Kuliah Asyik di Taman Pantai Berkas

Ada yang berbeda dari suasana perkuliahan akhir pekan lalu. Jika belajar biasanya dilakukan di dalam kelas, maka pada pertemuan ketiga mata kuliah Pengantar Sosiologi dan Antropologi berpindah tempat ke tempat wisata Taman Pantai Berkas. Apa saja yang dipelajari?

Sabtu, 22 September 2018. Di hari itu sekitar 30 mahasiswa Kelas B Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Dehasen mengikuti lima mata kuliah. Sehari penuh dari pukul 08.00 WIB pagi.

Bisa dibayangkan kan bagaimana rasanya harus fokus pada beberapa materi dengan waktu istirahat hanya sekitar setengah jam sebelum berganti ke pelajaran selanjutnya. Kurang fokus, lapar, gerah, lelah, bosan dan kantuk semakin terasa tatkala hari semakin beranjak sore.

Oleh sebab itulah, sebagai obat dari rasa-rasa yang membuat semangat belajar jadi menurun, kelas mata kuliah Pengantar Sosiologi dan Antropologi menyepakati untuk mengubah suasana belajar agar lebih menyenangkan.

Salah satu caranya adalah mencoba hal baru dengan belajar di ruang terbuka. Dengan bimbingan dosen pengampu Bayu Risdiyanto, MPPSp, seminggu sebelumnya para mahasiswa sudah urun rembuk. Menentukan dimana lokasi yang representatif untuk belajar dengan suasana santai dan riang gembira.

“Kita sepertinya memerlukan suasana berbeda untuk mengobati perasaan teman-teman seperti yang sudah dituliskan di papan tulis ini,” kata Bayu pada Sabtu, 15 September 2018 lalu, seraya menunjuk ungkapan rasa dari mahasiswa pasca kuliah sehari penuh.

Dosen pengampu mata kuliah Pengantar Sosiologi dan Antropologi Bayu Risdianto bersama mahasiswa.

Sekitar pukul 15.30 WIB, satu per satu mahasiswa tiba di Taman Pantai Berkas. Beberapa diantaranya yang sudah datang lebih dulu, tampak mencari-cari meet point.

Soalnya walau sudah memutuskan lokasi belajar di Taman Pantai Berkas, namun lupa menentukan dimana lokasi kami akan menggelar tikar. Padahal di sana lumayan luas dan ramai untuk saling mencari-cari. Beruntungnya sudah ada teknologi WhatsApp.

Setelah semua berkumpul, rupanya ada satu dosen lagi yang hadir. Indria, M.Ikom namanya. Beliau adalah dosen mata kuliah Master of Ceremony, Teknologi Komunikasi dan Semiotika Komunikasi di Unived.

Perkuliahan dibuka dengan sebuah lagu berjudul Luka Disini yang dipopulerkan oleh grup band Ungu. Akbar Ajmiansyah yang merupakan wakil komti alias wakil komandan tingkat asyik memetik dawai gitar sembari bernyanyi. Tak ketinggalan beberapa mahasiswa lainnya yang hapal liriknya, juga ikut bersenandung lagu pop sendu itu.

Dilanjutkan lagu kedua Nisa Sabyan berjudul Maulana yang diperdengarkan melalui bluetooth speaker milik Vennsca Mandela. Khusus lagu ini, berhubung request khusus dari Komti Melli Harni, maka ialah yang tampak paling bersemangat bernyanyi sambil tepuk tangan.

Menggali Informasi

Usai dua lagu, tadinya mahasiswa masih diminta melanjutkan lagu ketiga. Tapi karena masih banyak yang setengah malu-malu, sesi bernyanyi dijeda. Masuklah kami pada perkuliahan.

Pada kesempatan itu Bayu Risdiyanto meminta mahasiswa menyebutkan aktivitas apa saja yang ada di Taman Pantai Berkas. “Ayo, sebutkan kegiatan apa saja yang Anda lihat di Taman Pantai Berkas ini?” tanya Bayu.

“Pacaran pak,” kata Mawan. “Memotret, olahraga skateboard, joging, jalan-jalan sama keluarga, orang jualan, arena bermain,” sahut mahasiswa lainnya.

Dari berbagai macam aktivitas yang sudah disebutkan, akhirnya Bayu merangkumnya menjadi lima topik aktivitas. Topik ini selanjutnya dibagikan kepada mahasiswa yang dibagi menjadi kelompok. Pacaran, berdagang, olahraga, anak-anak bermain dan penjual makanan.

Tugasnya, masing-masing kelompok melakukan wawancara. Menggali informasi mengenai alasan yang melatarbelakangi mengapa masyarakat Kota Bengkulu memilih Taman Pantai Berkas sebagai tempat beraktivitas. “Waktunya 15 menit saja,” instruksi Bayu.

Representatif dan Mudah Diakses

Kami berada di kelompok 1 yang tugasnya menggali informasi dari pasangan yang memadu kasih di Taman Pantai Berkas. Terdiri dari Komi Kendy, Mawan Syafar, Indria, Akbar dan Deka.

Diantara lima topik aktivitas, tugas mewawancarai tentu saja yang paling berat. Selain mengusik suasana romantis dengan pertanyaan, menggali informasi tentang pacaran cukup sensitif. Apalagi jika pendekatan wawancaranya langsung “to the point”.

Terbukti pasangan yang menjadi target wawancara pertama menolak. Ogah ditanyai. Mungkin karena terlalu ramai. Lalu diputuskan lah untuk membagi kelompok menjadi dua tim. Cara ini cukup ampuh, karena pendekatan dengan narasumber tidak dengan beramai-ramai jadi lebih efektif.

Ada dua pasangan yang diwawancara. Pasangan pertama, Randa dan Kiki. Keduanya mahasiswa semester akhir Jurusan Perbankan Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Terkait alasan mengapa mereka memilih Taman Pantai Berkas untuk menghabiskan sore, tak lepas dari lokasi taman yang representatif dan mudah diakses.

“Dekat dengan pantai. Jadi sekali jalan, bisa ke taman sambil lihat pemandangan,” ungkap Randa. Lokasinya yang ramai pengunjung juga menjadi alasan mengapa Randa mengajak Kiki ke sana. “Kalau tempatnya ramai, kita yang bawa pacar ke sini jadi terpantau sama orang lain,” imbuh Randa.

Baik Randa maupun Kiki, sudah lebih dari tiga kali berkunjung ke taman. Tak melulu pergi berdua. Sesekali mereka bersama teman dan keluarga. “Di sini tempatnya asyik. Bisa kumpul juga jadi tempat kopdar bagi yang berorganisasi, diskusi dan nambah ilmu,” kata Randa.

Hanya saja Randa berharap, kedepannya kesadaran pengunjung bisa ditingkatkan. Sebab walau sudah banyak tempat sampah yang disediakan, namun sampah kertas dan plastik masih berserakan. “Kebersihannya masih kurang,” ucap Randa.

Senada disampaikan pasangan Wahyu dan Nisa yang sudah enam tahun menjalin kasih. Keduanya senang ke Taman Pantai Berkas karena tempatnya yang sejuk dan banyak tempat untuk duduk-duduk. Lokasinya pun berada di tengah-tengah tempat wisata primadona Kota Bengkulu, Pantai Panjang.

“Kalau ke sini kita bisa lihat bermacam-macam aktivitas sambil duduk-duduk dan mengobrol. Sayangnya masih kurang lampu penerangan. Harus ditambah supaya kalau malam tidak terlalu gelap,” ujar Wahyu.

Melatih Banyak Hal

Kompaknya mahasiswa Ilmu Komunikasi Unived
Kompaknya mahasiswa Ilmu Komunikasi Unived

Lima belas menit menggali informasi pun berakhir. Masing-masing memaparkan hasil wawancara singkatnya. Selanjutnya hasil presentasi dan tanya jawab antar kelompok, wajib dibuatkan sebuah tulisan.

Belajar di Taman Pantai Berkas mengajarkan banyak hal. Melatih bagaimana melakukan pendekatan terhadap orang asing, melatih keberanian, mental dan sensitivitas, menyusun pertanyaan, melakukan wawancara hingga mempresentasikan hasil wawancara.

Suasana belajar yang berbeda pun terbukti bisa menepis rasa kantuk, bosan, lelah, lapar, gerah dan kurang fokus. Lagu Kemesraan yang dipopulerkan Iwan Fals pun menutup perkuliahan sore itu.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *