Kakek

SANURTAM bin Kertawirya, wafat di Ajibarang, 11 September 2013. Kakek kami tersayang yang meninggal di usia 127 tahun dan meninggalkan 213 orang anggota keluarga yakni istri, anak, cucu, cicit hingga canggah.

Beliau merupakan orang paling tua di kampungnya. Bahkan kami keluarga meyakini, beliau salah satu orang tertua di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah yang lahir di akhir tahun 1800-an. Hanya saja orang-orang dulu, sayangnya, kerap mengabaikan penaggalan kapan dilahirkan. Sehinggga tidak ada catatan tanggal lahirnya. Tapi dulu, waktu terakhir pulang kampung zaman SMP (sekitar 14 tahun lalu), saat kakek masih suka bercerita ia melewati hidupnya di zaman penjajahan Belanda dan Jepang.

Usia panjang hingga lebih dari 100 tahun terbilang langka di zaman sekarang ini. Selama hidup, beliau jarang sakit. Mungkin juga karena makanan yang dimakan adalah makanan sederhana tanpa bahan pengawet aneh-aneh.

Resep hidup panjang umur lainnya menurut saya adalah karena kakek selalu merasa bahagia dan bersyukur. Dengan mata pencaharian sebagai petani, tentu kakek kami tidak bergelimang harta. Tapi Alhamdulillah, semua anaknya sudah bisa hidup madiri masing-masing.

Kenangan yang paling diingat sama kakek, dulu, waktu masih kuat, beliau selalu pergi ke pasar sendiri membelikan kami bandeng presto, tempe mendoan sama tahu asin di Pasar Ajibarang. Makanya sampai sekarang, makanan yang gak ada jualannya di Bengkulu itu jadi makanan favorit.

Selain itu, kakek juga pinter ngobatin orang. Entah kenapa, dulu kalo pulang kampung saya pasti suka demam. Obatnya, cuma air putih yang sudah dibacain doa sama kakek. Sebagian air diminum, sebagian lagi diusap ke kepala sama telapak kaki. Biasanya karena sambil dipijat, pasti etiduran. Begitu bangun, langsung seger.

Kami keluarga sangat kehilangan ketika beliau mangkat. Tapi mesti rela, karena beliau pun sudah terlihat lelah. Nenek sering cerita, kalau ada orang meninggal di kampung kami, kakek suka gerunyem kapan beliau akan dipanggil Allah. Pernah juga merajuk sama mama, sama wak Jani kenapa kalau ngasih kain kok dikasih kain sarung. Beliau mintanya disiapin kain kafan saja. Beberapa waktu sebelum meninggal, beliau juga sudah menandai tempat di mana ia ingin dikubur. Di bawah pohon besar, di tempat yang teduh.

Sekarang, kami hanya bisa berdoa semoga beliau yang dikenal sebagai orang baik ini diterima di sisi-Nya. Diampuni segala dosanya dan mendapat tempat terindah di surga-Nya.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *