Kopi Bengkulu Menuju Konferensi Dunia

Kopi Bengkulu Menuju Konferensi Dunia

BENGKULU merupakan salah satu provinsi yang masuk ke dalam “segitiga emas” kopi, bersama Lampung dan Sumatera Selatan. Khususnya jenis robusta. Dari rasanya, Kopi Bengkulu pun sudah diakui enak.

Dimana 66.999 petani kopi di 10 kabupaten/kota, 64.632 petani menanam kopi robusta. Hasil produksinya mencapai 55.168,9 ton (per tahun 2016). Sementara untuk kopi arabika, jumlah petaninya hanya 2.367 petani, dengan hasil produksi 1.506 ton. Data tersebut merupakan data Bengkulu Dalam Angka Tahun 2016 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu.

Kayanya potensi kopi, membuat Pemprov Bengkulu berencana mengadakan Konferensi Kopi Dunia. “Konferensi ini juga sebagai bagian dari program Visit Bengkulu 2020,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Provinsi Bengkulu H. Lierwan, SE, saat membuka kopi darat (kopdar) Blogger Bengkulu (Bobe) dan sejumlah pengusaha kopi pada Minggu, 21 Mei 2017.

Lierwan mengatakan, saat ini Disperindag Provinsi Bengkulu tengah berupaya memantapkan diri menuju konferensi. Beberapa langkah yang dimulai salah satunya dengan mempublikasikan rencana menggelar konferensi melalui berbagai media. Salah satunya melalui buzzer Bobe via internet.

“Kami ingin memperkenalkan kopi rakyat Bengkulu kepada dunia. Mulai dari penanaman, pemetikan, menjemur, mengolah, mengemas hingga menyajikan. Kami juga akan membuat sentra wisata kopi. Rencananya di Kepahiang,” kata Lierwan.

Saat ini, lanjut Lierwan, ada 146 pemilik usaha kopi yang tergabung dalam Industri Kecil Menengah (IKM). Tersebar di Bengkulu Selatan 27 pemilik usaha kopi, Bengkulu Utara 40 pengusaha, Mukomuko 2 pengusaha, Kaur 6 pengusaha, Kepahiang 45 pengusaha, Kota Bengkulu 10 pengusaha, Lebong 7 pengusaha, Rejang Lebong 8 pengusaha dan Seluma 1 pengusaha.

Oleh sebab itu pada saat kopdar Disperindag Provinsi menghadirkan beberapa diantara pengusaha kopi. Seperti Kopi Redjang, Konakito Villco, Sindang Dataran Robusta (Sintaro), Edu Coffee, Bengkulu Mountain Coffee dan Tradisional Robusta Bengkulu Asli (Trabas).

Kepahiang Produksi Kopi Terbesar

Disisi lain, dilihat dari sebarannya tiga besar kabupaten penghasil kopi terbesar yakni Kepahiang, Rejang Lebong dan Kaur. Di Kepahiang, hasil produksi kopi mencapai 18.461 ton. Terdiri dari 18.300 ton robusta dan 161 ton arabika.

Untuk Rejang Lebong, hasil produksi kopi tahun 2016 mencapai 13.561 ton. Terdiri dari 13.422 ton jenis kopi robusta dan 139 ton arabika. Sementara Kaur hasil produksinya 6.280 ton khusus robusta saja. (lengkap lihat grafis)

DATA PRODUKSI KOPI BENGKULU
DATA PRODUKSI KOPI BENGKULU

Koordinator Media Sosial Media Centre Pemprov Abdul Khafi Syatra menambahkan, Indonesia masih ketinggalan jauh dalam mamasarkan produk unggulannya. Termasuk kopi. Berawal dari hal itu, Media Centre ingin Disperindag tergerak memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan Bengkulu.

Menurutnya, saat ini petani kopi saat ini kerap merasa kurang terperhatikan, karena harga hasil pertanian mereka kerap merosot. Padahal Bengkulu menjadi segitiga emas Lampung, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

“Maka itu kami ingin agar pengusaha kopi bersinergi dengan pemerintah bersama-sama membuka akses pemasaran yang baik. Mari bersama-sama membuat image brand Bengkulu adalah kopi,” ungkapnya.(ken)

8 Replies to “Kopi Bengkulu Menuju Konferensi Dunia”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *