Konservasi Penyu di Bengkulu

Konservasi Penyu di Bengkulu, Yuk Kita Dukung

Konservasi Penyu di Bengkulu gencar dilakukan. Gerakan Lestari Alam Laut untuk Negeri (Latun) dan Marine Concervation and Education Program (MCEP) yang bermarkas di kawasan Tapak Paderi, melakukan aksi nyata. Mulai dari diskusi, edukasi, penangkaran, melepasliarkan hingga menggalang donasi.

**

BEBERAPA waktu lalu saat sedang asyik snorkeling di perairan Pulau Tikus, ada pemandangan menarik di bawah laut. Untuk pertama kalinya saya melihat langsung seekor penyu tengah asyik berenang sekitar 3 meter di kedalman laut biru.

Waktu itu keinginan untuk mengikuti arah berenang penyu sangat besar. Sayangnya walau terlihat santai mengayuh kaki, penyu meluncur dengan cepat di dalam air. Jadinya ga sempat mengamati penyu jenis apakah itu. Tulisan lain tentang pengalaman melihat penyu bisa dibaca di artikel saat saya Diving ke Bunaken.

Pertemuan dengan penyu makin membuat saya yakin bahwa spesies imut ini masih ada di Bengkulu. Walaupun kondisinya saat ini disebut-sebut berada dalam ancaman kepunahan.

Penyu jenis sisik yang ditangkar di konservasi penyu Tapak Paderi
Penyu jenis sisik yang ditangkar di konservasi penyu Tapak Paderi. Foto: Komi Kendy

Penyu di dunia ada tujuh jenis. Berdasarkan data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu ketujuh jenis itu yakni penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu pipih (Natator depressus), penyu tempayan (Caretta caretta), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu kemp’s ridley (Lepidochelys kempi).

Mengutip dari situs National Geographic, dari tujuh spesies penyu itu enam diantaranya berpotensi segera punah. Penyu hijau, penyu lekang atau penyu abu-abu dan penyu tempayan atau loggerhead digolongkan sebagai terancam punah.

Di samping penyu belimbing, dua spesies lain, penyu Kemp’s Ridley dan penyu sisik juga diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah oleh The World Conservation Union (IUCN). Hanya penyu pipih yang diperkirakan tidak terancam.

Bengkulu sebenarnya menjadi provinsi yang “beruntung”. Sebab ada empat jenis penyu teridentifikasi “mendarat” di pantai Bengkulu. Penyu hijau, penyu sisik, penyu lekang dan penyu belimbing.

Kenapa Penyu Terancam Punah?

Telur penyu yang dikumpulkan dari berbagai pantai dan hasil membeli dengan nelayan dietaskan di lokasi konservasi penyu.
Telur penyu yang dikumpulkan dari pantai dan hasil membeli dengan nelayan dietaskan di lokasi konservasi penyu. Foto: Komi Kendy

Ada beberapa hal yang menjadi penyebab penyu terancam punah. Beberapa penyebabnya :

Perburuan

Ancaman kepunahan penyu akibat perburuan, jelas disebabkan oleh manusia. Walau sudah dilarang oleh pemerintah, bahkan sudah ada sanksi bagi pemburu, namun tetap saja masih ada yang melakukannya. Penyu ditangkap untuk disantap daging dan telurnya, hingga dengan alasan memiliki kandungan yang baik untuk pengobatan.

Perdagangan Cangkang

Selain menyantap daging dan telur, cangkang penyu juga banyak diperjualbelikan. Bentuknya yang menarik biasanya diolah menjadi pajangan atau perhiasan lainnya.

Kondisi Alam

Kondisi alam yang mengancam keberlangsungan hidup penyu adalah perubahan iklim. Termasuk jenis kelamin keturunan. Perubahan iklim membuat suhu lingkungan menjadi lebih hangat, sehingga menghasilkan lebih banyak penyu betina. Hal ini mengganggu rasio jenis kelamin normal dan mengurangi kesempatan reproduksi serta menurunkan keragaman genetik.

Kerusakan Habitat

Pencemaran air laut seperti sampah dan limbah membuat habitat hidup penyu menjadi rusak. Bahkan pernah terbaca di salah satu artikel, ada penyu yang sampai makan sampah plastik. Miris.

Gerakan Konservasi Penyu

Gerakan konservasi penyu di Bengkulu, sebenarnya sudah sejak lama dilakukan. Seperti yang ada di kawasan konservasi Air Hitam Desa Retak Ilir Kecamatan Ipuh, Kabupaten Mukomuko. Lalu sekarang juga ada Komunitas Pencinta Alam (KPA) Konservasi Penyu Mukomuko.

Begitu halnya di Kabupaten Bengkulu Tengah. Saat ini ada Kelompok Konservasi Penyu Alun Utara yang peduli terhadap keberlangsungan hidup spesies yang keberadaannya sudah ada sejak 100 juta tahun lalu. Kelompok- kelompok konservasi ini beranggotakan masyarakat setempat.

Upaya penyelamatan penyu ini juga tengah giat digalakkan di Kota Bengkulu. Kesadaran ini juga muncul seiring dengan keinginan memajukan wisata bahari berbasis lingkungan. Tentunya dengan memperhatikan mahluk hidup yang berada di ekosistem kawasan wisata.

Ajak Beri Donasi

Anak penyu atau disebut tukik dilepas di Tapak Paderi Kegiatan konservasi penyu secara swadaya ini dilakukan oleh Latun
Anak penyu atau disebut tukik dilepas di Tapak Paderi. Konservasi penyu secara swadaya ini dilakukan oleh Latun. Foto: Komi Kendy

Berbagai elemen masyarakat membentuk komunitas yang bernama Latun, MCEP, Kelompok Pelestari dari Mahasiswa Ilmu Kelautan (BSTC) dan Kelompok Pelestari Penyu Pantai Sekube di Kaur. Lokasinya terpusat berada di kawasan pantai Tapak Paderi yang juga menjadi sekretariat keluarga selam Bengkulu. Saat ini di sana ada puluhan telur penyu yang tengah dalam proses penetasan. Lalu ada puluhan tukik sisik, sebutan anak penyu, yang belum lama menetas dan tengah dipelihara. Penangkaran ini dikelola secara swadaya, sekaligus menjadi bahan penelitian.

Mari berdonasi sebagai bentuk dukungan kita terhadap konservasi penyu di Bengkulu.
Mari berdonasi sebagai bentuk dukungan kita terhadap konservasi penyu di Bengkulu. Foto: facebook Ari Anggoro

Koordinator Latun Ari Anggoro mengatakan, untuk perawatan tukik serta penyelamatan telur-telur lainnya, memerlukan keterlibatan dan kepedulian masyarakat. Oleh sebab itu ia mengajak untuk ikut melakukan donasi telur penyu dan pelepasan penyu ke habitat. Donasi bisa disalurkan melalui rekening Mandiri Ari Anggoro 9000010507052 atau menghubungi 081377856280 untuk konfirmasi. Selain itu bisa juga kontak ke Eko Sumartono di nomor HP 082138129668.

Saat ini Latun dan MCEP juga tengah ada program Mari Selamatkan Penyu. Program ini mengajak masyarakat memberikan donasi sebesar Rp 150 ribu dan mendapatkan baju #KawanLatun. Selain itu bagi yang berdonasi lebih dari Rp 500 ribu, selain mendapatkan kaos juga mendapatkan sertifikat khusus sebagai apresiasi kepada pendonasi. Selain berdonasi, kita juga bisa ikut secara langsung melepasliarkan tukik ke laut di Pantai Tapak Paderi setiap pukul 16.00 WIB.(**)

Komi Kendy

Halo, saya adalah blogger pemula yang menyukai dunia menulis, fotografi dan traveling.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: