Idamkan Pasar Panorama Lebih Tertata

Idamkan Pasar Panorama Lebih Tertata

SETELAH menikah, intensitas saya berbelanja ke pasar mendadak berubah “status” dari yang sangat amat jarang, jadi sering banget. Khususnya ke Pasar Panorama yang lokasinya sekitar 1 km saja dari rumah saya di kawasan Belakang Balai Buntar. Kalau dihitung-hitung, bisa enam sampai tujuh kali lah dalam sebulan.

Aktivitas rutin yang dilakoni lebih dari dua tahun terakhir ini jelas bikin saya sampe hapal sama tata letak lapak pedagang, hingga wajah-wajah penjualnya. Hari paling menyenangkan untuk ke pasar biasanya Sabtu atau Minggu pagi.

Hari Sabtu dan Minggu pagi, pasar memang lagi ramai-ramainya. Ya ramai  penjual, ramai sama pembeli. Nyaris semua dagangan kebutuhan bahan makanan keluarga tersedia. Belakangan baru deh saya tahu pedagang yang tumpah ruah sampai menutup jalanan sebagian diantaranya adalah pedagang dadakan.

Pedagang dadakan ini yang datang dari segala penjuru, bisa dari kabupaten tetangga, bahkan provinsi tetangga. Lantaran nggak punya lapak khusus di dalam area Pasar Panorama, mereka membuat lapak sendiri. Ada yang pake mobil, juga ada yang bawa meja kursi sendiri. Saking banyaknya jadi susah teraturnya.

Naaa ini nih yang bikin rutinitas belanja jadi kurang nyaman. Pedagang-pedagang yang tidak tertata rapi. Kalau jualannya sembarangan di pinggir jalan, bahkan memakai badan jalan, bikin jalanan jadi super macet.

Belum lagi kalo yang jual ikan, daging atau bahan makanan basah lainnya. Bikin kawasan menuju pasar jadi becek dan beraroma kurang sedap. Seperti di Jalan Belimbing. Terus parkirnya juga jadi susah. Lahan parkirnya sudah diisi sama lapak jualan.

Kondisi ini semakin parah ketika pedagang Pasar Panorama yang sudah berjualan di dalam, malah ikut-ikutan menggelar lapak di jalan. Alasannya klise. Di dalam pasar sepi pembeli. Lebih banyak yang suka belanja di pinggir jalan ketimbang masuk ke dalam pasar. Alhasil Pasar Panorama yang lapaknya sudah dikeramik hingga lantai, jadi sering terlihat kosong melompong.

Baca Juga :

Kan sayang sekali kalo fasilitas yang sudah dibangun dengan menghabiskan anggaran sampai Rp 18,5 miliar dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sejak tahun 2011, manfaatnya hanya dirasakan sedikit saja.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota yang menjadi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sebenarnya sudah melakukan upaya penertiban. Periode beberapa waktu sekali ada penertiban rutin dengan menggandeng Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Malah sempat terlihat ada anggota Satpol yang piket menjaga jangan sampai ada pedagang jualan di tepi jalan.

Tapi sepertinya belum ada efek jitu dari penertiban. Buktinya yang jualan di jalan masih ada lagi, masih ada lagi. Tak selang beberapa jam dari penertiban, lapak di pinggir jalan sudah digelar lagi. Belum lagi program penjagaan wilayah pasar juga kelihatannya seperti angin-anginan. Kadang ada kadang ngilang.

Strategi Khusus

Harapan saya sebagai masyarakat Bengkulu sekaligus pelanggan rutin Pasar Panorama, Disperindag memiliki strategi khusus bagaimana caranya agar Pasar Panorama sebagai salah satu pusat perekonomian Kota Bengkulu bisa tertata dengan rapi dan bersih.

Supaya memudahkan orang yang berbelanja, diatur mana los-los penjual bahan makanan yang kering dengan yang basah. Kalo bisa biarpun pasarnya tradisional, tapi dibikin konsepnya kayak pasar swalayan. Supaya pasar tradisional ini tetap menjadi pilihan utamanya masyarakat Bengkulu untuk berbelanja.

Drainase dan toilet, juga harus menjadi perhatian agar pembeli menjadi lebih nyaman. Malah kalo boleh usul, buat zona ramah anak. Misal seperti tempat penitipan, agar anak bisa bermain. Sementara emaknya berbelanja.

Jika sudah berkomitmen melakukan penertiban, maka seyogyanya penertiban dilakukan secara rutin. Tentunya dengan cara-cara persuasif yang tidak melukai hati para pedagang. Mau bagaimanapun, pedagang itu adalah bagian dari masyarakat yang punya hak untuk mencari nafkah di kota kita tercinta ini. Ya kira-kira tetep tegas, tapi santun tanpa kericuhan. Ehem, kalo yang ini juga harusnya ada kesadaran dari pedagang ya untuk berjualan di tempat yang telah tersedia.

Selanjutnya kalau memang jumlah lapak yang tersedia dirasa kurang dan tidak mampu menampung seluruh pedagang, maka revitalisasi Pasar Panorama yang sudah dilakukan dua kali pada tahun 2011 dan 2012, harus berlanjut ke tahap ketiga. Sekalipun sekarang sedang ada persoalan hukum di Kejaksanaan Negeri (Kejari) Bengkulu karena rupanya proyek revitalisasi terdahulu tidak sesuai spesifikasi, jangan menjadi penghambat untuk berlanjutnya pembangunan.

Ya kita tunggu dan berdoa saja. Semoga di tangan pemerintahan Walikota Helmi Hasan dan Wakil Walikota Patriana Sosialinda penataan Pasar Panorama bisa menjadi lebih baik lagi.(**)

“Ini untuk menjawab tantangan Blogger Bengkulu dalam #NulisSerempak tentang #PasarBengkulu “.

 

 

 

9 Replies to “Idamkan Pasar Panorama Lebih Tertata”

  1. wahhh setuju saya, kapan yah itu Pasar Panorama bisa rapi para pedagangnya, pusing euyy dari jaman baholak insiden penyiraman oleh mobil tinja ampe 2017 masih gitu gitu juga, jaid hopeless, padahal ini rujukan pasar tradisional utama di Kota Bengkulu saat ini yah ….

  2. Harusnya pasar Panorama sudah bisa tertata rapi, tapi sayang, kesadaran pedagang dan pembeli masih sangat kurang dalam rangka mewujudkannya. Jadi kasian sama petugas yang menertibkan setiap harinya.

  3. Semoga saja bisa terwujud, dan ada kerjasama dari berbagai pihak, baik penjual, pembeli maupun pemerintahan kota Bengkulu.

  4. Pasar tradisional ini memang cenderung kurang mendapat perhatian, terutama soal kebersihan. Ada banyak kepentingan di pasar. Lihat saja pada saa menjelang pilkada, hampir seluruh calon turun ke pasar, ada banyak janji yang diberikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *