var id = "072661ba8e20863f2ea1a602659d17d34daab54b"; class="post-template-default single single-post postid-1128 single-format-standard js-preloader wpb-js-composer js-comp-ver-5.6 vc_responsive elementor-default elementor-kit-1176 elementor-page elementor-page-1128">
Hutan sumber pangan. Kecombrang menjadi tanaman hasil hutan yang bisa dikonsumsi.

Kecombrang, Hutan dan Pemenuhan Hak Perempuan

HUTAN SUMBER MAKANAN

Kecombrang merupakan tanaman beraroma khas saat dikunyah. Di Rejang Lebong, tanaman ini tidak hanya menjadikan hutan sumber makanan. Tapi juga menjadi “simbol” pelestarian dan pemenuhan hak perempuan.

**

Tanaman kecombrang memiliki banyak nama
Tanaman kecombrang memiliki banyak nama. Hutan sumber makanan. Foto: canva.com

Perkenalan dengan kecombrang berawal saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Waktu itu setiap libur sekolah, bersama adik lelaki yang nomor dua, kami kerap diajak berlibur ke Sebelat, Kabupaten Bengkulu Utara oleh opung.

Opung merupakan panggilan kakek dari suku Batak. Beliau merupakan bos papa semasa masih bekerja di sebuah perusahaan swasta. Bagi orang Batak, kecombrang biasa diolah menjadi masakan enak. Terutama saat menggelar acara-acara tertentu.

Salah satu yang cukup terkenal adalah ikan mas dimasak arsik. Pada suatu kesempatan, jadinya ikut memakan menu asing bagi lidah orang Jawa seperti saya ini. 

Kecombrang yang dijual di pasar tradisional.
Kecombrang yang dijual di pasar tradisional. Foto: Komi Kendy

Dimasak Ala Rumahan

Di rumah, mama memasak kecombrang untuk dijadikan urap atau lotek. Jika dimasak urap, kecombrang dicampur dengan kelapa parut yang agak muda, ditambah dengan bumbu, bawang dan cabai sebagai cita rasa.

Sayur rebusan lainnya yang ikut dicampur ada kangkung, pucuk ubi, toge, kacang panjang dan lain-lain. Sementara kalau dilotek, bahan sayurnya pun sama saja. Bedanya ada campuran kuah kacang.

Saya sendiri pernah memasak kecombrang tumis cumi. Walau belum ada penelitian yang membuktikan, konon kata orang-orang tua, kecombrang menjadi bahan makanan dari hutan yang bisa merangsang produksi Air Susu Ibu (ASI). Kebetulan saat ini saya sedang menyusui anak kedua.

Yang saya suka dari kecombrang adalah aromanya yang segar, ibarat jeruk nipis. Di lidah, agak terasa sedikit pedas. Bahan bakunya mudah dicari di pasar dan tidak mahal. Di pasar, kecombrang dijual Rp1.000-Rp2.000 per ons. Sekali masak, dua ons cukup untuk satu hidangan sekeluarga.

kecombrang-hutan-sumber-makanan (3)
Cumi tumis kecombrang. Foto: Komi Kendy

Cara memasak kecombrang tumis cumi, cukup sederhana. Pertama, bersihkan dulu cuminya. Khususnya tinta, supaya masakannya tidak berwarna hitam. Lalu iris bawang merah dan bawang putih. 

Bahan lainnya adalah lengkuas diiris tebal, lalu digepruk (tumbuk kasar jangan sampai hancur). Tambah irisan cabai merah dan lada sebagai bumbunya. Bagi yang suka pedas, bisa tambah rawit. Tumis semua bumbu hingga wangi. 

Selanjutnya campur dengan kecombrang yang sudah diiris dan cumi yang sudah dibersihkan. Masak hingga cumi lembut. Sangat nikmat disantap dengan nasi putih hangat. Untuk membaca lebih lengkap resep cumi tumis kecombrang, boleh banget baca di artikel lainnya di blog ini.

Menurut saya, orang perlu tahu tentang kecombrang. Sebab tanaman yang menjadikan hutan sumber makanan ini kaya akan manfaat dan khasiat. Sangat baik dikonsumsi untuk menjaga kesehatan. Berikut ciri-ciri dan khasiat tanaman kecombrang : 

Dipanen dari Hutan TNKS

Di Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, kecombrang tidak hanya menjadikan hutan sumber makanan yang diolah untuk konsumsi sehari-hari. Di Desa Pal VIII tepatnya, ada Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) yang memproduksi kecombrang menjadi aneka makanan dan minuman kemasan. Seperti wajik, dodol dan sirup.

Selain itu mereka juga membuat keripik bawang dengan campuran daun pakis yang bahannya bakunya berasal dari hutan.  

Menariknya, kecombrang dan pakis itu dipanen dari lahan yang masuk wilayah kawasan konservasi  Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). Arealnya masuk pula sebagai kawasan hutan yang berstatus ASEAN Heritage Parks dan menjadi bagian dari situs warisan dunia (heritage sites).

Di sana, hutannya juga sudah ada yang menjadi hutan wisata yang dikenal masyarakat sebagai hutan Madapi (Mahoni Damar Pinus).

 

Perempuan anggota KPPL Maju Bersama dalam sebuah pertemuan di Desa Pal VIII. Foto: Komi Kendy

KPPL Maju Bersama berkelompok sejak Juli 2017. KPPL ini menjadi kelompok perempuan pertama di Indonesia yang mendapatkan hak akses memanen kecombrang liar dan membudidayakannya di areal taman nasional. Hak akses ini didapat setelah KPPL yang beranggotakan 20 perempuan menjalin kemitraan konservasi dengan Balai Besar TNKS. Luas lahan yang boleh dikelola mencapai 10 hektare.

Di areal 10 hektare itulah, mereka menerapkan 3P di kawasan konservasi. Perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan. Perjanjian kerjasama kemitraan konservasi antara Kepala Balai Besar TNKS Tamen Sitorus dengan Ketua KPPL Maju Bersama Rita Wati sudah disepakati pada 5 Maret 2019 lalu.

Awalnya KPPL mengidentifikasi ada 26 jenis makanan dari hutan TNKS. Ada tepus, cemploka, pisang hutan, kemiri dan lainnya. Lalu setelah dianalisa bersama-sama, diputuskan kecombrang dan pakis sebagai bahan makanan dari hutan yang bisa dikelola di TNKS.

Penetapannya dianalisis berdasarkan potensi banyak atau tidak tanaman tersebut, apakah dalam proses menanam dan panen merusak kawasan hutan atau tidak. Lalu ada pertimbangan jarak antara areal tumbuhnya kecombrang dan pakis dengan pemukiman.

Mengutip liveindonesia.id, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melansir data ada 6.112 kelompok masyarakat di Indonesia yang mendapatkan hak kelola kawasan hutan hingga per November 2019.  Luas kawasan yang dikelola mencapai 3,436 juta hektare.

TNKS memiliki luas 1.389.510 hektare. Kawasannya membentang di Provinsi Bengkulu, Jambi, Sumatera Barat dan Provinsi Sumatera Selatan. Di Bengkulu, luas kawasan TNKS mencapai 348.841 hektare. Wilayahnya ada di Kabupaten Rejang Lebong 25.815 hektare, Lebong 98.287 hektare, Bengkulu Utara 71.702 hektare dan Kabupaten Mukomuko 150.036 hektare.

Di Rejang Lebong, luas kawasan TNKS mencapai 51,19 persen dari luas kawasan hutan di Rejang Lebong (50.428 ha) dan berada di 26 desa di lima kecamatan. Salah satunya Desa Pal VIII Kecamatan Bermani Ulu Raya.

Sebagai mitra konservasi, KPPL Maju Bersama sekarang punya hak memanen dan membudidayakan kecombrang dan pakis. Mereka juga berkewajiban menjaga kelestarian TNKS. Setiap Minggu, ibu-ibu yang tergabung di KPPL melakukan pemeliharaan atau panen. Seninnya mereka memproduksi wajik dan sirup di Sekretariat Pusat Produk Olahan Pakis dan Kecombrang dari TNKS.

Selain mendapat dukungan dari Balai Besar KPPL Maju Bersama dalam beraktivitas mereka mendapatkan dukungan dari Non Timber Forest Product Exchange Proggrame (NTFP-EP) LivE dan Universitas Bengkulu.

Dodol, stik dan sirup dari kecombrang. Foto: Komi Kendy
Wajik dan sirup dari kecombrang, juga stik bawang pakis. Foto: Komi Kendy

Wajik dari Kecombrang

Wajik dan sirup kecombrang sekarang menjadi makanan yang tengah diupayakan untuk menjadi produk lokal yang bisa dijual di pasaran oleh KPPL Maju Bersama. Senin, 10 Februari lalu saya sempat bertanya langsung proses pembuatannya dengan ibu Rita Wati di Desa Pal VIII. Untuk kesana, dari Kota Bengkulu menempuh perjalanan 2,5-3 jam mengendarai mobil.

Cara membuat wajik kecombrang cukup mudah dan bisa dilakukan di rumah. Membuat wajik dibutuhkan bahan-bahan berupa beras ketan, kecombrang, gula pasir dan kelapa parut yang tidak terlalu tua (kelapa untuk membuat inti).

Adonan utamanya adalah beras ketan yang ditanakkan. Setelah masak campur dengan kelapa parut dan gula pasir. Untuk kecombrangnya, rebus hingga matang lalu digiling halus sebelum masuk ke adonan utama.

“Campur semuan bahan sampai rata. Nanti ambil setengah sendok untuk dibentuk. Udah tinggal  dibungkus ke dalam kertasnya (kertas khusus pembungkus wajik),” tutur ibu Rita Wati sambil menyodorkan kantong plastik kemasan untuk mengemas wajik yang akan saya bawa pulang.

Wajik kecombrang ditimbang sebelum dikemas. Foto: Komi Kendy
Wajik kecombrang ditimbang sebelum dikemas. Foto: Komi Kendy

Pemenuhan Hak Perempuan

Berbicara tentang hutan sumber makanan, tidak lepas dari hak perempuan atas lingkungan hidup dan perempuan. Di desa khususnya, perempuan bisa dibilang paling dekat dan sangat bergantung pada hutan untuk menjalankan aktivitasnya. Paling utama, hutan sumber makanan, udara dan air bersih.

Hutan yang terjaga kelestariannya akan menghasilkan bahan makanan yang baik untuk dikonsumsi keluarga. Karena hutan sumber makanan. Hutan menghasilkan udara yang baik untuk kesehatan keluarga. Hutan juga menjadi sumber air bersih. Dimana air bersih menjadi kebutuhan utama manusia, termasuk perempuan.  

Dengan memberikan akses kepada perempuan untuk mengelola kawasan hutan untuk membudidayakan dan memanen kecombrang dan pakis, artinya hak perempuan terhadap lingkungan sudah mulai terpenuhi. Bahwasanya perempuan memiliki peran besar terhadap ketangguhan dan ketahanan pangan, serta peduli terhadap isu lingkungan dunia yakni perubahan iklim.

Hak-hak perempuan atas lingkungan dan hutan sesuai dengan Undang-undang (UU) Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU 41/99 tentang Kehutanan dan UU 1945.

Adapun hak tersebut antara lain hak memanfaatkan hasil hutan, hak akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, hak untuk berperan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, hak mengadu atas dugaan pencemaran lingkungan dan hak mengajukan usul dan atau keberatan terhadap rencana dan atau kegiatan yang dapat menimbulkan dampak lingkungan.

Didapatnya hak tersebut diakui Rita Wati. Masyarakat yang dulunya takut melihat aparat polisi hutan, kini justru bisa ikut berkontribusi dan berkolaborasi untuk merawat kelestarian hutan. “Kini suara kami didengar. Kami mendapat akses mengelola lahan sebanyak 10 hektare di TNKS. Kami juga bisa melakukan audiensi dengan bupati, gubernur, untuk menyampaikan aspirasi,” kata Rita.

Walhi dan Pelestarian Hutan

Di Indonesia, ada berbagai Non Government Organization (NGO) yang peduli terhadap isu-isu lingkungan. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) salah satunya. Selama ini, nama Walhi sudah  sangat dikenal sebagai organisasi yang gencar melakukan kampanye lingkungan hidup. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang organisasi ini, silakan kunjungi situs Walhi.

Namun meski sudah ada Walhi, KPPL Maju Bersama, kelomok dan organisasi lain, pemerintah, juga elemen lainnya yang gencar mengampanyekan pentingnya menjaga lingkungan dan hutan, kita seluruh masyarakat Indonesia tentunya harus ikut berperan. Jangan sampai kerusakan lingkungan membuat hutan tidak lagi menjadi sumber makanan.(**)

 

Artikel ini diikutsertakan pada Forest Cuisine Blog Competition bertema Hutan adalah Sumber Pangan yang diadakan Walhi dan Blogger Perempuan.

#PulihkanIndonesia #RimbaTerakhir #WALHIXBPN #HutanSumberPangan #BlogCompetitionSeries 

Komi Kendy

Halo, salam kenal. Saya Komi Kendy, berdomisili di Bengkulu. Ibu dua anak yang suka menulis, memotret, makan-makan dan jalan-jalan. Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Silakan tinggalkan komentar untuk berinteraksi.

49 Comments

Join the discussion and tell us your opinion.

Februari 15, 2020 - 03:00

[…] Untuk lebih lengkapnya tentang kecombrang, silakan baca tulisan saya yang lainnya di blog ini Kecombrang, Hutan dan Pemenuhan Hak Perempuan. Sampai jumpa di tulisan kuliner […]

Balas
Februari 15, 2020 - 06:05

Aku salah satu yang suka banget makan kecombrang mbak.. Aromanya memang khas banget. Bikin nafsu makan nambah.

Balas
Februari 16, 2020 - 01:21

iya ya Nengsih.. banyak orang yang suka sekali sama Unji

Balas
Februari 20, 2020 - 23:04

saya belum pernah makan. dari bentuknya seperti bunga. tp kalau dilihat cara masaknya seperti ontong pisang ya

Balas
Februari 22, 2020 - 08:12

Nah, aku juga suka banget nih makan sayur yang di dalamnya ada kecombrangnya. Bikin nafsu makan meningkat!

Tapi dalam keluargaku, jarang banget ada olahan kecombrang yang totally kecombrang aja, biasanya dicampur dengan sayuran lain sih. Kayaknya kalo dibuat khusus plus cumi2 asin yang dipotong kecil2 bakalan nyam-nyam ya? Hihi.
*Langsung pengen praktek. Haha.

Btw, makin cinta deh alam dan hutan Indonesia tercinta ini. Kaya raya hasil alamnya, dan menjadi sumber kehidupan. Semoga hutan dan alam kita bisa lestari ya, Mba. Yuk, turut serta di dalamnya! 💪💕💞💖

Balas
Februari 17, 2020 - 00:03

Aku baru tahu kalo kecombrang bisa merangsang produksi asi Mba, dan dari kecombrang juga bisa jadi wajik. Hasil hutan banyak sekali dengan ragam manfaat masing-masing. Semoga kita bisa turut serta menjaga hutan ya Mba..

Balas
Februari 18, 2020 - 01:02

iyaaa mbak.. ini uwak Komi yang bilang kalo makan unji bisa nambah ASI juga 😀

Balas
Februari 18, 2020 - 03:45

Bergeser sedikit ke Bengkulu selatan mba, disana bilangnya bunga unji. dijual/ikat isinya ada 5 buah dihargai Rp.2.500,-

Rasa dan aroma yang khas membuat cita rasanya semakin mantap, ehh didaerah ku Bengkulu selatan biasanya di gulai campur ikan panggang. Ikan nya bebas bisa apa aja, kalau mamak ku menggunakan ikan nila
Digulai kuah pedas,duhh auto nambah dan nambah lagi

Balas
Februari 18, 2020 - 06:14

Kecombrang oh kecombrang. Ini di pasar besar di kotaku banyak dijual. Tapi aku baru tahu kalau ternyata berasal dari hutan. Ada seorang teman yang suka memasak tuna kecombrang. Sepertinya sangat cocok sebagai campuran ya Kak, bukan sebagai makanan inti.

Keren sekali peran perempuan di sana. Salut! Menjadi perempuan berdaya bukan hanya gigih menyuarakan aspirasi di parlemen, tapi juga bisa melakukan perubahan untuk lingkungan hidup yang lebih baik. Maju terus!

Balas
Februari 18, 2020 - 07:48

wah di Bengkulu banyak ya kecombrang ini. Suami saya orang bengkulu selatan, tapi beberapa kali mudik ke sana belum pernah dimasakkan kecombrang.
Ntar kalau mudik lagi, harus minta dicariin nih

Balas
Februari 18, 2020 - 08:02

Wah ada wajik dari kecomprang juga ya. Kayaknya aku belum pernah deh mba makan kecomprang. Jadi penasaran rasanya. Kayaknya enak ya hihihi. Kalau pakis saya pernah nyobain dan suka 😍

Balas
Februari 18, 2020 - 08:09

Weeeh….ternyata banyak ya manfaat kecombrang. Di tempatku jarang nih yang jual lotek dan semacamnya pakai kecombrang. Cuma nemu satu, di pasar kaget.

Balas
Februari 18, 2020 - 08:13

Yaak, daku juga nyebutnya kincung, biasanya bikin sayur daun ubi tumbuk jadi harum dan menggugah selera. Duh syedhap.

Kadang aku juga suka pakai kecombrang ini untuk bikin tumis ikan asin, makan pake nasi panas dan sambal terasi berikut lalapan. Lah ya kenapa aku malah curhat soal makanan disini yaaa

Betewe aku baru tahu kalau ada undang undang tentang hak perempuan atas pelestarian hutan, memang sih di banyak daerah-daerah agraris dan dekat dengan hutan, para ibu yang berperan mengelola agar kebutuhan hidup selaras dengan hutan. Wah, bahas ini ceritanya bisa panjang ni ya kan mbak huehehehee

Balas
Februari 18, 2020 - 09:16

teman saya memasak nasi goreng dengan kecombrang, enak deh. Nasi goreng kecombrang

Balas
Februari 18, 2020 - 09:55

Kecombrang memang punya rasa yang khas, cocok buat sambal, penyedap alami dari hutan yang harus di lestarikan.

Balas
Februari 18, 2020 - 23:43

Cumi kecombrang kayaknya enak banget deh aku coba aahh menu baru di rumah mudah-mudahan suami suka😊

Balas
Februari 18, 2020 - 10:07

Waktu tinggal di Medan kemarin sering banget ketemu dengan bumbu dapur yang satu ini. Tapi entah kenapa belum berniat untuk nyobainnya. Hehehe…

Balas
Februari 18, 2020 - 11:03

Aku belum pernah makan kecombrang. Jadi penasaran ih. Honje pernah denger, tapi belum pernah liat di pasar, belum pernah ngolah, dan belum pernah makan. Ternyata honje tuh yang kayak gitu ya..

Balas
Februari 18, 2020 - 11:13

Ada rumah makan dekat rumah khusus berbumbu kecombrang..disebut Honje kalau di Betawi. Nama restonya aja De Honje
Dan aku suka banget dengan aroma yang dihasilkan.
Terus penasaran kalau dibikin wajik gimana rasanya ya…waaahh
Tapi keren banget ini keterkaitannya dengan hak perempuan. Artikel yang sangat menarik Kak

Balas
Februari 18, 2020 - 12:14

Dulu almarhum namaku suka membuat masakan yang berdampak ditambahkan dengan kecombrang, awal-awal sih kurang suka karena pedas. Tapi terbiasa juga jadinya

Balas
Februari 18, 2020 - 13:29

Kecombrang nih favorit bangeeettt!
Udah harganya MURAH, faedah seabrek, bisa bikin masakan makin nikmat bin mantab jiwaaa
Mauuu banget masak pake kecombrang!

Balas
Februari 18, 2020 - 13:41

Saya lupa, udah pernah makan nggak ya? Tapi saya salut banget loh, akhir-akhir ini banyak yang nulis tentang makanan dari hutan yang khasiatnya sungguh luar biasa.
Tiba-tiba saya makin bersyukur bisa hidup di negara yang kaya ini, bahkan di hutanpun penuh dengan makanan yang lebih sehat 🙂

Balas
Februari 18, 2020 - 15:20

Mbak.. saya tuh belum pernah ngerasain enak nya kecombrang seumur hidup 😭 di kota saya ga ada yang jual, dan saya sering ngiler saat di acara tv memasak itu mereka suka bikin sambal kecombrang. Duh, auto ngebayangin gimana rasanya huhuhh

Balas
Februari 18, 2020 - 17:10

Ternyata bisa dibuat aneka jenis masakan ya?
Di Jabar banyak banget honje /kecombrang
Tapi saya malah jarang masak
Pingin ah…

Balas
Februari 18, 2020 - 18:32

Wajik kecombrang ini masih baru buat saya. Kalau buat wajik nanti mau pakai kecombrang juga ah. Selama ini kami ngambil kecombrang di kebun buat sambal saja. Ternyata bisa dibuat wajik ya

Balas
Februari 19, 2020 - 11:35

Satu lagi yang selalu teringat dari wangi khas kecombrang itu ikan bakar ditabur sambal kecombrang. Wuih pakai nasi putih hangat, mantap pokoknya. Dijamin nambah hehehe

Balas
Februari 18, 2020 - 20:13

Penasaran dengan rasa dari wajik kecombrang dong, apa beda ya dengan wajik biasanya.
Saya tahunya wajik dari ketan gitu, enak sih, apalagi pakai kecombrang ya, kaya manfaat pula 🙂

Balas
Februari 18, 2020 - 23:30

Kaya nya hutan indonesia ya..
Banyak bahan pangan yg bs di manfaatkan , salah satunya kecombrang ini

Balas
Februari 19, 2020 - 00:06

Kecombrang tuh aromanya khas banget ya… Penasaran deh pengen coba tumis cumi kecombrang, tampak menggiurkan sekali…

Balas
Februari 19, 2020 - 00:17

Di Jawa ada nggak ya Mbak kecombrang ini.
Beberapa kali baca postingan olahan kecombrang, sayaa kok tergoda, pingin makan.

Balas
Februari 19, 2020 - 00:23

Saya juga paling suka dengan kecombrang tapi biasanya sih dibikin tambahan sambal matah atau tumisan aja tapi kalo wajik dan sirup kecombrang bloman pernah cobain, dan jadi penasaran rasanya betewe di tempat ku di Tangsel Kecombrang agak susah untuk nyarinya cuma ada beberapa tukang sayur aja yang jual dan mahal

Balas
Februari 19, 2020 - 01:03

Salah satu makanan yang aku suka nih kecombrang ini. Bumbu khas yang susah ditandingi. Itu enak banget kayaknya cumi sama kecombrang. Aku pernahnya nyicip ikan bumbu kecombrang/ Udah langka deh di tempatku kecombrang ini 🙁

Balas

Mutia Ramadhani

Februari 19, 2020 - 01:45

Duh jadi kangen ke TNKS. Gimana kabarnya sekarang? Setelah hampir 10 tahun tak jumpa. Hehehe. Kecombrang ini banyak juga ya mba di TNKS? Tadinya saya pikir mba ini di Jawa loh, tapi begitu saya baca TNKS, wow. Saya suka sajian cumi dan kecombrangnya. Pengen nyobaaaaa.

Balas
Februari 19, 2020 - 02:45

Seingatku, kecombrang ini bisa dibuat obat juga nggak sih mbak? Tapi ku belum pernah makan sih, dari sini jadi tahu bentuknya hehe

Balas
Februari 19, 2020 - 02:59

kecombrang ini bunga yang bisa dimakan?
wuah istimewa sekali
udah cantik, bisa dimakan pula
perwujudan yang tidak disia-sia

Balas

Lasmicika

Februari 19, 2020 - 03:19

Wah, ada syrup kecombrang juga. Pasti anak-anak suka banget. Makanan dari hutan memang sangat kaya ya mbak.

Balas
Februari 19, 2020 - 16:30

aku paling demen makan kecombrang, apalagi sekarang di beberapa tempat makan favoritku ada menu sambal kecombrangnya. Mie ayam saja sekarang pakai kecombrang loh.

Balas
Februari 19, 2020 - 21:37

Lihat kecombrang bikin inget acara rujakan 7 bulanan aku saat hamil anak pertama. Rujaknya pake kecombrang. Enak banget. Kata orang-orang saat itu, anaknya pasti cewek. Dan iya, beneran cewek. 😀

Balas

Yanti

Februari 20, 2020 - 01:25

Jujur aku blum pernah sih makan makanan yang ada kecombrangnya ada harum2nya khas rempah gitu ya mba ..tapi baca artikelnya jadi penasaran sih mau cobain apalagi kalau khasiatnya bnyak

Balas
Februari 20, 2020 - 04:31

Seperti apa rasanya kecombrang yaa…
Aku jadi penasaran. Dan ternyata banyak juga yaa…dimanfaatkan sebagai bahan makanan.
Memang hutan Indonesia yang terbaik.

Balas
Februari 20, 2020 - 04:38

Kalau di kampung halamanku suka dibikin campuran sayuran pecel mbak? Tapi suka dikomenin adekku “kayak makan sabun” tapi ya gtu dia ttep makan haha 😀
Udah lama banget eh gak liat daun kecombrang. Ternyata bia juga ya dibikin dan diolah jd masakan lain kek wajik malah hehe TFS infonya

Balas
Februari 20, 2020 - 05:29

wah.. udah lama nih gak makan kecombrang. jadi pengen makan olahan kecombrang lagi deh… semoga hutan kita lestari ya… biar sumber pangan juga lestari..

Balas
Februari 20, 2020 - 06:00

Ibuku seneng banget bikin pecel pakai kecombrang, makanya kalau mudik dia puas-puasin makan kecombrang karena di dekat rumahku mulai agak susah ditemukannya

Balas
Februari 20, 2020 - 07:50

Aku langsung google nama lain kecombrang.
Sumpah aku tak tahu, I have no clue, namun yakin akrab dengan wujudnya.
Aha!
Namanya kincung, di tempatku, di kota Siantar, Sumut.
Biasanya digunakan sebagai campuran sayur santan daun singkong tumbuk untuk meminimalisasi bau daun singkong.

Aku juga jatuh hati sama aromanya yang unik dan warna pinknya yang menggoda hati.
Apalagi kalau baru saja dipetik.
Meram muda, manjaaah, gicccu, hihihi.

Balas
Februari 21, 2020 - 03:17

Wajik dari Kecombarng? Saya jadi penasaran dengan rasanya.
Saya kira, kecombrang ini hanya menjadi komoditas lokal yang hits di kalangan masyarakat Sunda alias Jawa Barat saja. karena sambal kecombrang belakangan ini jadi buah bibir di antara teman teman saya yang pecinta sambal. Ternyata di Sumatera juga ada ya rupanya.

Balas
Februari 21, 2020 - 05:11

[…] sekitar kawasan TNKS. Salah satunya pemanfaatkan sumber air serta pemanfaatan tanaman seperti kecombrang yang ada di dalam TNKS. Jadi pemanfaatan diiringi dengan menjaga kelestraian oleh mereka yang […]

Balas

Visya Al Biruni

Februari 21, 2020 - 06:48

Waah akhirnya tahu wujud kecombrang kek gitu karena selama ini tahunya versi matangnya ajaa. Kaya manfaat yaa kecombrang ini dan tumbuh d hutan. Fixed harus dilestarika banget hutan Indonesia

Balas

Anisa Deasty Malela

Februari 23, 2020 - 00:32

Buat orang Sunda, kecombrang tuh bisa dibikin sirop, kue sampai lalapan dan bahan masakan. Saya sendiri sering bikin kecombrang ini untuk dijadikan urap atau pecel Moms.

Balas
Februari 25, 2020 - 05:21

wah jadi penasaran nih sama kecombrang soalnya di daerahku nggak ada. apalagi itu di masterchef juga sering banget dipakai bahan ini

Balas

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *