Boleh Mengetuk, Jangan Mengutuk

GARA-GARA baca capture-nya mbak Novarina Salim Bahraq di atas, jadi inget punya pengalaman beberapa kali “dikutuk” tatkala tak ingin membukakan “pintu hati”. Pengalaman terbaru terjadi sekitar dua mingu lalu. Nggak ada angin, nggak ada hujan, ada yang nge-add pin di BlackBerry Messenger (BBM), dari foto dan namanya di display sih seorang pria.

Yap, saya adalah orang yang terbiasa menerima pertemanan walau dari PIN tak dikenal. Prinsipnya semakin banyak kawan dan jaringan, semakin bagus. Sebab siapa tau nanti suatu saat bisa saling membantu. Di dunia saya, membangun jaringan sebanyak-banyaknya jelas sangat bermanfaat.

Perkenalan basa-basi tanya ini tanya itu saya jawab. Makin lama saya jawab sekenanya, karena menyakut privasi yang nggak nayaman ditanyakan oleh orang yang baru dikenal. Suer dah  jadi ilfeel alias ilang feeling karena baru meng-invite dan belum kenal siapa saya, tapi sudah berceramah.

Soal kenapa saya masih berstatus single, bertanya panjang lebar mulai dari usia, alamat rumah, kriteria pria idaman dan lain sebagainya yang malah nggak pernah ditanyain sama sohib-sohib dekat saya. Dengan pedenya, pria OTD ini juga mengirimkan BBM yang mengarahkan, apakah saya mau membukakan pintu hati untuk dia.

Jawaban NO WAY, THANKS pun langsung saya tulis dengan huruf capital. Lah, kenal dan ketemu aja enggak pernah tapi udah kebanyakan gombalnya. Halooo, pastikan yang dikirimin gombalan itu bukan anak ABG bin ababil. Dan bagi saya, adalah hal aneh ketika hanya dengan meng-add kontak lalu hanya melihat foto-fotonya langsung menyatakan ingin menjadi seseorang yang paling dekat. Mesti pake proses kale. Kan ada tuh diajarin di SD peribahasa “Tak kenal maka tak sayang.”

Mendapat jawaban jujur begitu, eh ini OTD malah “mengutuk” saya yang macem-macem. Mulai dari sombong, songong (padahal saya bales loh BBM-nya walau dengan singkat dan padat hehe), sok kecantikan de el el hingga akhirnya mendoakan supaya saya susah mendapat jodoh karena menolak tawarannya. Aw aw aw, bener-bener dah jenis manusia yang satu ini super aneh.

Pengalaman dikutuk karena tak membukakan pintu ketika hati diketuk bukan satu kali ini terjadi. Sebelumnya pun sudah pernah beberapa, bahkan dengan kata-kata yang lebih sadis. Saya pun pasrah dan nggak pernah mengait-kaitkan dengan kenyataan bahwa sampai sekarang belum bertemu dengan seseorang yang bisa menggerakan hati adalah karena kena sumpah serapah itu. Urusan hati, mana bisa dipaksa mas bro. Lagipula di dunia ini, jalan hidup dan soal jodoh itu udah ditentuin sama Allah SWT.

Kita justru akan lebih respek sama orang yang berlapang dada dan menerima penolakan dengan santai. Toh dengan begitu hubungan silaturahmi sesama manusia masih tetap bisa terjalin. Kalau sudah dikutuk-kutuk begitu, kan jadi males. Ujung-ujungnya malah saya delcont (delete contact) dan kalau di dunia nyata, ogah saya negur lagi.

Buat saya, jenis orang-orang yang seperti itu adalah orang yang nggak bisa menerima kenyataan hidup. Bahwasannya benar setiap orang berhak memiliki hati terhadap orang lain. Tapi perlu disadari, bahwa orang lain juga punya hak buat nerima atau buat nolak. Jadi inget kutipan setiap orang berhak memiliki kebebasan sebebas-bebasnya. Tapi inget haknya itu dibatasin sama hak orang lain 😛

Secara pribadi saya sendiri pun punya pengalaman ditolak ketika merasa jatuh cinta pada orang lain. Walau setelah penolakan saya sempet galau abis 😀 ampe menghindar dan cabut dari kota ini, tapi setelahnya fine-fine aja tuh. Dua tahun udah normal lagi. Yang jelas nggak pake mengutuk segala. Malah justru saya mendoakan semoga orangnya bisa bersama orang yang lebih pas ada di hatinya.

Jadi sekali lagi “Kamu selalu punya pintu di hati setiap orang. Hakmu sebatas mengetuk. Jika tak dibukakan, jangan lantas mengutuk.” Bila ingin menjadi seseorang yang spesial bagi hidup orang lain, pakai cara-cara sopan dan ber-attitude yang menunjukkan bahwa Anda adalah manusia berhati.   🙂  (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *