Jilbab

Jilbab

“Hah? Beneran sekarang sudah berjilbab? Nanti dak taunyo jilbab buka tutup,” kata seorang teman di Bengkulu, sambil bercanda.

“Aneh loh Kom kalau berjilbab. Ilang “sangar” n tomboinya, gak keren lagi. Jadi kayak emak-emak koe. Suer, jadi pengen ketawa terus ngeliatnya,” ujar seorang teman lainnya dari Banyumas.

“Ah loe Kom, kalo orang mah ya kalau merantau ke ibukota, pulang kampung udah pake tank top. Lah elu malah pake jilbab,” ledek teman lainnya di Jakarta.

Terus ada lagi komen yang lebih aneh😀. “Alamak Kom, la macam teroris aja kau ni,” tulis senior di akun jejaring sosial saya. Heu, underestimate nian lah.

Saya pun cuma bisa nyengir aja denger candaan kawan-kawan. Soale yang apresiasi, juga nggak kalah banyaknya. Buktinya pun hari ini, setelah hampir tiga tahun mengenakan jilbab dan pakaian tertutup, asyik-asyik aja. Malah lebih nyaman karena lebih merasa punya identitas diri bahwa saya seorang wanita muslim. Soal bagaimana orang melihat bagaimana tampilan fisik, ya juga terserah saja. Karena ini soal hubungan saya dengan Tuhan saya.

Perkenalan dengan jilbab, saya sendiri nggak ngerti kenapa bisa sampai terjadi. Hehe, soale selama ini kalau mama ngingetin supaya pakai jilbab, jawabannya selalu nggak minat dan gak kepengen. Ribet. Pemikiran saya waktu itu, pakai jilbab itu nggak menjamin akhlak seseorang. Banyak perempuan baik-baik tak berjilbab. Banyak pula yang tidak baik walau berjilbab. Soal ibadah, apa yang berjilbab nggak boleh beribadah?

Belum lagi alasan-alasan lain yang saya lontarkan seperti kuatir sulit masuk ke komunitas/ lingkungan/ tempat tertentu saat melakukan peliputan karena berjilbab. Nggak punya baju panjang-panjang kalau mesti beli berapa biayanya. Kalau pagi-pagi mau buru-buru nanti nggak bisa gesit. Terus kalau naik gunung, alangkah dak nyamannya.. bla bla bla… sampai belasan alasan lainnya. Belakangan saya sadar alasan itu muncul karena saya sendiri emang belum punya niat. Jadi yang terlontar, ya hanya alasan.

Pengalaman berjilbab, menjadi sejarah sendiri dalam hidup. Tanggalnya pun tak pernah lupa, Selasa 19 April 2011 di Jakarta. Hidayah(kalau boleh disebut sebagai hidayah) itu hadir setelah sempat terkapar sakit dua hari sendiri di dalam kamar dan mengalami beragam mimpi. Kebetulan saat itu saya sedang tugas liputan di areal Jakarta selama hampir setahun. Sekaligus pertama kalinya hidup sebagai anak kos setelah hidup 24 tahun.

Waktu itu baru dua minggu merantau. Sabtu, 16 April 2011 dapat kabar duka dari Bengkulu. Adik angkat saya, Hendri Mardiansyah tewas di tempat setelah adu kambing di Pantai Panjang. Tidak serta merta percaya karena kawan-kawan terkadang suka bercanda, saya cek berita dari Bengkulu. Ternyata benar, saya baru percaya setelah membaca kronologis dan melihat foto berdarah-darah di inbox Facebook.

Sakit saya selama dua hari, lebih kurang karena syok dan menyesali diri kenapa tak bisa pulang ke Bengkulu. Tidak bisa izin saat itu karena saya masih baru bertugas di sana. Tapi toh saya tak bisa bekerja karena demam tinggi. Apesnya, nggak ada mama yang biasa merawat. Mbak Dina Puspa, wartawati satu grup dari Radar Lampung sedang mudik Sabtu Minggu ke Lampung. Jangankan ke dokter. Bangun aja dari tempat tidur nggak kuat. Cuma makan roti karena cuma ada itu di kamar kosan.

Sepanjang dua hari itu, dalam kondisi setengah sadar banyak slide kehidupan yang menyusup masuk ke kepala. Salah satunya keinginan almarhum melihat saya mengenakan jilbab yang disampaikannya berkali-kali setiap kami bertemu. Lalu banyak slide-slide lain yang hadir di dalam mimpi. Hal-hal buruk dan baik. Soal tepatnya apa slide kehidupan itu, heu, susah dijelasin sama kata-kata. Mirip mimpi, tapi terasa nyata.

Setelah mengalami itu, Senin pagi tubuh yang semula lemas dan nggak bisa beranjak dari tempat tidur, mendadak punya sedikit kekuatan keluar kamar menuju warung nasi yang jaraknya hanya sekitar empat-lima rumah. Ya ya, makan adalah kebutuhan utama jika kamu pengen cepet pulih dari sakit. Selain obat tentunya.

Selesai makan dan membersihkan diri, niat saya pagi itu hanya ke satu tempat. Beli jilbab ke Tanah Abang. Menyusuri Blok C untuk pertama kalinya pula saya ke pasar pakaian dan tekstil terbesar di Asia Tenggara itu. Bingung karena zaman sekarang, model jilbab macem-macem. Model Pipik Uje, gaya Syahrini dan model-model artis lainnya tertera di manekin pajangan. Bingung, cari yang simpel, pilih yang segi empat plus ciput.

Sampai kosan, coba-coba pakai sendiri tapi nggak rapi-rapi. Beruntung sorenya Mbak Dina pulang. Jadi besok paginya “berguru” dulu minta ajarin. Rupanya caranya sangat gampang. Bahkan tanpa perlu berkaca. Hee sudah praktek waktu pindah kosan sendiri di kawasan Petamburan. Maka dari itu, kadang kalau ngaca sambil masang jilbab jadi inget sama mbak Dina🙂.

Setelah mengenakan jilbab, entah kenapa di hati jadi terasa lebih adem (really). Jilbab ini jadi megingatkan tatkala rasa malas beribadah mendera. Jilbab juga perlahan menjadi benteng diri. Jadi eling jangan sampai saya melakukan hal yang memalukan bagi agama, jilbab dan keluarga.

Anyway, tanpa merasa “rasa-rasa” orang juga jadi lebih respek dan hormat pada wanita berjilbab. Setidaknya ketika diganggu di jalan, seperti waktu di Jakarta orang suit-suitnya pakai sapaan Assalamualaikum Bu Haji. Jiaaahhh mbatin dah dalam hati, naik haji aja belum dah main panggil bu haji aja. -.-“

Terus Alhamdulillah pula kalau pas pulang malem kadang ampe jam 01.00 WIB naik angkot M11 dari Palmerah ke kosan sama nyambung naik ojek, selalu aman-aman aja. Padahal waktu itu lagi musimnya kasus pemerkosaan di dalam angkot. Entah kenapa tapi sepertinya Allah memberi perlindungan melalui jilbab. Setidaknya pakaian tertutup tidak memancing niat mesum kaum Adam. Itu artinya, jilbab juga bisa menghindarkan kita dari kejahatan.

Lalu jika orang lain biasanya melakukan sesuatu setelah ia benar-benar tahu, berbeda halnya dengan saya. Taunya ketika merasa perlu dan ingin, langsung saja saya lakukan. Pengenalan saya terhadap jilbab sebelum mengenakan, hanya sebatas kain itu benar-benar diperlukan untuk menutupi kepala dan rambut alias aurat. Bahwasanya sudah kewajiban wanita muslim untuk menutup auratnya. Ya, hanya sebatas itu yang sekilas lalu sering terdengar dari mikrofon masjid.

Barulah setelah mengenakan saya cari-cari tahu aturan dan hadis-hadis yang isinya menyebutkan kenapa muslimah mesti dan wajib hukumnya berjilbab melalui internet dan blog-blog tetangga. Dari pandangan Islam, aurat berasal dari kata Awiraa, yang artinya hilang perasaan. Jika digunakan untuk mata, maka mata itu hilang cahayanya dan lenyap pandangannya.

Pada umumnya kata Awira ini memberi arti yang tidak baik,memalukan bahkan mengecewakan. Kalau sekiranya kata ini menjadi sumber dari kata aurat, maka berarti bahwa itu adalah sesuatu yang mengecewakan bahkan tidak dipandang baik. Lalu ada pula kata Aaraa yang berarti menutup. Sehingga maknanya bahwa aurat harus ditutup sehingga tidak dapat dilihat dan dipandang.

Sejujurnya, kalau membaca pengertian dan hadis mengenai aturan dan kewajiban berjilbab, yang saya kenakan masih jauh dari sempurna. Bahwa aurat bukan hanya menutup kepala saja dengan kain. Tapi juga seluruh tubuh harus tertutup kecuali muka dan telapak tangan. Terkadang saya masih asyik dengan celana dan jaket jeans yang ketat. Hehe tapi setidaknya kebiasaan nyaman itu akan diubah secara perlahan. Nah, ini dia surat-surat di dalam Alquran yang pernah saya baca, bahwa Allah SWT memerintahkan :

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-rang mukmin hendaklah ia menjulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali,karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayangâ€. ( Qs Al Ahzab-59 ).

Dalam ayat lain Allah mengingatkan “Katakanlah kepada wanita yang beriman,hendaklah mereka menahan pandangannya,dan memelihara kemaluanya, dan janganlah mereka menampakan perhiasanya kecuali yang biasa tampak dari mereka”. ( Qs An Nur-31 ).

Menurut Ibnu Mas’ud dimaksud dengan yang biasa tampak adalah telapak tangan dan wajah. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah SAW pada Asma’ : “Sesungguhnya pada wanita yang telah haid tidak diperkenankan untuk dilihat dari padanya kecuali ini dan ini, beliau  menunjukkan wajah dan telapak tangan.” (HR. Abu Daud).

Dari semua hal diatas, hingga akhirnya kenapa saya nulis di blog ini sama sekali bukan bermaksud buat pamer apalagi riya sebab jilbab adalah menyangkut ibadah. Cuma ingin share pengalaman kepada yang belum berjilbab agar tidak perlu beralasan jika belum memulai sesuatu sama sekali.

Saya pun sukses membujuk adik perempuan satu-satunya yang sekarang duduk di bangku SMA untuk mengenakan jilbab. Padahal dia ini nggak kalah tomboinya sama saya. Meyakinkan bahwa jilbab sama sekali nggak mengganggu langkah kita, kaum perempuan untuk berkarir melakukan aktivitas apapun. Malah saya punya cita-cita nongkrong di atas gunung mengenakan rok cantik. Hihi… Semoga someday bisa terlaksana. Amin.

Terakhir, saya berharap makin banyak wanita yang mengenakan jilbab. Tentu dengan alasan dan pengalaman-pengalaman spiritual yang berbeda-beda.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *