Jalan Panjang Menuju Atap Sumatera (1)

Awal Mei tahun 2014 lalu menjadi momentum yang tak terlupakan. Sembilan tahun ngidam mendaki Gunung Kerinci, Provinsi Jambi akhirnya terwujud juga. Selama lima hari 1-5 Mei, saya bersama tiga orang adik di Palasostik dan satu pendaki freelance melakukan pendakian ke gunung yang dikenal sebagai “The Roof of Sumatera” dengan ketinggian 3.805 mdpl. Berikut catatan perjalanan pribadi saya.

HUJAN lebat disertai gemuruh petir mengiringi perjalanan kami berlima menempuh jalur dari pos III Batu Lumut (2.055 mdpl) menuju shleter 1 (2.512 mdpl). Saya, Nur Ayu Islamiati, Indra Wijaya, Deka Afriandi dan David Muharmansyah, sama-sama pendaki pemula untuk Gunung Kerinci.

Sekitar pukul 13.30 WIB Jumat (2/5) siang itu. Hujan bagi kami adalah berkah, sebab persediaan air kami sudah hampir menipis. Air bisa ditampung melalui raincoat dan akar-akar pohon besar. Di beberapa pos seperti di pos II Bangku Panjang (1.782 mdpl) dan shleter 1 informasinya memang ada sumber air. Tapi karena tidak tahu posisi persisnya, agak kuatir tersasar. Lagipula kami mengejar waktu supaya segera tiba di camp target di shelter II (3.072 mdpl).

Sisi lainnya, pasca hujan bagaikan setengah mimpi buruk. Udara di kawasan hutan tropis nan masih belantara itu benar-benar menusuk. Semua yang disentuh tanah, batang, akar-akar pohon dan dedaunan membuat tangan terasa kebas.

Sepanjang jalan saya irit berpegangan pada sekitar dan lebih memilih memasukkan tangan ke perut biar nggak beku. Eng, ing, eng, apalagi nggak nyangka rupanya jarak shelter 1 ke shelter 2 tergolong jauh.

Jika pendaki yang sudah biasa nanjak, waktu tempuhnya bisa berkisar 3-4 jam, maka kami berjalan hingga 5 jam 25 menit. Langkah kaki dan nafas terasa makin berat. Pokoknya nggak bisa ngeliat ada batang kayu atau tunggul nganggur, bawaannya mau berenti aja dah.

Kalo nggak mikir persediaan yang pas-pasan, nyaris saja ingin memutuskan mendirikan camp di pelataran yang ada di kanan atau kiri jalur. Benar-benar pemaksaan pokoknya, dipaksa supaya sampai ke shelter 2. Beberapa kali saat kaki sudah tak kuat melangkah tegak, saya menggunakan dengkul untuk melangkah diantara akar-akar dan tanah tinggi. Di sini juga banyak jalur gang senggol sama gang lorong. Merayap beibeh…sing penting bertambah satu langkah, satu langkah dan satu langkah.

Sesungguhnya paling benci dipaksa. Akan tetapi saya belajar dalam hidup ada kalanya kita harus memaksakan diri untuk mencapai tujuan.

Buat saya, meniti jalur antar shelter 1 dan 2 ini berkesan sangat luar biasa. Beberapa pendaki pemula khusus Gunung Kerinci pun mengakui gunung yang dikenal dengan nama lainnya Kincai ini cukup ekstrim. Layaklah sekiranya gunung ini disebut salah satu gunung tergagah di jagat Indonesia Raya.

Saya sempet hopeless gara-gara pas papasan sama pendaki dari Jakarta menyebut perjalanan menuju shelter 2 masih jauh, sekitar 2 jam lagi. Hiks padahal saat itu kami sudah berjalan hingga hampir 3 jam.

Padahal awalnya sudah semangat ’45 membayangkan nasi panas dan lauk rendang ayam buatan mama yang dibekal dari Bengkulu. Dari pagi perut emang keroncongan karena belum sempat sarapan. Sempet kena PHP sama porter penduduk setempat yang memandu pendaki Pulau Jawa, katanya sudah tak jauh lagi. Ditambah sebelah kiri jalur ada savana hijau di areal terbuka. Biasanya semakin pendek tanaman, itu artinya sudah makin tinggi posisi kita di jalur. Nyatanyaaaa woalaaahh jauhh…

Ada pengalaman yang menarik juga diperjalanan antara shelter 1 ke 2 ini. Saat hujan dan petir, kami melihat pohon yang sangat besar yang pada bagian depannya (jika menghadap ke arah jalur mendaki) bisa menjadi bivak alami. Ada cerukan cukup dalam sehingga kami berempat muat berteduh di dalamnya.

Semula saya agak ragu ikut berteduh melihat bentuknya yang seperti ada penunggunya. Jadi walau hujan, duduk aja di batang pohon lain yang melintang di depan “pintu” pohon”. Cuma karena kawan-kawan nyuruh berteduh, ya akhirnya masuk juga sambil pamit-pamit sama Allah.

Hehe, harap maklum kalo punya pikiran seputar mistis begitu. Soalnya di Kerinci ini dikenal sebagai kawasan yang kalo kata sahabat saya Aceh, faktor x alias mistisnya cukup kuat. Wong baru masuk ke pintu rimba (1.692 mdpl) saja, sudah ada sesajenan. Mitos lain, ada pula cerita orang pendek yang berjalan dengan kaki terbalik dan kerap membuat pendaki tersasar. Entah betul atau tidak, Alhamdulillah selama di sana nggak ketemu yang aneh-aneh.

Nah betul saja, setelah turun gunung dan cerita-cerita dengan warga dan pendaki lain di rumah singgah di Desa Pelompek, pohon itu memang rawan. Warga saja nggak ada yang berani, karena pernah ada yang melihat Harimau Sumatera di sana. Ditambah lagi pohon itu pernah tersambar petir. Olala, kami malah berlindung di sana karena kuatir sama petirnya yang berasa di atas kepala 😀

Kerinci, Here We Come

Cerita perjalanan flash back ke sehari sebelumnya, tepat saat Hari Buruh 1 Mei menjadi hari libur nasional untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka. Pas pula momennya saya selaku buruh merasakan sedikit “kemerdekaan” menikmati cuti. Sudah bertahun-tahun saya menjadi pekerja rajin tanpa cuti. Biasanya kalaupun izin ke luar kota, itupun sambil tetap kerja. Berhubung ini mau ke daerah susah sinyal, ya gak bisa sambil kerja.

Kamis pukul 09.00 WIB pagi kami start dari Sekretariat Palasostik tercinta menuju Kota Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Di Bengkulu hanya ada dua angkutan langsung menuju ke sana. Menggunakan travel Safa Marwa dan Panca Rasa. Kami mengendarai Panca Rasa yang berwarna oranye, sama dengan warna scraf kesayangan.

Dari Bengkulu waktu tempuh ke Sungai Penuh hingga 12 jam atau hampir sama dengan rute Bengkulu Palembang. Pendaki dari pulau Jawa atau lainnya biasanya menuju Kecamatan Kayu Aro (kawasan terdekat menuju Gunung Kerinci) melalui Padang, Sumatera Barat. Informasinya hanya enam jam saja waktu tempuhnya.

Pukul 21.00 WIB kami tiba di kawasan Lawang Agung, Sungai Penuh. Masih celingak-celinguk mau kemana. Rencana awal begitu tiba di Sungai Penuh langsung menuju Kayu Aro. Berhubung sudah malam, udah nggak ada angkutan lagi. Lagi bahas mau nginep dimana, tiba-tiba ada ayuk Linda dan Nov menegur kami karena melihat tumpukan daypack dan cariel. Ternyata keduanya adalah Kelompok Pencinta Alam (KPA) di Sungai Penuh.

Alhamdulillah, kami diperbolehkan menginap di Sekretariat Bersama PA yang berada di depan Pengadilan Agama Kabupaten Kerinci. Mencari angkot menuju Kayu Aro pun dibantu oleh Nov. Kami dijemput angkot keesokan harinya Jumat, 2 Mei dari depan gang Sekber hingga Pos Jaga TNKS R10 (1.582 mdpl).(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *