Goa Lubuk Resam, Wisata Alam Rasa Petualangan

Goa Besar Lubuk Resam. Foto Komi Kendy
Goa Besar Lubuk Resam. Foto Komi Kendy

WISATA ke tempat-tempat yang sudah terkena sentuhan modern bagi sebagian orang sudah kurang menarik. Khususnya bagi wisatawan dari perkotaan. Berbagai kemudahan dan fasilitas mewah, justru tak lagi dicari. Objek wisata natural dengan suasana alamnya yang kental serta memiliki tantangan, justru menjadi pilihan. Seperti Goa Lubuk Resam ini.

Di Bengkulu, banyak sekali lokasi wisata yang menawarkan wisata alam bagi petualang. Jika di tempat lain berwisata harus bayar, maka ke goa besar malah gratis. Desa terdekatnya, Lubuk Resam, berada di Kecamatan Seluma Utara Kabupaten Seluma.

Pengalaman penulis menuju Goa Besar Lubuk Resam, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 4-5 jam dari Desa Lubuk Resam. Jika memulai start dari Kota Bengkulu, maka pengunjung harus menuju ke Tais, ibukota Seluma, mengendarai kendaraan sekitar 1 jam. Lalu dari simpang Bunga Mas, masuk ke arah Desa Puguk terus hingga Desa Lubuk Resam sekitar 45 menit.

Menyeberangi jembatan bambu menuju Goa Besar Lubuk Resam. Foto Komi Kendy
Menyeberangi jembatan bambu menuju Goa Besar Lubuk Resam. Foto Komi Kendy

Meski akses jalannya cukup jauh, namun pengunjung tidak akan kecewa. Sensasi wisata petualangan ke desa ini bisa berkali lipat. Mulai dari saat pengunjung masih berada di Desa Lubuk Resam. Keramahan warganya menyambut wisatawan yang datang membuat pengunjung merasa betah.

Jika ingin bermalam, pengunjung bisa mendatangi rumah kepala desa agar bisa diarahkan di rumah siapa bisa menginap. Lalu sepanjang perjalanan jika melintasi jalur sungai, jernihnya air yang mengalir dari hulu membuat siapa saja yang melihatnya ingin menceburkan diri.

Sekitar 15 menit berjalan kaki dari desa, ada lokasi suban air panas yang mengalir ke sungai. Lalu ketika ingin menyeberang sungai, pengunjung akan melintasi jembatan yang bisa dikatakan nyaris mirip wahana outbound.

Badan jembatan hanya satu bambu yang ditahan menggunakan kawat. Padahal itu akses jalan warga menuju talang (kebun) mereka, sekaligus membawa hasil panen. Warga di sana berkebun sayur-sayuran hingga kopi. Bila tak terbiasa, ayunan jembatan bisa bikin sedikit sport jantung.

 Di jalur menuju Goa Besar, ada sebuah goa lainnya. Orang menyebutnya Goa Kidau (goa kiri). Konon goa ini merupakan goanya sarang walet yang dimiliki oleh tokoh Kabupaten Seluma. Biasanya ada yang berjaga. Jika ingin masuk, harus izin penjaganya.

Perjalanan terus berlanjut. Rute yang dilalui sesekali zig-zag menyeberang sungai. Kira-kira hingga empat sampai lima kali. Hal ini karena sebagian track memiliki kemiringan yang sulit dilintasi. Belum lagi pepohonan berduri yang menghadang, membuat pengunjung harus pintar memilih jalur. Sebab jalur aman dan datar hanya ada ketika melintasi kebun warga.

Puas dua jam lebih melintasi sungai, suasana jalur pun berganti. Dari yang terbuka, menjadi jalur tertutup hutan belantaran. Ada sebuah tanjakan dengan kemiringan sekitar 45 derajat, sepanjang 100 meter. Jika melintasinya lutut nyaris bertemu dada. Tapi tenang, di kiri-kanannya ada batang-batang pohon yang bisa dijangkau sebagai pegangan.

Begitu tiba di ujung pendakian, napas pun terasa lega. Jalan yang dilintasi adalah jalur bonus nan datar. Tenaga yang cukup terkuras, kembali pulih. Apalagi ketika dari kejauhan sudah terdengar deru sungai. Makin dekat dengan goa, suara aliran sungai makin kencang. Sebab Goa Lubuk Resam ini berada persis di pinggir sungai.

Pengunjung yang datang ke sana, memang disarankan menginap. Waktu tempuh yang cukup jauh, tentu membuat badan kelelahan. Obat yang paling ampuh justru ketika merasakan bermalam di area goa. Tak perlu bawa tenda. Karena di mulut goa, lokasinya datar dan nyaman untuk menggelar matras atau alas tidur.

Saya yang sudah lima kali ke sana sejak tahun 2006 lalu, juga punya tempat favorit untuk menggelar matras. Ada di bagian tebing ujung goa, posisinya langsung menghadap sungai. Sebelum tertidur pulas, kita bisa menyaksikan langsung lukisan hidup ciptaan Sang Maha Besar Allah SWT.

Ada air yang mengalir, bayangan pohon di belantara seberang sungai. Sesekali ada burung malam atau kelelawar ukuran besar melintas bersama rombongannya. Suara-suara itu tidak ada duanya jika dibandingkan dengan lagu-lagu relaksasi yang biasa diputar melalui ponsel atau PC.

Di goa ini, warga desa biasanya ada yang melintas. Mereka mencari ikan di sungai dengan cara menembak atau menjaring pakai bubu (perangkap ikan). Pengunjung yang hobi memancing, bisa juga sekalian membawa alat sendiri dari rumah.

Bila ingin masuk ke dalam goa, bisa dilakukan baik malam maupun siang hari. Jalur di dalam goa, bisa tembus ke sisi lain goa. Akan tetapi diperlukan perlatan dan pengetahuan yang memadai. Bagian dalam goa yang licin karena tetesan dan aliran air, cukup berbahaya jika tak hati-hati.

Setidaknya harus membawa senter, tali webbing atau perusik. Baju yang digunakan untuk masuk ke dalam goa juga sebaiknya lengan panjang dan celana panjang untuk melindungi kulit dari guano (kotoran kelelawar). Lalu mengenakan sepatu dan helm untuk melindungi kepala saat melewati jalur goa yang sempit.

Goa besar ini, bisa dikatakan goa yang usianya sudah ratusan tahun. Ini terlihat dari ornamen-ornamen di dalamnya yang sudah keras. Ada ornamen berbentuk tirai, stalaktit, stalakmit, flow stone dan lain-lain. Jika terkena cahaya senter, pemandangan ormanet ini semakin indah karena tampak berkilau.

Hewan-hewan, juga hidup di goa ini. Ada ular, tikus, jangkrik, hingga ikan yang hidup di sana karena terbawa aliran sungai yang menyusup masuk ke goa.   Penggiat alam bebas asal Malang Jawa Timur, Nurhayati Lisma, mengungkapkan kekagumannya usai berkunjung ke goa besar beberapa waktu lalu. Menurutnya potensi wisata di Kabupaten Seluma itu sungguh mempesona. Sangat cocok bagi wisatawan yang suka dengan alam bebas.

Jaga Kelestarian

Wanita lulusan Universitas Brawijaya (Unibraw) ini berharap agar kawasan goa bisa terjaga. Khususnya dari ancaman pembukaan lahan. Menurutnya jika lahan di atas goa sampai gundul, maka goa tersebut akan kering. Dampaknya kehidupan di dalam goa pun akan ikut “mati”.

“Jangan sampai nanti anak cucu kita tidak bisa lagi menikmati keindahan alam di Goa Besar Lubuk Resam,” tutur Lisma melalui WhatsApp, kemarin (3/3).(ken)

3 Comments Add yours

  1. Aris berkata:

    Terimakasih sudah mau mengexspose daerah kami. Mohon selalu support nya ya

    1. admin berkata:

      siyaaapp 😀

    2. admin berkata:

      siyaaapp sama sama mas Aris.. bagi info kalo ada yang baru dari Seluma 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *