7 Hal yang Tak Terlupakan dari Manado

Agustus 2018 menjadi bulan yang tak terlupakan. Untuk pertama kalinya saya akhirnya berkesempatan menginjakkan kaki di Kota Manado, Sulawesi Utara. Kali ini Allah memberi rezeki melalui giat pemecahan Rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) penyelam wanita terbanyak dan pengibaran bendera terpanjang di bawah laut.

Pada perjalanan kali ini saya berangkat bersama empat buddy. Cece Silvia, Jeni, Maryam dan mbak Devi. Selain itu juga ada Ko A Sui suami cece Silvia, Pak Joko dari Polair dan bang Ari Anggara dari Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Provinsi Bengkulu.

Misi utamanya ke Kota Tinutuan itu, menjadi perwakilan Bengkulu untuk Rekor MURI penyelaman wanita. Namun setelahnya, ada waktu sehari buat nge-trip ke beberapa lokasi wisata yang tidak terlalu jauh dari pusat kota selama sehari.

Selama empat hari berada di sana, tepatnya 10-13 Agustus 2018, ada berbagai memori yang rasanya tidak akan pernah dilupakan dari Manado. Betapa bersemangatnya saya ketika baru tiba di Bandara Sam Ratulangi.

Nah, ini dia beberapa hal yang tak bisa dilupakan dari Manado, sekaligus bisa menjadi tempat referensi wisata bagi yang ingin ke sana.

Bunaken

Welcome to Bunaken
Welcome to Bunaken

Siapa yang tidak tahu Bunaken. Pulau yang berada di Teluk Manado ini namanya sudah mendunia. Saat bangku sekolah dasar dikenalkan bahwa pulau yang luasnya 89.065 hektare ini memiliki pesona taman laut nan indah.

Menjadi taman laut sejak tahun 1990, pulau ini menjadi destinasi unggulan untuk melakukan aktivitas diving, snorkeling atau sekadar menyusuri pantai dengan berjalan kaki. Sejauh mata memandang, tak hanya melihat langit dan laut biru. Tapi juga gunung di Pulau Manado Tua dan Gunung Tumpa.

Menuju pulau ini tentu saja harus naik kapal. Informasinya bisa berangkat dari pelabuhan di Komplek Mega Mas. Atau bisa juga lewat Padar Bersehati. Sementara kami, dengan keberuntungan bisa berangkat melalui Grand Luley Resort di Jalan Tongkaina Kecamatan Bunaken.

Jarak dari Kota Manado ke Grand Luley Resort sekitar 30 menit. Sementara dari dermaga private milik resort itu ke Pulau Bunaken, sekitar 20 menit saja.

Di pulau ada banyak kios penjual makanan dan minuman. Selain itu juga ada penyewaan peralatan diving dan snorkling. Kalau buat diving, biayanya berkisar Rp 800 ribu-Rp 1 juta per orang include guide. Untuk sewa alat snorkeling, tentu saja jauh lebih murah.

Di Bunaken, kami menyelam di kedalaman maksimal 11 meter saja. Hanya sekitar 55 menit saja. Selain karena hari itu memang sudah sore, sekitar pukul 17.00 WIB ketika akan masuk ke dalam air, pertimbangan lainnya, esok pagi kami harus take off kembali ke Bengkulu.

Spot menyelam kala itu berada di Lakuan Tiga. Ada semacam dinding yang bisa disisiri. Guide membawa kami ke sini karena areanya dikenal sebagai habitat penyu. Benar saja. Saat menyelam ada belasan penyu yang ditemui. Ada yang berenang. Ada yang tengah asyik di balik karang.

Grand Luley Resort

Kawasan mangrove di Grand Luley Resort
Kawasan mangrove di Grand Luley Resort

Kawasan mangrove di Grand Luley Resort yang menghampar terbelah sebuah jembatan menuju dermaga, menjadi salah satu pemandangan indah yang tak bisa dilupakan. Hijaunya membuat mata dan pikiran menjadi segar. Jembatannya rapi dan tentunya instagramable sebagai tempat hunting foto.

Selain hutan mangrove, resortnya sendiri merupakan salah satu hotel terindah yang pernah saya lihat. Saat ke sana, memang belum berkesempatan menginap. But kho knows, siapa tahu nanti bisa berkesempatan menginap di resort di pesisir Tongkaina itu.

Fasilitasnya lengkap. Ada kolam renang, studio gym, hingga dive center. Resort juga menyediakan spot selam khusus dengan patung Mermaid di bawah air. Tanaman di area hotel didominasi pohon kelapa dan kamboja, menambah kesejukan udaranya.

Bubur Tinutuan

Bubur Tinutuan
Bubur Tinutuan

Manado dijuluki Kota Tinutuan. Setelah berbincang dengan warga di sana, barulah saya tahu apa itu Tinutuan. Yap, bubur Manado. Buburnya berbeda dengan bubur khas Sunda yang biasa saya makan. Karena isinya dicampur labu kuning, singkong dan lain-lain. Yang paling khas dari aromanya adalah daun kemangi.

Makan Ikan

Aneka makanan olahan ikan
Aneka makanan olahan ikan

Puas sepuas-puasnya makan ikan di Manado. Berada di pesisir pantai dan Samudera Pasifik membuat hasil perikanan masyarakat di sana begitu melimpah. Begitu juga dengan warga di daerah pegununungan yang banyak beternak ikan tawar.

Dabu-dabu Lemong, Tuna House dan Rajawali menjadi tiga diantara beberapa rumah makan yang paling enak kami kunjungi. Olahan ikannya macam-macam. Digoreng, bakar, rica-rica hingga tuna dimakan mentah ala sashimi.

Gunung Tumpa

Pemandangan dari Gunung Tumpa
Pemandangan dari Gunung Tumpa

Tulisan Gunung Tumpa berjajar rapi. Di belakangnya ada pemandangan pulau Bunaken, Pulau Siladen dan gunung Manado Tua. Area yang masuk ke dalam Taman Hutan Raya ini berada di Kelurahan Tongkeina, Meras dan Molas, Kecamatan Bunaken.

Jarak tempuhnya sekitar 45 dari Kota Manado menggunakan kendaraan mobil. Jalan menuju ke sana sudah mulus. Selain melihat pemandangan, di kawasan taman hutan raya juga ada monumen pahlawan Hein Victor Worang, Gubernur Sulawesi Utara periode 1967-1978.

Pijat di Tikala Shiatsu

Pijat di Tikala Shiatsu
Pijat di Tikala Shiatsu

Sesi pijat selama nge-trip, juga baru pertama kalinya saya lakoni ketika travelling ke Manado. Sejak berangkat Kamis sore, 9 Agustus 2018 dari Bengkulu, nyaris nonstop terus bergerak. Tidur pun rasanya hanya sebentar-sebentar. Kami mesti mengejar pesawat Jakarta-Manado pukul 06.00 WIB hingga agenda pemecahan Rekor MURI yang menuntut harus bangun pagi.

Lelah, pegal, penat, sangat terasa. Untungnya trip kali ini bersama buddy yang satu jalur. Hehe. Kami sepakat untuk menyempatkan diri merasakan dipijat agar tubuh lebih rileks dan bugar.

Oleh bang sopir yang juga jadi guide selama di Manado, diantarlah ke Tikala Shiatsu. Katanya di sana cukup terkenal. Biaya pijatnya juga terjangkau. Dari berbagai layanan yang ditawarkan, saya pilih pijat tradisional saja selama sejam. Bayarnya Rp 175 ribu. Benar saja. Sungguh enak rasanya dipijat.

Patung Yesus Memberkati

Patung Yesus Memberkati
Patung Yesus Memberkati

Manado dikenal sebagai salah satu daerah yang menawarkan wisata religi bagi umat Kristiani. Salah satunya yang sudah dikenal adalah Monumen Yesus Memberkati.
Melihat patung ini jadi teringat sama Patung Cristo Redentor yang ada di Rio Dewanto Janeiro, Brazil. Bersumber dari situs indonesiakaya.com patung ini dibangun oleh Ir. Ciputra tahun 2007 dengan biaya Rp 5 miliar.
Disebutkan pula, patung yang berada di kawasan Perumahan Citraland ini bukan hanya ditujukan pada umat Nasrani yang menjadi penduduk mayoritas Kota Manado saja. Tapi juga merupakan simbol yang memiliki makna kerukunan umat beragama di Indonesia.
Kami bertemu patung ini saat perjalanan dari Kota Manado menuju Gunung Tumpa di Kabupaten Minahasa Utara.

Rekor Muri

Sesaat usai penyelaman di Komplek Mega Mas
Sesaat usai penyelaman di Komplek Mega Mas

This is the unforgetable moment in my life. Bisa merasakan olahraga diving sejak kecil sudah menjadi impian yang semula dikira ga bakal terwujud. Nyatanya selain akhirnya bisa memiliki sertifikasi, saya juga berkesempatan menjadi satu dari 927 penyelam wanita Indonesia yang berkontribusi sebagai peserta.

Itulah tujuh memory yang akan membuat saya tidak akan pernah melupakan Manado, kota yang begitu berkesan.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *