Jalan Panjang Menuju Atap Sumatera (2)

MEI saya kira menjadi bulannya marak pendakian. Sudah lepas musim penghujan biasanya. Walau berkat perubahan iklim yang kini melanda bumi musim kemarau belum juga datang, tapi setidaknya intensitas hujan sudah mulai berkurang. Maka pas lah kalau di bulan-bulan ini para pendaki banyak yang melakukan pendakian, termasuk ke Kerinci.

Namun sayangnya, hari itu entah mungkin karena karena hari Jumat atau dianggap belum musim pendakian, pos jaga di R10 tanpa penjaga. Padahal standar pendakian, apalagi untuk gunung sekelas Kerinci yang masuk Taman Nasional Kerinci Sebelat, sebaiknya ada proses perizinan sehingga pendaki bisa melaporkan diri. Ya namanya juga naik gunung, semua pasti ingin kembali dengan sehat dan selamat. Tapi kalau ada sesuatu hal yang tidak diingingkan, siapa yang tahu si pendaki ini tak kunjung turun.

Bukan hanya tim kami saja yang sangat terpaksa (catet ya, sangat terpaksa) tidak melapor saat mendaki. Beberapa pendaki lain dari Universitas Jambi (Unja), Padang, Sungai Penuh, Padang juga tidak menemukan petugas. Begitu pula yang mendaki di hari Sabtunya. Kalau dihitung-hitung ada ratusan orang pendaki yang naik turun.

Kalo boleh membandingkan, Gunung Kaba di Bengkulu saja yang tingginya hampir separoh Kerinci 2.010 dan bisa ditempuh hanya 2,5 jam, malah lebih tertib. Kapan pulang, kapan berangkat, berapa orang yang mendaki, kami diminta mencatat nomor yang dihubungi jika terjadi kecelakaan di puncak atau perjalanan. Ada retribusi pula.

Anyway, yowislah. Kami pun sudah menitipkan kopian surat resmi dan nama-nama pendaki dari organisasi Palasostik ke Sekber PA. Dimulai dari bismillahirrohmanirrohim dan melangkah dimulai dari menjejakan telapak kaki kanan kami memulai pendakian.

Pendakian dimulai sekitar pukul 10.23 WIB ketika kami berfoto di bawah gerbang pos antara Pos Jaga R10 dan pintu rimba. Jaraknya hanya sekitar 100 meter dari Pos I Pintu Rimba di ketinggian 1.692 mdpl.

Next, dari pos I Pintu Rimba ke pos II Bangku Panjang pendaki berjalan kaki sekitar 45 menit. Lalu pos II ke Pos III Batu Lumut dan Pos III ke shelter I juga masing-masing nyaris sama. Berkisar 45-60 menit. Jalur pendakian antar pos, terbilang ringan. Itung-itung buat pemanasan berjalan di jalur landai. Kondisi vegetasinya berupa hutan tropis lebat dan rimbun.

Banyak pohon-pohon besar dan sesekali melewati tanah berlumpur. Kalau terjebak pilih posisi menginjak yang salah, terbenam dah tuh sepatu. Herannya sepanjang perjalanan kami gak ketemu sama sekali sama binatang imut nan suka nempel di kaki ngisep darah alias si pacet sama sekali. Padahal tanahnya lembab dan banyak berlumpur.

Shelter I ke shelter II, vegetasi terbagi dua. Sebagian masih berupa hutan lebat, sebagian perjalanan lagi bakal banyak ketemu sama pohon panjang umur (ga tau nama asli sama nama latinnya). Makin nanjak, tinggi pohonnya makin berkurang. Di jalur yang panjang ini sejujurnya asli boring. Hanya itu-itu saja pemandangannya. Nanjak, gang senggol, akar pohon. Sempat refresh pas ngeliat jalur di sebelah kiri ada savana hijau dan suara air terjun, tapi cuma sedikit. Sisanya ya nanjak lagi, gang senggol lagi, akar pohon lagi. Lesuuu 😀

Langkah gontai berganti dengan semangat ketika dari jauh samar-samar terdengar suara orang dari arah atas. Suara laki-laki-suara perempuan terbawa angin. Sempat sebal saat teriak yang menyahut selalu rombongan dari bawah. Padahal kalo dari atas yang nyahut, kan artinya sudah semakin dekat.

Sekitar pukul 19.10 WIB langkah yang tadinya gontai kembali makin semangat melihat sorotan head lamp dari ujung lorong gang senggol. Jumlahnya ada belasan yang terlihat. Rupanya itu rombongan dari kelompok pencinta alam Malaysia yang berjumlah 45 orang. Mereka berkumpul di jalur shelter 2 untuk bersiap-siap turun gunung.

Hihi, agak melenceng dikit nih. Belakangan ada cerita-cerita kawan-kawan pendaki soal pendaki negeri Jiran ini. Rupanya sebagian besar mereka agak terjebak. Dikiranya mendaki Kerinci sama seperti Kinabalu, ada resort dan sebagainya. Sampai bawa-bawa topeng buat party 😀 😀 😀 Ehh nggak tahunya sangat beda dari perkiraan. Belum lagi pas nyampe di shelter 2, empat porter pembawa tenda dan logistik belum nyampe. Mereka pun numpang di tenda-tenda pendaki lokal yang sudah safety di kiri kanan jalur. Sebagian ada yang nge-top, sebagian ada yang putar balik kanan.

Back to story, lega rasanya hati sampe di shelter 2. Langsung kasak-kusuk cari lahan kosong buat negak tenda. Kalo-kalo aja nggak kebagian lapak, habisnya ramai kayak pasar. Pendaki dari dalam dan luar negeri ada di sana. Untung ada satu tenda yang baru aja geser lapak naik ke shelter III, jadi kami dapat posisi pas dan strategis paling kiri.

Ada dua tempat nge -camp yang bisa menjadi pilihan di shelter 2. Lokasinya sebelah kiri dan kanan jalur. Dua-duanya sama-sama baik untuk mendirikan tenda. Tapi kalo mau dekat dengan sumber air, pilih yang sebelah kiri. Agak berjalan sekitar 20 meter ke bawah. Tanah lapangnya bisa cukup 6-7 tenda dome.

Shelter 2 ini juga menjadi alternatif bila tak ingin membawa peralatan dan logistik yang berat ke shelter 3. Sebab jalur shelter 2-3 biarpun terbilang pendek dan hanya ditempuh selama sejam saja, namun cukup menguras tenaga. Sebagian jalurnya harus memanjat, semi climbinglah.

Akhirnya tenda tegak, air terkumpul di botol-botol dan jerigen. Ganti baju bersih dan hangat, bikin kopi, masak nasi, ngangetin gulai. Maap ya tetangga, nggak inget nawarin makan malam. 😀 Kami kelaparan karena ingat dari pagi saking semangatnya nanjak gak pake sarapan.

Perut kenyang, badan mulai hangat, kantuk pun melanda. Asli body pegel-pegel semua. Malam itu kami memilih istirahat. Sebagian pendaki yang serentak ke shelter 2 bersama kami ada yang pukul 02.00 WIB dinihari itu juga langsung nge-top. Kami sepakat memilih besoknya saja. Biar badan fit dulu.(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *