Lele Asap dan Abon Ikan Tuna Bu’ Sri

PENYUKA abon dan lele asap bisa mencicipi varian yang satu ini. Abon Bu’ Sri dan lele asap dengan merek yang sama. Jika biasanya abon identik dengan daging sapi, abon Bu’ Sri berbahan baku ikan tuna.

Abon ibu Bu’Sri dijual dengan harga Rp 25 ribu per 100 gram atau 1 ons, Rp 10.000 per 50 gram atau Rp 200 ribu per 1 kg. Bagi yang mau pesan, bisa menghubungi 081367379584.

“Varian rasanya ada yang original, ada yang pedas,” kata Sridaryanti, produsen abon tuna yang menjadi mitra Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Provinsi.

Abon ikan tuna ini cocok dijadikan oleh-oleh. Termasuk untuk keluarga yang jauh di luar Bengkulu. Meski tanpa bahan pengawet, namun karena pengolahannya yang baik, makanan kemasan ini awet. “Bisa tahan sampai tiga bulan,” ungkap Sri.

Selain abon ikan tuna, sejak tahun 2015 Sri juga membuat lele asap. Saat ini pemasarannya baik lele asap maupun abon masih di seputar Bengkulu. Bagi yang mau beli, bisa datang ke sentra oleh-oleh di Kelurahan Anggut atau ke Surya Bakery.

Ide Sri memproduksi abon dan lele asap, tidak datang begitu saja. Wanita yang menjalankan usahanya di kawasan Lempuing ini sempat mencicipi pahitnya kegagalan membangun usahanya.

Saat Kopi Darat (Kopdar) Blogger Bengkulu (Bobe) Minggu, 30 April lalu, Sri sempat menceritakan sedikit kisahnya. Saat belajar membuat abon ikan tuna, ia sempat gagal sampai tujuh kali. Namun tak berhenti mencoba.

“Mau belajar, tidak ada gurunya. Jadi ya saya belajar otodidak sendiri. Di Bengkulu ini kan tidak sulit mencari bahan ikan tunanya. Setelah mencoba dan terus mencoba, akhirnya saya berhasil membuat abon,” ungkap Sri.

Begitupun dengan usaha lele asap. Awalnya Sri, sama dengan banyak warga Lempuing lainnya yang membudidayakan ikan lele di samping rumah. Sayangnya lele basah sulit di pemasarannya. Ia sempat empat kali mencoba budidaya, sebelum akhirnya berhenti.

“Menjual lele basah harus sesuai ukuran. Kalau dijual masih kecil ukurannya, kita yang rugi. Kalau udah kelewat besar, nggak ada yang mau beli,” ungkap Sri.

Karena kesulitan menjual lele basah, Sri pun “banting setir”. Ia beralih ke lele asap, yang bahan bakunya memanfaatkan lele yang dibudidaya para tetangga. “Kalau lele asap, nggak berpatokan sama ukuran. Besar kecil sama saja. Toh bahan bakunya melimpah,” ungkap Sri.(ken)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *