin obras, vacuum forming.

Bangunan milik Pemprov DKI Jakarta itu juga dilengkapi perpustakaan, ruang rapat dan kafe. Lalu ada tiga ruang kelas atau classroom A, B dan C. Pada kesempatan itu tampak tiga kelompok sedang merancang produk. Salah satunya sepatu. Mulai dari desain gambar, hingga proses pembuatan secara detail dikerjakan secara handmade.

Selama program berlangsung setiap komunitas menempati co-office atau kantor bersama. Jumlahnya ada 12 ruang co-office. Masing-masing ukurannya sekitar 3×4 meter. “Beberapa ruangan ini ada yang sudah kosong. Karena programnya sudah selesai. Nanti ada yang baru lagi,” tutur Dwi yang merupakan wanita asal Bengkulu.

Komunitas yang menempati co-office memang tidak permanen. Setelah mampu berkreasi dan mandiri, komunitas ini dilepas. Tapi tidak dilepas begitu saja. Di masyarakat, komunitas harus membagikan ilmu yang sudah didapat. Misal dengan memberikan pelatihan kepada warga rusunawa, lalu direkrut menjadi tenaga kerja.

“Waktu yang kami berikan kepada start up (komunitas), selama setahun untuk belajar dan mengembangkan produknya. Siapa saja bisa bergabung di sini. Tentunya harus memenuhi persyaratan,” tambah Dwi.

Cara Supaya Bisa Gabung

Syaratnya harus mengirimkan proposal terkait bidang usaha yang tengah digeluti. Usaha sudah berlangsung minimal selama enam bulan dan sudah menyiapkan rencana bisnis untuk tiga tahun. “Selama melakukan pengembangan di Jakarta Creative Hub, semuanya gratis,” tandas Dwi.

Belajar dari Notre Dame

Ide mendirikan Jakarta Creative Hub sendiri, ungkap Dwi, berasal dari mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Thaja Purnama. Sekitar 2014 lalu, ia mengunjungi Notre Dam Paris. Di sana ada pusat industri kreatif yang menjadi inspirasi Jakarta Creative Hub.

Industri Kreatif Mandiri

Kepala seksi Pengembangan dan Fasilitasi Usaha Kecil Menengah (UKM) Adhitya Pratama menambahkan, saat ini Pemprov DKI Jakarta sudah mulai berubah. Dimana fokusnya sudah mengarah pada industri kreatif mandiri yang dibangun oleh masyarakat.

Pemprov DKI Jakarta, lanjut Adhitya, hanya menyiapkan tempat, fasilitas, peralatan, mentor dan sebagian bahan baku. Tidak ada bantuan modal khusus karena saat ini akses permodalan sudah semakin mudah melalui perbankan.

“Bank daerah punya program untuk start up binaan ada kemudahan mendapatkan modal tanpa agunan sampai Rp 25 juta. Selain itu ada program oke oce berupa pinjaman modal dengan bunga ringan 7 persen setahun,” ujar Adhitya. “Selain itu juga ada pihak-pihak yang mensponsoi seperti BeKraf (Badan Ekonomi Kreatif),” tambahnya.

Di awal program ini dimulai era Gubernur Basuki Tjahja, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2013 mengalokasikan Rp 980 juta sebagai biaya operasional kantor, peralatan dan tenaga ahli. Lalu tahun berikutnya ditambah Rp 1,2 miliar.

“Saat ini Pemprov DKI sedang membangun konsep Jakarta Creative Hub di lima wilayah kota. Alokasi dananya Rp 5 miliar,” ujar Adhitya.

Ia menambahkan, konsep ini bisa saja ditiru oleh pemerintah daerah lain. Tapi tidak persis sama. Tinggal lagi menyesuaikan dengan kondisi di daerah. “Di sini kami jalin keterlibatan komunitas. Jakarta Creative Hub murni pemikiran pemprov DKI,” ungkap Adhitya.

Bisa Dibuat di Bengkulu

Wadah kreative semacam ini menurut saya bisa dibuat di Bengkulu. Asal mau. Apalagi setelah mendapat info alokasi anggarannya tidak terlalu besar. Yaaaa tidak sebesar pembangunan Mess Pemda yang sampai Rp 60 miliar itu, tapi terbengkalai saja sampai sekarang.

Untuk pengadaan dan pembuatan fasilitas, sangat memungkinkan untuk direalisasikan. Tinggal lagi memikirkan untuk sumber dayanyanya. Oia, mbak Dwi Apriza yang menjadi manajer operasional di Jakarta Creative Hub orang Bengkulu loh. Asli Curup, Rejang Lebong. Rasanya banyak juga aset dan potensi putra-putri daerah yang mampu memajukan industri kreatif asal serius dan benar-benar difasilitasi.(**)

13 thoughts on “Melihat BLK Modern Ala Jakarta Creative Hub

  1. Muantap, jadi terkesan lebih friendly ke semua kalangan ya mbak. Boleh ini dibuat juga di Bengkulu, buat jadi saingan juga bagi BLK yang di deket Tebeng biar mereka naikin kualitas lagi.. hoho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top