Kelas Menulis Untuk DIfabel

Inisiasi Kelas Menulis Untuk Difabel di Bengkulu

Di negara atau kota-kota lain, kelas menulis untuk difabel mungkin bukan suatu hal yang baru. Bahkan sejak 2006 lalu sudah ada mewadahi karya difabel. Salah satunya kartunet.com yang kontennya diisi para tuna netra. Di Bengkulu, ide yang nyaris serupa saat ini tengah diinisiasi.

**

Bermula dari tawaran diskusi bersama Pusat Informasi dan Konsultasi Perempuan Penyandang Difabel (PIK-PPD) dan Gen Inklusi pada Jumat, 16 Agustus 2019 lalu, kepada Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu. Setelah diskusi dua jam di Kedai Kopi Jurnal, kami sepakat berkolaborasi memulai kelas menulis untuk difabel.

Tantangannya jelas cukup besar. Khususnya dalam hal berkomunikasi. Metode yang diterapkan untuk menyampaikan materi jelas tidak sama dengan kelas menulis untuk non-difabel. Tentunya kami memerlukan bantuan pendamping yang sudah berpengalaman dan referensi pelatihan serupa. Traninernya juga harus menyiapkan media dan peralatan yang mudah untuk dipahami.

Dari Irna Riza Ketua Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Bengkulu, Ketua Gen Inklusi Vike Juzeplin dan Ketua Umum PIK PPD Rina Oktaviana, saya yang sekarang merupakan Koordinator Bidang Perempuan AJI Bengkulu dan Ketua Umum AJI Bengkulu Harry Siswoyo, membuka diskusi dengan memetakan latar belakang peserta.

Siapa Saja Pesertanya

Peserta rencananya terdiri dari tuna daksa, tuna rungu dan tuna grahita. Selain itu juga ada kawan-kawan non-difabel dari Gen Inklusi. Di awal pertemuan, mungkin akan ada sekitar 20 peserta lebih yang ikut. Seluruhnya berusia dewasa dengan usia 20 tahun keatas.

Kami juga menggali bagaimana biasanya mereka berkomunikasi dengan orang lain. Baik sesama difabel maupun non difabel. Setelah pertemuan pertama akan ditekankan siapa yang berminat untuk serius. Supaya kelasnya lebih efektif. Kelas pertama akan berlangsung Jumat, 23 Agustus 2019.

Latihan Menulis Apa?

Walau dari AJI Bengkulu basic-nya adalah jurnalis, namun materi kelas menulis yang diberikan tidak melulu tentang menulis berita. Sebab pada dasarnya dunia menulis itu luas dan bebas. Maka yang pertama kali akan diberikan adalah dasar-dasar menulis itu dulu. Lalu spesifikasinya, silakan penulis itu sendiri yang mengembangkan minatnya mau menulis apa.

Apalagi di era teknologi seperti sekarang ini, ada begitu banyak media yang bisa digunakan untuk menulis. Menulis caption untuk media sosial, mempromosikan usahanya, mengulas hobi, curhat, menulis resep dan lain-lain. Intinya yang terpenting kawan-kawan difabel ini terlatih mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan pikirkan.

“Kawan-kawan difabel ini memiliki sudut pandang sendiri dalam melihat suatu peristiwa. Baik yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Melalui tulisan, tentu akan menarik membaca dan melihat karya mereka,” kata Irna Riza.

Baca Juga : Belajar Food Fotografi Bareng Kelas Kecil

Kenapa Kita Harus Peduli

Alasan paling sederhana kenapa kita harus peduli, menurut Irna, adalah bahwa setiap kita yang saat ini dianugerahi fisik sempurna, berpotensi menjadi difabel. Khususnya di Bengkulu yang rawan bencana gempa dan tsunami.

Kondisi kesehatan pun mempengaruhi. Siapa menjamin kita selalu sehat hingga tua. Lihat saja. Tak sedikit orang struk mendadak di usia muda. Atau bisa jadi kita mengalami kecelakaan lalu lintas yang membuat kondisi fisik berubah drastis. Hal serupa bisa menimpa keluarga kita. Jadi kepedulian yang kita bangun sejak dini terhadap orang-orang difabel, sama halnya dengan membangun kepedulian untuk diri kita sendiri juga orang terdekat.

Hal lainnya, walau sudah mendapat perlindungan sesuai Pasal 96 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, namun pada kenyataannya orang-orang difabel masih mendapat tempat kelas 3 di Indonesia. Konon kata Irna, masih ada anggapan bahwa kelas 1 ditempati oleh laki-laki. “Katanya kelas 2 itu kaum perempuan. Dan kelas 3 di negara kita adalah orang-orang difabel,” ungkapnya.

Bukan hanya itu saja. Penyandang disabilitas di Provinsi Bengkulu ternyata menempati urutan nomor 1 terbanyak. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Sensunas) tahun 2012 persentase disabilitas Peovinsi Bengkulu mencapai 3,96 persen. Sementara yang terendah adalah Papua dengan angka 1,05 persen.

Output Kelas Menulis

Dari kelas menulis untuk difabel, kami mengharapkan ada sebuah media yang bisa menjadi wadah karya-karya mereka. Misalnya dalam bentuk blog atau situs yang mudah diakses siapa saja dan mengikuti perkembangan industri 4.0. Cakupannya pun jelas lebih luas. Selain tulisan, melalui situs bisa menampilkan karya visual berupa foto dan video. Jadi tidak menutup kemungkinan Kelas Menulis akan berkembang menjadi kelas fotografi juga videografi.

Dan jangan salah. Kawan-kawan difabel zaman now pun sudah melek teknologi informasi. Mereka aktif menggunakan media sosial dan aplikasi di android untuk berkomunikasi. Tuna netra misalnya. Mereka memanfaatkan aplikasi voice note untuk menyampaikan pesan melalui tulisan. Begitu pula dengan pemanfaatan  WhatsApp sebagai media komunikasi dan media sosial facebook. Mereka sudah familiar sebagai pengguna. (**)

 

Komi Kendy

Halo, saya adalah blogger pemula yang menyukai dunia menulis, fotografi dan traveling.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: