Soekarno-Fatmawati dalam Lukisan Zainal Beta

Soekarno-Fatmawati dalam Lukisan Zainal Beta

Zainal Beta melukis menggunakan bahan lumpur.
Zainal Beta melukis dengan cekatan menggunakan bahan lumpur.

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi selama tiga hari 5-7 September 2017 menggelar event Jejak Warisan Budaya. Ketika dibuka kemarin (5/9) di Rumah Pengasingan Bung Karno, ada satu seniman yang menarik perhatian pengunjung. Ialah Zaenal Beta. Maestro tanah air satu-satunya yang melukis dengan tanah liat.

TANAH liat bercampur air yang dicipratkan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Dr. Drh. Rohidin Mersyah, MMA seketika membuat kanvas putih berukuran 2×1 meter, ternoda. Cipratan lumpur merupakan pembuka bagi pelukis Zainal Beta untuk memulai karyanya.

Dengan sigap pria yang mengenakan pakaian tradisional berwarna merah itu mengambil kuas yang biasa dipakai untuk cat tembok. Kuas yang sudah dicelup ke mangkok berisi tanah berwarna coklat itu disapukan Zainal Beta secara horizontal ke seluruh kanvas sebagai dasar.

Sesekali tangan kirinya yang tak segan berlumur lumpur, menari-nari di atas kanvas dengan tangan kosong. Dimulai dari gambar sebuah rumah. Lalu menyusul sosok pria bersahaja bersama seorang wanita dengan mesin jahit. Lengkap dengan bendera merah putih dalam sajian warna berbeda.

Pada bagian-bagian yang membutuhkan detail, pelukis dengan aliran ekspresif itu menggunakan kayu yang mirip bilahan bambu. Ukurannya sekitar sejengkal. Bilahan kayu ini dipakainya saat membentuk wajah, mesin jahit dan rumah.

Tak perlu menunggu lama, hitungan menit pengunjung yang menyaksikan “atraksi” lukis mengenal sosok yang dibuat oleh penerima penghargaan 72 ikon orang berprestasi di Indonesia pada Agustus 2017 lalu. Sosok itu adalah Presiden Pertama RI Soekarno bersama istrinya, Fatmawati, putri Bengkulu.

Rumah yang dilukisnya tak lain adalah rumah pengasingan yang ada persis di belakang kanvas lukis Zainal Beta. “Saya menggambarkan Bung Karno yang diasingkan ke Bengkulu setelah dari Ende. Ada kegelisahan ketika membawa ibu Inggit ke Bengkulu,” ungkap pelukis yang aktif berkarya di Fort Rotterdam, Makassar.

“Dimulai dari melukis rumahnya dulu. Lalu ada ibu Fatmawati yang menjahit bendera merah putih. Keduanya merupakan lambang revolusi dan perjuangan kemerdekaan,” imbuh pria kelahiran 19 April 1960.

Bagi Zainal Beta, bagian yang cukup sulit adalah saat melukis Soekarno dan Fatmawati. “Saya harus tahu karakternya,” tandas Zainal. Lukisan diselesaikan dalam waktu 26 menit saja. Sekitar pukul 10.00 WIB, pengunjung sudah bisa melihat langsung hasil karya Zainal.

Lukisan yang sudah jadi itu dikeringkan di bawah terik matahari. Menurut Zainal, setelah kering lukisan akan dipernis supaya lebih awet. “Bisa tahan hingga puluhan tahun,” katanya. “Merawatnya juga tidak sulit. Cukup dengan kemoceng,” imbuhnya.

Tanah Nusantara

Cara melukis Zainal Beta sendiri, memang terbilang unik. Ia melukis dengan cara yang tidak biasa. Karena selain menggunakan tangan kosong, bahan yang dipakainya sebagai “cat” berasal dari tanah. Tanahnya pun diambil dari beberapa daerah. Seperti Gowa, Toraja, Majene dan lain-lain.

“Tanahnya ada juga yang saya ambil dari Benteng Marlborough dan dari belakang rumah Bung Karno. Teksturnya sudah bagus. Mengolahnya tidak sulit,” tuturnya.

Tanh yang digunakan memang diolah terlebih dahulu secara khusus. Ada yang sampai tiga bulan. Caranya dengan dicampur air, lalu diendapkan, disaring lalu dikeringkan airnya. “Nanti teksturnya akan terasa lembutnya. Kalau tanah yang dari Bengkulu dua hari saja diolah,” jelas Zainal.

Dia menuturkan, ada makna tersendiri kenapa tanah yang diambil berasal dari daerah berbeda. Zainal bermaksud ingin “menyatukan nusantara” dalam satu lukisan. “Cita-cita saya menyatukan tanah liat seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke di atas kanva dengan judul Tanah Airku Indonesia,” ungkap Zainal.

Pelestarian Budaya

Provinsi Bengkulu merupakan daerah yang unik dan kaya akan cagar budaya. Peninggalan-peninggalan Inggris yang masih dilestarikan, merupakan simbol perlawanan rakyat terhadap penjajah.

Plt Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah pun mengapresiasi diadakannya Internalisasi Cagar Budaya bertajuk Jejak Warisan Budaya dalam gerak, tutur, nada dan coretan.”Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada Dirjend Kebudayaan, BPCB Jambi, Musium RI dan segala pihak yang terlibat,” ucap Rohidin saat membuka acara.

Rohodin juga mengatakan, saat ini Pemprov Bengkulu tengah menggagas untuk mem-film-kan kisah Bung Karno dan Fatmawati. Sehingga nantinya bisa ditayangkan di layar lebar. “Saya akan mengajak Forkominda dan pihak-pihak terkait untuk menjajaki ke keluarga ibu Fatmawati dan Bung Karno,” ungkap Rohidin.

Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permusiuman Direktorat Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Hari Widiyanto menambahkan, kegiatan yang diadakan BPCB Jambi bertujuan untuk memperlias pemahaman masyarakat terhadap cagar budaya yang ada di daerahnya.

Hari mengatakan, pemerintah pusat akan memberikan perhatian khusus bagi kelestarian cagar budaya yang ada di Bengkulu. Salah satunya Rumah Pengasingan Bung Karno. Tahun 2018 mendatang, ia memastikan akan ada revitalisasi.

“Kemendikbud melalui Dirjend Kebudayaan sudah punya dana untuk penataan halaman dan menata interior rumah Bung Karno, agar lebih punya makna dalam menyampaikan informasi sejarah,” tandas Hari.

Lomba dan Pertunjukkan

Sementara itu pembukaan Internalisasi Cagar Budaya juga diisi pertunjukkan dari PAUD Pertiwi 1, seni tari dan musik dengan seniman kolaborasi dengan luar Bengkulu, serta lomba melukis tingkat SD dan SMP. Lomba ini diikuti hampir 200 pelajar Kota Bengkulu. Hari ini (6/9) acara akan berlanjut di Benteng Marlborough. Di Benteng Marlborough lomba yang diadakan yakni seni musik dan tari yang diikuti pelajar dan umum dari sanggar-sanggar. Acara dimulai sekitar pukul 09.00 WIB.(**)

 

 

7 Replies to “Soekarno-Fatmawati dalam Lukisan Zainal Beta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *