Bermodal Kerja Keras dan DUIT

MENJADI warga program transmigrasi membuat Suminah tak boleh kehabisan akal. Berawal dari melihat tanaman-tanaman umbi di pekarangan rumah, Suminah berinisiatif memulai usaha kecil-kecilan untuk menjadi wanita yang mampu membantu ekonomi rumah tangga.

Tahun 1995 merupakan tahun pertama Suminah memulai usaha industri rumahan miliknya. Yakni membuat panganan keripik umbi gadung. Ia menamai usahanya dengan nama Anggrek Putih dan merekrut beberapa orang tetangga untuk ikut membantu.

Berbeda dengan di Pulau Jawa, penikmat keripik gadung di Bengkulu belum terlalu banyak. “Keripik gadung dipasok ke sejumlah toko di kawasan Kelurahan Anggut (kini dikenal sebagi daerah sentra oleh-oleh). Harganya cukup mahal, sampai Rp 100 ribu per kilogram,” kata Suminah.

Pengolahan lalu dikembangkan berbahan umbi jenis lain, seperti singkong dan ganyong yang diolah menjadi bermacam panganan. Yakni puding santan, puding koktail, es krim dan lain-lain. Selain menjual dengan cara menitip di toko-toko dan warung, Suminah juga menerima pesanan dalam jumlah besar.

Empat tahun mengolah panganan keripik, Suminah mulai melirik usaha kerajinan. Ia mulai membuat kerajinan tas berbahan rajut. Kemudian merambah ke cara pembuatan sepatu kulit. Untuk pembuatan tas dan sepatu,  Suminah juga berinovasi menggunakan bahan baku batang pisang. Industri menggunakan bahan batang pisang tersebut bisa dikatakan menjadi satu-satunya di Provinsi Bengkulu.

“Waktu pertama ingin membuat kerajinan dari batang pisang tetangga sempat mencibir, malah dikatai gemblung (gila). Berserak di pinggir jalan menjemur batang pisang sampai kering. Tapi pas sudah melihat hasilnya, malah banyak juga yang ingin belajar,” ujarnya.

Kreativitas membuat tas dan sepatu dari batang pisang dipadu batik besurek khas Bengkulu, menjadikan nama Anggrek Putih, mulai dikenal. Kerajinan ekslusif dan unik itu dibeli oleh penggemar fashion dan kalangan ibu-ibu pejabat. Harganya tidak terlalu mahal, berkisar Rp 150.000 – Rp 350.000.

Selain itu, wanita peraih penghargaan Citi Microenterpreneurship Award sebagai finalis

Wirausaha Mikro Berwawasan Lingkungan Terbaik dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 2013 ini juga berkesempatan mengikuti pameran. Ia bisa mempromosikan hasil industrinya pada pameran tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional.

Keberhasilan ibu tiga anak itu tak lepas dari kegigihannya untuk terus belajar, mengasah keterampilan dan terus meningkatkan kapasitas diri. Sempat kesulitan mengenyam bangku pendidikan karena tak ada sekolah terdekat di desanya, Suminah memilih untuk mengambil ijazah paket.

Hanya berbekal ijazah paket, tidak membuat Suminah minder. Justru malah membuatnya makin bersemangat memotivasi warga di lingkungannya untuk ikut berdaya dari hal yang kecil.

“Pokoknya saya punya keinginan walau kami-kami para orangtua di desa ini yang susah menyicip bangku pendidikan, tapi anak-anak kami harus berpendidikan,” tekadnya.

Kini, wanita yang memiliki slogan DUIT (Doa, usaha, Iman dan Takwa) untuk menjadi seorang entrepreneurship juga dibantu oleh dua anaknya. Termasuk dalam memberikan pemberdayaan untuk masyarakat.

Putra pertamanya M. Surya Hendra S menjadi ketua bidang usaha batu akik yang memberikan pelatihan gratis bagi pemuda desa untuk belajar mengasah batu akik. Putra keduanya M. Aziz Chandra S mengembangkan olahan VCO.(ken)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *